(ಥ ͜ʖಥ) HAPPY READY (ಥ ͜ʖಥ)
Seperti yang dikatakan banyak orang. Sebagus-bagusnya kita menyembunyikan bangkai. Percayalah, bangkai itu akan segera ditemukan.
(CS - Cinta Swara)
:
:
:
Di kantor Sanskar Hadiwijaya (SH).
"Sanskar, boleh aku masuk?" ucap seseorang di balik pintu ruangan Sanskar.
Sanskar yang sedang menatap layar laptop langsung mengalihkan pandangannya sebentar. "Masuklah, Kavita."
"Apa ada lagi yang harus aku tanda tangani?" tanya Sanskar tanpa menatap Kavita.
"Ini jam istirahat, tapi kau masih bekerja? Kau baru sembuh, Sanskar. Bagaimana nanti Swara tahu kalau suaminya masih bekerja di jam istirahat? Nanti dipikir Swara aku...."
Kavita menghentikan ocehannya saat Sanskar menatap dirinya.
"Kau cerewet seperti Swara." ucap Sanskar terkekeh sambil menggeleng kepala. Lalu tangan Sanskar menutup laptopnya.
Kavita menumpukan kedua lengannya di meja yang berhadapan dengan Sanskar, lalu berbisik. "Apa aku baru saja memarahimu?"
Sanskar mengedikkan bahu. "Ya, bisa di bilang begitu."
Kavita menegakkan dirinya kembali. "Sanskar, aku hanya ingin mengajakmu makan siang."
"Baiklah, ayo!" Sanskar bangkit setelah menggenggam ponselnya, lalu berjalan keluar bersama Kavita.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
"Kau mau apa?" tanya Sanskar saat mereka sudah berada di cafe 24 jam letaknya di depan kantor.
"Mendadak aku mau buah." ucap Kavita tersenyum.
"Buah?"
"Iya. Ada apa, Sanskar? Apa aku tidak boleh makan buah?"
"Boleh, tapi tidak biasa saja."
"Ayolah, Sanskar!"
"Ya sudah pesan."
"Kau bertanya, tapi menyuruhku pesan sendiri? Hey, Tuan Sanskar! Kau menghabiskan waktu ku saja." dengus Kavita kesal, lalu memanggil salah satu pelayan di cafe ini.
"Kau?" tanya Kavita.
"Seperti biasa." jawab Sanskar sambil memainkan ponsel.
Kavita yang mendengar perkataan Sanskar langsung memesannya.
Tak lama kemudian, pesanan datang. Kavita dan Sanskar mulai menyantap makanannya masing-masing tanpa bersuara.
Disisi lain, tak jauh dari meja Sanskar dan Kavita seseorang menyaksikan semua gerak-gerik yang mereka berdua lakukan.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
Swara berjalan menuju kamarnya, setelah keluar dari kamar Uttara.
Saat di kamar, Swara langsung menjatuhkan bokongnya di ranjang. "Kenapa semuanya bisa begini?!" ucap Swara frustasi menjambak rambutnya.
Tidak lama kemudian, Swara tertegun saat ada seseorang yang menyentuh sebelah bahunya.
"Swara, ada apa?" tanya si pelaku, Ragini.
"Tidak ada." jawab Swara seadanya.
Ragini berdehem, lalu duduk di samping Swara. "Beri tahu padaku kalau itu mengganggu pikiranmu."
'Bagaimana aku bisa mengatakan semuanya padamu? Sedangkan aku saja belum tahu benar tentang masalah ini.' -Swara.
"Hey!" pukul Ragini tepat dibahu kiri Swara. "Melamun lagi kan."
Swara tersenyum kikuk. "Aku akan mengatakan semuanya, tapi tidak sekarang."
"Hem, oke. Tapi jangan terlalu lama, ya."
Swara mengernyit "Kenapa?"
"Soalnya aku sudah penasaran." bisik Ragini.
"Kau ini." ucap Swara, lalu tertawa kecil bersama Ragini.
"Oh, ya, Swara." ucap Ragini sambil memikir kembali dengan alasan dirinya menemui Swara.
"Apa?"
"Ini." Ragini menyodorkan sebuah kotak yang diberi pengiriman kurir tadi.
"Ini apa?" tanya Swara sesudah melihat kotak yang terbalut dengan kertas kado.
"Kotak." jawab Ragini polos.
"Iya, aku tahu. Tapi, untuk siapa?"
"Kalau aku memberikannya padamu. Berarti untuk dirimu."
"Dari Sanskar?"
"Entahlah, kurirnya tadi tidak memberitahukan siapa pengirimnya."
"Oke, aku terima dengan senang hati."
"Baiklah, sekarang kau buka kotaknya."
"Tidak. Bagaimana kalau ini dari Sanskar?" ucap Swara sambil mengangkat kotak kiriman tersebut.
"Ayolah, aku penasaran."
"Kau sama seperti Sinta."
"Kan aku Mamanya."
"Aku tidak mau membuka kotaknya kalau kau masih ada disini."
"Hem, baiklah. Aku keluar. Puas Nyonya Sanskar?"
"Puas banget! Sekarang kau keluarlah!"
"Iya, iya, ish!" Ragini berdecak dan keluar dari kamar.
"Kira-kira isinya apa, ya?" tanya Swara pada dirinya saat Ragini sudah tidak ada lagi di kamar.
"Aku akan menyimpan kotak ini. Setelah bertanya pada Sanskar, baru aku bisa membuka kotak ini." setelah berucap kembali, Swara bangkit dan menaruh kotak tersebut ke dalam lemari pakaian.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
Malam harinya.
Swara termenung di kamarnya lagi. Lalu tidak lama kemudian, ia tersadar. Segera Swara mengambil ponselnya di atas nakas dan mendudukkan dirinya ke ranjang.
Membuka pin ponsel, lalu beralih ke telepon. Swara mencari nomor yang tadi pagi ia salin dari ponsel Uttara.
Saat ingin menyentuh nomor tersebut, ponselnya langsung ditarik begitu saja. Swara yang melihat itu, langsung mendongakkan wajahnya.
"Sanskar." ucap Swara terkejut bukan main. Terlihat dari wajahnya yang langsung berubah menjadi pucat.
"Aku dari tadi memperhatikan mu. Apa yang kau pikirkan, Swara?" ucap Sanskar bertanya dengan menatap Swara yang belum bangkit dari tempat.
Swara bangkit, lalu menjawab. "Ti-tidak. Sanskar, pon-selku. Sini." Swara menengadahkan telapak tangannya.
Sanskar menatap ponsel Swara yang masih ia pegang. "Nomor siapa ini? Kau mau menelepon siapa malam-malam begini, Swara?" tanya Sanskar beruntun.
Swara langsung merampas ponselnya dari tangan Sanskar. "Ini tidak penting. Sekarang aku mengantuk. Ayo, tidur!"
Tanpa menunggu jawaban dari Sanskar. Swara langsung menarik paksa lengan Sanskar.
Sanskar meletakkan kedua lengannya di belakang kepala. Sedangkan Swara mematikan lampu utama dan menghidupkan lampu tidur yang ada di atas nakas sebelah kanan dan kiri. Setelah sudah selesai dengan tugas kecilnya, ia membaringkan tubuhnya di samping Sanskar.
Swara menatap sejenak wajah Sanskar. "Sanskar."
Sanskar yang sedang menatap langit-langit kamar langsung menoleh, lalu berdehem. Swara mendekat, memeluk dan masuk ke dalam pelukan Sanskar.
Sebelah tangan Sanskar segera merengkuh Swara agar lebih dekat lagi padanya. Swara mendongak saat Sanskar mencium rambutnya.
'Maaf, Sanskar. Bukannya aku mau menyembunyikan semua ini darimu. Aku akan menceritakan semuanya padamu kalau waktunya sudah tepat.' -Swara.
'Tidak seharusnya aku penasaran dengan yang Swara lakukan tadi.' -Sanskar.
"Tidurlah." ucap Sanskar sembari mengusap rambut Swara.
Swara mencium pipi Sanskar, lalu memeluk Sanskar dengan erat.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
Di sisi lain.
Sama seperti Swara, Uttara juga ikutan melamun. Ia takut kalau Kakak iparnya itu mendengar semua perkataan dirinya di telepon.
'Apa Kak Swara sudah mendengar semuanya?' -Uttara.
"Aku akan bertanya pada Chirag." Uttara meraih ponselnya, lalu dengan gerakan cepat ia membuka pin ponselnya dan mencari nomor Chirag di aplikasi telepon.
Saat ingin menyentuh nomor Chirag, tangannya berhenti menatap jam di ponsel. "Tapi ini sudah malam sekali. Mungkin besok pagi saja aku bicara padanya."
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
Di kamar Kavita.
Ia membuka pola ponselnya saat salah satu notifikasi masuk ke akun sosial medianya, w******p.
0812********
|Besok temui aku di cafe yang tadi| 22:58
Kavita mengernyit saat membaca pesan yang baru saja dikirim nomor tidak dikenal melalui aplikasi w******p. Lalu tidak lama kemudian, ia tersadar ketika mengingat angka belakangnya.
Anehnya, bagaimana bisa si pria b******n itu tahu nomor ponsel barunya? Ya, sebelum sampai di kantor tadi, Kavita menyuruh Sanskar berhentikan mobilnya sebentar di salah satu toko ponsel.
Sanskar yang mendengar itu mengernyit ketika Kavita mengatakan ingin membeli ponsel baru. Karena ponselnya yang lama tidak sengaja ia jatuhkan ke wastafel.
|Jangan bilang ini kau, Zain?| 23:00
|Aku sudah pernah bilang. Di mana pun kau berada, disitu ada aku| 23:00
|Tidak ada penolakan Kavita! Kau tahukan apa saja yang bisa aku lakukan kalau kau menolakku?!| 23:00
2 menit sudah berlalu, tapi Kavita belum membalas pesan dari Zain. Zain yang ada di sana pun merasa kesal dengan Kavita. Tak lama kemudian, Kavita membalas pesan Zain.
|Aku mohon jangan mengancamku begitu. Aku tidak mau berhubungan denganmu lagi. Jadi, tolong jangan menghubungi diriku| 23:03
|Sebelum aku mendapatkan dirimu, aku tidak akan pernah melepaskanmu begitu saja. Kau harus ingat itu!| 23:03
Kavita tertawa sumbang saat membaca balasan dari Zain, lalu mengetik kembali.
|Kau sudah mengambil semuanya dariku! Apa lagi yang kau mau, ha?!| 23:04
Setelah mengetikkan itu, Kavita langsung mematikan data selulernya. Lalu mencampakkan ponselnya begitu saja.
Ingin rasanya dirinya menangis. Tapi ia harus tetap kuat untuk mengatakan baik-baik saja ketika semua orang bertanya kabarnya.
'Bisakah waktu diulang kembali?' -Kavita.
(ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ)
To Be Continued...