°15° Baik - Baik Saja

1411 Kata
(ಥ ͜ʖಥ) HAPPY READY (ಥ ͜ʖಥ) Keesokan harinya... "Kau akan pergi kerja?" ucap Swara saat melihat Sanskar yang sudah rapi dengan pakaian kantornya. Sanskar yang sedang menatap cermin pun langsung membalikkan tubuhnya. "Iya." "Tapi kau...." "Kau belum sembuh. Aku tahu kau akan mengatakan itu kan? Swara, aku sudah sembuh. Kau tidak melihatnya?" Swara tersenyum, lalu mengikis jarak antara mereka berdua dan membetulkan kerah baju Sanskar. "Baiklah kalau begitu. Sekarang, ayo kita turun! Kalau nanti di dalam kamar terus kau akan terlambat pergi ke kantor." "Iya, tapi cium dulu." ucap Sanskar. Tanpa basa-basi, Swara langsung mencium pipi Sanskar. "Sudah, ayo!" Ketika Swara memutar tubuhnya, Sanskar langsung menahan pinggang Swara. "Kau belum mencium ku disini." Sanskar menunjuk bibirnya. Swara melirik sekelilingnya, lalu mengecup bibir Sanskar. Sedangkan tangan Sanskar dengan nakalnya menekan tengkuk Swara untuk memperdalam ciuman mereka. Saat napas sudah tidak beraturan, Sanskar melepaskan ciumannya. Sanskar tersenyum, lalu mencium dahi dan kedua pipi Swara. "Itu baru namanya ciuman." ucap Sanskar terkekeh sembari menarik tangan Swara keluar. "Semua laki-laki memang seperti itu." ucap Swara mendengus mengikuti langkah Sanskar. "Kau tahu, Sanskar?" Sanskar yang masih menarik tangan Swara langsung menggeleng tanpa memandang Swara. Dengan kesal Swara menarik tangan Sanskar membuat dirinya berhenti melangkah tepat di hadapan Swara. "Aku belum selesai bicara, tapi kau langsung memotongnya." dengus Swara kesal. "Baiklah, sayang. Sekarang kau mau mengatakan apa, hem?" ucap Sanskar sambil menarik pinggang ramping Swara. Swara tersenyum dan mulai mengalungkan tangannya di leher Sanskar. "Padahal aku masih ingin bersamamu. Mungkin, aku tidak beruntung hari ini. Aku hanya mau mengatakan cepatlah pulang. Jangan terlalu serius sama berkas-berkas mu itu. Aku tidak mau melihatmu terbaring seperti kemarin." ucap Swara sambil mengelus rahang Sanskar. Sanskar tersenyum lantas membawa Swara ke dalam pelukannya. "Maaf, karena sudah membuatmu khawatir." Dalam pelukan, Swara menggeleng keras. "Aku senang bisa menjagamu sama seperti kau menjagaku selama ini. Aku harap itu tidak akan pernah menghilang. Aku mencintaimu." di setiap perkataannya, Swara memejamkan mata. Ia tidak kuat menahan air yang keluar dari kelopak matanya. Sanskar yang merasa bahu Swara naik-turun langsung melepaskan pelukannya. "Swara, kenapa kau menangis? Aku melukaimu, hem?" tanya Sanskar beruntun sambil menghapus pipi Swara. "Sanskar, aku...." Swara menggeleng dan menjatuhkan dirinya dipelukan Sanskar lagi. 'Jangan tinggalkan diriku.' namun kata-kata itu hanya dapat Swara lontarkan di hati. Tak lama kemudian, Swara menggeleng lagi. "Aku tidak apa-apa." Swara tersenyum setelah melepaskan pelukan hanya memastikan kalau dirinya baik -baik saja. "Aku serius." ucap Sanskar dengan dingin. Swara mengusap ujung matanya. "Aku tidak apa-apa, Sanskar. Ayo, sekarang kita turun. Kau tidak mau terlambat pergi kantor kan?" Sanskar mengiyakan perkataan Swara, lalu hanya pasrah ketika Swara menarik lembut lengannya. Terkadang Sanskar merasa bingung dengan Swara. Dalam beberapa hari ini, Swara sering sekali menangis. Bahkan Sanskar tidak tahu sedikit pun alasan Swara menangis. Sanskar hanya berharap kalau bukan dia penyebab Swara menangis. Lantas kalau Swara menangis karena Sanskar, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Sampai di lantai dasar. "Pagi semuanya!" sapa Swara dan Sanskar, lalu mendaratkan dirinya di kursi. Swara berusaha seperti biasa agar tidak ada yang mengetahui bahwa ia habis menangis. "Pagi." ucap lainnya yang sibuk ke makanan masing-masing. "Pagi, Ayah, Ibu." timpal Sinta tersenyum manis. Swara mengelus rambut hitam panjang Sinta yang ada di sebelah kirinya. "Sinta tidak sarapan nasi?" Sinta menggeleng sambil menggigit roti tawar yang berisi selai rasa srikaya. "Sinta tidak mau gendut seperti Opah." celetuk Sinta setelah menelan habis roti yang tadi ia kunyah. "Sinta, jangan seperti itu. Nanti Opah bisa tersedak lagi." ucap Lakshya mengingatkan. Sinta yang ingin menggigit rotinya lagi terhenti saat mendengar perkataan Lakshya. "Papa payah! Sinta sedang tidak membicarakan Opah, tapi sedikit." celetuk Sinta kembali. Semua orang ketawa kecil ketika mendengar perkataan Sinta. "Ya, Papamu ini memang payah, sedangkan putrinya terlalu pintar." ucap Lakshya tersenyum paksa. Tak lama kemudian, Kavita datang. Ia mendaratkan bokongnya setelah menyapa semua orang. "Kavita, kau baik-baik saja?" tanya Sujata saat melihat wajah pucatnya Kavita. Kavita mengangguk. "Aku baik-baik saja, Bik." "Apa sebaiknya hari ini kau tidak usah masuk kerja dulu?" ucap Sujata. "Sujata benar, Kavita. Sebaiknya kau istirahat saja dulu. Lihatlah, wajah mu pucat sekali." timpal Annapurna. Kavita tersenyum. "Terima kasih karena udah khawatir sama Kavita. Tapi tenanglah, Kavita baik-baik saja." "Oke, baiklah kalau kau tetap bersih keras. Tapi kau harus pergi dan pulang bersama Sanskar." ucap Sujata. Kavita tersenyum, lalu mengangguk. Selang beberapa menit, Sanskar dan Kavita sudah selesai sarapan. Mereka berdua pun langsung pergi ke kantor. "Papa, ayo kita pergi! Sinta sudah selesai sarapan." ucap Sinta sembari turun dari bangku dan menyalami yang lainnya. Lakshya mengangguk, lalu mengajak Sinta berangkat sekolah setelah mengucapkan salam sama yang lainnya. "Em, Uttara juga sudah selesai sarapannya. Uttara mau ke kamar dulu." tanpa menunggu jawaban yang lainnya, Uttara langsung berlari kecil ke lantai 2 letak kamarnya berada. Swara menatap kepergian Uttara. Keningnya berkerut saat matanya tidak salah melihat... ┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻ Kamar Uttara. "Kau sudah berbicara padanya?" tanya Uttara ditelepon. Pria yang sedang berbicara dengan Uttara ditelepon menggeleng. "Belum." "Aku akan pergi. Apa dia sama sekali tidak khawatir kepada diriku?" "Tenanglah, aku akan berbicara dengan dirinya nanti." "Aku harap kau bisa berbicara kepadanya. Aku juga berharap kalau suatu saat nanti dia tidak akan pernah menyesal." dengan perlahan, Uttara duduk di pinggir ranjang. "Jangan mengatakan seperti itu. Kau akan baik-baik saja. Percayalah dengan takdir." 'Tapi aku merasa kalau takdirku buruk.' -Uttara. "Kau tahu, Uttara? Aku baru saja mendapatkan teman seperti dirimu. Aku tidak ingin pertemuan kita akan berakhir sesedih di dalam cerita novel." Uttara tersenyum kecut. "Kau pasti akan mendapatkan teman baik melebihi diriku." "Aku tidak percaya dengan yang lainnya. Aku hanya mau kau selamanya." Uttara terdiam sesaat mendengar penuturan cowok yang sedang berbicara dengan dirinya ditelepon. "Jangan salah paham dulu. Maksud aku tadi, menjadi teman bukan yang lainnya." Uttara mengangguk, walaupun cowok itu tidak dapat melihatnya. "Iya, aku tahu. Kau memang teman terbaik ku. Aku jadi merasa bersalah karena tidak menjadikan mu sebagai sahabatku." "Menurutku, mau jadi sahabat ataupun teman sama saja. Asalkan itu bersama kau." "Tidak, Chirag. Mulai sekarang kau akan aku angkat menjadi sahabat. Kita sahabatan sekarang. Kau mau kan menjadi sahabatku?" "Dengan senang hati, Nona manis." ucap cowok itu yang bernama Chirag. "Aku menyanyangimu." "Sebagai Sahabat." timpal Chirag sedikit terkekeh. Uttara tersenyum, lalu mengangguk. "Iya." Tak lama kemudian, keduanya saling terdiam. "Uttara...." panggil Chirag dengan lembut. "Iya?" "Apa kau perlu seseorang untuk berada di sampingmu saat pergi kesana?" tanya Chirag. "Tidak dan terima kasih, Chirag. Tapi maaf, aku sudah banyak menyusahkan dirimu." "Tidak sama sekali, Uttara. Melihatmu tersenyum saja sudah membuatku bahagia." 'Andai kata-kata itu dia yang mengatakannya.' -Uttara. "Apakah sahabatmu sudah tahu kalau kau...." "Iya. Beberapa hari yang lalu mereka mengikuti diriku ke tempat itu. Bukan hanya itu saja, Chirag. Mereka bertiga mendengar percakapan kami berdua. Mungkin kau benar, bangkai yang sudah lama disimpan akan mudah ditemukan. Begitu juga dengan masalahku ini. Aku hanya tidak ingin membuat mereka susah melepaskanku." Uttara membaringkan tubuhnya. "Keluargamu? Apa mereka sudah tahu?" "Aku tidak sanggup, Chirag. Aku mohon, jangan katakan apapun kepada mereka. Aku tidak mau menjadi beban mereka." lirih Uttara. "Selama kau masih baik-baik saja. Aku tidak akan mengatakan apapun kepada keluargamu. Kalau aku tidak tahu harus berbuat apa lagi... jangan salahkan aku untuk mengatakan semuanya." "Uttara...." Uttara tersentak saat mendengar suara dari balik pintu. "Chirag, aku tutup dulu teleponnya, ya." "Iya, Uttara. Jangan lupa minum obatnya. Assalamu'alaikum...." "Wa'alaikumsalam...." Uttara buru-buru merapikan dirinya yang sempat berantakan sedikit, lalu meletakkan ponselnya begitu saja dengan asal. "Kak Swara... a-ada apa, Kak? Kakak perlu bantuan Uttara?" tanya Uttara tergagap saat Swara berada di hadapannya. Swara menggeleng dengan senyuman sambil mengelus rambut Uttara. "Tidak. Kakak pikir kau memang membutuhkan istirahat. Istirahatlah, kalau terjadi sesuatu langsung katakan kepada Kakak." Uttara mengangguk kecut. Apakah setelah ini... ia bisa tidur nyenyak? "Uttara mau ke kamar mandi dulu, Kak." Uttara langsung pergi begitu saja ke kamar mandi. Swara yang tadinya ingin keluar langsung ia urungkan. Dengan berhati-hati, Swara mengambil ponsel milik Uttara. Setelah membuka pin ponsel Uttara, tangan Swara langsung beralih membuka telepon dan panggilan masuk yang paling atas. 'Chirag? Aku akan menyimpan nomornya. Mana tahu aku bisa mendapatkan informasi yang tidak aku ketahui kepadanya tentang Uttara.' Swara segera mengetikkan 4 angka untuk membuka ponselnya, lalu langsung ke kontak. Tangan Swara kembali mengetikkan beberapa angka. Nomor yang ia tahu pasti adalah Sahabat Uttara. Itu yang ia dengar tadi dan masih banyak lagi, walaupun kedengarannya samar - samar. Bersamaan dengan Swara yang meletakkan ponsel Uttara ke tempat semula. Si pemilik ponsel baru saja keluar dari kamar mandi. "Kakak belum keluar?" "Ini mau keluar, tapi setelah memastikan kalau Adik manis Kakak ini benar - benar istirahat." ucap Swara sembari mendaratkan bokongnya di ranjang. "Sini." panggil Swara menepuk ranjang Uttara. Uttara tersenyum, lalu berjalan menghampiri Swara. Uttara membaringkan dirinya setelah Swara menyuruh dirinya untuk segera tertidur. "Kakak tidak perlu menunggu Uttara sampai tertidur. Kakak tahu kan kalau Uttara susah sekali tertidur." "Kakak akan menceritakan sesuatu kepadamu. Tapi Uttara harus tertidur." Uttara mengangguk. Swara mulai menceritakan sebuah dongeng Putri Tidur sembari mengelus rambut Uttara. Sebelum menutup mata, Uttara tersenyum dan berterima kasih kepada Swara. "Maaf, kalau Kakak tidak memperhatikan dirimu." Setelah mengatakan itu, Swara mengecup dahi Uttara. Menghidupkan lampu tidur di atas nakas sebelah kanan, lalu mematikan lampu saklar. ┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻ To Be Continued...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN