(ಥ ͜ʖಥ) HAPPY READY (ಥ ͜ʖಥ)
Ikuti saja takdir Tuhan. Mana tahu, takdir yang diberi Tuhan dapat kita jalani dengan mudah.
(CS - Cinta Swara)
:
:
:
"Kami pergi dulu." ucap Sanskar pamit sambil menyalami Sujata dan Annapurna yang nonton berdua di ruang tamu.
"Hati-hati." ucap keduanya.
Tak lama setelah mereka pergi, Uttara keluar dengan pakaian perginya. "Kau mau kemana?" tanya Sujata mengalihkan pandangannya ke Uttara.
Uttara berjongkok, lalu mengulurkan tangannya untuk meminta salam pada Sujata.
Sujata mengangkat kedua alisnya merasa bingung. "Apa?"
"Salam Ibu..." decaknya.
"Memang mau kemana?" Annapurna ikutan bertanya.
"Reunian sama teman SMP." jawab Uttara.
"Teman SMP atau mau ketemu yang lain?" Ragini yang baru turun dari lantai dua langsung menggoda Uttara.
"Apaan sih, Kak? Uttara benaran mau reunian." balasnya.
"Tidak yakin." Parineetaa ikutan menimbrung.
"Hem, iya." Ragini mengangguk setuju. "Siapa ya yang 2 hari ini datang malam-malam ke sini?" ucap Parineeta berlagak berpikir.
"Dia cowok?" tanya Sujata.
Uttara langsung mengerjapkan matanya. "Ha?"
"Dia cowok?" tanya Sujata lagi.
Uttara menunduk, lalu mengangguk. "Uttara, Mama udah bilang berapa kali?" ucap Sujata mulai kesal.
"Kamu itu cewek. Apa pantas seorang cowok datang ke rumah cewek malam-malam? Apa yang akan dikatakan orang? Mama juga sering melihat kamu pulang tengah malam dalam beberapa hari ini." lanjut Sujata.
"Sebenarnya, Uttara yang menyuruhnya karena ada urusan penting." jawabnya pelan tanpa menatap mata mata kekhawatiran itu.
"Apakah urusan penting itu tidak bisa dikatakan saat pagi hari?" tanya Sujata.
"I'am sorry." lirih Uttara ketakutan.
Sujata yang melihat bahu Uttara naik-turun langsung mengangkat wajahnya. "Uttara...." panggil Sujata dengan berat saat melihat wajah Uttara.
"Kamu pucat, sayang. Kamu tidak apa-apa kan?" Annapurna, Ragini dan Parineeta mendekat saat Sujata mengatakan pucat pada Uttara.
"Uttara tidak apa-apa. Tentang cowok itu, Uttara hanya minta bantuan dirinya untuk mendekatkan Uttara dengan salah satu temannya." ucapnya. Ayolah, masih sempat Uttara menjelaskan yang lainnya? Sedangkan semua orang panik melihat keadaannya.
"Please, Uttara boleh kan keluar?" ucapnya lagi sambil menggenggam telapak tangan Sujata.
"Jangan bercanda Uttara. Kau lagi sakit, tapi masih mementingkan reunian itu?" tanya Ragini tak percaya.
"Kak, ada yang mau kami bahas di reunian itu." balas Uttara.
"Kau istirahat saja dulu, setelah itu Mama akan mengizinkan. Badanmu juga hangat." ucap Sujata memberikan koefisien pada Uttara.
"Reunian nya sudah bubar dong." ucapnya cemberut.
"Istirahat dulu atau sama sekali tidak Mama kasih keluar?" tanya Sujata sedikit mengancam.
Mau tak mau, Uttara langsung menjawab, iya. Lagian ia merasa tidak enak badan untuk hari ini.
Sejak tadi Ragini menatap Uttara sampai menghilang dari pandangan.
"Mama panggilkan Dokter, ya?!" teriak Sujata agar Uttara dapat mendengarnya.
"Tidak usah!" balasnya.
"Dasar keras kepala." ucap Sujata geleng kepala dan diikutin dengan Annapurna.
"Ragini mau ke kamar dulu melihat Sinta." ucap Ragini langsung berlari kecil ke lantai 2.
"Hati-hati Ragini." ucap Annapurna cemas saat Ragini menaiki tangga dengan brutal.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
"Uttara, buka pintunya."
Tok tok tok!!!
Ragini kembali mengetuk pintu kamar Uttara. Namun sama sekali tidak ada respon dari si pemilik kamar.
"Buka atau Kakak dobrak pintunya Uttara?" Ragini sedikit mengancam.
Cek lek!
"Ada apa, Kak? Uttara mau tidur mengantuk." ucapnya setelah membuka pintu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Ragini sebelum masuk ke kamar Uttara.
"Memangnya Uttara kenapa? Uttara cuma...."
"Kau berbohong pada kami semua?"
"Bohong?"
Uttara tersenyum kecut, lalu menambahkan kata-katanya dihati. 'Selalu, Kak.'
"Setidaknya katakan pada Kakak. Kau tahu, keluarga untuk melengkapi bukan untuk saling menyembunyikan hal yang seperti ini." ucap Ragini.
"Kakak mau berjanji untuk Uttara?"
"Udah berapa lama?" tanya Ragini balik yang langsung mengacuhkan pertanyaan Uttara.
"Kak...." panggilnya rendah.
"Oke, baiklah. Sekarang katakan semuanya kepada Kakak." ucap Ragini berakhir menyerah.
"Uttara akan mengatakan semuanya, tapi tidak disini. Setelah makan siang nanti, kita akan keluar."
"Baiklah, tapi kau tidak apa-apa kan?" Uttara mengangguk sambil tersenyum.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
Di taman.
"Ayah, ayo tendang bolanya!" teriakan semangat itu berasal dari suara cempreng Sinta.
Saat ini, Sinta sedang bermain bersama teman-temannya di taman tidak lupa Sanskar juga ikut ke dalamnya. Tidak, sejak tadi Sinta lah memaksa dirinya ikutan bermain.
"Yey! Kita menang lagi Ayah!" teriaknya lagi setelah memasukkan bola ke gawang.
Sanskar terkekeh saat Sinta berlari kearahnya. "Sekarang Sinta main sama yang lainnya, ya? Ayah mau ke Ibu dulu." ucap Sanskar sambil mengusap keringat didahi Sinta.
"Ayah...." ucapnya merengek saat Sanskar akan pergi.
Sanskar menoleh. "Jangan pergi...."
"Sinta! Ayo main lagi!" teriak dari salah satu rombongan cowok yang bermain sepak bola tadi.
Sinta hanya melihatnya sebentar, lalu menatap ke Sanskar lagi yang sempat berhenti melangkah.
"Di panggil tuh!" ujar Sanskar.
Sinta menunduk sambil mengangguk, lalu mendongak lagi. "Ayah jangan pergi, ya. Ayah dan Ibu duduk di sana aja." ucapnya menunjuk Swara yang sedang duduk disalah satu bangku taman sambil menatap mereka.
"Iya, udah sana." Sinta mengangguk lagi, lalu langsung berlari kecil menghampiri rombongan cowok seumuran dirinya.
"Sinta tidak apa-apa?" tanya Swara khawatir saat Sanskar sudah duduk di sampingnya.
"Belajar lagi." ucap Sanskar terkekeh.
"Belajar sakit hati lagi dong." Swara ikutan terkekeh sambil mengusap peluh yang membasahi dahi Sanskar.
"Lagian dia masih kecil, mana tahu tentang itu."
"Jiwanya yang besar, Sanskar. Memang kau lupa dengan tujuan kita menyuruh dia keluar negeri?"
"Lebih baik kita beli minum." ujar Sanskar langsung bangkit.
Swara mendongak. "Kau mau meninggalkan nya disini sendiri?"
"Sebentar saja. Lagian disini banyak orang."
"Tapi Sanskar...."
"Ya sudah kau disini saja. Aku mau beli minum." ucap Sanskar berlalu pergi.
"Sanskar! Aku ikut!" Swara langsung menggandeng tangan Sanskar.
"Katanya tidak mau meninggalkan Sinta sendirian." ucap Sanskar ketus.
"Aku tidak mengatakan itu." balas Swara tak mau kalah.
"Terserah!"
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
"Yah, bolanya pergi. Kalian sih tendang bolanya kencang banget." ucap Sinta langsung lesu, tapi ia tetap mengejar bola tersebut.
"Dio yang tendang bolanya Sinta." ucap saudara kembar Dio yang langsung dapat pelototan dari Dio.
"Bodoh amat! Aku tidak tahu yang mana Dio ataupun Deo!" balas Sinta dengan teriakan.
Bruk!
"Oh, astaga!" decak Sinta terjatuh saat menabrak sebuah tubuh besar.
"Nak, kau tidak apa-apa? Maaf, tadi saya tidak melihatmu berlari ke arah saya." ucap si pelaku langsung membantu Sinta berdiri.
'Tidak apa-apa bagaimana, sih?! Orang sudah jatuh juga! Lagian aku tidak berlari ke arah Paman ini, tapi ke bola kok!' kata-kata itu hanya bisa ia keluarkan di hati.
Sinta masih menunduk sambil membersihkan tangan dan lututnya yang terkena tanah. Saat mendongak, pria itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah belakang karena ada perempuan yang memanggil namanya.
Veer!
"Oh iya, sebentar, sayang!" lalu ia menatap Sinta sebentar dengan kata saya lagi buru-buru. Sekali lagi saya minta maaf, ya. Setelah itu, ia langsung pergi meninggalkan Sinta yang terdiam.
"Ayah...." panggilnya mengerjapkan mata.
"Apakah Sinta sudah selesai bermainnya?" tanya Sanskar.
"Ah, iya, Ayah." ucap Sinta kembali sadar.
"Kita pulang sekarang?"
"Sebentar, Sinta mau mengasih bola dulu ke mereka." ucap Sinta langsung berlari kecil dengan membawa bola.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
"Ayah percaya tidak dengan adanya orang kembar?" tanya Sinta saat di perjalanan.
Saat ini mereka bertiga sedang berjalan menuju rumah dengan berjalan kaki. Ya, jarak antara rumah dan taman tidak jauh, jadinya mereka berjalan kaki saja tanpa menggunakan mobil. Sekalian olahraga jalan sedikit.
Swara dan Sanskar mengerutkan dahinya sambil menatap Sinta. "Kok tanyanya begitu, sayang?" tanya Sanskar.
"Iya, awalnya Sinta tidak percaya kalau Deo dan Dio itu kembar. Tapi saat melihat seseorang lagi Sinta jadi percaya. Tapi Sinta merasa heran... kok bisa kembar begitu ya, Ayah?" Sinta masih mendongak menatap Sanskar.
"Ya, bisalah. Masa tidak bisa." balas Sanskar dengan khas kekehan nya.
"Sinta boleh bertanya pada Ayah?"
"Sejak tadi juga sudah bertanya." ucap Sanskar terkekeh lagi begitu pun dengan Swara.
"Ayah punya kembaran, ya?"
"Ayah cuma satu."
"Tapi...."
"Kalian sudah pulang?" itu suara Lakshya yang sedang menonton di ruang tamu.
"Belum, masih di taman." balas Sanskar.
"Hehe, salah bilang, ya?" tanya Lakshya terkekeh.
"Belajar sana dari TK!" balas Sanskar lagi yang langsung mengundang ketawa Swara dan Sinta.
"Kami ke kamar dulu mau mandi." ucap Swara melerai. "Sinta mau mandi di kamar Ayah dan Ibu?" lanjut Swara beralih ke Sinta. Sinta mengangguk.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
"Ayah sudah selesai mandi, tuh! Sekarang Sinta yang mandi." ucap Swara langsung menginterupsi Sinta ketika Sanskar keluar dari kamar mandi.
Sinta mengangguk dan langsung berlari ke kamar mandi.
Sedangkan Sanskar berdiri di hadapan Swara dan langsung mengibas-ngibaskan rambutnya ke arah Swara.
"Ish, Sanskar aku basah!" dumel Swara.
"Keringkan." Sanskar langsung menyodorkan handuk kecil tadi kepada Swara, lalu ia duduk di pinggir ranjang.
"Kau ini! Mengeringkan rambut saja tidak lulus. Apa kata anak-anak mu nanti setelah mereka tahu kalau Ayah mereka tidak lulus mengeringkan rambut, heum?" dumelnya kembali, tapi tangannya tetap bergerak mengeringkan rambut Sanskar.
Sedangkan Sanskar, ia mendongak menatap wajah kesal Swara yang sedang berdiri di hadapannya.
"Oh, ya...?" tanya Sanskar jahil. "Maka aku akan mengatakan kepada mereka, kalau itu hanya akal-akalan nya saja. Bukankah kita harus berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkan?" sambung Sanskar.
Tangan Swara berhenti, lalu pandangannya turun menatap Sanskar. "Kau akan mengajarkan itu kepada anak-anak mu nanti, Tuan?" tanya Swara tak percaya.
Sanskar berdiri, lalu melingkarkan tangan nya di pinggang ramping Swara. "Kenapa sejak tadi kau mengatakan anak terus? Apa kau sudah tidak sabar dia hadir, hem?" goda Sanskar.
Blush, pipi Swara langsung memerah. "Ti-tidak. Bu-kan begitu." jawabnya gugup.
Lagi-lagi Sanskar menatap Swara jahil. "Sanskar lepas. Nanti kalau Sinta keluar dari kamar mandi bagaimana?" ucap Swara memberontak saat wajah Sanskar mulai mendekat dengan dirinya.
"Ibu...." panggil Sinta dari dalam kamar mandi.
Dengan terkejut, Swara langsung mendorong tubuh Sanskar. "Iya, Sinta?"
"Pakaian Sinta, Ibu. Sinta lupa mengambilnya tadi." ucapnya kembali.
"Baiklah, Ibu akan mengambilnya." setelah Swara menjemur handuk Sanskar, ia berjalan ke bawah... meminta Ragini menyiapkan pakaian Sinta.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
"Tadi pagi Sinta makan sedikit kan? Sekarang Ibu mau Sinta menghabiskannya." ucap Swara duduk di sebelah Sinta, setelah ia menyodorkan piring berisi nasi dan lauk pauknya.
Saat ini, jam menunjukan pukul 12:30. Sebelum sholat dzuhur tiba mereka makan bersama terdahulu.
Di makan siang ini, tidak ada Annapurna, Durga, Ram, Sujata, Kavita.
Durga dan Ram sedang ada di kantor. Annapurna dan Sujata datang kearisan. Sedangkan Kavita pergi belanja bersama temannya.
"Ibu yang suap." Swara mengangguk dan mulai menyuapi Sinta.
"Oh ya, Sanskar. Apa kau sudah mencari sekretaris baru?" ucap Adarsh bertanya.
"Memang sekretaris Sanskar di mana?" tanya Lakshya merasa bingung.
"Dia mengundurkan diri." jawab Sanskar.
"Mengundurkan diri? Alasannya?" tanya Swara juga ikutan bingung.
Sanskar mengedikkan bahu. "Entahlah. Dia tiba-tiba saja mengatakan tidak sanggup."
"Alasan yang kurang jelas." gumam Parineeta.
"Kebetulan sekali." ucap Ragini antusias.
"Kebetulan apanya, Ragini?" tanya Swara.
"Hem, aku dengar-dengar Kavita sedang mencari pekerjaan. Kau tahukan keahlian Kavita dalam pekerjaan seperti itu." ucap Ragini.
"Langsung ke pokok pembahasannya saja, Ragini." ucap Swara.
"Oke. Mengapa bukan Kavita saja yang menjadi sekretaris baru Sanskar?" ucap Ragini lagi.
"Aku yakin Kavita tidak akan membuat perusahaanmu bangkrut Sanskar." gurau Ragini.
Semua orang memutar bola mata malas. "Tapi dimana dia sekarang?" tanya Parineeta.
"Dia lagi belanja. Sebentar lagi juga pul...." perkataan Ragini terhenti saat si pemilik nama masuk ke rumah setelah mengucapkan salam.
"Ha, itu dia! Panjang umurnya." sambung Ragini menunjuk ke arah Kavita yang baru saja masuk.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Kavita bergabung setelah memberikan semua belanjaannya kepada Bik Ijum.
"Sanskar sedang mencari sekretaris baru." jelas Ragini.
"Lalu...?" tanya Kavita.
"Kau kan sedang mencari pekerjaan. Kenapa bukan kau saja yang menjadi pengganti sekretarisnya Sanskar?" tanya Ragini balik.
"Tapi, Ragini...."
"Ragini benar, Kavita. Kau sangat ahli di bidang berbisnis bukan? Kenapa kau tidak mengambil kesempatan ini? Lagian Sanskar sudah tahu tentang dirimu. Dia sangat mempercayaimu begitu juga dengan kami. Apa lagi yang kau pikirkan, hem?" tanya Adarsh panjang lebar.
"Tapi, tidak mungkin aku bisa melamar pekerjaan semudah itu Kak Adarsh? Aku telah banyak berhutang budi kepada kalian semua. Kalau mendapatkan lamaran pekerjaan semudah itu... Aku tidak bisa menerimanya." ucap Kavita kikuk.
"Kavita, bukankah kita semua 1 keluarga. Jadi kau tidak perlu ragu untuk mengambil keputusan itu." ucap Swara.
"Tapi, Ra...." seketika saat melihat wajah memelas Swara, Kavita langsung mengangguk dengan ragu.
"Baiklah." ucap Kavita lagi.
"Mulai besok kau akan menjadi sekretaris barunya Sanskar. Selanjutnya kau bisa bertanya kepada Sanskar." ucap Swara final mengambil keputusan.
"Hem, baiklah. Aku ke kamar dulu." ucap Kavita langsung bangkit dari duduk.
"Kau tidak makan dulu?" tanya Swara.
"Aku tadi sudah makan di luar." jawab Kavita berlalu pergi ke lantai dua.
"Ibu, Sinta sudah kenyang. Sinta mau ke belakang dulu bermain dengan ayam." ucapnya.
"Baiklah."
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
Setelah bermain dengan ayam, Sinta langsung mengajak Bik Siti bermain di luar. Namun, ia selalu di tolak. Sinta kesal kepada Bik Siti yang hanya mementingkan pekerjaan rumah.
Bukankah Bik Siti di pekerjakan hanya untuk dirinya saja? Tapi lihatlah sekarang, Bik Siti senang-senang dengan tanaman yang ada di belakang rumah.
Ya, saat ini Bik Siti lagi sibuk memindahkan bunga ke pot yang lain di halaman belakang.
"Bik Siti, ayo kita bermain di luar." ucap Sinta untuk kesekian kalinya.
"Tapi Nona kecil, Nona kan baru saja selesai mandi. Nanti kalau keringatan lagi bagaimana?"
"Aduh, Bik Siti payah!" ucap Sinta menepuk jidat lebarnya.
"Kalau keringatan lagi ya tinggal mandi." lanjut Sinta sambil berkacak pinggang.
"Nona kecil mau ganti pakaian berapa kali dalam satu hari? Lagian di luar panas. Bibik tidak mau kulit Bibik nanti berubah jadi hitam. Memang Nona kecil mau kulitnya berubah menjadi hitam?"
"Bibik Siti yang takut kulitnya hitam, ayolah! Sinta bosan di dalam rumah terus." ucap Sinta memelas.
"Bukannya tadi Nona kecil sudah keluar bersama Ayah dan Ibu?"
"Iya, tapi Sinta belum puas. Sinta masih ingin bermain di luar. Ayo, Bik Siti!" Sinta menarik paksa tangan Bik Siti. Sedangkan si pemilik tangan hanya pasrah dengan tarikan Nona kecilnya.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
Sampai di ruang tamu, langkah Sinta yang sedang menarik Bik Siti terhenti dengan suara berat Lakshya.
"Kami mau keluar." jawab Sinta singkat, lalu menarik kembali tangan Bik Siti sampai keluar rumah.
Lakshya menggelengkan kepala melihat sikap anak satu-satunya itu. Ia kembali menggunakan kacamata non minusnya dan kembali melanjutkan kegiatannya dengan laptop dipangku.
Tak lama kemudian, Ragini datang dari dapur dengan sebuah kopi panas dan camilan di nampan.
"Mereka mau kemana?" tanya Ragini setelah meletakkan nampan berwarna hijau lumut di atas meja.
"Biasa main-main." jawab Lakshya melihat sebentar pergerakan Ragini.
"Putrimu itu tiada hari tanpa bermain." ucap Ragini meraih remote TV di meja.
"Buat lagi biar dia mainnya di rumah terus." ucap Lakshya menatap Ragini jahil.
"Swara saja suruh." jawab Ragini ketus.
"Ma-maksudmu? A-aku dan...."
Ragini memukul jidat Lakshya dengan remote. "Hei, Nyonya! Kenapa kau memukul jidatku?"
"Laksh, apa yang kau pikirkan? Maksudku itu bukan kau dan Swara. Tapi, Sanskar dan Swara." jelas Ragini sedikit kesal.
"Kau ini. Aku pikir entah apa tadi." Lakshya membawa Ragini ke dalam pelukannya.
"Mana mungkin aku membiarkan suamiku b******a dengan orang lain, walaupun itu saudaraku sendiri."
Lakshya mencium pucuk kepala Ragini. "Aku mencintaimu."
"Aku juga." jawab Ragini seraya mengeratkan pelukannya.
(ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ)
To Be Continued...