(ಥ ͜ʖಥ) HAPPY READY (ಥ ͜ʖಥ)
Sebuah hubungan didasari dengan kepercayaan dan... bagaimana jika kepercayaan itu tidak ada didalamnya?
(CS - Cinta Swara)
:
:
:
Setelah sholat maghrib berjama'ah selesai. Swara langsung mendandani dirinya. Setelah itu, ia akan mendandani Sinta.
Tadi Sanskar mengatakan kalau mereka akan pergi ke pesta pernikahan temannya. Sedangkan Sanskar, ia menunggu kedua tuan putrinya di bawah.
15 menit telah berlalu. Saat ini, ketiga manusia itu sudah berada di dalam mobil. Dengan Sanskar yang mengemudi dan Swara berada di sampingnya. Sedangkan Sinta, ia berada di bagian belakang.
Bisa saja ia dipangku sang Ibu, tapi Sinta tidak mau membuat pakaian Swara kusut karena pergerakannya. Bagaimana pun ini adalah hari terpesial yang mereka rencanain sejak minggu lalu untuk Swara dan pastinya tanpa sepengetahuan dirinya.
"Ibu, hidupkan musiknya." pinta Sinta.
"Baiklah, sayang." Swara langsung menghidupkan mp3 tersebut, lalu menyambungkan nama bluetooth ponsel Sanskar yang baru saja dihidupkan Sinta.
Sedangkan Sinta, jemarinya sibuk menari diatas keyboard ponsel Sanskar mencari lagu dari YouTube Justin Beiber-Favorite Girl. Swara memutar kembali di bagian volume sebaik mungkin.
Di dalam perjalanan begitu banyak celotehan yang dikeluarkan Sinta untuk menghilangkan rasa kesunyian diantara mereka bertiga.
Sedangkan Sanskar? Ia hanya tersenyum melihat kedua Tuan putrinya tertawa seceria ini. Ia berharap, senyuman manis itu tidak akan pernah hilang dari salah satu bibir mereka.
Sampai disana, Sanskar dan Swara turun dengan Sinta yang berada di tengah-tengah mereka.
"Sanskar, kenapa tempatnya gelap sekali?" tanya Swara merasa bingung dengan kegelapan yang ada di dalam gedung pesta.
"Entahlah, Swara. Aku juga tidak tahu." ucap Sanskar seadanya.
"Benarkah ini tempatnya? ucap Swara kembali.
"Benar, sayang." jawab Sanskar.
"Tapi, kenapa gelap seperti ini?"
"Kita masuk saja dulu."
Tak lama kemudian...
"Happy wedding anniversary ke 1 tahun!!!" seketika saat itu lampu langsung menyala dengan teriaknya semua orang dan MC yang ada di dalam gedung ini.
Swara menatap semuanya tak percaya, sedangkan Sanskar tersenyum. Jadi semua ini? Wow! Bahkan, ia lupa kalau hari ini adalah hari pernikahan mereka yang pertama.
Sungguh, semua ini tidak dapat ia percaya. Kedua mata Swara berkaca-kaca. Lantas, ia menoleh ke arah Sanskar. Sanskar tersenyum menarik Swara ke dalam pelukannya. Oh ya, Sinta sekarang sudah bersama Lakshya dan Ragini.
"Happy wedding anniversary, sayang." ujar Sanskar seraya mengecup singkat kening Swara.
"Kau berbohong kepada ku demi ini?" tanya Swara mendongak menatap Sanskar.
Sanskar mengangguk. "Sanskar, kenapa kau tidak mengatakan langsung padaku? Kalau begitu kan aku tidak akan salah paham padamu." ucap Swara dengan lirih.
"Kalau aku mengatakannya, itu namanya bukan kejutan lagi, Swara." ujar Sanskar mengusap pipi Swara. "Sudah, jangan menangis. Nanti makeup-nya luntur, lho." lanjut Sanskar.
"Ayolah, Swara. Ini adalah hari bahagia kalian berdua. Untuk apa kau menangis, hn?" ucap Ragini seraya bertanya dengan Sinta yang ada di dalam gendongannya.
Swara menatap ke arah Ragini, lalu Sinta. "Jangan bilang Sinta juga ikut dalam merencanakan ini semua?" ucap Swara.
Sinta cengengesan. "Kalian semua telah berbohong padaku." pantas saja ia merasakan keganjalan dalam 1 hari.
Pertama, Sanskar membentak dirinya tanpa alasan. Kedua, Sinta pulang dijemput Sanskar, sedangkan Sanskar pergi entah kemana. Ketiga, semua orang pergi ada urusan dan urusannya sama. Keempat, lampu di pesta pernikahan yang kata Sanskar adalah pesta pernikahan temannya mati padam saat mereka bertiga masuk ke dalam gedung.
Well! Sekarang semuanya telah terbukti kan?! "Happy wedding anniversary yang pertama, Nak. Semoga langgeng terus sampai tua dan jangan lupa kasih kami keturunan." setelah mengatakan itu. Sujata langsung memeluk Swara yang sudah ia anggap seperti anak sendiri, lalu bergantian ke putranya.
Begitu juga dengan yang lainnya, sedangkan pipi Swara sudah memerah seperti tomat busuk dengan pertanyaan mereka semua keturunannya kapan? Mau punya anak berapa? Kapan punya bayi? Tidak nunda kan?
"Sudah-sudah. Sekarang ayo, potong kuenya dulu!" Ram langsung menginterupsi Swara dan Sanskar.
Setelah kue dipotong, Swara langsung memberikan potongan kue pertamanya kepada Sanskar. Begitu pun dengan Sanskar dan bergantian dengan yang lainnya.
Detik demi detik berganti menjadi menit. Menit berganti menjadi jam.
Saat ini, jam menunjukkan pukul 23:30. Semua tamu terlihat berpulangan. Begitu pula dengan keluarga Hadiwijaya.
20 menit berlalu, mereka semua sampai di rumah. Segera mereka menginjakkan kaki di kamar masing-masing karena merasa sangat lelah.
Seperti biasa, sebelum tidur Swara berdiri di balkon menatap bulan. Dua buah lengan kekar melingkar indah di perut ratanya. Swara sudah tahu siapa pelakunya. Ia memejamkan matanya, lalu menyenderkan kepala di d**a bidang Sanskar dengan posisi dirinya yang di depan.
Cup! Darah Swara berdesir saat Sanskar mengecup lembut bahunya.
"Aku menginginkanmu." ucap Sanskar dengan suara seraknya, sedangkan Swara tersenyum dengan mata yang masih terpejam.
"Sanskar...." ucapnya tertahan saat bibir Sanskar mulai bermain dilekukan leher jenjangnya. "Ja-jangan digigit, sakit...." timpalnya lagi.
Sanskar membalikkan tubuh Swara mengahadap dirinya, lalu ia mengusap lembut pipi Swara yang masih setia terpejam.
Sanskar mengecup bibir ranum milik Swara, lalu mengisapnya seperti orang kehausan.
Tangan kanan Sanskar menekan tengkuk Swara berusaha memperdalam ciuman mereka. Sedangkan tangan Swara juga ikutan memperdalam ciumannya dengan membawa rahang Sanskar lebih mendekat.
Setelah melakukan itu, ciuman Sanskar turun kembali ke leher jenjang Swara yang belum sempat ia jamah.
"Sanskar, shhh...." desisnya antara sakit dan nikmat.
Sanskar yang mendengar itu langsung menggendong Swara menuju ranjang. Swara membuka kedua matanya, lalu mengeratkan kedua lengannya yang sudah mengalung di leher Sanskar.
Sampai di ranjang, Sanskar menyatukan tangan kirinya dan tangan kanan Swara. Sanskar mencium wajah Swara tanpa terlewati, lalu pandangannya jatuh kembali ke bibir ranum Swara.
Di malam itu, tepat pada tanggal 18 November 20** adalah hari penyatuan kedua insan itu kembali.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
Pukul 04:30 wib. Swara terbangun dari tidurnya. Ia mendongakkan wajahnya dan mendapatkan Sanskar yang masih tertidur damai.
Lantas saat mengingat semalam adalah malam penyatuan mereka berdua, secerca senyuman terbit di bibir Swara.
Tangan kanannya bergerak mengusap pipi kiri Sanskar. Lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Sanskar. "Aku mencintaimu. Cup!" bisik Swara dan berakhir mengecup pipi Sanskar.
Swara bangkit dari tidurnya setelah melilitkan selimut yang lain di tubuhnya.
Saat ini, Swara ingin membersihkan dirinya dulu, lalu ia akan membangunkan Sanskar.
15 menit kemudian, Swara keluar dari kamar mandi dengan pakaian rumah. Dengan rambut yang basah, ia berjalan menghampiri suami tercintanya.
"Sanskar...." panggil Swara dengan lembut.
"Hm...." jawabnya purau tanpa membuka mata.
"Mandi dulu. Sebentar lagi subuh." Swara merangkak menaiki ranjang lalu langsung menepuk pipi Sanskar pelan agar ia terbangun.
"Lima menit lagi...." ucap Sanskar sambil menarik tangan Swara.
"Tidak ada, ayo! Bangun, Sanskar. Jangan malas begini, ish!" decak Swara menarik tangan Sanskar, namun hasilnya nihil.
Dengan malas Sanskar membuka matanya, lalu menatap Swara nakal. "Mandi sama."
"Kau tidak melihatnya? Aku sudah mandi, sekarang kau gantian."
"Curang!" ucap Sanskar kesal seraya mengubah posisinya menjadi duduk.
"Hey, Tuan! Kau saja yang dari tadi ku bangunkan susah sekali. Ya, terpaksa aku mandi duluan." ucapnya dusta.
Padahal memang sengaja tidak di bangunkan cepat. Oh, ayolah, mana mungkin ia membangunkan Sanskar untuk menyuruhnya mandi sama? Apa kata dunia? Eh?!
Sanskar beralih menatap Swara kembali. "Benarkah?"
"H-ha? Iya." ucap Swara gugup, lalu beralih menatap ke arah lain.
Ayolah, Swara kalau ditatap terus seperti itu berasa punya hutang banyak.
Sanskar tersenyum kecil melihat wajah gugup Swara. "Kau tidak punya hutang, sayang."
Puk puk! Sanskar menepuk pipi Swara dua kali dengan lembut, lalu ia memasuki kamar mandi.
"Dasar!" dengus Swara kesal.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
Sholat subuh sudah selesai. Jam menunjukkan pukul 06:15. Swara sibuk membersihkan tempat tidur. Setelah kegiatan tersebut selesai, ia memasukkan kain kotor ke dalam keranjang.
"Sanskar, cepatlah sedikit. Sebentar lagi semuanya akan sarapan." ucap Swara di balik pintu kamar mandi.
"Sebentar lagi, Swara!"
Tok tok tok!!!
"Ibu, buka pintunya. Ibu...." teriakan dari luar pintu kamar membuat Swara menutup kembali mulutnya yang akan berbicara.
"Sinta?" gumam Swara, lalu ia berjalan menghampiri pintu kamar.
"Ibu, buka pintunya, hiks!" ucapnya lagi saat pintu kamar Sanskar dan Swara belum dibuka juga.
Cek lek!
Pintu terbuka. Swara menatap wajah Sinta yang berlinang air mata.
"Hei, sayang. Kamu kenapa? Kok menangis?" Sinta langsung menghambur ke dalam pelukan Swara saat posisi mereka berdua seimbang.
"Mama ja-hat, hikshiks...!" ucapnya dengan napas tersenggal.
Swara melepaskan pelukannya, lalu mengusap lembut wajah Sinta. "Kita masuk dulu, ya. Baru itu, Sinta jelaskan pada Ibu."
Sinta mengangguk, lalu ia dibawa Swara ke ranjang.
"Hem, sekarang kasih tahu Ibu penyebab kamu menangis."
"Ta-tadi Mama menyuruh Sinta sarapan, tapi Ibu tahu kan kalau di pagi hari Sinta tidak suka makan? Mama marah sama Sinta. Ma-ma mencubit Sinta. Sakit Ibu, hiks! Ta-tangan Sinta berbekas." adunya sembari menyodorkan tangan yang bekas cubitan.
Swara mengusap kening Sinta. "Sayang, Mama hanya tidak mau kamu sakit. Justru itu, Mama menyuruh kamu sarapan. Sinta harus biasakan sarapan. Apa Sinta mau punya penyakit, hem?"
Sinta menggeleng. "Tidak, tapi Sinta tidak biasa makan di pagi hari."
"Harus dibiasakan."
"Sinta mau sarapan." ucapnya. "Tapi setelah Ayah, Ibu dan Sinta pergi ke taman. Sinta mau main-main di sana." lanjutnya.
"Sayang, itu namanya bukan sarapan lagi, tapi makan siang." ucap Swara menjelaskan.
"Please, Ibu. Sebentar saja. Mau, ya?"
"Baiklah, tapi kita sarapan dulu. Kamu kan tahu, Ayah tidak akan mau diajak keluar kalau belum sarapan?"
Sinta mengangguk patuh. "Sinta sarapannya disuapin Ibu, ya?" pintanya.
"Iya, sayang. Kita tunggu Ayah keluar dari kamar mandi dulu."
Lagi-lagi Sinta mengangguk patuh. "Ibu...." panggil Sinta saat mengingat sesuatu.
"Iya, sayang?"
"Semalam itu Sinta ingin me...."
Cek lek!
Pintu kamar mandi terbuka dengan Sanskar yang sedang mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
"Tuan putri ada disini ternyata." Sinta tersenyum, lalu Sanskar berjalan menghampiri keduanya.
"Ada apa, hem? Pagi-pagi sudah ada di kamar Ayah dan Ibu?" tanya Sanskar setelah mengambil tempat di sebelah Sinta.
"Ayah mau kan Sinta ajak ke taman bersama Ibu sekarang...?"
Sanskar mengangguk mengelus rambut sepunggung Sinta. "Tapi ada syaratnya. Kita sarapan dulu."
"Ayo!" ucap Sanskar kembali langsung mengajak mereka ke bawah bergabung dengan yang lainnya.
"Ayah, gendong!" ucapnya cemberut. Segera Sanskar menyeimbangkan posisi mereka, lalu menggendong Sinta di dekapannya. Tapi sebelum itu, ia menyempatkan diri untuk mencoel hidung mancung putrinya.
"Ayah harum." celoteh Sinta. "Sinta sayang Ayah." celotehnya kembali sambil memeluk Sanskar erat.
Sanskar hanya tersenyum mendengar perkataan Sinta, sedangkan Swara mengelus rambut panjang Sinta.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
"Ibu, Sinta mau supnya." ucap Sinta langsung saat Ragini membawa sup di mangkok besar bersama Bik Ijum.
"Baiklah, sayang." Swara mengambil sup yang baru saja diletakkan Ragini, lalu ia menuangkan kuah sup dan beberapa ceker, kentang dan wortel ke dalam piring milik Sinta.
"Sudah, Ibu." ucap Sinta kembali.
"Sekarang, Sinta harus menghabiskan semuanya. Aaa...." Swara memperagakan mulutnya ke Sinta.
"Ibu, nanti kalau Sinta muntah bagaimana? Sinta tidak mau sarapan. Sinta mau pergi ke taman aja." ucapnya cemberut. Swara yang melihat itu langsung menjatuhkan kembali sendok yang berisi nasi beserta lauknya ke piring.
"Sayang, kamu sarapan dulu, ya. Habis itu kita ke taman. Nanti Sinta bisa main sepuasnya di sana." ucap Swara yang masih setia membujuk putrinya, lalu ia mengangkat kembali sendok yang tadi ke hadapan Sinta.
Tatapan Sinta turun ke sendok yang digenggam Swara. Perlahan-lahan, ia membuka mulutnya. Dengan terpaksa, ia harus sarapan untuk sekian kalinya.
Terkadang sikap Sinta bisa berubah begitu saja dengan moodnya. Seperti di kamar tadi, ia katanya mau sarapan kalau ada syaratnya. Tapi saat sudah di ruang makan, ia berubah pikiran lagi untuk memenuhi syarat itu terlebih dahulu. Lalu saat Swara membujuknya kembali, ia berubah pikiran.
Dasar anak kecil!
Kata Sinta kalau makan pagi tidak ada rasanya. Semua makanan yang sudah dihidangkan rasanya hambar.
"Pintar...." ucap Swara kegirangan sambil mengusap rambut Sinta.
"Hem, calon Ibu yang baik." gumam Ragini memecahkan keheningan sambil meminum teh manis hangatnya.
Semua orang tersenyum mendengar itu, tak terkecuali Swara yang pipinya sudah merah seperti kepiting rebus.
"Mama sendiri cuma minum doang saat yang lainnya sarapan." ucap Sinta menyindir sambil menatap Ragini di seberangnya.
"Biarin, wle!" balas Ragini tak mau kalah.
"Papa...." panggilnya merengek.
"Nanti Papa suruh Mama sarapan." ucap Lakshya angkat bicara.
"Percuma. Kalau tetap tidak mau!" ucap Ragini sedikit menantang.
Sinta langsung melotot, Lakshya pun menyikut lengan Ragini. Untung saja Ragini menggenggam kuat-kuat gelas tehnya, kalau tidak bisa pecah berkeping-keping.
Semua orang yang melihat perdebatan kecil itu langsung geleng kepala atau barang kali tersenyum kecil.
"Iya iya, ini mau makan." Ragini langsung mengambil nasinya dengan kesal.
"Wajahnya tidak usah ditekuk begitu. Nanti makanannya marah lho kalau tidak dimakan dengan ikhlas." ucap Sinta datar menahan senyum. Lantas, Ragini langsung tersenyum pada Sinta.
Terkadang Ragini dan Sinta itu bukan seperti Ibu dan anak. Malahan seperti musuh. Tidak ada satupun yang mau mengalah. Dua-duanya ingin selalu menang.
"Ibu makan saja. Biar Sinta disuapin sama Bik Siti. Ayo, Bik! Sinta mau makan di belakang sambil melihat ayam." ucap Sinta langsung turun dari bangku, lalu berlari kecil kebelakang rumah dan diikutin dengan Bik Siti.
Selepas perginya Sinta, Swara langsung tersedak dengan sebuah pertanyaan dari Ragini. "Makannya jangan terlalu dihayati, Kak." celetuk Uttara dengan geli.
"Sudah Ragini. Tidak Sinta, Swara pun jadi. Selalu saja begitu. Ini waktunya sarapan, nikmati saja makananmu." dumel Lakshya.
"Ish, kan aku cuma bertanya. Memang salah Ibu kalau Ragini bertanya seperti itu?" tanya Ragini kepada Sujata. Sujata tersenyum kecil sambil menggeleng.
Ragini tersenyum senang, sedangkan Lakshya langsung memutar bola matanya. Ragini kembali menatap Swara yang dibantu Sanskar mengusap punggungnya.
"Iya, Swara. Kami sudah menunggunya, lho." itu Kak Parineetaa.
Swara yang mendengar itu langsung menatap Parineetaa tanpa bicara. Jujur, ia tidak bicara bukan karena perkataan Ragini dan Parineetaa. Tapi ia terdiam karena hidungnya pedih sekali. Dia tersedak sampai ke hidung, lho!
"Pedih?" tanya Sanskar
"Hem. Sampai ke hidung." gumamnya membalas.
"Minum lagi." ucap Sanskar menyodorkan air minum di gelasnya, karena air di gelas Swara sudah habis tak bersisa.
"Masuk ke hidung ya, Ra? Hehe, itu bukan kakak yang masak. Tapi Ragini, sumpah!" ucap Parineeta sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengah berbentuk v.
Ragini melotot pada Parineeta.
"Swara mau ke kamar mandi dulu." ucap Swara langsung beranjak.
"Sanskar, Swara tidak marah kepada kami kan?" tanya mereka berdua dengan waspada saat Swara tidak ada.
"Tanya aja sama Swaranya." balas Sanskar mengedikkan bahu.
"Kak, bagaimana dong? Kakak, sih!" ucap Ragini mendecak. Ayolah, Swara itu kalau sudah marah mau membujuknya susah banget.
"Kok Kakak, sih?!" tanya Parineeta tak mau disalahkan.
"Tenanglah." itu Swara yang duduk kembali di samping Sanskar.
"Kau tidak marah?" tanya Ragini.
"Untuk apa?" tanya Swara balik.
"Ya yang tadi." ucap Ragini.
"Sudah Ragini. Kau memang selalu membesarkan masalah kecil." ucap Annapaurna melerai.
"Memang kau yang masak makanannya?" tanya Swara dengan wajah serius. Ragini mengangguk polos.
"Aku marah samamu." ucap Swara melanjutkan sarapannya.
"Swara...." ucap Ragini merengek yang lainnya tertawa geli.
"Tapi aku juga serius. Aku pengen punya keponakan lagi." ucap Parineetaa dengan wajah serius.
Swara yang akan memasukkan makanan ke mulut langsung terhenti. "...dan kami juga menunggu keturunan darimu." ucap Sujata.
Skakmat! Parineeta langsung terdiam, namun sikunya sibuk menyikut tangan Adarsh.
"Apa, sih?" tanya Adarsh sedikit mendecak.
Parineeta cengengesan, lalu menginjak kaki Adarsh sehingga si pemilik kaki mengaduh kesakitan.
"Ada apa Adarsh?" tanya suara dingin milik Durga.
"Itu, Pa! Masa kaki Adarsh dicakar sama kucing, sih!" balasnya.
"Memang disini ada kucing Uncle Adarsh? Sinta mau dong bermain sama kucing." kata Sinta yang baru masuk dari pintu belakang.
"Ini, sebelah Uncle, sayang." balas Adarsh lalu menyeruput kopi hitam yang baru saja dibuat Bik Ijum.
Sinta menggaruk tengkuknya. "Tidak jadi, deh. Kucing yang di sebelah Uncle terlalu besar, hehe...." ucapnya cekikikan.
Kata-kata Sinta langsung menghantar ketawa yang lainnya.
"Ayah, Ibu, ayo kita ke taman! Sinta sudah selesai sarapan sama ayam." ucapnya.
"Ayo, tapi ganti baju dulu, ya? Baju kamu basah." kata Swara langsung dibalas anggukan dari Sinta.
"Memang ayamnya tadi minta makan sama Sinta?" kata Swara kembali sambil keluar dari ruang makan.
"Iya. Kata induk ayam mereka semua lapar. Jadi tadi Sinta kasih sedikit makanan Sinta ke ayam. Tidak apa-apa kan, Bu? Kan kata Ayah kita tidak boleh pelit makanan sama ayam." ucap Sinta.
"Hey, Ayah tidak pernah bilang begitu!" balas Sanskar yang masih mendengar perkataan Sinta.
Lagi-lagi celotehan itu mengundang ketawa yang lainnya. "Ada, Ayah kan pelupa! Mana mungkin Ayah mengingatnya!" balas Sinta kembali tanpa menoleh.
Sungguh! Ternyata bukan sama Ragini saja ia tak mau kalah. Bahkan sama yang lainnya juga begitu. Padahal Sanskar tidak pernah mengatakan yang Sinta katakan.
"Putrimu itu sampai tahu kalau Ayahnya itu pelupa." ucap Annapaurna terkekeh.
"Tapi aku sama sekali tidak mengatakan itu." ucap Sanskar.
"Kau pelupa." tekan Lakshya dan terkekeh kembali.
"Laksh...." ucap Sanskar kesal.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
Sampai di kamar, Swara langsung bertanya pada Sinta. "Memang Ayah pernah mengatakan itu?" tanya Swara penasaran sambil mengucir kuda satu rambut Sinta.
"Ibu, jangan bilang sama Ayah, ya? Sebenarnya Sinta cuma bercanda. Ayah sama sekali tidak mengatakan itu." ucap Sinta cekikikan.
"Kalau tahu Ayah, Ayah marah lho." ucap Swara geleng kepala.
"Sorry, cuma bercanda doang benaran." ucapnya.
"Minta maafnya ke Ayah. Bukan sama Ibu."
(ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ)
To Be Continued...