Aku memilih untuk berada di kamar, berkutat dengan tugas pertamaku di masa perkuliahan tahun pertama. Daripada harus berpapasan kembali dengan Rima ataupun Bu Ambar, tentu saja mereka akan kembali berbicara padaku dengan begitu sinis. Apalagi setelah yang terjadi tadi, di mana Kakek Wiryo mengetahui begitu ketusnya Rima kepadaku.
Saat sedang fokus dengan tugasnya, tiba-tiba aku ingat sesuatu. Tentang kenapa aku berada di kota ini. Bahkan aku hampir melupakan tujuan awalku datang ke kota ini. Menemukan keberadaan ayahku. Namun sekarang aku tidak tahu harus bagaimana, setelah aku bertemu dengan lelaki yang seharusnya kupanggil Ayah, tetapi tidak mengenaliku.
Ingin sekali aku bicara dengannya, ingin aku menceritakan semuanya kenapa aku berada di kota ini, namun menyapaku saja Pak Burhan tidak mau, apalagi mendengar semua ceritaku. Pasti menurutnya itu sangat tidak penting.
Aku hanya ingin tahu, apa alasan yang membuat Pak Burhan tidak mengenalku. Aku yakin dia kenal denganku, hanya pura-pura lupa saja. Banyak alasan yang berada dalam benakku, namun tidak juga membuatku begitu yakin dengan alasan tersebut.
Mungkin aku harus mencaritahunya, aku harus berusaha untuk bisa bicara empat mata dengan Pak Burhan. Aku harus bisa mengatakan kalau aku adalah anaknya, meski keberadaanku sama sekali tidak dia inginkan.
Aku kembali menatap foto Ibu, aku begitu merindukan sosoknya. Wanita yang kucintai, yang selama ini begitu mencintaiku dan merawatku dengan penuh kelembutan. Aku tidak menyangka kalau Ibu akan pergi secepat ini, meninggalkan aku sendirian di sini. Meski aku adalah anak lelaki, namun aku juga begitu terpukul dengan kepergian Ibu. Aku terkadang menangis di malam hari ketika aku begitu merindukan dirinya.
Masih ingat dengan jelas, ketika Ibu merawatku saat sakit. Beliau tidak pernah sedikit pun beranjak dari sisiku, selalu menemaniku dan memberikan kehangatan yang luar biasa, meski kami hidup dengan keterbatasan ekonomi, namun aku sama sekali tidak pernah kekurangan, karena bersama dengan Ibu dan mendapatkan kasih sayang darinya sudah membuat hidupku begitu luar biasa.
Aku termasuk yang beruntung, masih bisa mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari seorang Ibu, berbeda dengan beberapa temanku yang bahkan tidak mendapatkannya. Mereka malah seringnya mengatakan kalau mereka iri kepadaku, karena aku begitu di sayangi oleh ibuku sendiri. Sementara mereka, rumah yang menurutku hangat karena mendapat kasih sayang Ibu, mereka justru merasa rumah adalah tempat yang dingin, karena Ibu mereka yang juga sibuk bekerja.
Tok tok tok. Ketukan pintu dan suara pintu yang dibuka membuatku tersentak, mendapati Kakek Wiryo masuk ke dalam kamar, langsung aku tutup fotoku dengan Ibu dan Ayah agar Kakek tidak melihatnya, aku masih belum mau mengatakannya kepada Kakek. Apalagi beliau pasti terkejut dengan semuanya, melihat lelaki yang merupakan ayahku ternyata adalah anaknya.
“Kakek mengganggu kamu?” tanya Kakek Wiryo kepadaku.
Aku menggeleng, masih dengan posisi duduk karena saat hendak beranjak, Kakek menahannya dengan sebuah kode tangannya. Kakek duduk di tepi tempat tidurku, sementara aku yang duduk di kursi langsung menghadapnya.
“Kamu pasti terganggu dengan perkataan Rima tadi kan?”
Ternyata Kakek kembali membahas yang tadi, kalau terganggu tidak juga karena sudah biasa Rima melakukan itu kepadaku selama di sini. Tetapi, memang kadang perkataan perempuan itu begitu menyakiti hati.
Kakek yang melihat aku hanya diam saja akhirnya kembali bicara. “Jangan dengar apa yang Rima katakan, sudah Kakek bilang kan kalau keberadaan kamu di sini adalah keinginan Kakek. Jadi tidak ada yang boleh mengusir kamu, kecuali Kakek sendiri dan sepertinya itu tidak akan pernah terjadi,” ucapnya terkekeh.
Aku tersenyum tipis, mempercayai perkataan Kakek Wiryo tentang beliau yang tidak mungkin mengusirku dari rumah ini. Karena sudah banyak kebaikan yang Kakek berikan kepadaku dan aku berusaha untuk mejaga sikapku dan melakukan yang terbaik agar Kakek tidak merasa kecewa karena aku.
“Kamu fokus saja dengan pendidikan yang sedang kamu jalani sekarang, biar di masa depan nanti kamu memiliki pekerjaan yang juga memiliki penghasilan cukup untuk memenuhi semua kebutuhan hidup kamu. Kakek di sini hanya membantu kamu mewujudkan semuanya, namun kembali pada kamu yang harus berusaha juga untuk masa depanmu.”
“Terima kasih karena Kakek sudah membuat Faisal bisa melanjutkan pendidikan sampai ke Universitas seperti ini. Faisal janji akan melakukan yang terbaik dan tidak akan membuat Kakek kecewa.”
Kakek Wiryo menatapku begitu lekat. “Faisal, kamu mirip sekali dengan anak Kakek,” katanya membuatku tersentak namun masih bisa aku coba untuk bersikap biasa saja.
Apa Kakek menyadari akan kemiripan aku dengan Pak Burhan? Apa Kakek tahu kalau Pak Burhan adalah ayahku?
“Maksud Kakek … Pak Burhan?” Kakek hanya terseyum tanpa menjawabnya dan kulihat wajahnya yang sendu, entah hanya perasaanku saja atau memang begitu yang terjadi, kedua mata Kakek tampak memancarkan kesedihan.
Apa yang sedang di pikirkan oleh Kakek?
**
Aku memiliki kesempatan!
Malam ini setelah selesai makan malam, aku memiliki kesempatan untuk bicara dengan Pak Burhan. Tadi aku melihatnya masuk ke ruang membaca, akhirnya aku pun mengikuti Pak Burhan.
Aku baru tahu kalau tidak jauh dari kamarku ternyata ada ruang membaca. Maklum saja, selama di rumah aku tidak pernah berani untuk melihat-lihat sekeliling rumah, kecuali kalau memang Kakek Wiryo yang mengajak. Itupun hanya ke ruangan di bagian bawah, biasanya tempat Kakek menunjukkan beberapa foto almarhumah istrinya.
Setelah Pak Burhan masuk ke dalam ruangan, aku pun menyusul dan melihat ke dalam ruangan yang ternyata begitu luas sekali di dalamnya. Ada beberapa rak buku yang tentu saja berjejer berbagai macam buku bacaan. Di sudut ruangan, ada sofa yang memang begitu nyaman untuk di duduki, begitu sih yang aku pikirkan saat melihatnya.
Pak Burhan belum menyadari keberadaanku, beliau berjalan ke salah satu rak dan membawa buku dari sana, kemudian duduk di sofa tadi.
Perlahan aku pun melangkah mendekatinya, mungkin derap langkah kakiku terdengar membuat Pak Burhan menoleh, terkejut mendapati aku berada di ruangan ini namun sesaat beliau sudah menatapku tajam.
"Sejak kapan kamu di sini?" tanya Pak Burhan kepadaku, terdengar lelaki itu memang tidak suka dengan keberadaanku di ruangan yang sama dengannya.
"Baru saja. Saya ingin bicara dengan Bapak."
Pak Burhan mengernyit, mungkin keheranan karena aku tampak serius mengatakan ingin berbicara dengan dirinya.
"Kalau tidak penting, lebih baik kamu keluar saja dan jangan mengganggu!" usirnya kepadaku.
Namun, tentu saja aku tidak lantas menyerah begitu saja. Aku ingin bicara dengannya di saat aku memiliki kesempatan seperti ini.
"Kenapa Bapak tidak mengenaliku sebagai anak Bapak?" tanyaku tanpa berlama-lama.
Hal itu membuat Pak Burhan terkejut, "Maksud kamu apa?"
"Saya anak Pak Burhan, anak dari Ibu bernama Ana, Merliana."
"Saya sama sekali tidak mengenal perempuan itu."
Deg.
Tubuhku terpaku mendengar perkataan dari ayahku sendiri. Bagaimana bisa Ayah melupakan Ibu seperti itu, bahkan melupakan namanya.
"Apa karena Pak Burhan yang terhormat sudah memiliki keluarga baru sampai melupakan saya dan Ibu saya seperti ini," ucapku kembali.
Pak Burhan tampak kesal, mungkin tidak suka dengan apa yang baru saja aku katakan.
"Tetapi memang benar, saya tidak merasa memiliki anak lelaki seperti kamu, dan memiliki istri lain selain istri saya, Ambar."
Aku masih diam, benar-benar menyakitkan sekali mendengar semuanya secara langsung dari mulut seseorang yang selama ini seharusnya sudah aku panggil Ayah.
"Kamu jangan bicara seenaknya. Saya tidak mungkin memiliki anak lelaki seperti kamu."