Foto Lama 8

1465 Kata
Perkuliahan sudah di mulai, aku menjalani semuanya dengan sungguh-sungguh. Dulu Ibu pernah mengatakan ingin sekali bisa melihatku melanjutkan sekolah sampai jenjang yang lebih tinggi, tidak sekedar tamatan SMA seperti beliau. Dan sekarang aku bisa melanjutkan ke Universitas, meski tidak ada Ibu di sampingku, namun aku yakin kalau Ibu juga melihatku di sini sambil tersenyum. Aku akan membuat Ibu bangga dan tidak akan membuat Kakek merasa sia-sia karena membiayaiku untuk menyelesaikan pendidikanku di jenjang Universitas ini. Pun aku ingin mencari pekerjaan sampingan, agar tidak semua kebutuhan di tanggung oleh Kakek, paling tidak kalau aku bisa kuliah sambil bekerja, gaji yang aku dapatkan bisa untuk bekalku selama berkuliah. Hari ini jadwal kuliahku sampai siang, sementara Anggun masih ada kelas sore katanya. Aku dan Anggun memang masih pergi bersama kalau jadwal kuliah kami sama-sama di pagi hari, kecuali kalau berbeda maka Anggun akan pergi menggunakan kendaraan umum, sementara pulangnya selalu bersamaku. Tidak hanya aku yang memutuskan untuk kuliah sambil bekerja, Anggun juga melakukan hal yang sama. Bahkan sudah di mulai sejak dia bersekolah, menjual makanan ringan dan barang lain seperti sandal dan pakaian, yang dia ambil dari toko-toko langganannya. Tidak hanya di tawarkan secara langsung pada teman-teman, Anggun juga memasarkan secara online. Sementara aku sepertinya akan mencari pekerjaan seperti di café atau toko lain yang memang membutuhkan pekerja paruh waktu. Kemarin Gusti sudah memberitahuku kalau café yang waktu itu sempat kita datangi sedang membutuhkan pekerja paruh waktu. “Kalau memang kamu udah kerja di café, nggak apa-apa kita pulang masing-masing aja, Sal.” Anggun baru saja menghampiriku yang sedang berada di kantin dengan Andra, kalau Gusti memang sedang ada kelas tadi. “Tapi aku nggak enak, nanti Kakek tanya sama aku kenapa nggak antar kamu pulang,” ucapku kepada Anggun. “Biar gue yang gantiin lo anter Anggun pulang, Sal,” bisik Andra padaku. Lagi-lagi lelaki itu berusaha untuk bisa dekat dengan Anggun. “Ya, kan ada alasan yang jelas. Lagian aku juga udah biasa sendiri kan, waktu sekolah juga dulu sering pulang sendiri pakai angkutan umum,” balas Anggun. “Iya sih, atau kamu di anter sama Andra aja gimana?” tanyaku yang tentu langsung membuat Andra yang duduk di sampingku tersenyum lebar, senang kan dia karena mendapatkan dukungan dariku untuk mendekati Anggun. “Nggak perlu, aku nggak mau repotin Andra,” balas Anggun yang merasa tidak enak kalau harus merepotkan orang lain untuk mengantarkan dirinya pulang. “Gue nggak merasa di repotin kok,” timpal Andra, jelas sekali kalau lelaki itu senang ada kesempatan seperti ini. Kalau ada Gusti juga di sini, pasti akan ada perebutan posisi siapa yang mengantarkan Anggun pulang dan aku pasti akan melihat perdebatan mereka, untung saja Gusti sedang ada kelas. Anggun sepertinya sulit menolak, gadis itu mengangguk meski bisa kulihat begitu ragu sekali. Hanya hari ini saja, karena aku harus bertemu dengan pemilik café seperti yang di katakana oleh Gusti waktu itu, lain kali aku akan berusaha untuk mengantarkan Anggun lebih dulu sebelum bekerja, lagipula jarak rumah dan Kampus juga café tidak begitu jauh dan aku akan lebih cepat karena menggunakan sepeda motor kan. Andra tampak senang sekali karena hari ini dia bisa mengantarkan Anggun ke rumah, Andra juga sudah tahu letak rumah kami, yang tak lain adalah rumah Kakek Wiryo, karena waktu itu sempat mengantarkan aku pulang, sebelum ada sepeda motor dari Kakek. “Sebelumnya, makasih ya Andra,” ucap Anggun. “Makasih juga, Dra. Gue jadi repotin lo gini,” timpalku. “Sama-sama, nggak masalah sama sekali, gue senang,” balasnya dengan senyum lebar. ** Aku sedang menunggu pemilik café, setelah selesai kuliah tadi dan memastikan kalau Anggun pulang di antar oleh Andra, aku pun pergi ke café untuk bertanya apakah memang benar café tersebut sedang membutuhkan pekerja paruh waktu. “Maaf menunggu lama,” ucap seseorang membuatku menoleh. Aku tersenyum mendapati seorang lelaki yang sepertinya memang pemilik café ini baru saja menghampiriku di ruangannya. Tadi aku memang di suruh menunggu di sini, sementara sang pemilik café sedang berbicara dengan pegawainya. “Tidak apa-apa, Pak.” “Kamu temannya Gusti kan?” Aku mengangguk, ternyata Gusti memang terkenal di café ini. Sampai pemiliknya saja tahu, aku kira Gusti bercanda saja saat mengatakan dia sudah bicara dengan pemilik café perihal aku yang sedang mencari kerja sampingan. “Iya, Pak. Saya Faisal,” ucapku mengulurkan tangan. “Saya Ridwan, panggil saja Mas Ridwan. Saya belum jadi Bapak-bapak yang punya anak,” balasnya disertai dengan kekehan membuatku ikut tersenyum. “Iya Mas Ridwan.” “Mungkin kamu sudah tahu juga dari Gusti ya kalau saya memang mencari orang yang siap bekerja tetapi paruh waktu. Maksudnya, kalau di hari kerja bisa sore sampai malam karena memang biasa saya mempekerjakan mahasiswa namun beberapa hari lalu sudah ada yang keluar karena sedang sibuk skripsi dan memang sudah akan lulus, tetapi untuk hari Sabtu dan Minggu bisa bekerja full time. Bagaimana kamu bersedia?” Aku mendengar penjelasan dari Mas Ridwan, kalau masalah waktu yang di katakan olehnya, tentu aku tidak masalah. Hari Sabtu dan Minggu juga aku tidak ada kegiatan dan bisa bekerja secara penuh waktu di kedua hari tersebut. “Bersedia, Mas. Saya mau bekerja di sini,” ucapku menyetujui apa yang di katakana oleh Mas Ridwan tadi. “Lalu mengenai pekerjaan, ya sama seperti yang lain. Menuliskan pesanan dan mengantarkannya ke meja, kalau urusan di meja kasir sudah ada yang bertugas dan memang saya tidak pernah menggantinya dengan yang lain. Jadi setiap orang punya tugas masing-masing.” “Saya juga akan memperluas bangunan ini. Nanti aka nada lantai dua yang sedang dalam pengerjaan, tentu saja membutuhkan banyak pekerja. Jadi kalau memang kamu bersedia, kamu bisa mulai bekerja mulai besok. Sesuai yang saya katakana, selesai kamu kuliah bisa langsung bekerja sampai malam hari, café tutup di jam delapan malam,” lanjut Mas Ridwan menjelaskan semuanya kepadaku. “Iya, Mas. Saya bersedia dan besok saya akan mulai bekerja,” kataku begitu bersemangat. Ini adalah kesempatan berharga dan aku tidak boleh menyia-nyiakannya. Apalagi di kota besar seperti ini tentu akan sulit untuk mencari tempat yang menerima pekerja paruh waktu sepertiku, jadi untuk apa aku menolak kesempatan yang sudah di berikan oleh Mas Ridwan kepadaku. Aku juga akan berterima kasih kepada Gusti, karena berkat dia juga aku mendapatkan pekerjaan di sini. “Baik kalau begitu, kamu bisa kembali besok. Semoga betah bekerja di sini.” “Terima kasih, Mas.”  ** "Perasaan kuliah nggak sampe sore menjelang malem gini, dari mana aja kamu?" Aku baru saja sampai di rumah, langsung disambut oleh tatapan sinis dari Rima yang berada di ruang tengah. Seperti inila dia kepadaku selama aku berada di sini, masih sama tidak menyukai keberadaanku. Bahkan terkadang dia menyuruhku yang macam-macam, seperti membuatkan jus atau mengambilkan sesuatu di dapur, tentu saat tidak ada Kakek. Aku bukannya merelakan harga diri di injak oleh seorang perempuan seperti itu, tetapi aku tahu diri saja kalau berada di sini sebagai orang asing. Selagi apa yang Rima suruhkan kepadaku adalah hal yang wajar, aku tidak masalah. Anggun sempat membantuku, yang berakhir dengan kami menjadi pesuruhnya. "Habis cari kerja," jawabku jujur. "Bagus lah, sekalian aja kamu nggak usah lanjut kuliah," ucap Rima sinis. "Kalau perlu keluar dari rumah ini," lanjutnya. Aku hendak bicara sebelum suara seseorang membuat mulutku kembali bungkam. "Kamu bicara apa, Rima?! Jangan bicara seperti itu, ini juga rumah Kakek!" Kakek Wiryo baru saja datang dan menghampiri kami di ruang tengah, bukan hanya Rima saja yang terkejut dengan keberadaan Kakek Wiryo, pun dengan aku karena tidak terdengar suara langkah kaki beliau masuk ke dalam rumah. Rima menunduk takut karena ketahuan bicara seperti tadi kepadaku. "Keberadaan Faisal di sini karena kemauan Kakek, kalau kamu mengusirnya, lebih baik kamu saja yang pergi karena ini rumah Kakek." Perkataan Kakek membuat aku terkejut, bagaimana mungkin beliau mengatakan hal seperti itu, malah mengusir cucunya sendiri dan membelaku yang bukan apa-apa di keluarganya. "Ayah kenapa bicara seperti itu?" Bu Ambar juga datang menhampiri kami, suasana sekarang menjadi begitu tegang. "Ayah sudah katakan kepada semua yang di sini termasuk pada kamu dan Rima kan, keberadaan Faisal di sini atas kemauan Ayah, tidak ada yang berhak mengusir dia dari rumah ini. Dan tadi Ayah mendengar anak kamu malah mau mengusir Faisal." "Kakek, bukan begitu," ucapku namun Kakek kembali bicara. "Kakek mendengar sendiri, sudah intinya jangan ada yang mengusir Faisal dari rumah ini." Kakek berlalu begitu saja setelah mengatakan hal tersebut dengan begitu tegas. Sementara aku masih berada di sini dengan Bu Ambar dan Rima. Di tatap dengan penuh kebencian oleh kedua perempuan di hadapanku. "Kamu berhasil ya membuat Ayah sampai percaya sekali pada kamu." "Cih! Dasar tidak tahu malu, numpang di rumah orang." Aku tidak melawan, bukannya lebih baik diam daripada kembali menyulut emosi. Karena aku tahu, jika aku bicara, keduanya pasti akan semakin membenciku. Apa yang aku lakukan akan selalu salah di mata mereka. Aku harus bertahan di sini, setidaknya aku masih ada alasan untuk tetap tinggal, keinginan Kakek.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN