Foto Lama 7

1298 Kata
Aku memilih untuk kembali ke kamar, tidak jadi menemui Kakek Wiryo untuk meminta ijin kalau besok selesai acara ospek, aku akan pergi bersama teman-teman. Pembicaraan yang samar-samar kudengar tadi, membuatku terus memikirkan perkataan Pak Burhan. Beliau tidak suka dengan keberadaanku, namun aku juga tidak bisa pergi dari sini dan membuat Kakek kecewa. Sesungguhnya aku merasa bagaimana di perhatikan dan di sayangi oleh seorang Kakek. Karena selama ini, aku tidak pernah mendapatkannya, Kakek dan nenekku dua-duanya sudah meninggal, itu dari pihak Ibu. Sementara dari pihak Ayah, aku tidak begitu tahu karena Ayah sangat jarang menceritakan. Karena itu, aku sebisa mungkin tidak ingin mengecewakan Kakek Wiryo yang sudah membiarkan aku tinggal di sini, mungkin kalau aku tidak bertemu dengan Kakek, sekarang aku sedang berada di kost dan sibuk bekerja, bukan mempersilakan kuliah seperti ini. Tok tok tok Pintu kamarku di ketuk dari luar. Aku yang sejak tadi memilih untuk berada di kamar dan merebahkan diri di atas tempat tidur, akhirnya beranjak untuk membukakan pintu. Klek. Pintu sudah kubuka dan ada Anggun yang berdiri di balik pintu kamarku. "Ada apa, Gun?" tanyaku kepada Anggun. Gadis itu tersenyum lebar, "Gapapa, mau ajakin kamu ngobrol aja, kata Bi Ningrum kamu di kamar terus. Udah kaya anak gadis aja kamu, Sal. Pake di kamar mulu, aku aja nggak gitu," ucapnya setengah meledekku. Tetapi aku malah ikut terkekeh mendengar perkataannya. Aku pun mengangguk, mengukuti Anggun yang sudah lebuh dulu pergi menuju balkon yang memang tidak jauh dari kamarku. Berada di balkon, aku dan Anggun duduk bersebelahan. Mungkin ini kali pertama aku dan dia bisa mengobrol seperti ini, ya obrolan yang terkesan serius. "Sal, aku penasaran deh. Kamu kayanya belum cerita lengkap, kenapa bisa ada di kota ini. Aku pengin denger dong, kalau boleh sih," ucap Anggun memecahkan keheningan di antara kami. Aku memang belum bercerita, terutama kepada Anggun tentang keberadaanku di sini. Mungkin hanya sedikit saja ya g Anggun tahu. Hanya tentang aku yang tidak sengaja bertemu dengan Kakek Wiryo dan menolong beliau. "Aku emang sengaja datang ke kota ini, awalnya mau cari kerja sambil cari keberadaan Ayah." Anggun begitu serius mendengarkan, membuat aku kembali melanjutkan ceritaku. "Terus, di perjalanan ya nggak sengaja ketemu sama Kakek dan akhirnya aku di sini." "Terus?" tanya Anggun masih tidak puas dengan ceritaku. "Ya gitu, udah selesai, Gun." "Lah itu sih aku udah tahu, Sal. Maksudnya apa sekarang kamu udah tahu keberadaan Ayah kamu, terus ya perasaan kamu setelah sekarang malah bisa kuliah." Aku terkekeh, mungkin saat pertama kali aku bertemu dengan Anggun. Kupikir gadis itu begitu pendiam, tetapi nyatanya bisa di katakan cukup cerewet. "Aku nggak nyangka kamu secerewet ini, Gu. Padahal waktu awal aku ngerasa kamu anaknya pendiam," ucapku begitu jujur. "Ya kalau udah dekat, kan aku memang begini, Sal. Karena sekarang kamu anggota keluarga di sini. Nggak ada salahnya kan aku menunjukkan gimana aku yang sebenarnya." Aku mengangguk, "Oh iya, Gun. Kayanya aku belum berterima kasih sama kamu, soalnya kamu juga menerima keberadaanku di rumah ini." "Sama-sama. Kita kan sama, Sal. Aku juga orang asing yang beruntung bertemu dengan Kakek dan mendapatkan kebaikan dari beliau." Aku membenarkan itu, Kakek memang benar-benar baik. Sebelum kepadaku yang baru saja dikenalinya, kebaikan Kakek juga sudah Anggun terima, bahkan sejak lama. Tentu saja aku dan Anggun sama-sama tidak mau kalau sampai mengecewakan Kakek Wiryo. Aku dan Anggun pun kembali bertukar cerita, membahas hal lain terutama tentang kuliah. Kalau seperti ini, kami seperti dua orang yang sudah lama saling mengenal, tidak ada jarak di antara kami, seperti halnya aku dengan Rima, Bu Ambar maupun Pak Burhan. Anggun benar-benar menerima keberadaanku dan menganggapku ada di sini sebagai saudaranya sendiri. ** Masa orientasi mahasiswa di hari terakhir akhirnya selesai, mulai hari ini aku dan mahasiswal lainnya yang sudah mengikuti ospek dinyatakan resmi menjadi mahasiswa di kampus ini. Tentu saja aku senang, benar-benar tidak menyangka kalau aku akan menjadi seorang mahasiswa seperti ini. Seperti yang di rencanakan kemarin, setelah selesai ospek. Gusti mengajaku dan Andra untuk nongkrong lebih dulu, begitu yang selalu Gusti katakan. Aku juga sudah meminta ijin kepada Kakek. kemarin malam setelah selesai makan malam bersama seperti biasa. Anggun pun sudah tahu dan katanya tidak apa-apa kalau dia pulang sendiri, meski sempat aku menawarkan untuk mengantarkan dia ke rumah, namun Anggun menolak. Katanya tidak ingin aku bolak balik hanya karena harus mengatarkan dirinya pulang. Gusti dan Andra sedikit kecewa karena Anggun tidak ikut bersamaku. Sudah aku bilang, aku mengajak Anggun tetapi memang gadis itu tidak mau ikut dan katanya ini acara lelaki, juga acara aku dengan teman-teman, jadi tidak mungkin dia berada di antara kami, meski aku sama sekali tidak keberatan dengan hal itu. Apalagi Andra dan Gusti yang benar-benar tidak keberatan, malah mereka pasti akan senang. "Akhirnya resmi juga jadi mahasiswa ya," ucap Andra. Kami sudah berada di cafe yang di sebutkan oleh Gusti. Benar yang Gusti katakan tentang cafe ini yang di kunjungi oleh banyak anak muda seumuran kami. Sudah terkenal sejak lama dan Gusti juga sudah menjadi pelanggann tetap di cafe ini, terlihat dari bagaimana Gusti berinteraksi dengan pegawai di sini, tampak sudah mengenal cukup lama. "Berat nih kayanya, apalagi kalau udah banyak tugas," timpal Gusti. Belum apa-apa sudah mengatakan berat, padahal kan baru awal semester juga dan kalau di jalani dengan sungguh-sungguh pasti tidak akan terasa, begitu sih yang aku pikirkan. "Baru juga mau mulai, belum apa-apa kamu sudah bilang berat. Saya rasa nggak juga, kalau kita memang ikhlas menjalaninya," ucapku mmbuat Andra dan Gusti kompak menatapku. "Pak Ustad bersabda, Dra," ucap Gusti yang langsung di angguki oleh Andra pertanda setuju dengan perkataanya. "Memang seperti itu kan?" tanyaku, aku rasa tidak ada yang salah dengan apa yang aku katakan tadi. "Iya, Sal. Iya, kita nurut aja deh sama lo," balas Andra. "Eh jangan dulu bahas soal kuliah deh, maksudnya jangan dulu yang berat-berat kek beban hidup. Mending bahas lo pada mau ikutan organisasi apa di kampus?" tanya Gusti kali ini mengalihkan topik pembicaraan kami. "Gue mau jadi kupu-kupu," balas Andra yang lagi-lagi membuat aku mengernyit, tidak tahu dengan istilah yang baru saja dia sebutkan. Seakan langsung peka dengan kebingunganku, Andra berdecak, "Kuliah pulang, Sal. Alias nggak ada yang mau gue ikutin selama menjadi mahasiswa, gue mau kuliah pulang nongkrong," lanjutnya menjelaskan kepadaku. "Hidup lo, begitu amat, Dra. Mending cari kegiatan biar nggak bosan, apalagi lo cuma di kost doang, mau ngapain aja njirr," ucap Gusti berkomentar. "Benar, saya setuju sama Gusti. Biar kamu ada kegiatan selain di kost palingan tidur doang," sahutku. Andra berdecak, "Lo pada kali ini kompak beneran dah, kalau begini satu lawan dua, ya gue kalah dong. Tapi gue pikirin dulu mau ikutan organisasi apa," balasnya setelah mendengar perkataan kami. "Paduan suara aja, Dra." Aku terkekeh mendengar perkataan Gusti kepada Andra. Memang sih ada, tetapi aku jadi ingat saat sekolah dulu kalau tentang paduan suara. Teman-teman lelakiku selalu bercanda satu sama lain, mengatakan untuk bergabung dengan paduan suara sekolah, sama seperti yang sekarang di katakan oleh Gusti kepada Andra. "Lo kalau kasih saran yang beneran dikit kenapa sih, lo aja sana ikutan padus, gue sih ogah." "Ada Anggun yang ikutan juga," ucapku yang memang mengingat kalau Anggun akan mengikuti paduan suara, sama seperti yang dia ikuti di sekolah dulu. Itu yang Anggun ceritakan kepadaku, saat kemarin kami saling berbincang perihal organisasi di kampus. "Anjirr! Kalau gitu sih gue nggak akan nolak," ucap Andra yang kali ini tampak semangat karena mendengar nama Anggun. "Anggun doang udah bisa bikin lo berubah pikiran, nggak nyampe lima menit, Dra." Gusti berdecak, memang kelihatan sekali di antara Gusti dan Andra, ya memang Andra yang begitu gencar ingin mendekati Anggun. Terlalu menunjukkan ketertarikan, sementara Gusti yang memang tidak begitu menunjukkan setelah berkenalan dengan Anggun kemarin. "Ya namanya juga usaha," balas Andra membela dirinya sendiri. "Bener, usaha aja dulu, hasilnya lihat nanti," kataku membenarkan perkataannya. "Nah calon ipar yang baik nih." "Halah! Najis lo kalau ada maunya," cibir Gusti. "Iri bilang bos!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN