Foto Lama 6

1252 Kata
Aku masih memikirkan perkataan Pak Burhan yang begitu menusuk hati. Tidak menyangka saja kalau seseorang yang aku kenal sebagai ayahku sendiri -meski dia tidak mengenalku- malah mengatakan hal yang seperti itu, menganggap aku orang asing yang hanya beruntung bertemu dengan Kakek Wiryo. Memang benar semua yang dikatakannya, aku hanya orang asing yang beruntung bisa bertemu dengan Kakek Wiryo sampai tinggal di rumah Kakek dan di sekolahkan seperti ini, tetapi seharusnya dia tidak menuduhku seakan aku memang sengaja melakukan semua ini, sengaja mendekati Kakek Wiryo dan mengambil hatinya. Perkataan dia tidak benar, aku hanya orang yang memang sedang beruntung, bisa melanjutkan pendidikanku dengan bantuan Kakek. Semalam, setelah aku yang bicara dengan Pak Burhan di depan kamarku, beliau meninggalkanku setelah mengatakan semuanya. Aku pun memilih untuk merenung di kamar, sembari menatap fotoku bersama dengan kedua orang tuaku. Menatap wajah Ibu dan mengatakan kepadanya, kenapa Ayah tidak mengenaliku dan sampai sekarang aku tidak tahu kenapa lelaki yang kukenali sebagai ayahku sendiri, sama sekali tidak mengenaliku sebagai anaknya. Hari ini ospek hari kedua, seperti biasa aku pergi bersama dengan Anggun. Kegiatan hari ini juga sama seperti sebelumnya, hanya saja ditambah pengenalan tentang organisasi yang berada di kampus. Aku, Andra dan Gusti sejak tadi mendengar orang-orang yang mempromosikan organisasinya. Bahkan Andra beberapa kali menguap, mungkin lelaki itu sudah bosan dengan kegiatan ini. Sementara aku dan Gusti yang memang duduk bersebelahan sama-sama berkomentar tentang organisasi yang di jelaskan oleh beberapa mahasiswa dan dosen. Selesai dengan acara yang di sebut dengan demo organisasi. Kami kembali ke tempat berkumpulnya seluruh calon mahasiswa yang mengikuti kegiatan orientasi mahasiswa ini. Setelah ini, kami diberikan waktu untuk istirahat sebelum kembali mengikuti serangkai kegiatan lainnya. ** "Sal, besok habis selesai ospek kita jalan bertiga lah," ajak Gusti padaku. Kegiatan ospek hari ini selesai, kami masih berada di parkiran. Sebenarnya memang kelakuan Andra dan Gusti saja yang ingin menemaniku dulu, karena aku sedang menunggu Anggun yang masih ada urusan dengan kelompok ospeknya, saat bubaran tadi Anggun sempat menemuiku. "Kemana?" tanyaku. Selama di kota ini, aku memang belum pernah jalan-jalan. Apalagi kesibukan mempersiapkan untuk ospek membuatku hanya menghabiskan waktu di rumah saja. "Ya nongkrong di mana kek, nanti deh gue aja ke tempat biasa gue kalau jaman sekolah," ucap Gusti. "Alah lo paling nongkrong sambil dugem," timpal Andra yang aku sendiri merasa asing dengan perkataannya. "Dugem apaan?" tanyaku yang malah membuat kedua temanku terbahak-bahak, sementara aku mengernyit keheranan. "Lah malah pada ketawa, saya tanya serius juga," kataku kembali. "Lo sih. Please ya, Sal. Masa lo nggak tahu dugem sih," ucap Gusti masih mencoba untuk tidak tertawa seperti tadi. Sementara Andra tidak bisa menahan tawanya. "Si Faisal butuh ilmu dari lo, Gus." Andra mulai bicara. Ilmu? Ilmu apa? "Diskotik, Sal." "Astagfirullah ..." "Sampe istigfar anjirr!" Andra kembali terbahak. Aku memang tidak begitu tahu istilah tersebut. Maklum saja, aku berasal dari pinggiran kota. Sehari-hari selama sekolah, selain di isi dengan belajar, aku membantu Ibu. Jika bersama dengan teman-teman, ya kami hanya main seperti biasa. Mengobrol tentang pertandingan sepak bola atau olahraga yang lainnya. Bukan seperti Gusti tadi, mengenal dunia malam. "Lo jangan bikin otak Faisal tercemar, Gus. Kalau gue nggak apa-apa deh, kan kita sebelas dua belas," lanjut Andra kembali. "Saya nggak ikutan kalau kaya gitu," ucapku kepada mereka. "Ya udah nongkrong di tempat biasa aja, cafe gitu. Pokoknya asyik deh." Aku mengangguk mendengar ajakan Gusti. Tidak apa-apa, nanti aku akan meminta ijin kepada Kakek. Tidak berselang lama, Anggun sudah datang. Sepertinya urusan dia dengan teman satu kelompok sudah selesai. Anggun menghampiriku yang masih bersama dengan Andra dan Gusti di parkiran. "Maaf ya, Sal. Nungguin lama lagi," ucap Anggun padaku, merasa tidak enak karena sejak kemarin aku menunggu dia selesai. Padahal tidak masalah sama sekali. Aku juga ditemani oleh Andra dan Gusti, meski pada kenyataannya memang mereka ingin berkenalan dengan Anggun, yang mereka ketahui adalah saudara perempuanku. "Nggak apa-apa, kan aku nggak mungkin tinggalin kamu, Gun." "Anjirr aku-kamu-an ngomongnya," ucap Andra lirih, berbisik kepada Gusti. Meskipun tidak berpengaruh karena aku mendengarnya. Anggun tersenyum dan kembali berterima kasih. Kemudian menatap kedua temanku yang sejak tadi memperhatikannya. "Oh iya, ini teman satu kelompokku. Ini namanya Andra kalau yang satunya Gusti," ucapku memperkenalkan Andra dan Gusti kepada Anggun. Kedua temanku saling berebut mengulurkan tangan, membuatku hanya menggeleng melihat kelakuan Andra dan Gusti. Anggun mengulurkan tangan, di sambut oleh Gusti yang lebih dulu mengenalkan dirinya. "Gue Gusti," ucapnya tersenyum lebar. Anggun mengangguk sembari tersenyum tipis, "Aku Anggun," balasnya. "Aduh suaranya lembut amat," celetuk Gusti tanpa malu. Kemudian Andra menyenggol Gusti untuk segera melepas jabatan tangannya dengan Anggun. Gantian Andra yang berkenalan dengan Anggun. "Gue Andra, biasa di panggil sayang," katanya yang mampu membuatku tergelak sementara Gusti mengumpat. "Anggun," balasnya kembali. "Udah, kelamaan itu tangannya." Gusti melepas jabatan tangan Andra dan Anggun dengan tidak sabaran. "Sirik aja lo, Gus." Andra mendelik. Sepertinya mereka memang sedang berebut untuk dekat dengan Anggun. "Sudah. Saya sama Anggun pulang dulu, lain kali kenalan lagi," ucapku akhirnya menjadi penengah keributan yang mulai terjadi di antara Andra dan Gusti. "Besok kalau Anggun mau ikut, ajak aja, Sal." Andra berbisik padaku sebelum aku mengenalan helm. Aku mengangguk saja, "Lihat besok, kalau dia mau ikut," balasku. Aku juga tidak bisa memaksa kan kalau memang Anggun nanti tidak mau ikut. "Usahain lah, bro," ucap Andra kembali. "Iya-iya." Aku segera mengenakan helm, pun dengan Anggun yang tadi sudah aku berikan kepadanya. "Duluan ya," pamitku kepada mereka. "Yoi!" "Hati-hati lo, Sal." Aku mengangguk kemudian menyalakan motor dan melaju keluar dari area parkiran kampus. Sebelum hujan turun, aku dan Anggun harus sudah sampai di rumah. ** Aku baru saja selesai berganti pakaian. Kemudian menghampiri Kakek yang sedang berada di halaman belakang bersama dengan Pak Burhan. Tadi aku sempat bertanya kepada Bi Ningrum, di mana keberadaan Kakek. Aku ingin meminta ijin kepada Kakek, besok akan pergi dengan teman-teman setelah selesai mengikuti ospek di kampus. Lebih baik aku meminta ijin dari sekarang kan, daripada aku lupa. Berjalan ke arah halaman belakang, saat akan sampai, samar-samar aku mendengar pembicaraan Kakek dengan Pak Burhan. Aku juga mendengar namaku di sebut dalam obrolan mereka membuatku urung menghampiri keduanya. "Ayah kenapa percaya sekali dan membiarkan anak itu di sini?" "Anak yang kamu maksud punya nama, dia Faisal." "Iya anak itu, memangnya diberi uang saja tidak cukup sebagai imbalan karena menolong Ayah waktu itu? Kenapa harus sampai membiarkan dia tinggal di sini dan berkuliah juga, Yah?" Aku tidak menyangka, bahwa Pak Burhan begitu tidak mengharapkan aku di sini. Bahkan sampai tidak ingin Kakek menyekolahkan aku seperti ini. Aku juga tidak mau kan, tetapi menghargai Kakek saja dan tidak mungkin aku mengecewakan Kakek Wiryo. "Dia itu memiliki potensi. Siapa tahu nanti bisa membantu kamu di perusahaan setelah lulus." "Ada Rima, Yah. Yang sudah jelas adalah keturunan keluarga ini, bukan anak yang tidak ada asal usulnya begitu." Aku kembali tersakiti dengan perkataan lelaki yang sampai detik ini masih kupercaya adalah ayahku sendiri. Bagaimana mungkin, beliau mengatakan hal seperti itu. Sampai mengatakan aku tidak memiliki asal usul yang jelas.. "Jaga ucapan kamu, Burhan! Faisal memiliki asal usul yang jelas, sebelum kamu bicara sebaiknya kamu berpikir lebih dulu. Lagipula Ayah sudah mengetahui semuanya dari cerita Faisal." "Bisa saja dia hanya mengarang cerita." "Sudah lah, ini sudah menjadi keputusan Ayah dan tidak ada yang bisa melarang Ayah untuk melakukan semua ini." Akhirnya aku urung untuk menemui Kakek dan meminta ijin. Situasinya sedang tidak memungkinkan, keberadaanku malah akan membuat Pak Burhan semakin tidak suka. Sampai sekarang aku tidak mengerti, kenapa ayahku tidak menyukai keberadaan aku di sini dan tidak mengenalku sebagai anaknya. Apa karena dia memiliki keluarga baru dan mengkhianati Ibu? Lalu dia sengaja dengan pura-pura tidak mengenaliku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN