Lelaki itu menghampiriku yang masih terpaku di samping motor. Aku benar-benar tidak menyangka akan secepat ini bertemu dengan seseorang yang memang menjadi tujuanku berada di kota ini.
Ayahku ternyata berada di tempat yang bahkan sangat dekat denganku. Masih sama di rumah Kakek Wiryo.
"Papa!"
Teriakan itu membuatku tersentak, Rima berlari dari dalam rumah dan menghampiri lelaki tersebut.
Aku tidak salah dengar kan? Papa? Tadi Rima memanggil lelaki itu dengan sebutan Papa?
"Papa, oleh-oleh buat aku nggak lupa kan?"
"Tentu dong, Sayang."
Aku masih bisa mendengar interaksi Rima dengan lelaki yang di panggilnya Papa. Bahkan perlakuan lelaki itu sangat lembut kepada Rima yang menjadi anak perempuannya.
Lalu mereka kompak memandangku, Rima dengan tatapan seperti biasa, tidak menyukaiku, sementara lelaki itu seakan tidak mengenaliku sama sekali.
"Ayo, Pa. Kita ke dalam," ajak Rima pada papanya yang langsung di angguki.
Mereka pun masuk ke dalam rumah, menghiraukan keberadaanku. Sementara aku masih tidak menyangka dengan orang yang kutemui, lelaki itu ayahku. Tetapi kenapa dia seakan tidak mengenaliku, atau memang pura-pura tidak mengenaliku sebagai anaknya sendiri?
Memangnya aku berubah jauh? Bahkan aku sendiri sudah bisa melihat bagaimana rupaku dewasa nanti, mirip sekali dengannya.
Aku akhirnya masuk ke dalam rumah, mungkin akan aku temukan jawabannya nanti. Yang penting sekarang aku tidak perlu jauh-jauh mencari keberadaan Ayah, karena dia sudah berada di hadapanku, di dekatku sekarang.
**
"Faisal ke sini."
Baru saja masuk rumah, aku sudah dipanggil oleh Kakek untuk bergabung dengan mereka di ruang tengah. Sudah ada Anggun, Rima, Bu Ambar san juga lelaki yang kukenal sebagai ayahku.
"Waktu itu anak lelaki Kakek tidak jadi pulang dan belum sempat berkenalan dengan kamu. Nah sekarang dia pulang, ini Burhan, suami Ambar dan ayah dari Rima." Kakek Wiryo menjelaskannya kepadaku.
Burhan?
Aku bahkan begitu asing dengan nama itu, lelaki itu ayahku, tetapi kenapa nama yang dimilikinya berbeda dengan nama ayahku. Atau mungkin Ayah mengubah identitasnya?
Nama ayahku Badrudin, bukan Burhan. Tetapi aku sangat yakin kalau lelaki yang berada di samping Bu Ambar adalah ayahku, Badru.
"Sal!"
Aku tersentak, suara Kakek kembali menyadarkan aku dari pemikiran yang begitu rumit.
Aku akhirnya mengulurkan tangan untuk mencium tangan Pak Burhan, semua orang di sini apakah tidak ada seorang pun yang menyadari, kemiripanku dengan lelaki bernama Burhan ini.
Kenapa tidak ada yang bertanya tentang itu?
Pak Burhan menatapku dengan tatapan tidak terbaca, aku melepaskan genggaman tangan kami dan kembali dengan segala macam pemikiranku tentang lelaki yang berada di hadapanku.
Aku masih tidak menyangka, kenapa ayahku sama sekali tidak mengenaliku? Padahal aku sangat yakin kalau dia adalah ayahku. Sama seperti orang yang aku lihat di foto yang Ibu berikan kepadaku.
"Burhan ini memang kadang harus pergi ke luar kota untuk menyelesaikan pekerjaan. Jadi memang kemarin sedang ada urusan di luar, kepulangannya pun di tunda dan baru sekarang sampai di rumah."
Aku mengangguk mendengarkan penjelasan Kakek kembali. Sangat terlihat sekali penampilan Pak Burhan yang memang menunjukan seorang pengusaha. Seorang lelaki yang begitu sibuk bekerja di luar.
"Nanti kamu juga bisa bekerja di perusahaan Burhan, apalagi kalau sudah selesai kuliah," ucap Kakek kembali.
"Faisal baru daftar, Ke. Belum juga kuliah," balasku terkekeh.
"Iya, nanti. Kan jadi bisa berencana dulu," ucap Kakek ikut terkekeh.
Aku mengangguk, setelah itu kami kembali dengan kegiatan masing-masing. Karena aku pun baru saja pulang dan harus berganti pakaian, akhirnya aku ikut pamit ke kamar.
Berada di kamar, aku duduk di meja belajar. Di mana ada foto aku yang baru saja lahir bersama dengan kedua orang tuaku yang tersenyum bahagia atas kelahiranku.
"Bu, kenapa Ayah nggak kenal aku? Memangnya aku berubah banget ya?" gumamku, menatap wajah Ibu dari foto tersebut.
Aku masih tidak mengerti kenapa ayahku sendiri tidak mengenaliku. Atau memang karena sudah cukup lama kami tidak bertemu, dan mungkin Ayah sudah melupakan aku yang merupakan anak lelakinya.
Ibu juga pernah bercerita kalau Ayah tidak memiliki saudara, itu yang membuatku semakin yakin kalau lelaki tadi adalah ayahku. Tetapi, malah sama sekali tidak mengenaliku.
Aku tidak mau memikirkannya terus menerus. Yang penting sekarang aku sudah menemukan keberadaan ayahku.
**
Aku sedang berada di dapur, membantu Bi Ningrum yang sedang menyiapkan makan malam. Aku tidak asing dengan pekerjaan dapur, karena dulu saat masih ada Ibu, aku selalu membantu Ibu di dapur. Kata Ibu, jaman sekarang lelaki tidak asing kalau memasak, banyak kan chef yang terkenal dan merupakan seorang lelaki.
"Den Faisal lebih baik di kamar saja atau menonton, biar Bibi yang siapin makan malam," ucap Bi Ningrum kepadaku.
Aku memang sedang tidak ada kegiatan. Setelah menyiapkan keperluan ospek untuk besok, jadi karena merasa bosan, aku akhirnya memutuskan untuk ke dapur saja. Ternyata ada Anggun dan Bi Ningrum yang sedang berkutat dengan peralatan memasak.
"Bener kata Bibi. Ya kamu lebih baik menonton sana, atau ngapain gitu. Ini malah ikutan di dapur begini," timpal Anggun yang sedang memasak tempe goreng.
"Bosan, dulu juga aku sering bantuin almarhumah Ibu kalau lagi di dapur, jadi udah biasa."
"Ayo dong Bi, aku bisa bantuin apa gitu. Beneran bosan kalau nonton TV terus," lanjutku meminta kepada Bi Ningrum untuk memberikan aku tugas di dapur.
"Ya apa dong, Den. Kan semua udah mau beres," balas Bi Ningrum.
"Aku tuh heran, biasanya cowok nggak suka kalau ada di dapur, lah kamu, Sal, malah mau dikasih kerjaan di dapur begini." Anggun sudah selesai menggoreng tempe, membawanya ke meja makan, sementara aku sejak tadi memang duduk di meja makan.
"Kan udah aku bilang, Gun, sudah biasa aku bantuin Ibu waktu dulu."
"Ya udah kapan-kapan aja bantuinnya, bener nggak, Bi? Kan sekarang udah selesai masaknya," ucap Anggun meminta persetujuan Bi Ningrum.
"Benar, sekarang makan saja. Bibi mau panggil dulu Tuan Wiryo sama yang lain," ucap Bibi lalu pamit kepada kami.
Anggun duduk di sampingku, tempat yang akhirnya selalu kita tempati saat di ruang makan. Sambil menunggu yang lain aku dan Anggun membahas tentang ospek hari ini.
"Kompak banget nih pasangan."
Suara Rima membuatku dan Anggun berhenti bicara lalu menoleh dan mendapati Rima sudah berada di sini.
"Emang cocok ya, dua-duanya anak pungut," lanjutnya dengan perkataan menyakitkan.
Aku sih tidak masalah, tetapi kalau Rima mengatakan itu kepada Anggun, aku merasa tidak pantas dia seperti itu. Apalagi selama ini Anggun sudah menjadi bagian dari keluarga Kakek Wiryo kan, bukan sepertiku yang baru saja tinggal di sini.
Rima duduk di hadapanku, di susul dengan anggota keluarga lain termasuk Kakek Wiryo yang bergabung bersama kami.
Meja makan ini memang bisa di isi oleh enam orang. Di mana di kursi ujung di tempati oleh Kakek Wiryo dan Pak Burhan, sementara di sisi kanan dan kiri di isi oleh aku, Anggun, Rima dan Bu Ambar.
"Gimana hari pertama kalian di kampus?" tanya Kakek Wiryo kepada kamu ; aku, Anggun dan Rima.
"Capek dan bosan," balas Rima tampak mengeluh.
"Seru, soalnya jadi punya teman baru dari sekolahan yang lain. Nggak yang satu sekolah aja." Anggun pun mengeluarkan suaranya, berbeda dengan Rima, sepertinya Anggun sangat menikmati kegiatan di kampus hari ini.
"Kalau kamu, Sal?" tanya Kakek kepadaku yang masih belum menjawab.
"Kegiatannya seru dan Faisal juga udah punya teman, Kek."
"Nanti teman-teman kamu ajak juga ke sini, biar Kakek kenal mereka," ucap Kakek Wiryo.
Sementara Bu Ambar dan Pak Burhan tidak berkata apapun. Apalagi Bu Ambar yang memang sejak awal tidak menerima keberadaanku di sini, tentu saja dia tidak akan perduli.
Selesai makan malam, aku langsung berjalan ke lantai atas, tadinya ingin membantu Bi Ningrum tetapi ketahuan oleh Kakek dan beliau melarangku untuk mengerjakan tugas dapur, akhirnya aku memilih ke kamar saja.
"Apa tujuan kamu ke sini?"
Belum sempat membuka pintu kamar, suara Pak Burhan membuatku urung membuka pintu dan memilih untuk berbalik arah menatapnya yang sudah berdiri tidak jauh dariku.
"Maksud Aya--emhh Pak Burhan?"
"Saya sudah mendengar semua dari istri saya, kalau kamu adalah orang yang menolong Ayah saya. Tetapi untuk apa kamu terus berada di sini?"
"Saya diminta oleh Kakek untuk tetap berada di sini."
"Seharusnya kamu tahu tempat kamu itu di mana, bukan berada di keluarga ini. Saya heran kenapa Ayah saya bisa begitu mempercayai kamu dan membiarkan kamu tinggal di sini."
Perkataan tersebut membuatku bungkam. Ternyata tidak hanya Rima dan Bu Ambar yang tidak menerima keberadaan aku di rumah ini, tetapi juga Pak Burhan yang kukenal sebagai ayahku sendiri.
"Jangan pernah mencari perhatian Ayah saya, karena bagaimana pun kamu hanya orang asing yang masuk ke keluarga ini."