Foto Lama 4

1262 Kata
Semua persiapan untuk masuk Universitas sudah selesai. Karena memang baru awal pembukaan mahasiswa baru jadi membuatku mudah untuk mengurus semuanya, apalagi Anggun begitu baik membantuku. Pun dengan Kakek Wiryo yang sudah begitu baik membantu kebutuhanku selama mempersiapkan semuanya. Hari ini aku dan Anggun juga bersama-sama mengurus persiapan untuk masa orientasi yang akan kita ikuti bersama-sama. Selama tiga hari, di mulai dari lusa, kami akan mengikuti ospek di Universitas sebelum resmi menjadi mahasiswa. Persiapan untuk ospek memang bermacam-macam, kami di minta untuk membuat papan nama dari kardus bekas mie instan. Aku dan Anggun kompak membuatnya, semula Anggun juga mengajak Rima untuk bergabung tetapi gadis itu dengan tegas menolak, apalagi kalau bukan alasannya karena keberadaan aku. “Ini bagus nggak, Sal?” tanya Anggun, menunjukkan papan nama yang baru saja dia buat, tidak hanya ada nama diri sendiri tetapi juga ada nama kelompok yang terdapat dalam papan nama tersebut. Aku mengangguk, “Bagus, kayanya harus lebih tebal tulisannya. Pakai spidol aja, Gun.” “Iya, ini belum aku tebalin. Btw kemarin kamu udah kenal sama nama-nama yang satu kelompok sama kamu?” tanya Anggun padaku. Kemarin, kita memang kembali berkumpul di kampus, sebelum acara ospek nanti. Acara kemarin adalah mengenal anggota kelompok masing-masing dan juga memberikan arahan untuk persiapan ospek nanti. “Udah ada dua orang, ternyata mereka juga orang Bandung,” balasku. Aku memang bertemu dengan dua orang calon mahasiswa yang satu kelompok ospek denganku, mereka mengatakan asli orang Bandung, tentu saja membuat aku senang karena merasa ada teman satu kota, meski pada kenyataannya aku bukan asli warga Bandung. Mereka begitu ramah dan menerimaku menjadi teman mereka, namanya Andra dan Gusti. Bahkan Andra mengingatkan aku pada teman satu kelasku dulu, Andri. Nama mereka memang hampir sama, wajar saja aku lansung ingat Andri. “Kalau kamu gimana? Ada yang udah kenal?” tanyaku kali ini pada Anggun. Aku dan Anggun memang langsung dekat, apalagi Anggun yang memang begitu menerimaku di keluarga Kakek Wiryo. Itu sebabnya sekarang kami sudah seperti teman lama, tidak merasa canggung satu sama lain. “Ada, teman satu sekolahku juga masuk kampus yang sama, eh malah satu kelompok,” jawab Anggun begitu senang karena salah satu temannya berada di satu kelompok yang sama. “Bagus kalau gitu, jadi udah ada yang kenal banget.” “Oh iya, Sal. Kamu jangan sungkan ya. Kata Kakek kan kalau kamu ada kesulitan, bisa bilang sama aku. Aku pasti bantu kalau memang bisa sih,” ucap Anggun diiringi dengan kekehan. Aku tersenyum tipis, “Iya, lagian aku udah anggap kamu kaya saudara aku sendiri. Makasih juga soalnya kamu terima keberadaan aku di sini,” ucapku tulus dan penuh terima kasih karena Anggun bisa menerima keberadaanku. ** Hari pertama ospek berjalan dengan lancar. Aku bisa mengikuti semuanya karena sebagian kegiatan hanya mendengar materi saja. Aku, Andra dan Gusti sedang berada di kantin, tadi Gusti mengajak kami untuk makan bersama lebih dulu, katanya hitung-hitung untuk merayakan hari pertama kami berteman, begitu katanya sih yang membuat aku dan Andra menggelengkan kepala mendengar perkataanya. "Jadi lo tinggal sama saudara lo di sini?" tanya Andra padaku. Aku mengangguk, "Iya, soalnya orang tua saya udah nggak ada di kampung, jadi saya merantau ke sini," jawabku. Kami memang sedang bercerita satu sama lain tentang keberadaan kami di kota besar ini dan alasan kenapa berkuliah keluar kota, bukan di Bandung. Gusti memang asli orang Bandung, tetapi memang setelah lulus sekolah menengah pertama, Gusti melanjutkan sekolah di Jakarta, ikut dengan orang tuanya yang memang di pindahkan bekerja di kota ini. Sementara Andra memang merantau dan tinggal di kost tidak jauh dari kampus. Alasan Andra sendiri kenapa memilih berkuliah di sini karena dia ingin pergi dari rumah dan tidak mau hanya sekedar di Bandung. Dari cerita mereka, Andra dan Gusti memang terlahir dari keluarga berada. Penampilan mereka pun memang berbeda sekali, bahkan tidak ada kecanggungan dengan memakai gue-lo saat bicara dengan yang lain. Beda denganku, yang kaku sekali memakai bahasa gaul itu. Maklum saja, selama di Bandung dan berkomunikasi dengan teman-teman pun memakai bahasa biasa, tidak bahasa gaul. Alhasil bicara dengan mereka pun, aku memakai saya-kamu. "Oh iya tadi gue lihat lo barengan sama cewek, Sal. Pas kalian baru sampe di kampus," ucap Andra kembali. "Si Andra kepo banget lo jadi orang, udah kaya wartawan aja banyak nanya," timpal Gusti sebelum aku mengatakan tentang perempuan yang bersamaku, tentu saja siapa lagi kalau bukan Anggun. "Lah, gue itu kan sebagai teman yang baik. Harus tahu dong, apa cewek itu saudara kamu ya, Sal? Cantik tuh cewek,salam buat dia, Sal." Gusti melempar bungkus kacaang ke arah Andra, "Gercep amat lu, Dra." Aku terkekeh melihat mereka, kukira Andra dan Gusti ini memang teman lama, karena mereka begitu akrab sekali. Tetapi mereka baru bertemu saat mendaftar ke kampus, begitu yang mereka katakan. Mungkin karena sama-sama orang Bandung, jadi langsung bisa akrab. Sama seperti aku yang langsung akrab dengan mereka. "Itu Anggun, saudara saya, Ndra," balasku menjelaskan kepada Andra. Aku dan Anggun memang berangkat bersama, aku yang mengendarai sepeda motor. Kebaikan yang aku terima kembali dari Kakek Wiryo adalah, satu minggu sebelum ospek dan persiapan lain, Kakek memberikan aku sebuah sepeda motor, katanya agar aku dan Anggun bisa lebih cepat datang ke kampus selama ospek. Awalnya aku akan di antar oleh supir dengan menggunakan salah satu mobil milik Kakek, tentu saja bersama dengan Anggun dan Rima. Tetapi aku menolak karena aku pikir akan berlebihan kalau menggunakan mobil seperti itu, pun dengan Rima yang tidak ingin pergi dengan aku, akhirnya aku lebih baik menggunakan kendaraan umum. Namun Kakek malah membelikan sepeda motor, mengatakan kalau memang tidak mau menggunakan mobil, aku menggunakan sepeda motor saja, karena kendaraan umum akan membuatku terlambat. Anggun pun pergi bersamaku karena Rima lagi-lagi tidak ingin pergi dengannya. Sama seperti keberadaan aku yang tidak disukai oleh Rima. "Bisa kali nanti lo kenalin dia sama gue," ucap Andra kembali. "Nggak usah, Sal. Ini anak udah ada tanda-tanda jadi buaya buntung," timpal Gusti. "Anjirr! Lo jangan begitu dong, Gus. Harusnya dukung gue biar dekat sama cewek, lo nggak tahu apa kalau buaya itu hewan yang setia." "Iya, tapi kalau buaya darat, beda lagi ceritanya. Lagian ya, Ndra. Emangnya saudara si Faisal mau apa sama lo. Gantengan gue ke mana-mana," balas Gusti penuh percaya diri. "Halah, ujungnya lo juga mau. Gini biar si Faisal aja yang pilih, gue atau Gusti yang cocok sama saudara lo," ucap Andra menatapku. "Saya sih mau kamu atau Gusti ya tidak masalah. Kalian kan sama-sama teman saya. Tapi masalahnya, Anggun mau nggak sama kalian," balasku yang langsung dilempari bungkus kacaang oleh Andra dan Gusti. "Ini anak, diam-diam ucapannya kena banget ke jantung." "Bukan kasih semangat malah ngomong kaya gitu anjirr!" Aku tertawa, pun dengan mereka. Sepertinya hariku akan luar biasa memiliki teman seperti mereka, Andra dan Gusti benar-benar menerima keberadaan aku, mereka bahkan tidak bertanya tentang status sosialku. ** Aku dan Anggun baru saja sampai di rumah, sama sepertiku yang berbincang lebih dulu dengan teman-teman, Anggun juga melakukan hal yang sama. Tetapi di cafe yang tidak jauh dari kampus, tadi aku menjemputnya ke sana sebelum pulang. "Makasih ya, Sal. Tadi udah tungguin aku yang lagi sama teman-teman." Anggun melepaskan helm dan memberikannya kepadaku. Aku mengangguk, "Sama-sama, kan kita berangkat barengan jadi pulang juga barengan dong," kataku. "Aku masuk duluan, kebelet banget." Anggun tersenyum lebar dan langsung berlari ke rumah setelah aku mengangguk. Aku sendiri memasukkan sepeda motor ke dalam garasi, bertepatan dengan itu sebuah mobil baru saja masuk ke area rumah. Aku turun dari motor dan melepaskan helm. Seseorang turun dari mobil tersebut, membuatku mengernyit karena tidak asing sekali dengan orang itu. Sampai pria tersebut berjalan semakin mendekat, aku bisa melihat dengan jelas wajahnya. "Ayah ..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN