Perhatian Andika

1849 Kata

"Eergh..." erangku saat berusaha membuka mata, namun langsung mengerjab menyesuaikan cahaya lampu. Aku merasa geli di leher sebelah kanan. Saat akan menoleh kepalaku terbentur pelan. Ternyata Kak Dika yang menyerukkan kepalanya di leherku. Berniat menjauhkan diri, tertahan lagi dengan belitan tangan di perut.   Dengan pelan aku mengangkat tangan Kak Dika dan meletakkan di atas tubuhnya sendiri. Dia bergerak aku kira akan terbangun. Tidak, dia hanya merubah posisi tidurnya saja.   Kini aku sudah duduk dengan kaki yang menjuntai ke lantai. Kesadaranku yang sepenuhnya kembali membuat tercengang, ini kamar Kak Dika yang ada di rumah Herlambang, bukan kamar kami. Aku baru ingat jika kemarin aku datang keperayaan ulang tahun pernikahan Papa-Mama, namun aku habiskan untuk berdebat dengan Kak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN