Bab 2. Bermain Sehalus Mungkin

1487 Kata
"Kenapa kamu diem aja, Gwen?" tanya Kenzo seraya bangkit lalu duduk tegak dengan menutup bagian bawah tubuhnya, sementara d**a bidanya dibiarkan terekspos begitu saja. "Apa jumlah uangnya kurang? Kalau kurang tinggal ngomong aja, Gwen." Gwen tersenyum hambar lalu memalingkan wajahnya ke samping. "Kalau karyawan di sini sampe tau aku kayak gini gimana, Om? Mereka pasti akan mencibir aku," ucapnya dengan suara berat. "Ya, kita bermain sehalus mungkin, Gwen. Kamu bersikap biasa aja, kalau kita ketemu di luar pun, kamu bersikap sewajar mungkin seolah gak terjadi apa-apa diantara kita," jawab Kenzo mencoba meyakinkan. Gwen terdiam dengan kepala menunduk. "Semuanya udah terlanjur, Gwen. Kamu gak bisa nolak permintaan saya," ucap Kenzo seraya mengecup punggung Gwen. "Mulai detik ini, tubuh indah kamu milik saya, Gwen. Gak ada yang boleh menyentuh kamu selain saya. Kalau kamu menolak, maka kamu harus mengembalikan setengah dari uang yang udah saya berikan. Paham?" Gwen masih bergeming dengan perasaan dilema. Kenzo menyibakkan rambut panjang Gwen ke arah samping lalu menghujani punggungnya dengan kecupan. Mata Gwen terpejam, sekujur tubuhnya seketika merinding. "Om mau ngapain, aku lelah, anuku juga masih sakit, Om," lemah Gwen hendak mengurai jarak. Akan tetapi, telapak tangan Kenzo dengan cepat membawa wanita itu berbaring dan kembali menghujaninya dengan ciuman. "Sebentar aja, Gwen. Janji yang ini gak bakalan sakit," bisiknya. "Ingat, kamu harus siap kapan pun saya minta, paham?" Gwen menghela napas panjang bersama air mata yang luruh membasahi kedua sisi wajahnya. Ia merasa terjebak dalam situasi yang sangat sulit, tapi dirinya pun tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti aturan yang dibuat oleh Kenzo. Jika ia menolak, maka dirinya harus mengembalikan setengah uang yang baru saja ditransfer ke rekeningnya dan jumlahnya tidak main-main. 50juta, apa ia rela mengembalikan uang itu sementara dirinya sangat membutuhkan uang tersebut? Mata Gwen terpejam, ia akhirnya membuat pilihan. Dirinya akan menyerahkan tubuhnya kepada Kenzo karena tidak ingin kehilangan uang sebesar 50juta. "Oke, Gwen. Tahan sebentar aja, kata Om Kenzo gak bakalan sakit sama sekali. Kapan lagi coba kamu dapet uang sebanyak itu?" batin Gwen menghibur diri sendiri. Mereka pun kembali melakukannya untuk yang kedua kalinya. Sepertinya, tubuh Gwen sudah menjadi candu bagi pria berusia 40 tahunan itu. Gwen yang awalnya kesakitan pun mulai terbawa arus, suara desahan demi desahan pun mulai lolos dari bibirnya tanpa sadar. Gwen mulai menikmati permainan yang disuguhkan oleh sang Presdir. *** Keesokan harinya pukul 09.00, Gwen bekerja di hotel seperti biasa meskipun tubuhnya terasa remuk, bagian intinya pun terasa nyeri usai bermain hampir semalaman di kamar nomor 201 yang akan menjadi kamar pribadinya bersama Kenzo sang pemilik Resort. Dengan mengenakan stelan formal berwarna hitam putih, wanita berusia 24 tahun itu melangkah menuju kamar yang baru saja ditinggalkan oleh tamu. Gwen seketika memperlambat langkah kakinya saat melihat Kenzo tengah berjalan bersama asisten pribadinya. Pria itu terlihat tampan dan matang dengan stelan jas berwarna hitam lengkap dengan dasi dengan warna serupa. Gwen seketika merasa gugup, mengingat apa yang mereka lakukan semalam membuat jantungnya berdetak sangat kencang. "Tenang, Gwen, tenang. Om Ken bilang aku harus bersikap biasa aja. Anggap aja kejadian semalam itu gak pernah terjadi," batin Gwen seraya mengangguk-anggukkan kepala, meyakinkan diri sendiri. Gadis berlesung pipi itu melanjutkan langkahnya dengan senyum ramah dan membungkuk memberi hormat kepada Kenzo saat mereka berpapasan. "Pagi, Pak Kenzo," sapanya ramah dan sopan. Kenzo sama sekali tidak menanggapi sapaan Gwen, pria itu melintasinya begitu saja bahkan tidak meliriknya barang sedetik pun. Cuek dan dingin, seperti itulah watak seorang Kenzo Pratama. Gwen mendengus kesal seraya menatap punggung Kenzo. "Dih, dingin banget kayak es batu. Beda banget kayak semalem. Dasar cowok, kalau lagi ada maunya aja baiknya minta ampun, giliran udah puas, balik deh ke stelan pabrik," umpat Gwen di dalam hatinya, lalu melanjutkan langkahnya dengan perasaan kesal. Kenzo diam-diam tersenyum tipis tanpa sepengatahuan Gwen. Langkahnya terhenti lalu memutar badan dan menatap punggung wanita itu, kembali membayangkan apa yang mereka lakukan semalam. Erik sang asisten, sontak melakukan hal yang sama. "Anda kenapa, Pak Bos?" tanyanya dengan heran. Kenzo kembali memutar badan dengan gugup. "Nggak, saya gak apa-apa," jawabnya lalu melanjutkan langkahnya, hal yang sama pun dilakukan oleh Erik. "O iya, mantan istri Anda udah nungguin di ruangan Anda, Pak," ucap Erik membuat Kenzo kembali menahan langkahnya. "Astaga, mau ngapain lagi dia ke sini?" tanya Kenzo dengan kesal. "Saya juga gak tau, Pak Bos, tapi Nyonya Rita dateng sama Den Damar, Pak." "Damar?" gumam Kenzo semakin merasa terkejut. Tanpa berpikir panjang lagi, pria itu segera melanjutkan langkahnya dengan tergesa-gesa hingga mereka pun tiba di ruangan Presiden Direktur. Kenzo segera masuk ke dalam ruangan, sementara Erik hanya menunggu di depan pintu. Rita, mantan istri yang sudah ia ceraikan lima tahun lalu segera berdiri menyambut kedatangan mantan suaminya, hal yang sama pun dilakukan oleh Damar, remaja berusia 17 tahun yang saat ini duduk di bangku kelas 11 SMA. Wajah Damar nampak datar, bahkan terlihat tidak suka dengan kehadiran Kenzo, ayah kandungnya sendiri. Kenzo menatap keduanya secara bergantian. "Kenapa kalian gak bilang dulu mau dateng ke sini?" tanyanya datar. Damar mendengus kesal. "Aku bilang juga apa, Mom. Percuma kita dateng ke sini! Buang-buang waktu aja sih," decaknya dengan kesal. Rita memandang sinis wajah Damar. "Hus! Gak boleh gitu sama Daddy kamu sendiri, Damar. Gak sopan!" tegurnya. Damar menghela napas panjang lalu duduk dengan bersilang kaki, hal yang sama pun dilakukan oleh Rita. Sementara Kenzo duduk di sofa yang berbeda dengan mereka. "Langsung ke intinya aja, Mas Ken. Aku ke sini mau nganterin Damar sama kamu," ucap Rita tanpa basa basi. Kenzo mengerutkan kening. "Maksud kamu?" "Aku mau menikah lagi, calon suamiku asli orang Australia dan aku akan ikut dia menetap di sana. Aku titip Damar sama kamu." "Mom," sahut Damar dengan mata membulat. "Aku 'kan udah bilang sama Mommy, kalau aku gak mau tinggal sama dia!" "Cukup, Damar. Kamu masih sekolah, sebentar lagi ujian. Kalau kamu ikut Mommy ke Australia, sekolah kamu bakal berantakan," bentak Rita mengalihkan pandangan matanya kepada sang putra. "Tapi, Mom--" "Oke, saya gak keberatan Damar ikut sama saya. Dengan begitu, saya bisa mengawasi dia setiap saat. Selamat atas pernikahan kamu, Rita. Semoga kalian bahagia," ucap Kenzo dengan dingin. Damar tiba-tiba berdiri tegak. "Dari pada aku tinggal sama dia, lebih baik aku tinggal di hotel ini aja. Aku minta kamar yang paling mahal di sini!" ucapnya dengan tegas. "Duduk, Damar. Kita belum selesai bicara," pinta Rita dengan kepala mendongak menatap wajah sang putra. "Gak ada lagi yang perlu kita bicarakan, Mom. Aku gak sudi tinggal sama dia!" timpal Damar seraya menunjuk wajah Kenzo. "Dia Ayah kamu, Damar." "Ayah? Hahahaha! Ayah macam apa yang nelantarin anak sama istrinya gitu aja, hah? Lima tahun, Mom. Lima tahun dia yang Mommy sebut Ayahku ini gak pernah menganggap aku sebagai anaknya!" bentak Damar lalu melangkah ke arah pintu dengan wajah memerah menahan amarah. Ia bahkan mengabaikan panggilan ibunya yang memintanya untuk berhenti. Damar benar-benar meninggalkan ruangan tersebut. Remaja berusia 16 tahun itu berjalan di koridor dengan rahang mengeras kesal. "Aku gak sudi menganggap dia sebagai Ayahku," gumamnya, mempercepat langkah kakinya hingga ia tidak sengaja menabrak Gwen yang tengah berjalan dengan membawa selimut kotor yang baru saja ia ambil dari kamar. "Argh," seru Gwen, terjatuh ke lantai, selimut yang ia bawa pun berhamburan dan berserakan. Damar mendengus kesal. "Dasar bego, lo punya mata gak sih? Gak liat gue lagi jalan, hah?" bentaknya dengan mata membulat. Gwen berdiri tegak lalu membungkuk meminta maaf. "Maafin saya, Den. Saya gak sengaja," ucapnya. "Apa lo gak tau siapa gue?" Gwen mengerutkan kening seraya memandang wajah Damar yang terlihat mirip seseorang. Namun, ia segera menepis pikirannya dan berfikir bahwa anak remaja itu hanya tamu yang menghuni salah satu kamar, itu sebabnya ia harus tetap bersikap ramah dan sopan. "Sekali lagi saya mohon maaf, Den. Saya gak sengaja nabrak Anda," ucap Gwen kembali membungkuk meminta maaf dengan tulus. Akan tetapi, alih-alih menerima permintaan maafnya, yang dilakukan oleh Damar adalah mendorong tubuh Gwen hingga wanita itu kembali jatuh ke lantai. "Kau akan segera dipecat dari sini, dasar karyawan gak tau diri!" bentak Damar lalu meninggalkan Gwen begitu saja. Gwen menghela napas panjang dengan perasaan kesal seraya menatap kepergian anak itu. "Dih, emangnya dia siapa main pecat-pecat orang sembarangan? Anak jaman sekarang pada gak sopan sama orang tua, amit-amit ... jangan sampai aku punya anak kayak dia," gumamnya lalu berdiri seraya membawa selimut kotor yang berserakan di atas lantai. Tidak lama kemudian, Rita berlari melintasi Gwen, mengejar Damar seraya menyerukan namanya. Gwen menatap wanita tersebut dengan wajah datar. "Hmm! Jadi itu Ibunya. Kasihan sekali dia punya anak kurang ajar kayak gitu," gumam Gwen seraya melangkah menuju ruangan loundry. Akan tetapi, langkah Gwen seketika terhenti saat mendapati ponselnya bergetar. Wanita itu merogoh saku celana yang ia kenakan lalu meraih ponsel canggihnya dan membaca pesan yang baru saja masuk. "Saya tunggu kamu di kamar kita sekarang juga." Singkat dan padat, seperti itulah pesan yang dikirimkan oleh Kenzo. Gwen mendengus kesal. "Astaga, masih pagi lho ini. Masa Om Kenzo udah minta dilayani sih? Yang semalam aja masih sakit lho. Mana aku harus kerja lagi," umpat Gwen di dalam hatinya. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN