Pagi ini Adinda kembali mengembangkan senyumnya di depan cermin yang ada di kamarnya. Luka di wajahnya sudah hampir pulih tersamarkan berkat obat yang dibeirkan Hafiz padanya. Ia semakin percaya diri tanpa perlu lagi memakai make up lebih tebal seperti beberapa hari lalu hanya untuk membuat bekas lukanya semakin tertutupi. Kedua matanya yang masih menatap ke dalam cermin tiba-tiba bergeser menatap boneka monyet besar yang juga terlihat dari dalam cermin. Senyumnya kembali mengembang lebar. "Coco, kamu tahu nggak? Semalam aku mimpiin Calon Suami. Dia ganteng banget seriusan! Dia pakai jas putih, persis pangeran yang mau naik kereta kuda." Adinda berjingkrak kegirangan karena masih ingat jelas bagaimana tampannya wajah Hafiz saat di dalam mimpinya. "Beruntungnya remahan rengginang kayak ak

