"Adinda?"
Adinda sama terkejutnya dengan Hafiz, bahkan jauh lebih terkejut dari Hafiz. sontak menoleh. Adinda yang langsung menundukkan kepalanya. Seketika Adinda merasa malu akan dirinya yang kini dilihat oleh Hafiz.
Dari sekian banyaknya waktu, kenapa harus saat ini Adinda kembali bertemu dengan Hafiz? Bukankah ia sudah berdoa agar tidak perlu lagi dipertemukan dengan Hafiz? Lalu kini, kenapa Tuhan mempertemukan ia dengan Hafiz di tempat yang tidak seharusnya?
"Kamu ... ada perlu apa jam segini ke hotel?" Hafiz melirik jam tangan silvernya dan mengetahui jika waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Entah mengapa, Hafiz sudah memiliki perasaan tidak baik melihat Adinda saat ini. Pakaian Adinda yang begitu minim, juga seorang lelaki yang merangkul Adinda dengan begitu posesif membuat Hafiz jadi memiliki perasaan yang tidak-tidak walaupun ia sendiri juga tidak mau suudzon.
Mungkin kakaknya Adinda, pikir Hafiz dalam hati. Tapi di lain sisi, Adinda dan lelaki di sampingnya sama sekali tidak memiliki kemiripan.
"Lo siapa?" Damian yang masih memeluk pinggang Dinda langsung bertanya pada Hafiz yang terlihat begitu penasaran dengan apa yang akan Adinda lakukan saat ini.
"Anda siapa?" tanya balik Hafiz.
"Gue? Gue pacarnya Adinda."
"Dam, jangan begini," ucap Adinda dengan berbisik. Ia tidak suka jika Damian menganggapnya sebagai pacar.
"Pacar?" ulang Hafiz setengah tak percaya. Ia memperhatikan raut wajah Adinda yang tampak gelisah di hadapannya.
Melihat raut ekspresi Hafiz saat ini padanya, Adinda langsung menepis tangan Damian yang memeluk pinggangnya dan ia mundur beberapa langkah menjauh dari Daman juga Hafiz dengan perasaan takut. "Bukan, dia bukan pacar aku," ucap Adinda dengan suara bergetar.
"Apa?!" Damian langsung menoleh dan berteriak pada Adinda. Senyum yang sejak tadi ia berikan untuk Adinda langsung musnah, berganti dengan tatapan dingin yang begitu menakutkan untuk adinda. Damian maju dan langsung mencengkeram erat lengan Adinda. "Apa lo udah lupa berapa banyak gue keluarin uang buat bayar lo hari ini?!!"
Adinda mematung di tempat. Pupil matanya bergetar membalas kilatan tajam mata Damian.
"Lo yang mau ngelakuin ini sama gue, tapi sekarang lo bilang apa?! Jadi cewek murahan aja lo belagu, anjing!"
Adinda langsung memejamkan matanya erat. Cengkeraman tangan Damian semakin terasa di kulit telanjangnya. Ini adalah sisi Damian yang paling menakutkan yang pernah Adinda lihat. Walaupun Adinda sudah menerima banyak cacian dan perlakuan kasar dari keluarganya sendiri, Adinda tetaplah perempuan yang pada dasarnya lebih lemah dibandingkan laki-laki.
"Lepas!"
Damian menyeringai dingin. Ia menoleh dan menatap Hafiz dengan satu alisnya yang terangkat meremehkan. Matanya tadi sempat menangkan tangan Hafiz yang juga memegang lengan tangan Adinda.
"Saya bilang lepas! Anda menyakiti perempuan!"
"Lo tuh siapa sih sebenernya? Tiba-tiba dateng dan berlagak sok jadi pahlawan kesiangan. Ini urusan gue sama Adinda, jadi lo nggak usah ikut campur!!"
"Jaga bicara Anda pada seorang perempuan. Jika ingin berteriak dan bersikap kasar, maka cari lawan yang sepadan, jangan pada perempuan."
Karena Damian yang belum juga mau melepas cengkeramannya di lengan Adinda, Hafiz langsung melepas paksa tangan Damian dan segera membawa tubuh Adinda ke belakang tubuhnya. Adinda yang ada di belakangnya hanya bisa menundukkan kepalanya dalam dan bergeming tanpa suara.
"Lo cari mati ya?! Kembaliin Dinda ke gue!"
"Tidak akan pernah," jawab Hafiz dengan tatapan yang ikut menajam. "Saya adalah calon suaminya, jadi Adinda berhak sama saya karena saya calon suaminya."
Damian langsung menyeringai tajam menatap Hafiz. "Bener dia calon suami lo?" tanya Damian yang dimaksudkan pada Adinda, namun yang ditanya hanya diam saja.
"Baru calon aja lo udah sombong."
"Silahkan Anda pergi dari sini, sebelum saya panggil pihak keamanan."
Damian tersenyum miring. Ia melongokkan kepalanya untuk berusaha melihat wajah Adinda yang bersembunyi.
"Tunggu aja, gue pasti akan dapetin Dinda lagi," ujar Damian dengan mendorong bahu kanan Hafiz hingga secara tidak langsung ikut mendorong tubuh Adinda yang berada di belakang tubuh Hafiz.
"Lo denger itu Adinda! Gue pasti akan dapetin lo lagi!! Camkan kata-kata gue!!" Damian langsung pergi meninggalkan Hafiz dan Adinda.
Suasana hening beberapa saat. Hafiz masih bertahan di posisinya. Kepalanya berusaha mengerti semua yang terjadi. Tentang Adinda, tentang Damian, tentang hotel yang berdiri megah di pijakannya, dan tentang semua kata-kata yang tadi dilontarkan oleh Damian.
Adinda membuka mulutnya, mencoba membuka suara. "Maaf ...."
Hafiz tersenyum miris. Entah kenapa hatinya merasa sakit. Ia juga tidak tahu karena apa. "Nggak perlu minta maaf. Saya yang harusnya minta maaf karena sudah ikut campur urusan kamu."
"Jangan pergi!" Adinda menahan lengan Hafiz yang ingin pergi meninggalkan dirinya.
Hafiz menarik lengannya pelan dari genggaman Adinda. "Saya mau masuk dan istirahat. Kamu pulanglah."
"Jangan pergi, aku takut ...."
Tangan Hafiz mengepal erat di sisi paha tanpa sadar. Matanya hanya menatap jalan yang ia pijaki. "Kalau kamu takut, kenapa kamu bisa ada di sini?"
"Apa?" Adinda langsung mengangkat pandangannya dan menatap mata Hafiz.
"Kamu itu perempuan. Harusnya jam segini kamu ada di rumah. Kenapa kamu malah datang ke hotel dan sama cowok yang bahkan berani kasarin kamu? Kenapa?! Apa yang sebenernya kamu lakuin di sini?!" teriak Hafiz tanpa sadar. Suaranya benar-benar refleks tanpa sadar ia juga membuat Adinda berjengkit karena kaget.
"Aku ...."
"Apa memang ini yang selalu membuat kamu keluyuran malam-malam? Begitu? Inikah yang setiap malam kamu lakukan dengan banyak laki-laki?"
"Apa?" Adinda merasakan matanya semakin memanas. Kalimat Hafiz sangat sukses berhasil menembak perasaannya.
"Kamu butuh uang?" tanya Hafiz yang semakin tak mengerti mengapa pertanyaan itu bisa meluncur dari bibirnya.
Adinda masih diam seribu bahasa mendengarkan semua kata-kata yang meluncur dari seorang lelaki yang selama ini selalu ia anggap sebagai lelaki yang baik.
"Kalau kamu butuh uang, aku bisa kasih. Kamu butuh berapa? Berapa yang kamu butuhkan?!"
"Nih, ambil uangnya." Hafiz langsung merogoh dompetnya dan mengeluarkan semua uang tunai yang ia punya. Ia menarik tangan Dinda dan memberikan semua uang itu langsung pada Adinda.
Adinda masih diam. Matanya terpaku menatap semua uang tunai yang kini bertumpuk di telapaknya.
Kembali hening beberapa saat, Adinda masih diam di posisinya. Semakin lama matanya semakin memanas. "Apa maksud kamu?"
"Kalau kamu butuh uang, bilang! Aku akan kasih, tapi nggak dengan cara kamu datang ke hotel bersama dengan laki-laki!"
Adinda jadi berpikir dalam hati, mengapa semua orang hari ini terus saja berteriak di hadapannya? Mengapa semua orang hari ini tidak ada yang bisa mengerti bagaimana perasaannya? Menagapa semua orang hari ini tidak ada yang mau mendengarkan apa yang sebenarnya dirasakan oleh dirinya?
"Apa kamu pikir semua masalah di dunia ini akan langsung selesai dengan uang?" lirih Adinda.
Adinda mengangkat kepalanya. Menatap mata Hafiz dengan nanar. Jujur, Adinda benar-benar merasa hancur dengan apa yang Hafiz katakan padanya. Bahkan apa yang Hafiz lakukan lebih menyakiti perasaannya dibandingkan dengan yang Damian lakukan padanya merasa sakit hati dengan apa yang Hafiz lakukan padanya.
"Kenapa? Apa uangnya kurang? Saya bisa kasih yang lebih banyak untuk kamu."
Satu sudut bibir Adinda tertarik, tersenyum miris. Bulir demi bulir air matanya mengalir dalam senyap. Apakah yang ada di hadapannya ini sungguh Alhafiz Keanu Abrisam? Lelaki yang tanpa sengaja benar-benar telah mencuri perhatiannya, dan membuatnya jatuh cinta tanpa sadar?
"Ini sungguh kamu?" lirih Adinda lagi. Ia masih belum bisa percaya jika lelaki di hadapannya adalah Hafiz.
"Sekarang ambil uangnya dan pulang. Jangan pernah berani keluar malam-malam lagi untuk hal yang kamu takuti."
"Kenapa kamu selalu minta aku pulang ke rumah? Justru rumah adalah tempat yang nggak pernah bisa jadi tempat untuk aku pulang!" pekik Adinda dengan histeris.
"Dan aku ... Aku nggak butuh semua uang kamu!!" pekik Adinda dengan melempar semua uang Hafiz ke depan tubuh lelaki itu.
"Aku nggak butuh semua uang yang kamu punya! Apa kamu pikir aku senang dengan diri aku yang sekarang ini? Apa kamu pikir aku ngelakuin semua ini semata-mata karena uang? Kamu nggak tau apa-apa!! Kamu nggak berhak menghakimi diri aku seperti ini!!"
"Aku tau, orang kaya seperti kamu pasti hidup dengan uang dan harta yang berlimpah. Aku tau kamu dengan mudahnya mengeluarkan banyak uang yang kamu punya, tapi kamu nggak berhak hancurin harga diri aku seperti ini!!"
Air mata terus mengaliri pipi Adinda. Wajahnya memerah karena rahangnya yang mengeras. Tanpa mengeluarkan isak tangisnya, Adinda terus saja menepis semua air mata yang membasahi pipinya.
Adinda merogoh tas kecilnya. Ia mengambil kotak cincin yang masih ia miliki dan langsung melemparnya ke d**a Hafiz hingga benda itu jatuh tepat di bawah kaki mereka berdua.
"Kamu bukan siapa-siapa aku," lirih Adinda. "Kamu cuma orang asing! Dan harusnya kamu nggak jahat seperti ini!!"
Tanpa mau mengatakan lebih banyak hal, Adinda langsung memutar tubuhnya. Ia menggigit bibir bawahnya kuat untuk menahan isak tangisnya yang membuat dadanya sesak seperti ingin meledak. Adinda langsung berlari pergi meninggalkan Hafiz yang membisu di posisinya.
Adinda berjalan lambat menyusuri jalan setapak menuju rumahnya. Wajahnya sembab, matanya bengkak. Hari ini benar-benar menjadi hari yang paling menyebalkan dan menyedihkan. Biasanya, jika ada orang yang meremehkannya, Adinda akan merasa cepat baik-baik saja. Saat ada orang yang mengganggunya, Adinda bahkan akan langsung membalas tanpa menangis. Tapi tadi, rasanya berbeda saat Hafiz yang melakukan itu padanya. Bukan menunjukkan sisi kuatnya, Adinda justru menunjukkan sisi lemahnya pada Alhafiz.
Begitu rumah kecilnya yang dicat warna hijau itu terlihat, Adinda menghela napas kasar. Jika melihat rumah itu, rasanya Adinda tidak pernah bisa menenangkan hatinya. Jika melihat rumah itu, rasanya Adinda hampir gila.
Adinda berhenti melangkah. Ia membuka lockscreen ponselnya untuk melihat jam. Rupanya waktu sudah larut untuk Adinda pulang. Jam 1 malam, dan ia baru saja sampai di depan rumah tanpa takut dengan keadaan malam hanya karena ia seorang perempuan.
Adinda memilih untuk bersandar pada dinding luar rumahnya. Adinda belum mau masuk ke dalam, karena mungkin saja seseorang yang tidak ingin ia temui masih terjaga di ruang tv. Atau mungkin saja kakaknya yang tiba-tiba datang tadi pagi masih berada di rumahnya.
Adinda menatap langit. Sepi, hanya ada bulan sendiri tanpa ada bintang yang menemani. Adinda jadi bertanya dalam hati, kenapa langit tampak sepi malam itu? Kenapa hanya ada bulan sendirian dia atas sana? Melihat bulan yang sendirian malam ini, seakan melihat dirinya yang selalu sendiri dan kesepian.
Lama bertahan di posisinya, Adinda akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Membuka pagar rumahnya sepelan mungkin, tapi malah suara decitan pagar yang di dapat.
"Ke mana aja lo jam segini baru balik?"
Adinda sontak menahan napas saat mendengar suara Emil. Rupanya sejak tadi Emil duduk di sudut yang tidak terkena lampu, sehingga Adinda tidak menyadari keberadaannya.
"Mana uang yang gue minta?" pinta Emil dengan beranjak berdiri. Ia membuang puntung rokoknya dan menginjaknya hingga remuk.
Tanpa menjawab dan tanpa memandang kakaknya, Adinda memilih langsung masuk ke dalam rumah. Mengabaikan panggilan Emil yang ditujukan padanya. Ia sudah terlalu lelah dan tak ingin lagi terlibat perkelahian.
PLAK!!!
Merasakan ada tangan besar yang menampar wajahnya, Adinda langsung membeku di tempat. Kejadiannya begitu cepat, hingga pikiran Adinda bahkan belum sempat mencerna situasinya. Rasa panas dari tamparan kencang itu langsung menjalar ke wajah dan seluruh tubuhnya. Perlahan Adinda membuka matanya, berharap bahwa lebih baik ia sedang bermimpi saat ini.
"Dasar perempuan nggak tau diri!!"
Kepala Adinda masih menunduk menatap lantai yang gelap.
"Kamu pikir saya nggak tau kalau kamu keluar dari tempat kerja, hah?!!"
Dengan rahang yang mengeras dan kedua tangan yang mengepal erat, Adinda mencoba untuk mengangkat kepalanya.
"Kenapa? Memangnya kenapa?! Ini hidup saya, jadi nggak usah ikut campur!" Adinda menatap lurus kedua mata pria di hadapannya yang sebenarnya adalah ayah kandungnya sendiri.
Dalam gelapnya rumah, Adinda masih mampu melihat samar kilatan tajam dari mata sang ayah yang terlihat karena celah cahaya dari luar rumah. Setelah ia berurusan dengan kakaknya yang tidak berguna, kini ia kembali bertemu dengan ayahnya yang juga sama tidak bergunanya. Ayah dan kakak yang bahkan tidak ingin Adinda anggap dalam hidup.
PLAK!!
Adinda menggertakan giginya saat merasakan pipi kanannya kembali ditampar untuk yang kedua kalinya. Rasanya sangat sakit, sampai Adinda merasa kebas di seluruh wajahnya.
"Berani melawan kamu sekarang?! Kamu itu memang anak nggak tau diuntung!!"
Tangan Adinda terkepal kuat di sisi pahanya.
"Kalau ditanya itu jawab!! Punya mulut kan kamu?!"
"Bunuh aja aku sekalian! Bunuh!" teriak Adinda dengan begitu frustasinya. Ia lelah jika harus terus hidup seperti ini.
Bugh! Bugh! Bugh!
Kakinya terasa mengambang, tidak menapak, dan sudah tidak kuat menopang beban tubuhnya. Adinda langsung jatuh terduduk di lantai yang dingin, begitu ayahnya melakukan rentetan pukulan dan tendangan dengan keras pada tubuhnya tanpa ampun.
Tangannya meremas kuat jaket yang masih membalut tubuhnya, berharap bisa membendung rasa nyeri yang kian melilit seluruh tubuhnya tersebut. Rambutnya berantakan, darah segar mengalir dari salah satu sudut bibirnya yang tipis. Air mata senyap mengalir hangat tepat di pipinya.
Bukan air mata sedih karena perlakuan kasar ayahanya, melainkan air mata yang mengalir karena respon tolakan dari tubuh Adinda yang keluar dengan sendirinya. Air mata pertanda bahwa tubuhnya telah merasakan sakit karena banyaknya luka yang ia terima.
"Akh!! Pulang bukannya mendapat uang malah ketemu sama anak tidak tau diri seperti kamu!!" Said, ayah kandung Adinda, berteriak dengan kencang setelah puas memberikan pelajaran bagi anak semata keduanya. Sementara Adinda masih diam, tidak melakukan pembelaan apa pun atas dirinya lagi. Ia sudah terlalu lemah dengan semua ini.
"Lebih baik kamu mati saja sekalian, daripada menjadi anak yang tidak berguna untuk saya dan Emil!!" sarkasnya, kemudian keluar rumah dengan membanting pintu rumah dengan sangat kencang.
Adinda memejamkan matanya erat, menahan rasa memuakkan yang terpampang jelas di garis hidupnya. Tamparan dan pukulan yang diberikan pada tubuhnya belumlah seberapa jika dibandingkan dengan luka yang kian detik menggerogoti otak dan hatinya. Rasa perih dan sakit dari luka di tubuhnya belumlah seberapa, jika dibandingkan dengan luka yang telah menganga lebar di hatinya. Kian detik semakin menganga hingga membentuk lubang hitam tak berbentuk. Tanpa ada yang mampu menyembuhkan ataupun menutupi luka hatinya.
Adinda tersenyum miris. Dengan sisa tenaganya, Adinda menarik tas kecilnya yang tergeletak di lantai tidak jauh dari posisinya. Adinda meringis kuat menahan sakit yang terasa hampir di seluruh bagian tubuhnya.
Adinda menggigit bibir bagian bawahnya, menahan air matanya agar tidak keluar. Begitu menyesakkan hidup ini hingga rasanya ia tidak mampu bernapas lagi. Begitu memilukan hingga rasanya Adinda sungguh ingin menghilang saja dari dunia ini.
Kaki Adinda terus berusaha melangkah maju ke depan. Dengan langkah bergetar, ia masuk ke dalam kamar miliknya yang pintunya telah rusak akibat perbuatan Emil pagi tadi.
Adinda meringsut di atas kasur. Tangannya berusaha meraih boneka monyet besar yang diberikan oleh Hafiz. Ia menekan wajahnya kuat dengan boneka tersebut. Memendam semua isak tangisnya agar tak ada siapapun yang mendengar. Bahkan ia tidak ingin dinding kamarnya tahu jika ia akhirnya menumpahkan semua tangisnya.