“Jadi kapan Mas mau melamar Kinara? Cincinnya jadi sudah dibeli, kan?”
Hafiz kembali menghela napas panjang, saat mendengar sang ayah kembali menanyakan pertanyaan yang sama seperti yang sebelumnya.
Seperti yang sudah direncanakan, jika Hafiz menginap di rumah orang tuanya di akhir pekan, karena kebetulan malam nanti akan ada makan malam bersama di restoran hotel yang sudah dipesankan oleh ayahnya.
“Ayah sudah tanya itu tadi.”
“Ayah ingat sudah bertanya lebih dari 3 kali sama kamu, tapi Ayah belum juga dapetin jawaban dari itu dari kamu.”
Hafiz menghela napas kasar. Ia meletakkan sendoknya, seketika merasa nafsu makannya hilang hanya karena pembahasan yang terus diulang di keluarganya. Memangnya segitu inginnya keluarganya itu ingin memiliki menantu Kinara?
“Sudahlah, Yah, biarkan Hafiz yang melalukannya,” ujar Alya, ibunda Hafiz, yang kali ini giliran bicara karena melihat pergerakan dari putranya yang terlihat tidak berselera makan. “Hafiz kan sudah besar. Jika waktunya sudah tepat dan cocok, juga Hafiz akan melamar Kinara, ya kan, Mas Hafiz?”
Hafiz melirik bundanya. Pada akhirnya bundanya juga memiliki harapan yang sama dengan ayahnya. Menginginkan dirinya segera melamar Kinara dan menikahi Kinara.
“Iya, Mas. Aulia juga maunya Mas cepetan lamar Kak Kinara. Nanti kalau Kak Kinara keburu dilamar sama yang lain, Mas sendiri loh yang menderita.”
Hafiz menatap tiap wajah keluarganya. Mereka bertiga benar-benar terlihat memiliki harapan besar jika Hafiz akan menikahi Kinara. Maklum, karena sejak kecil Kinara juga sudah dianggap oleh Althaf dan Alya, mereka jadi sama menyayangi Kinara seperti mereka menyayangi Kinara. Niat awal memang ingin menjodohi Hafiz dengan Kinara, rupanya putra mereka ketahuan jika memiliki perasaan lebih pada Kinara dibandingkan perasaan sebagai sahabat. Akhirnya Althaf dan Alya memilih mundur, dan memberikan Hafiz waktu untuk mencobanya sendiri.
“Memang apalagi sih, Mas, yang ditunggu? Jadi orang tuh gercep kayak Ayah. Pas tau Ayah naksir Bunda kamu, Ayah langsung bilang dan ngaku saat itu juga.” Ujar Althaf dengan percaya dirinya. Lucu sekaligus bangga pada dirinya sendiri yang dulu memang begitu to the point mengatakan langsung pada Alya jika ia ingin menikahi gadis itu.
“Nggak semua orang di dunia ini pede kayak Ayah,” keluh Hafiz. Harus diakui memang jika Althaf dan Alhafiz memiliki tingkat kepedean yang berbeda. Alhafiz cenderung lebih senang memendam perasaannya sendiri, dan terlalu banyak berpikir hingga tak sadar ia banyak membuang waktu untuk memikirkan kegelisahan juga ketakutannya sendiri.
“Kamu harus segera coba sebelum kamu menyesal, Mas. Waktu nggak berputar dua kali untuk hidup kita. Kinara itu perempuan yang cantik, baik, dan solehah, Mas, pasti banyak yang mengincar dia untuk dijadikan istri. Jadi kalau Mas Hafiz nggak bergerak cepat, Mas bisa ketinggalan.”
Hafiz berdecak kesal pada akhirnya. Ia sontak berdiri dan pergi dari meja makan menuju kamarnya. Meninggalkan ayahnya yang menatap kepergiannya dengan bingung.
“Apa ucapan Ayah terlalu menyinggungnya?” tanya Althaf dengan menatap bingung istri dan juga putrinya.
“Mas Hafiz yang kebaperan, Yah,” jawab Aulia tanpa beban. “Kemarin pas Aulia ngomongin Mbak Kinara, Mas Hafiz juga langsung bete dan nyuruh Aulia diem.”
“Biar Bunda yang coba bicara sama Mas Hafiz ya, Yah. Nanti malam kan kita mau makan malam bareng, nggak enak kalau nanti suasananya jadi canggung. Ya, kan?”
“Maaf ya, Bun. Habisnya Ayah jadi nggak sadar kalau terlalu gemes dan nggak sabaran dengan sikap Hafiz yang terlalu banyak menunggu.”
“Umur Hafiz juga masih 25, Yah. Mungkin di lain sisi dia belum merasa siap.”
Althaf hanya bisa menghela napas panjang mendengar penjelasan istrinya yang memang benar adanya. Hafiz memang menyukai Kinara, tapi bisa jadi Hafiz memang merasa belum siap untuk menikah.
***
“ADINDA!!”
“ADINDA!!! BANGUN KAMU!!”
Suara teriakan yang menggelegar juga gebrakan di pintunya membuat Adinda tersentak kaget dan terbangun dengan paksa. Ia langsung mendekat ke dinding dan memeluk Coco dengan erat.
“MANA UANG YANG GUE MINTA?!”
Adinda menutup telinganya rapat. Tubuhnya bergetar seketika, tanpa diminta. Mungkin karena tubuhnya seolah bisa merasakan tiap pukulan yang biasanya akan mengenai dirinya setelah teriakan-teriakan itu.
Adinda melirihkan nama Nenek tanpa sadar. Matanya buram, merasakan kunang-kunang yang seolah terbang di sekeliling kepalanya.
“Ingat bahwa kamu punya utang 30 juta di sini, Adinda.”
“Nenek menunggak biaya operasional selama 3 bulan, Mbak. Kalau nggak dibayar bulan ini juga, mungkin Nenek harus keluar dari panti, Mbak.”
“Jadilah wanita penghibur untuk Damian. Kamu akan saya berikan gaji yang besar, Adinda. Pikirkanlah itu baik-baik. Semuanya demi keuntungan kita semua.”
Semuanya berputar di kepala Adinda dengan cepat. Semua yang mengelilinginya selalu saja tentang uang dan uang. Adinda lelah, butuh seseorang yang bisa menyelematkan hidupnya. Adinda ingin keluar dari nerakanya, menemukan kebahagiaannya sendiri dengan Nenek tanpa ada yang mengganggu.
“ADINDA!!”
Dobrakan pintu yang begitu kencang membuat Adinda membulatkan matanya lebar-lebar. Pintu kamarnya yang dikunci berhasil di dobrak. Pria yang mana adalah kakak kandung dari Adinda langsung maju dan menjambak rambut Adinda dengan begitu kencang dan kuat.
Adinda berteriak, meringis sakit, sambil menangis, namun jambakan di rambutnya tak kunjung berkurang atau dilepaskan. Jambakan itu kian kuat hingga Adinda merasakan tubuhnya membentur dinding kamarnya.
Adinda mengatupkan rahangnya, merasakan sekujur tubuhnya yang nyeri terutama bagian kepalanya. Rasanya rambut-rambutnya itu akan terlepas dari kulit kepalanya.
“Mana uang yang gue minta? Hah?!!” bentak Emil pada adiknya. Emil lebih dewasa secara umur 2 tahun dari Adinda. Emil lebih senang tidur bersama teman-temannya, dibandingkan harus pulang ke rumah. Emil baru akan pulang jika ia membutuhkan uang dari adiknya. Makanya dari dulu Emil tidak pernah bekerja dan hanya memanfaatkan kekuatannya untuk mengancam Adinda agar Adinda mau memberikannya uang.
Dalam sakitnya, Adinda mengangkat pandangannya dan memberikan senyum miringnya untuk kakak yang sama sekali tidak pantas untuk ia sebut kakak. Seorang kakak seharusnya bisa melindungi adiknya. Seorang kakak seharusnya bisa memberikan rasa nyaman dan aman pada adiknya. Seorang kakak seharusnya akan melakukan segala hal yang ia bisa untuk bisa membahagiakan adiknya, mengurangi beban adiknya, bukan malah menjadi benalu yang terus-menerus mencekik adiknya.
“Lo pikir gue akan bawain lo uang? Kalau lo mau uang, lo cari sendiri! Gue bukan b***k lo, jadi jangan pernah manfaatin gue lagi!” teriak Adinda dengan mendorong kasar tubuh kakaknya hingga Emil tersungkur. Adinda mengeraskan rahangnya, tangannya mengepal erat. Andai ia memiliki kekuatan yang sama seperti seorang pria, sudah pasti ia akan membalas balik apa yang Emil lakukan padanya. Tubuh Adinda bahkan hanya setengah tubuh Emil. Kekuatan Adinda tidak ada apa-apanya dibandingkan kekutan yang Emil miliki karena ia seorang lelaki.
Plak!
Adinda memejamkan matanya begitu merasakan pipinya yang menyalurkan rasa panas menjalar hingga ke seluruh tubuhnya.
“Dasar j****y! Jadi cewek malam aja lo belagu! Dibayar berapa lo tiap malem sama om-om yang tidur sama lo, hah? Harusnya lo bersyukur, karena gue dan bokap masih membiarkan lo hidup! Harusnya lo bersyukur karena gue dan bokap masih ngizinin lo tidur sama om-om lo itu!”
Adinda tersenyum miris. Bahkan keluarganya saja menganggapnya perempuan rendahan seperti itu, tanpa tahu bagaimana perjuangan Adinda untuk melindungi mahkota juga harga dirinya.
Emil menarik kerah baju Adinda hingga mata Adinda dipaksa untuk membalas tatapannya. Cengkeraman tangannya di baju Adinda membuat Adinda kesulitan bernapas untuk beberapa saat.
“Bawain gue uang satu juta nanti malem, atau rambut lo yang bagus ini akan gue botakin!” serunya dengan penuh penekanan.
***
“Mas, sudah siap?” tanya Althaf yang telah membuka knop pintu kamar sang putra.
“Sudah” kata Hafiz sambil merapikan pakaiannya di depan cermin lemari pakaian.
Mendengar Hafiz yang hanya menjawab dengan satu kata, membuat Althaf terdiam beberapa detik sebelum akhirnya memilih masuk. Ia berdiri di hadapan Hafiz dan merapikan dasi putranya. Althaf tersenyum sambil menatap mata Hafiz.
“Masih bete karena ucapan Ayah tadi pagi?”
“Nggak,” jawab Hafiz yang masih singkat, tidak seperti biasanya.
“Ayah udah minta maaf, loh, Mas. Masa nggak dimaafin?”
“Aku udah maafin, Ayah jangan lebay gitu, deh.”
Mendengar Hafiz akhirnya mau bicara banyak, membuat Althaf bisa menyunggingkan senyum. “Ayah akan berusaha lebih sabar dan menunggu kamu sampai benar-benar siap untuk menikah.”
Aku sudah siap, Ayah.
“Ayah juga akan menunggu kamu hingga berani melamar Kinara dengan usahamu sendiri.”
Aku sudah ingin mencobanya, tapi sudah terlambat, Ayah.
“Ayah benar-benar berharap kamu bisa menikah dengan perempuan baik seperti Kinara, Nak.”
Keinginan Ayah dan Bunda yang satu itu, sampai kapan pun aku nggak akan pernah bisa mengabulkannya.
“Turun sekarang, yuk? Bunda sama Aulia pasti sudah nunggu kita berdua.”
Hafiz diam tak menjawab. Matanya hanya mengekori kepergian ayahnya yang menghilang di balik pintu. Dengan helaan napas panjang, akhirnya Hafiz menyusul ayahnya untuk pergi makan malam di restoran hotel bintang 5, rekomendasi dari ayahnya langsung.
***
Adinda memoles sudut-sudut wajahnya yang terluka dengan lebih banyak bedak untuk menyamarkan. Ia juga memakai banyak foundation untuk menghilangkan luka di wajahnya untuk sementara. Sadar akan apa yang ingin ia lakukan malam ini membuat Adinda kembali menangis.
“Dinda itu cucu Nenek yang paling baik, jadi Dinda harus bisa jaga diri. Kalau Dinda bahagia, maka Nenek juga akan bahagia.”
“Bawain gue uang 5 juta nanti malam, atau rambut lo yang bagus ini akan gue botakin!”
Air mata yang terus berderai membuat Adinda harus terus menambahkan bedak lagi lagi karena tangannya yang terus bergerak menghapus air mata di pipi. Bahkan hanya dengan melihat wajahnya malam ini, Adinda merasa jijik. Apa yang ia kenakan malam ini membuat Adinda seperti orang sakit.
Hutang, tuntutan biaya panti, biaya bulanan Bibi, biaya hidup, biaya makan, biaya untuk kakaknya, semuanya membutuhkan uang. Uang seolah benda yang paling banyak mencekik Adinda. Karena uang Adinda merasa kesepian. Karena uang Adinda merasa sedih. Karena uang Adinda merasa tidak berdaya. Karena uang Adinda merasa jadi b***k dunia.
“Datang malam ini kalau kamu mau semuanya selesai, Adinda. Kesempatan ini nggak akan datang 2 kali pada kamu. Ini adalah kesempatan emas kamu untuk bisa hidup lebih baik.”
Benarkah jika ia mengikuti saran Monica ia bisa hidup lebih baik? Benarkah jika ia mengikuti saran Monica semuanya akan usai? Apakah dengan begitu tak akan ada lagi yang memukulinya? Apakah dengan begitu tak akan ada yang sering mencekiknya?
***
“Happy 30th anniversary ya, Bunda.”
Alya tersenyum geli begitu suaminya kembali mengatakan ucapan selamat yang entah sudah berapa kali diucapkan malam ini.
“Bunda udah jawab iya dari tadi, Yah. Bisa nggak ganti omongan lain aja?” keluh Aulia yang tak tahan melihat sikap ayahnya yang bersikap seperti bujangan yang baru saja mengenal cinta.
Alya sontak tertawa karena sindiran anaknya itu, sedangkan Althaf hanya mendengus pelan. “Ayah tuh lagi berusaha buat bersikap romantis, kamu ini ganggu aja,” balas Althaf dengan mencubit pelan ujung hidung Aulia.
“Kalau mau romantis pas berdua di kamar aja, Yah. Jangan di sini, nggak tahan kita liatnya,” timpal Alhafiz mengikuti jejak adiknya.
“Apa?” Althaf membulatkan matanya. Begitu ia melirik istrinya, istrinya itu tertawa. “Bun, masa ngetawain Ayah?”
Menyusul sang bunda, Hafiz dan Aulia juga ikut tertawa saat melihat ekspresi ayahnya yang seolah tak terima dengan godaan mereka berdua.
“Oh ya, Ayah pesan kamar untuk kita malam ini, loh.”
“Hm? Pesan kamar?” ulang Alya.
Althaf mengangguk seraya tersenyum bangga. Ia mengeluarkan 3 kunci kamar yang sudah ia pesan untuknya dan keluarganya. Untuk kamar Mas Hafiz dan Aulia sudah Ayah pesankan yang single bed masing-masing.
“Kasian Mas Hafiz, Ayah bisa berduaan sama Bunda, eh Mas Hafiz masih aja tidur sendirian.”
Hafiz berdecak pelan dan melirik adiknya dengan tajam, namun beberapa detik kemudian ia hanya mendengus geli karena juga menganggap yang diucapkan Aulia adalah sebagai bentuk candaan.
“Nggak papa, ya, Mas? Bunda doain biar Mas Hafiz bisa cepet ketemu sama jodohnya. Jadi nanti setiap hari ada yang nemenin, nggak sendirian lagi.”
“Jodohnya itu sudah ada dan sudah terlihat, Bun. Cuma Hafiznya aja yang belum mau jemput. Ya, kan, Mas?”
Alhafiz hanya bisa menghela napas panjang. Sepertinya kluarganya itu baru akan berhenti menggoda jika melihat Hafiz benar-benar melamar Kinara.
“Oh, ya, Mas, akhir pekan besok undangan Kinara ke rumah, ya? Bunda mau ajak Kinara buat kue. Lagian Bunda juga kangen lama nggak ketemu Kinara.”
“Kinara sibuk, Bun,” kata Hafiz yang memang sama sekali tak tertarik dengan ide bundanya barusan. Tak seperti dulu saat ia selalu merasa senang jika Kinara datang ke rumahnya.
“Ayolah, Mas, Aulia juga kangen banget sama Mbak Kinara. Ya, ya, ya?”
“Nggak,” jawab Hafiz tegas. Ia mengalihkan tatapannya dari keluarganya yang kini menatapnya curiga.
***
Adinda memejamkan matanya rapat begitu merasakan tangan besar Damian menggenggam tangannya erat di dalam mobil.
“Kamu keliatan lebih cantik pakai baju itu,” kata Damian yang melirikkan matanya menatap pakaian Adinda malam ini. Dress berwarna hitam mengkilap yang melekat ketat di tubuhnya. Memamerkan kaki jenjangnya yang putih dan mulus.
Adinda hanya bisa diam sambil membuang pandangannya ke jendela. Jangankan menanggapi ucapan Damian, Adinda saja belum bisa menghentikan rasa takut yang kini membuat jantungnya berdebar tak karuan. Ini adalah sesuatu yang baru Adinda coba. Adinda tidak punya pilihan lain selain melakukan yang diminta Monica dan Damian. Tapi sungguh, belum melakukannya saja, Adinda sudah merasa jijik pada dirinya sendiri.
Cup!
Adinda yang terkejut sontak menoleh. Ia melihat Damian yang baru saja selesai mengecup punggung tangannya dan kini menatapnya dengan tatapan yang membuat Adinda merasa merinding.
“Tenang sayang, kita hanya akan bersenang-senang malam ini,” ujar Damian dengan senyum yang merekah lebar. Damian tampan, tapi menyeramkan. Adinda bahkan tidak mengerti mengapa sejak tadi Damian terus saja memanggil dirinya dengan sebutan ‘Sayang’. Membuat Adinda yang mendengarnya sama sekali tidak merasa senang.
Sesampainya di hotel yang telah dipesan oleh Monica berdasarkan saran dari Damian, Damian dan Adinda masih berdiam diri di dalam mobil.
“Kenapa sayang?” Damian bertanya dengan berbisik di dekat telinga Adinda, membuat Adinda sontak bergeser ke jendela.
“Haruskah kita melakukannya di sini saja?”
“Apa?” Adinda menyatukan keningnya, kaget dengan ucapan Damian. Damian begitu lugas dan lantang dalam bicara, membuat Adinda terpaksa selalu menahan napasnya.
Damian terkekeh kecil. “Kalau gitu ayo kita turun. Ini sudah jam 11 malam, sayang.”
Dengan jantung masih berdegup begitu cepat, Adinda membuka pintu mobil dan turun. Adinda hanya berharap malam ini cepat berlalu. Tidak, Adinda lebih berharap jika kejadian malam ini akan dengan mudah dilupakan kepalanya. Lebih baik Adinda amnesia saja untuk kejadian malam ini, sehingga apa pun yang terjadi, dan bagaimana menakutkannya, Adinda tidak akan pernah mengingatnya lagi.
***
Sudah satu jam Hafiz berada di atas tempat tidur, tapi matanya belum kunjung mau terpejam. Saat ia mengirimkan pesan pada adiknya, Aulia, Aulia sudah tidak lagi membalasnya. Mungkin gadis itu sudah terlelap.
Hafiz menatap langit kamar hotelnya. Sejak tadi ia terlalu memikirkan bagaimana caranya ia memberitahukan keluarganya bahwa Kinara sudah dilamar lelaki lain. Bahwa keluarganya tidak lagi boleh berharap pada Kinara yang jelas-jelas sudah menjadi calon istri orang lain.
Haruskah Hafiz segera memberitahukannya? Atau haruskah Hafiz mengiyakan permintaan bundanya yang menginginkan Kinara datang ke rumah, agar Kinara bisa menjelaskan dengan sendirinya kalau ia sudah dilamar Eshan?
Merasa frustasi dengan pikirannya sendiri, Hafiz memutuskan untuk bangkit duduk. Ia berdiri dan menyambar jaketnya. Ia ingin keluar dari hotel sejenak untuk menenangkan pikirannya sendiri.
Hafiz keluar dari dalam lift sekaligus membawa dompetnya. Berjaga-jaga jika nanti ia ingin membeli sesuatu.
Bertepatan dengan kakinya yang telah melangkah keluar dari hotel, mendadak menghentikan langkah Hafiz selanjutnya. Pupil matanya sedikit melebar melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
"Adinda?" Hafiz memastikan sekali lagi pandangannya, bahwa yang ada di hadapannya memanglah Adinda, bersama dengan seorang lelaki yang memeluk pinggang Adinda dengan erat.
Adinda sama terkejutnya dengan Hafiz, bahkan jauh lebih terkejut dari Hafiz. sontak menoleh. Adinda yang langsung menundukkan kepalanya. Seketika Adinda merasa malu akan dirinya yang kini dilihat oleh Hafiz.
*****