Damian duduk di atas sofa dengan kaki tersilang. Jemarinya mengapit sebatang rokok. Asap putih mengepul yang membumbung naik ke atas wajahnya, membuat perasaan Damian menjadi lebih baik. Segelas wine yang sudah disediakan oleh pelayan juga membuat Damian terasa ingin terbang. Apalagi saat ia merasakan sentuhan demi sentuhan di dadanya, dari tangan-tangan nakal para gadis bayarannya.
Damian masih duduk tenang di tempatnya, menunggu seseorang yang sejak tadi ia tunggu, walau pada kenyataannya Damian sudah tidak tahan untuk membawa salah satu dari para perempuan di sekitarnya.
"Damian."
Damian sontak mengangkat pandangan begitu namanya dipanggil. Senyumnya terlihat saat melihat Monica berjalan menghampirinya, bersama dengan Abel yang ada di sampingnya.
"Hai ... Monica."
Monica hanya tersenyum kecil menanggapi sapaan asal dari Damian. Bagaimanapun juga Damian tetaplah pelanggan VVIP di tempat bisnisnya. Monica dan Abel duduk di sofa yang berada di depan Damian. Para gadis yang sejak tadi menempel bak permen karet langsung menyingkir pergi begitu Monica memberikan isyarat pada mereka.
"Ada urusan apa datang malam ini?"
"Ayolah ... apakah untuk datang ke sini gue harus punya tujuan?"
"Bukan begitu. Biasanya kamu akan ke sini kalau akhir pekan. Kemarin bahkan kamu baru dari sini. Kamu tidak akan ke sini di hari biasa kalau tidak ada tujuan pasti."
Satu sudut bibir Damian sontak tertarik begitu Monica mengerti maksudnya datang ke sini. "Gue mau ketemu sama Adinda. Di mana dia sekarang?"
Abel yang mendengar itu sontak mengerutkan keningnya bingung.
"Dia sudah dipecat dari hari dia berbuat kasar sama kamu. Kalau kamu butuh perempuan untuk melayani kamu, saya punya banyak di sini. Kamu tinggal pilih."
Damian tertawa dengan tangan memainkan segelas minuman kerasnya, membuat Abel yang melihatnya ikut merasa kesal. Pantas saja Adinda saat itu marah besar, rupanya jika dilihat dari wajahnya saja, Damian memang manusia menyebalkan.
"Yang gue mau cuma dia. Bawa dia ke gue, maka gue akan bayar 3 kali lipat," ujar Damian dengan tatapan lurusnya, menatap mata Monica.
***
Adinda mengerjapkan matanya beberapa kali saat merasakan sinar matahari yang sepertinya sudah masuk melalui celah ventilasi kamar kecilnya.
Dengan gerakan sangat perlahan, ia bangkit duduk. Ia merasa seluruh tubuhnya sakit. Saat tangannya menyentuh sisi bahu kanannya, ia langsung meringit sakit. Pasti karena pukulan semalam yang ia terima, makanya rasa sakitnya masih begitu membekas.
Tak apa, rasa sakit itu pasti akan hilang dengan sendirinya. Kalimat itulah yang selalu menghibur Adinda tiap kali ia merasakan tubuhnya kesakitan.
Selesai membersihkan diri, Adinda keluar dari kamarnya. Rumahnya masih tetap berantakan, walaupun kerusuhan malam itu sudah ia rapikan. Adinda duduk di meja makan yang terbuat dari kayu sederhana. Ia lapar, tapi di rumahnya tidak ada yang bisa dimakan.
Adinda menghela napas panjang sambil mengusap perutnya yang sejak semalam belum ia isi dengan makanan apa pun. Ia sedikit terkejut saat merasakan getaran ponselnya yang tiba-tiba bergetar. Adinda meraih ponselnya dan membuka pesan masuknya.
Maaf, Anda belum diterima bekerja di sini. Silahkan mencoba di lain kesempatan. Terima kasih.
Helaan napas yang kasar sontak Adinda keluarkan kala ia membaca pesan masuk dari tempat ia melamar pekerjaan. Kemarin, Adinda kembali mencoba melamar pekerjaan sebagai seorang kasir di sebuah minimarket. Padahal Adinda sudah cukup percaya diri bisa diterima, tapi rupanya keberuntungan belum berpihak padanya.
Adinda menjatuhkan kepalanya. Ia lelah karena terus-menerus memikirkan bagaimana caranya ia mencari pekerjaan? Bagaimana caranya ia melunasi semua hutangnya jika uang saja Adinda tidak punya? Bagaimana caranya ia bisa melunasi biaya operasional Nenek di panti jika Adind tidak punya sesuatu yang bisa ia harapkan?
Getaran yang berasal dari ponselnya kembali mengejutkan Adinda. Ia segera mengecek pesan masuk lainnya. Saat melihat nama 'Bos' terpampang di layar pesannya, Adinda terkejut bukan main. Ia takut jika bosnya itu akan menanyakan pembayaran semua hutangnya.
Bos
Datang ke tempat kerja kalau memang kamu masih membutuhkan pekerjaan.
Mata Adinda sontak membulat, mengeluarkan binarnya. Bibirnya langsung tersenyum lebar. Ia berdiri, meloncat, dan berteriak girang.
"Ini serius?" tanyanya. "Gue boleh balik kerja lagi? Aaaaaaa!!! Akhirnya!!" pekik Adinda yang sudah bahagia setengah mati.
Akhirnya secercah harapannya yang semula redup kembali bersinar lagi. Pekerjaan yang Adinda impikan, akhirnya kembali datang padanya. Sebentar lagi Adinda akan punya uang lagi, dan ia bisa membayar semua hutang juga membayar biaya panti untuk Nenek.
***
Tepat jam 3.30 pagi, Alhafiz terbangun dengan sendirinya. Ia meminum segelas air yang ada di atas nakasnya dengan perlahan. Setelahnya, Hafiz mengambil posisi push up di lantai. Dengan mata masih setengah terbuka, Hafiz mulai melakukan push up 20 kali yang biasa ia lakukan sebelum ia melaksanakan solat tahajud. Hafiz sudah terlalu sering melakukan rutinitas olahraga singkatnya tersebut. Saking seringnya, Hafiz terkadang langsung melakukannya tanpa berpikir.
Selesai 20 kali push up, Hafiz langsung beranjak menuju kamar mandi. Berolahraga sedikit setelah bangun tidur, itu membuat Hafiz merasa bugar dan juga untuk menghilangkan kantuknya saat ia akan melaksanakan solat. Ia membuang hajatnya, mencuci wajahnya, menyikat giginya, dan berwudhu. Dari 24 jam waktu yang Allah SWT ciptakan untuk setiap manusia, Hafiz paling menyukai waktu sepertiga malam. Selain waktu tersebut yang memang waktu ajaib dikabulkannya doa dari langit, Hafiz juga sangat menyukai angin sejuk pagi hari sehingga jendela kamarnya selalu sudah terbuka lebih awal.
Rutinitas yang hampir jarang Hafiz tinggalkan adalah membaca al-qur'an dan mengulang kembali hafalannya. Hafiz bersyukur, dibesarkan oleh kedua orang tua yang sangat mendukungnya untuk menjadi hafiz qur'an.
Hafiz masih ingat kenangan kecilnya yang selalu mengganggu ayah dan bundanya yang sedang membaca al-Qur'an yang pernah diceritakan sang bunda. Hafiz yang saat itu masih kecil terus saja melontarkan banyak pertanyaan yang membuat gemas sekaligus membuat sakit kepala saking lucunya.
"Bunda kenapa cih baca buku itu telus, sih? Aku kan maunya Bunda bacain buku dongeng."
"Buku itu namanya Al-Qur'an, sayang. Setiap umat muslim, termasuk Bunda, Ayah, dan juga Hafiz wajib atau harus membaca Al-Qur'an."
"Buku yang Bunda baca tadi namanya kulan? Emang kenapa halus, Bunda?"
"Biar disayang Allah, dan masuk surga. Karena Allah sudah baik sama kita, maka kita juga harus ibadah sama Allah. Dan membaca Al-Qur'an adalah salah satu ibadah kita pada Allah. Hafiz mau kan disayang Allah dan masuk surga?"
"Kalau aku baca qulan, nanti Allah cayang cama aku? Telus aku macuk culga juga?"
"Iya, sayang. Surga yang pernah diceritain sama Ayah setiap Hafiz mau bobo. Tempat itu adalah tempat yang paling bagus. Tempat favoritnya umat muslim."
"Iya, inget!" seru Hafiz. "Nanti aku mau ke cana cama Bunda dan Ayah, boleh?"
"Boleh sekali sayang. Apalagi kalau Hafiz bisa menghafal dan menjaga seluruh isi Al-Qur'an. "
"Ooh.. Kayak nama aku yang dikacih cama Ayah dan Bunda ya?"
"Iyap, betul. Bunda sama Ayah berharap Hafiz akan menjadi penghafal Al-Qur'an, biar Hafiz bisa masuk surga nanti."
"Makacih ya Bunda, udah kacih nama aku yang kelen. Cemoga aku bica macuk culga cepelti doa Ayah dan Bunda buat aku."
Dibekali sejak kecil ayat-ayat al-Qur'an oleh ayah dan bundanya, Hafiz berhasil menyelesaikan hafalan al-Qur'annya saat ia kelas 3 SMA. Ia selalu merasa bahagia karena sejak dulu sering sekali dibacakan shalawat atau bacaan Al-Qur'an yang sering dilantunkan oleh kedua orang tuanya.
***
Akhir pekan ini, Hafiz memutuskan untuk pergi ke rumah kedua orang tuanya. Sudah siap dengan hoodie yang senada dengan celana hitamnya, Hafiz meninggalkan apartemennya dengan mobil pemberian ayahnya, Althaf.
Besok malam keluarganya akan melangsungkan makan malam di sebuah hotel untuk merayakan pernikahan kedua orang tuanya yang memasuki 30 tahun. Waktu yang panjang namun terasa singkat karena kasih sayang yang ia terima hingga ia dewasa tak pernah berkurang sedikit pun.
Selain untuk merayakan pernikahan kedua orang tuanya yang ketiga puluh, Alhafiz, adiknya, juga Althaf, ayahnya, juga ingin memberikan kejutan kecil untuk Alya, ibundanya. Althaf memang dididik untuk tidak merayakan ulang tahun dan sebagainya, tapi perayaan yang mereka adakan malam ini pun hanya sebagai bentuk rasa syukur dengan makan malam bersama di sebuah hotel bintang 5. Kebetulan, kesibukan Alhafiz juga kuliah adiknya yang saat ini sedang sibuk skripsian membuat mereka jadi sulit berkumpul atau sekedar makan malam bersama di luar.
Melihat ada toko bunga di pinggir jalan, Alhafiz memutuskan untuk menepi. Ia keluar dari mobilnya dan mendekati toko bunga tersebut.
"Selamat pagi, Mas. Ada yang bisa kami bantu?"
"Saya ingin dibuatkan satu buket bunga yang paling cantik. Tapi ini saya pesan untuk besok, bisa?"
"Bisa, Mas."
"Oke, tolong dibuat dengan rap-"
"Mas Hafiz!" seruan itu mendadak menghentikan kelanjutan kalimat Hafiz. Ia menoleh dan membulatkan matanya, tak percaya dengan yang ia lihat di hadapannya.
"Kamu..." Alhafiz langsung tersenyum lebar. Matanya berbinar, kala melihat sosok adiknya yang juga sama ia rindukan.
"Adinda Aulia, Mas!" adik kecilnya yang sudah besar itu langsung melangkah maju dan memeluk tubuh Hafiz dengan erat. Tapi Hafiz malah terdiam begitu adiknya menyebutkan namanya.
"Mas bahkan baru sadar kalau nama depan kamu dan dia sama persis."
"Apa, Mas?" Adiknya langsung melepaskan pelukannya dengan Hafiz, begitu mendengar Hafiz seolah menggumamkan sesuatu.
"Hah? Nggak, bukan apa-apa," ujar Hafiz sambil tersenyum kecil. "Oh, ya, kamu kenapa bisa di sini?"
"Niatnya aku juga mau pesen bunga buat Bunda, Mas. Eh, malah ngeliat Mas Hafiz di sini."
Hafiz tertawa kecil lantas menepuk puncak kepala adiknya yang tertutup dengan hijab berwarna hitam.
"Mas, jajanin Aulia bubur ayam dong. Aulia belum makan siang, nih. Soalnya Ayah sama Bunda lagi pergi ke rumah Nenek soalnya," curhat Aulia dengan bibir cemberut. Adiknya itu memang sejak kecil lebih senang dipanggil dengan nama tengahnya, dibandingkan nama pertamanya.
Hafiz tersenyum sambil mengangguk. "Mau makan di mana?"
"Ke tempat biasa dong, Mas. Mas udah lama nggak ajak Aulia makan di sana. Aulia kangen sama makanannya."
"Ya udah, ayo. Mas traktir kamu sampai kamu kenyang."
***
"Jadi, gimana hubungan Mas sama Kak Kinara?"
Hafiz sontak mengangkat kepala dari sepiring makanannya, begitu adiknya mengungkit nama Kinara. "Apanya yang gimana?" tanyanya balik.
"Ya hubungan Mas sama Kak Kinara, lah. Jadi, udah dilamar atau belum?"
Mendengar pertanyaan itu, Hafiz hanya bisa tersenyum kecil. "Mau tau aja atau mau tau banget?"
"Ih, Mas, Aulia serius, tau!"
"Anak kecil nggak usah kebanyakan mau tau urusan orang dewasa. Mendingan kamu fokus selesaikan studi kamu itu."
Aulia mengerucutkan bibirnya tak suka. "Aku tuh kangen Mas sama Kak Kinara. Kak Kinara kenapa sekarang udah nggak pernah main ke rumah lagi?"
"Dia kan punya kesibukan juga, Dek. Masa iya kamu suruh main ke rumah kita terus."
"Habisnya, cuma sama Kak Kinara doang Aulia bisa nyambung cerita ini itu. Kalau sama Mas Hafiz pasti sesuatu yang seru jadi nggak seru."
Hafiz tersenyum kecut. Ia menyeruput jus jeruknya sambil berpikir sejenak. Sepertinya memang keluarganya belum ada yang tau kalau Kinara sudah dilamar lelaki lain, juga Hafiz yang telah gagal melamar Kinara malam itu.
"Tapi Mas masih suka, kan, sama Kak Kinara?"
"Jangan tanya yang aneh-aneh gitu, ah. Mas nggak mau jawab."
"Iih, aku udah ikutan kemuan Mas Hafiz loh yang larang aku cerita ke Kak Kinara kalau Mas Hafiz suka sama dia, dengan syarat Mas beneran akan jadiin Kak Kinara kakak ipar aku. Aku udah ikutin kemauan Mas Hafiz, terus sekarang gimana sama janji Mas yang mau nikahin Kak Kinara?"
Hafiz menghela napas panjang. "Udah, makan dulu. Jangan bawel kamu, urusan Mas dengan Kinara itu urusan kita berdua, jadi kamu juga pasti akan tau hal sebenarnya di waktu yang tepat."
***
Jam 9 malam, Abel masih mondar-mandir tak jelas sejak tadi di depan jendela lantai 3 tempatnya bekerja, dengan ponsel yang menempel di telinganya. Ia menatap ke arah luar, untuk melihat apakah Adinda sungguh akan datang karena pesan dari bosnya atau tidak.
Panggilannya yang ke sekian akhirnya diangkat juga oleh Adinda. Abel juga jadi gemas sendiri karena Adinda yang tak kunjung mengangkat panggilannya sejak tadi.
"Din, lo ke mana aja, sih dari tadi gue teleponin lo, tau," semprot Abel.
"Kenapa, Bel? Gue baru banget sampe, nih."
"Apa? Sampe? Jadi lo beneran dateng ke sini?" tanya Abel tak percaya. Begitu ia mengintip ke luar jendela, rupanya benar, Adinda baru saja tiba.
"Iya, Bel. Mau gimana lagi, gue butuh duit."
"Tapi, Din, lo kan belum tau apa yang Bos mau dari lo."
"Nggak papa, Bel. Lagian gue yang harusnya terima kasih ke lo, karena lo yang udah bantu gue nanyain kerjaan lagi sama Bos."
"Kalau itu, Bos emang udah jawab nggak, Din. Tapi lo tau yang sekarang, Bos ngebolehin lo kerja karena itu yang minta si Da-"
"Bel, lanjutin nanti lagi, ya. Gue udah di pintu nih, gue masuk dulu."
"Apa? Din? Dinda?!" Abel mendesah panjang kala panggilannya benar-benar dimatikan sepihak oleh Adinda.
Dengan sedikit panik Abel langsung turun ke tangga bawah untuk menghampiri Adinda. Tangannya sedikit menepis orang-orang yang sedang berjoget mengikuti alunan musik DJ. Begitu Abel mendapati Adinda yang tadi sedang bicara dengan penjaga, Abel langsung menarik tangan Adinda untuk mengajaknya bicara empat mata.
“Gue saranin mending lo pulang aja, Din. Nggak usah kerja di sini lagi.”
“Dih, lo kenapa, sih?” tanya Adinda yang bingung dengan sikap Abel malam ini.
“Gue nggak tenang liat lo di sini, Din.”
“Dih, kenapa?” Adinda tertawa bingung. “Gue kira lo akan seneng karena tau gue dipanggil kerja di sini lagi.”
“Gue seneng kalau lo dapet kerjaan, tapi nggak untuk yang sekarang. Dan gue rasa juga lo nggak akan siap untuk kerjaan ini, Din. Ini akan merampas kepera-”
“Adinda!” panggilan itu langsung membuat mulut Abel seketika bungkam. Ia dan Adinda sontak menoleh dan menemukan Monica yang ternyata tadi mengetahui apa yang ingin Abel katakan pada Adinda.
“Adinda, naik ke ruangan saya.”
Dengan sedikit bingung, antara ingin menatap Abel atau Monica, Adinda akhirnya naik ke lantai atas tanpa membantah. Sedangkan Abel, begitu Adinda meninggalkan dirinya, Monica sontak mendekat dan mencengkeram lengan Abel erat.
“Jangan pernah menghancurkan bisnis saya, atau kamu saya pecat!” sarkas Monica yang langsung menghempas tubuh Abel hingga terjatuh.
***
Adinda menatap jari-jarinya sambil tersenyum kecil. Untuk sesaat, Adinda merasa senang. Ia merasa lega karena akhirnya bisa punya pekerjaan kembali. Walaupun saat ia dipecat, ia pernah memimpikan diri, andai ia tidak pernah mengenal dunia malam, akan bagaimana hidupnya? Tapi lagi-lagi Adinda berpikir, walau ia sudah mencoba menjauhi dunia malam, ia seolah terjerat. Pekerjaan yang Adinda cari, tidak pernah ada yang berjodoh dengannya. Ia selalu saja ditolak dan sekarang pada akhirnya ia malah kembali ke dunia malam.
“Saya senang kamu akhirnya mau kembali ke sini.”
Adinda sontak mengangkat pandangannya dan menoleh. Monica masuk ke dalam ruang pribadinya dan duduk di sofa, di hadapan Adinda. Adinda hanya diam menunggu Monica melanjutkan kalimatnya.
“Bagaimana kabar kamu? Apa sebelumnya sudah mendapat pekerjaan yang lain? Maaf ya, karena saya yang tiba-tiba pecat kamu malam itu.”
Adinda hanya tersenyum tipis menanggapi. Yang berlalu sudah berlalu. Walau ia merasa tak adil saat itu, tapi ia sudah mencoba menerimanya. Lagi pula ia sudah diterima bekerja lagi sekarang.
“Pekerjaan saya masih sama seperti yang lalu, kan?”
Monica terdiam menatap kedua mata Adinda yang penuh harap. “Kamu bisa mulai bekerja besok malam,” kata Monica kemudian menyodorkan pada Adinda sebuah benda.
Adina menatap pemberian Monica di atas meja. “Itu … apa?” tanyanya.
“Pekerjaan kamu yang sekarang,” jawab Monica.
“Apa?” kening Adinda sukses mengerut bingung. Selama ia bekerja di sini, ia tidak pernah diberikan sebuah benda seperti itu.
“Kunci kamar hotel.”
“Kunci kamar hotel?” Adinda meringis sambil tersenyum kikuk mendengar jawaban Monica yang begitu lantang. “Kenapa saya dikasih ini.”
“Pekerjaan yang kamu butuhkan akan saya berikan, tapi tidak menjadi pelayan minuman lagi. Kamu dipekerjakan untuk menjadi wanita pelayan Damian. Jadilah perempuan yang bisa memberikan kepuasan untuk pelanggan VVIP kita seperti Damian.”
Manik mata Adinda sontak melebar. Titik harapannya langsung memudar gelap. Dengan kakinya yang merasa goyah, Adinda mencoba untuk berdiri.
Bekerja sebagai apa pun, Adinda bisa menerimanya. Bekerja malam, melayani minuman untuk para pelanggan di tempat kerja yang terkadang menyentuh tubuhnya pun, masih bisa Adinda terima. Tapi kali ini, rasanya berbeda. Adinda merasakan dadanya sesak saat mendengar permintaan Monica padanya.
Dengan menahan air mata yang kini bergerumbul di pelupuk matanya, Adinda berniat ingin pergi langsung dari hadapan Monica. Pekerjaan yang ditawarkan ternyata justru akan menghancurkan dirinya sendiri. Sekali lagi Adinda katakan, ia bisa menerima segala macam jenis pekerjaan untuknya, asal tidak yang satu itu. Sesuatu yang berharga dalam dirinya tidak akan pernah ia berikan ke sembarang lelaki. Tidak, Adinda tidak akan pernah melakukan itu.
“Kamu harus menerima pekerjaan itu kalau mau melunasi semua hutang kamu di sini!”
Seruan itu membuat langkah kaki Adinda yang pelan mendadak berhenti. Ia meremas tali tas kecilnya. Rasanya ia ingin bertemu dengan Nenek dan menangis di dalam pelukan Nenek. Rasanya ia ingin menghilang saja dari dunia ini.
“Saya tau kamu sangat membutuhkan pekerjaan, Adinda. Saya tau kamu sedang membutuhkan uang.”
Adinda menundukkan kepalanya. Ia masih berdiri membelakangi Monica. Tangannya merogoh sebuah kotak cincin milik Hafiz. Ia pernah bertanya pada toko perhiasan, harga cincin itu sangatlah mahal. Ia bahkan bisa melunasi semua hutangnya pada Monica jika memberikan cincin itu pada Monica.
“Damian bisa memberikan semua yang kamu inginkan.”
“Kalau kamu jual harusnya kamu bagi 2 dengan saya, karena cincin itu milik saya.”
Adinda menggigit bibirnya saat dengan bodohnya ia malah mengingat ucapan Hafiz. Saat ini, bukan seharusnya ia malah sibuk memikirkan hatinya. Harusnya sejak awal memang ia jual saja cincin Hafiz dan pergi jauh dengan bahagia.
“Damian berjanji akan memberikan semua yang kamu inginkan. Uang, rumah, mobil, perhiasan, dia akan memberikan semuanya pada kamu kalau kamu mau menjadi pelayan wanita untuknya setiap kali dia membutuhkan kamu. Saya juga akan menambahkan kamu gaji yang besar. Tapi tolong, pertimbangkan tawaran ini. Bagaimana pun, Damian adalah pelanggan tetap VVIP kita.”
Adinda menggigit bibir bawahnya kuat. Ia kembali memasukkan cincin milik Hafiz ke dalam tas. Biarlah, otaknya memang sudah gila. Harusnya Adinda berikan saja cincin itu pada Monica, tapi Adinda malah masih menginginkan cincin itu menjadi miliknya.
“Adinda, bagaimana tawaran saya? Kamu mau menerimanya, kan?”
Dengan perlahan, Adinda memutar tubuhnya. Ia menatap Monica dengan tatapan sendunya. Tatapan yang baru pertama kali ia berikan pada orang asing, selain pada cermin di kamarnya.
“Tapi saya … saya bukan p*****r,” kata Adinda dengan air mata yang langsung meleleh di pipinya.