Bersama Hujan

2690 Kata
Adinda sudah sampai di tempat tujuannya hari ini. Ia memperhatikan ramainya suasana di Panti Kasih sore hari ini. Rata-rata semuanya sudah lanjut usia. Memang, karena yang Adinda datangi sore ini adalah Panti Jompo untuk para lanjut usia. "Ibu, Ibu harus makan ini. Kalau Ibu nggak makan, Ibu bisa sakit nanti." Yang barusan berkata adalah seorang wanita yang umurnya berkisar antara 40-45 tahun. Di hadapannya duduk seorang nenek tua yang menurut Adinda adalah ibu dari wanita tersebut. "Nggak mau! Ibu nggak mau makan! Biar aja Ibu mati sekalian! Lagi pula untuk apa hidup jika punya anak yang tidak mau mengurus ibunya sendiri?!" Adinda hanya bisa mengalihkan pandangannya, pura-pura tak melihat. Ia sudah biasa mendengar keributan antara lansia dengan anak mereka yang datang menjenguk. "Bapak, aku mohon sadarlah. Aku ini anakmu, Pak ... " Adinda menolehkan kepalanya ke arah lain. Di sana ada seorang pria tua yang duduk di bangku taman dengan memakai kemeja kotak-kotak dengan celana jeans pendek. Anaknya menangis, meratapi kondisi ayahnya yang sudah tua namun malah terkena penyakit demensia. Sang ayah terpaksa harus dipindahkan ke rumah sakit jiwa untuk mendapatkan pemulihan kejiwaaan agar bisa sembuh atau setidaknya tidak bertambah semakin parah. Adinda terus melanjutkan langkahnya. Berbeda dengan dua kondisi keluarga yang tampak suram tadi, kini Adinda disuguhkan oleh pemandangan yang menyenangkan. Para lansia sedang duduk di taman sambil tertawa mendengarkan salah satu perawat mereka yang sedang menceritakan kisah menyenangkan. Ada juga kelompok lansia pria yang sedang asyik bermain catur. Adinda tersenyum kecil melihat semua pemandangan di hadapannya itu. Sampai di sebuah ruangan yang ditujunya, Adinda berhenti tepat di depan sebuah pintu kamar berwarna cokelat. Tangannya kanannya sibuk menenteng parsel buah. Adinda mencoba menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Ia merapihkan penampilannya dan menata rambut panjangnya yang berantakan karena angin. Telunjuknya menarik sudut-sudut bibirnya agar tersenyum dengan riang. Begitu ia membuka pintu, maka semua perasaan jeleknya hari ini harus ia buang. Yang perlu diciptakan adalah wajah dengan senyum cerah yang sejujurnya selalu menjadi berat untuk Adinda. Pintu terbuka lebar setelah Adinda membuka knop pintu ruangan di hadapannya. Ia melangkahkan satu kakinya masuk dengan senyum yang secara otomatis semakin melebar. "Nenek, Dinda datang!!" Adinda berseru dengan semangat, namun senyum lebarnya segera menghilang saat matanya tidak melihat neneknya di sana. "Mbak Adinda?" Adinda langsung memutar tubuhnya. "Nenek saya di mana ya, Bi?" Bi Yati, seorang wanita paruh baya yang sudah 3 tahun mengurus nenek kandung Adinda di panti tersebut. "Nenek sedang duduk di taman belakang. Nenek sudah menunggu kedatangan Mbak Adinda dari seminggu yang lalu loh. Beliau sudah kangen banget katanya." Adinda hanya bisa tersenyum tipis tanpa bisa memberikan sebuah alasan. "Kemungkinan saya akan di sini sampai nanti malam, Bi. Nggak papa, kan?" "Nggak papa, dong. Nenek pasti akan senang kalau melihat cucu kesayangannya ada di sini." Adinda tersenyum sambil pamit untuk menghampiri neneknya. Hijaunya taman, membuat pemandangan mata Adinda merasa tenang. Ia bersyukur bisa menemukan panti jompo yang menurutnya sangat baik dalam hal menangani para lansia termasuk neneknya. Semuanya diperhatikan dengan baik, bahkan setiap lansia diperbolehkan membawa satu perawat yang memang dipercaya untuk mengurus mereka selama di panti jompo. Seorang wanita tua dengan tatapan kosong ke depan yang begitu Adinda kenali walau dari samping, langsung membuat Adinda menghentikan langkahnya. Adinda menatap lekat wanita tua tersebut yang mana adalah nenek kandungnya sendiri. "Nenek, Dinda minta maaf karena harus kirim Nenek ke tempat seperti ini." "Cucu Nenek nggak salah. Nenek yang salah karena Nenek yang sering ngerepotin Adinda." Adinda menggeleng. Matanya berkaca-kaca menahan tangis di hadapan sang nenek. "Nenek tahu kan kalau Dinda sayang Nenek?" "Iya sayang, Nenek tahu." "Nenek harus percaya sama Dinda, setelah Dinda punya uang yang banyak, Dinda janji, Dinda akan segera keluarkan Nenek dari tempat ini." Nenek tersenyum haru. Tangan keriputnya yang kurus membelai pipi Adinda dengan lembut. "Mana mungkin Nenek nggak percaya sama cucu Nenek yang paling cantik sedunia ini?" "Nek, Dinda serius. Mulai hari ini Dinda akan semangat cari uang. Kita akan punya rumah berdua nantinya, biar Dinda bisa tinggal selamanya sama Nenek." Adinda langsung menepis air matanya yang tiba-tiba mengalir hanya karena ia mengingat masa lalu 3 tahun silam. Menyedihkan dan menyakitkan rasanya. Sudah 3 tahun berlalu tapi Adinda belum bisa menepati janji untuk nenek tercintanya. "Nenek!!" teriak Adinda. Ekspresinya langsung berubah ceria. Tidak ada lagi air mata yang membekas di wajahnya. Kini ia bahkan berlari dengan tawa lepas menghampiri seseorang yang paling ia sayang di dunia ini. Sang nenek menolehkan kepalanya perlahan. Matanya yang tadi kosong langsung berbinar tatkala melihat sang cucu berlari ke arahnya dan langsung memeluk tubuhnya tanpa basa-basi. "Dinda kangen banget sama Nenek." Nenek balas memeluk punggung Adinda. "Ini beneran Dinda cucu Nenek?" tanya Nenek yang masih belum percaya akan kedatangan Adinda di hadapannya. Adinda merengut sebal dan menarik tubuhnya. "Nenek masa lupa sih sama cucuk Nenek yang paling cantik sedunia ini?" Berkat candaan sederhana Adinda, akhirnya Nenek tertawa. Kulit wajahnya yang sudah keriput semakin mengerut kala tertawa. "Kalau itu baru Nenek percaya." "Dinda kangen banget sama Nenek. Nenek apa kabarnya? Sehat kan?" "Sehat dong, Nenek sangat sehat. Apalagi kalau lihat Dinda di sini." Adinda nyengir kembali. Ia mencium pipi kanan Nenek dengan cepat dan kembali tertawa. Wajahnya yang menampakkan aura ceria sontak menghadirkan kebahagiaan yang hangat dalam hati Nenek. "Oh ya, Dinda tadi beli buah loh buat Nenek." "Oh ya?" Adinda mengangguk semangat. "Mau Dinda kupasin?" tawarnya dengan senang hati. Nenek mengangguk setuju, membuat keduanya kompak tertawa. *** "Nek ... " "Iya Dinda sayang?" Adinda tersenyum senang mendengar Nenek yang memanggilnya dengan sebutan; Dinda sayang. "Maafin Dinda ya, Nek?" "Dinda nggak pernah salah. Tidak perlu minta maaf sama Nenek." Adinda menggeleng, kini senyum yang menghiasi wajahnya langsung lenyap seketika. Kepalanya menunduk dalam. Ia menggigit bibirnya untuk menahan air matanya agar tidak meleleh. "Maafin Dinda karena belum bisa bawa Nenek pergi dari sini. Maafin Dinda, Nek ..." Nenek tersenyum menahan haru. Inilah seorang Adinda yang sebenarnya. Rapuh dan lemah. Senyum yang selalu Adinda berikan di hadapan orang lain hanyalah kamuflase untuk menyembunyikan semua luka di hatinya. "Dinda sayang," Nenek menangkupkan kedua tangannya pada kedua sisi wajah Adinda. Kulit wajahnya yang cokelat juga keriput itu mencoba untuk menatap Adinda dengan perasaan tenang. "Dinda adalah hal berharga yang Nenek punya di dunia ini. Nenek tidak masalah jika harus tinggal di panti jompo sampai Nenek mati, asal tidak merepotkan Adinda." Adinda menggeleng kuat, tidak terima dengan ucapan Nenek barusan. "Nenek nggak boleh ngomong begitu. Nenek jahat, Nenek bikin hati Dinda sakit kalau bicara begitu." "Dinda sayang, kamu ini sudah dewasa. Dinda harus mencari kebahagiaan untuk Dinda sendiri. Dinda tidak boleh terus memikirkan Nenek dan merasa bersalah sama Nenek. Di sini Nenek bahagia kok, Nenek punya banyak teman baik. Nenek tidak kesepian sama sekali." "Nenek bohong. Jelas-jelas kelihatan kalau Nenek-" Adinda tidak sanggup melanjutkan ucapannya pada Nenek. Melihat binar mata Nenek yang tenang justru semakin menyayat hatinya saat ini. "Dinda kebelet pipis, Nek. Dinda ke toilet dulu ya? Nenek jangan ke mana-mana sampai Dinda kembali ke sini." Nenek hanya bisa tersenyum tipis. Tangannya menjauh dari wajah Adinda. Getaran mata Adinda sudah cukup menjadi bukti jika cucunya itu belum bisa mengeluarkan semua perasaan sebenarnya di hadapannya. Setiap ingin bersedih, maka Adinda akan jauh pergi dari hadapan Nenek. Padahal tanpa perlu Adinda katakan, Nenek sudah tahu semua yang ada di pikiran Adinda. Begitu ia keluar dari kamar Nenek dan menutup pintunya rapat, Adinda langsung bersandar di pintu. Ia menepuk-nepuk kedua pipinya. Mencoba mengusir rasa sedih dan sesak yang kini mulai menyeruak di dalam d**a. "Ayolah Adinda, kamu nggak punya waktu buat bersedih. Kalau kamu sedih, nanti Nenek ikut sedih." Adinda menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Ia memilih untuk ke toilet dan mencuci wajahnya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, kalau ia tidak akan pernah menangis di depan Nenek. Adinda tidak mau membuat Nenek khawatir. Adinda tidak mau membuat Nenek merasa sedih dan kepikiran karena dirinya. Keluar dari toilet, Dinda justru memutuskan untuk ke taman, bukan ke kamar Nenek. Rasanya ia masih belum bisa menatap wajah Nenek. Melihat wajah Nenek yang keriput dan semakin tua selalu membuat Dinda merasa bersalah dan merasa telah menjadi cucu yang tidak berguna. Padahal sejak kecil Dinda selalu diurus oleh Nenek dengan kasih sayang yang begitu banyak. Tapi ketika gilirannya untuk mengurus Nenek, Dinda malah tidak bisa. Dinda malah mengirim Nenek ke panti jompo dan membiarkan Nenek hidup di sana dengan berpegang pada janji bodoh yang pernah ia ucapkan. *** Alhafiz melipirkan mobilnya ke trotoar untuk berhenti membeli air mineral. Waktu maghrib sudah akan tiba dan Hafzi harus segers menyiapkan diri untuk berbuka puasa. Sudah menjadi kebiasannya berpuasa setiap hari Senin dan Kamis. "Ada lagi, Mas?" tanya kasir perempuan tersebut setelah Hafiz menyodorkan sebotol air mineral dan roti berisi selai cokelat. "Nggak, itu aja." "Rokoknya, Mas? Kebetulan hari ini lagi banyak promo." Hafiz mengerutkan keningnya tipis saat mendengar penawaran kasir yang ada di hadapannya. Sepertinya baru pertama kali ini ia datang ke minimarket dan ditawarkan rokok. "Tidak, makasih. Saya tidak merokok." Selesai membayar dan mengambil kembaliannya, Hafiz langsung keluar. Ia duduk di salah satu kursi kosong yang disediakan oleh pihak minimarket. "Allahu Akbar, Allahu Akbar." Adzan sontak menoleh ke sembarang arah karena mendengar suara adzan maghrib. "Alhamdulillah sudah adzan," ucap Hafiz penuh syukur. Ia menundukkan kepalanya dan berdoa dengan khusyuk. Memohon ampunan pada Allah Swt pada waktu mustajabnya doa bagi orang yang berbuka puasa. Setelah air mineral itu masuk ke dalam mulutnya dan mengalir melewati tenggorokannya, Hafiz menghela napas lega. Rasanya segar. Hanya air mineral tapi bisa membuat perasaan jadi lega. Usai menghabiskan sebotol air dan roti yang ia beli, Hafiz langsung menuju masjid yang letaknya tidak jauh dari minimarket. Lelaki itu bercampur baur dengan semua masyarakat yang juga hendak melaksanakan solat berjamaah di masjid. Hafiz masih ingat bagaimana pesan ayahnya yang sering menasehatinya bahwa lelaki itu hukumnya wajib solat berjamaah di masjid. Dan pesan itu selalu Hafiz ingat sampai dengan detik ini, dan ia berharap pesan-pesan baik kedua orang tuanya akan selalu ia ingat selamanya. Selesai solat maghrib, Hafiz duduk sejenak di selasar masjid. Tadi ia juga sempat mengobrol singkat dengan seorang bapak yang juga menjadi jamaah maghrib sama seperti dirinya. Hafiz menatap langit. Bibirnya sontak merekah saat melihat bulan tengah bersinar dengan indah. Malam ini juga banyak bintang yang bertabur di angkasa. Ia memejamkan matanya sejenak sambil merasakan embusan angin malam menyapa kulit wajahnya. Begitu ia merasa pikirannya sudah jauh lebih tenang, Hafiz berdiri dan kembali menuju mobilnya. Baru setengah jalan menuju rumah, Hafiz melihat jika kap mobilnya seperti mengeluarkan asap putih yang samar. Khawatir dengan mesin mobilnya yang memburuk, Hafiz memutuskan untuk menepi sejenak. Memeriksa keadaan mobilnya yang beberapa kali hampir berhenti melaju di tengah jalan. Hafiz turun dari mobil dan membuka kap mobil depannya. Seketika kepulan asap putih langsung membumbung dari dalam sana, hingga membuat Hafiz terbatuk-batuk. Hafiz mengibaskan tangannya, bermaksud mengusir asap itu pergi. Entah apa yang salah dengan mobilnya hingga mobilnya berulah seperti ini di malam hari. Hafiz menghela napas panjang. Dengan minim pengetahuannya tentang otomotif mobil, Hafiz mencoba mencari titik yang menjadikan mobilnya bermasalah. Setelah sebagian asap mulai berkurang, Hafiz masih belum juga menemukan titik mana dari bagian mobilnya yang bermasalah. hampir 10 menit Hafiz berdiri memperhatikan tanpa hasil. Ia baru ingat jika hampir 5 bulan Hafiz tidak memeriksakan mobilnya ke bengkel. Helaan napas kembali menguar. Ia menjambak rambutnya frustasi. "Kenapa Mas mobilnya?" Hafiz menoleh menatap seorang pria yang baru saja mendatanginya. Mungkin karena melihat Hafiz yang sedang terlihat frustasi di depan mobilnya. "Saya juga kurang tahu, Pak. Tahu-tahu tadi sudah berasap," jawab Hafiz seadanya. "Boleh coba saya lihat?" Hafiz mengangguk setuju tanpa ragu. "Tentu, Pak. Silahkan," katanya. Hafiz segera bergeser, sedangkan pria tersebut mengecek mobil miliknya. "Ini mah radiatornya bocor, Mas. Kompresornya juga bermasalah ini. Mas telepon mobil derek aja. Soalnya bengkel dari sini juga jauh banget." Hafiz hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya sambil ber-oh ria. Selepas pria tersebut pergi, Hafiz langsung melaksanakan pesan pria tadi. Kebetulan Hafiz juga pernah menelepon mobil derek saat ia membawa mobilnya itu pergi ke Yogyakarta. "Berapa menit ya Pak, kira-kira bisa sampai ke sini?" tanya Hafiz saat panggilannya sudah terhubung dengan pihak penyedia mobil derek. "Sekitar 20-30 menitan, Mas. Mau menunggu atau gimana?" "Saya tunggu Pak, segera ya, terima kasih." Hafiz berdiri di samping mobilnya dengan terus memperhatikan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Karena kelalaiannya sendiri untuk rutin membawa mobilnya ke bengkel, Hafiz jadi harus mengalami hal ini. Gelegar suara petir di langit sedikit mengagetkan dirinya. Pantas saja jika sejak maghrib tadi, langit terlihat begitu gelap gulita. Hafiz jadi resah sendiri, karena sepertinya hujan akan segera turun. "Calon suami!!" Merasa pernah mendengar panggilan itu, Hafiz sontak memutar tubuhnya. Ada apa dengan dunia saat ini? Kenapa ia terus saja bertemu dengan gadis yang sama? Adinda berlari kecil dengan senyum yang lebar menghampiri Hafiz yang masih berdiri di samping mobil. Ia begitu senang bisa langsung melihat Hafiz saat ia dalam perjalanan pulang dari Panti Kasih. "Calon suami kok bisa di sini?" tanya Adinda. "Saya bukan calon suami kamu," gertak Hafiz menatap tajam Adinda. Tidak ada bosannya ia mengingatkan hal itu pada Adinda. "Iya bukan, soalnya 'kan sebentar lagi udah jadi suami beneran," kata Adinda dengan tertawa girang seorang diri. Gadis itu benar-benar mengabaikan tatapan tajam Hafiz padanya saat ini. Adinda terkikik geli menyaksikan ekspresi Hafiz yang geram padanya. "Oh ya, jadi Calon suami lagi ngapain di sini? Udah mau hujan loh ini, lihat tuh langitnya mendung," ucap Adinda dengan menunjung gelapnya langit di atas sana. "Kamu pulanglah. Saya harus menunggu mobil derek ke sini untuk bawa mobil saya yang rusak." Adinda mengangguk-anggukan kepalanya. "Ooh rusak," katanya sok tertarik padahal tidak. Ia lebih memilih untuk menatap wajah Hafiz dibandingkan terus menatap mobil yang kap depannya itu masih terbuka. "Aku temenin kamu di sini ya?" tawar Adinda dengan senang hati. "Jangan. Kamu pulang saja, saya tidak perlu ditemani." "Kalau kamu nggak perlu, aku perlu." "Apa?" "Nggak papa," kata Adinda dengan kembali tersenyum lebar. "Duduk di situ yuk?" Adinda menunjuk bangku halte yang kosong tanpa ada penumpang yang menunggu. "Tidak, makasih. Saya menunggu di sini saja." Bertepatan saat Alhafiz mengucapkan kalimatnya, hujan langsung turun tanpa aba-aba. Membuat Adinda dan Alhafiz sama-sama panik. Adinda langsung berteduh di bangku halte, Alhafiz menutup kap mobilnya dan menyusul Adinda untuk ikut berteduh. Mereka berdua duduk di satu bangku yang sama di masing-masing ujung bangku. Keduanya sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Merasa asing jika tidak mendengar ocehan suara Adinda, Hafiz menolehkan kepalanya. Gadis itu tengah memandang ke arah langit, tangannya terulur ke depan menadahi tumpahnya air hujan. Gadis itu hanya memakai atasan putih berlengan pendek juga celana jeans yang slim fit membentuk kaki jenjangnya. "Aku cantik ya makanya kamu lihatin terus?" Hafiz sontak mengerjap cepat begitu Adinda menolehkan kepalanya dan menatap wajahnya yang kini memerah karena malu. Hafiz bahkan tidak sadar sejak kapan ia memperhatikan Adinda. "Setelah hujan, kamu harus segera pulang ke rumah. Ini sudah malam, bahaya." Adinda tersenyum kecil mendengar nasihat Hafiz. "Memangnya menurut kamu kalau di dalam rumah akan selalu aman?" Adinda bertanya balik. "Maksudnya?" Adinda kembali menatap langit dengan derasnya hujan. "Buat sebagian orang, kadang rumah jadi sesuatu yang menakutkan. Buat sebagian orang, rumah terasa seperti neraka yang penuh siksaan." Hafiz mengerutkan keningnya tipis. Mencoba mengerti apa yang diucapkan Adinda. "Aku cuma bercanda, jangan serius begitu," ujar Adinda yang tertawa saat melihat ekspresi Hafiz yang berubah serius. "Setelah hujan reda, jangan lupa untuk langsung pulang. Adinda mendesis pelan dan berdecak sebal. "Kamu bawel ya ternyata. Lagian ini masih jam 8 malam, aku belum bisa pulang." "Kenapa?" "Kalau jam segini akan ada hantu yang gentayangan di rumah. Jadi aku harus nunggu tengah malam dulu baru pulang." "Hantu?" ulang Hafiz. Adinda tertawa, menertawai Hafiz yang terus saja percaya apa yang ia ucapkan dengan asal. "Iya, hantunya serem. Kamu nggak akan bisa tahan kalau lihat hantu itu saking seremnya. Kadang aku juga bisa sampai nangis kalau ketemu hantu yang serem itu." Adinda terus melanjutkan ceritanya. Matanya tak lepas menatap manik mata hitam milik Hafiz yang terus saja menyedot fokusnya. "Memangnya masih ada yang percaya hantu jaman sekarang? Semua makhluk itu sudah kembali ke dunia asalnya dan tidak akan berkeliaran di dunia ini dalam wujud hantu." "Ada, bahkan banyak hantu yang wujudnya seperti manusia. Sifatnya persis hantu dan setan. Menyeramkan dan juga mengerikan." Alhafiz sontak tersenyum saat melihat bagaimana perubahan ekspresi Adinda yang tiba-tiba begitu mendramatisir ceritanya yang tentang hantu. "Ih, kamu senyum!" "Apa?" Hafiz langsung menutup bibirnya dengan punggung tangan. "Calon suami manis kalau lagi senyum," ujar Adinda dengan jujur. Bertepatan saat Hafiz ingin merespon kembali, mobil derek yang dipanggil Hafiz baru saja tiba. "Kamu mau pergi sekarang?" tanya Adinda. Sebesit kecewa hadir di dalam d**a karena Hafiz harus pergi secepat itu. "Iya," "Kalau aku minta kamu untuk nggak pergi, apa kamu tetap akan pergi?" Hafiz hanya bisa mengangguk kecil tanpa berpikir banyak. "Kamu harus langsung pulang kalau hujannya sudah reda." "Calon suami nggak usah khawatir, nanti aku akan pulang kalau sudah waktunya." "Saya duluan, assalamu'alaikum." "Wa ... wa'alaikumsalam," jawab Adinda dengan sedikit ragu. "Oh ya, kamu bisa pakai ini untuk pulang." Bibir Adinda berkedut menahan senyum saat Hafiz menyodorkan jas hitam padanya. "Buat aku?" tanyanya. "Pakai saja," kata Hafiz. Lelaki itu langsung pergi masuk ke dalam mobil, meninggalkan Adinda yang kini senyum-senyum sendiri sambil menatap jas hitam pemberian darinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN