"Pa, Ma, dua minggu lagi Deka akan menikah dengan Vanya."
Setelah pertemuan dan perjanjian gila itu, malamnya Deka segera memberitahu kedua orang tuanya perihal Vanya yang setuju dengan lamarannya itu. Cukup terkejut dengan berita ini jelas ditampilkan di raut wajah kedua paruh baya yang ada di depan Deka.
Gerald memincing curiga. "Kamu nggak lagi bohongin kita, bukan?" tanyanya penuh selidik. Deka memutar bola matanya malas.
"Nggak lah, Pa. Deka serius."
"Kok dua minggu lagi? Kenapa cepat banget?" tanya Dona.
"Karena Deka maunya dua minggu lagi, Ma. Biar cepat sah aja."
"Oh."
"Kalau begitu besok kita ke rumah Vanya secara resmi buat ngelamar dia. Karena nggak etis sama sekali kalau kita belum bertemu dengan kedua orang tuanya," jelas Gerald yang tentu saja disetujui oleh Dona.
"Baik, Ma. Nanti aku bilang ke Vanya."
***
Deka dilanda keraguan, apakah dia harus memberitahu Vanya lebih dulu perihal kedatangannya bersama orang tuanya besok, atau dia tidak memberitahu perempuan itu saja? Tidak, akan terasa aneh dan mengejutkan nantinya jika dia tiba-tiba datang tanpa permisi. Dengan segera, laki-laki yang berumur seperempat abad itu menyambar ponselnya yang berada di atas nakas. Segera saja dia mencari nama Vanya di sana dan ditekanlah ikon bergagang telepon di sana.
"Halo."
"Halo, Van. Ini Deka," jelas laki-laki itu. Di seberang sana Vanya memutar bola matanya malas. Jelas saja dua tahu jika itu adalah Deka.
"Ada apa?" tanya Vanya langsung menghindari acara basa-basi dengan Deka tentunya.
"Besok Papa dan Mama mau ke rumahmu," jawab Deka yang terdengar santai namun terdengar mengejutkan bagi Vanya tentunya.
"Kok mendadak? Nggak bisa diundur dulu?" tanya perempuan itu yang bertingkah ingin menunda-nunda pernikahan ini dan tentu saja Deka tahu hal itu. Namun, laki-laki ini tidak akan membiarkan hal yang sudah berada di genggamannya hilang begitu saja.
"Nggak bisa. Papa maunya besok ketemu orang tuamu buat biacarain rencana pernikahan kita."
"Harusnya lo bujuk orang tua lo untuk jangan buru-buru kayak gini. Asal lo tau aja, gue belum cerita apa-apa sama orang tua gue," jelas Vanya yang terdengar seperti tengah kesal dengan berita yang baru ia dapat. Oh iya, sapaan yang dilontarkan dari pasangan ini berbeda. Deka yang mulai membiasakan diri menggunakan 'aku-kamu' sedangkan Vanya lebih nyaman menggunakan 'lo-gue' setidaknya jika tidak ada keluarga mereka di dekat keduanya.
"Nggak bisa dibatalin. Papa kekeh mau datang besok soalnya dia belum percaya kalau kamu setuju untuk menikah." Anggap saja Deka sedang berbohong sedikit dengan melebih-lebihkan perintah Gerald.
"Ribet banget, sih, Papa lo. Segitu nggak percayanya sama anaknya sendiri. Oh pantes sih, karena muka lo itu tampang-tampang penipu," sembur Vanya yang tak berperasaan sama sekali. Deka hanya menghembuskan napasnya lelah.
"Besok jam 6 malam."
Klik
Deka mematikan panggilan telepon mereka secara sepihak, dan dia sudah membayangkan bagaimana wajah kesal Vanya karena perilakunya ini. Perempuan itu gampang sekali emosi dan tersulut emosi. Bagi Deka, wajah Vanya terlihat lucu ketika sedang marah.
***
Karena semalam sudah disepakati bahwa Deka sekeluarga akan ke rumah Vanya, tentu saja Vanya sekeluarga menyiapkan segala hal yang perlu mereka hidangkan. Entah makanan, minuman, atau bahkan bahan obrolan apa yang akan mereka bicarakan.
Oh iya, perihal bagaimana cara Vanya menjelaskan kedatangan Deka dan keluarganya cukup rumit pasalnya kedua orang tua Vanya alias Bowo dan Laras sedikit tidak mempercayai anaknya. Bagaimana anak yang mereka miliki selama ini tiba-tiba mengatakan ingin menikah, ditambah lagi keluarga calon besannya akan datang malam ini. Tentu saja keduanya terkejut. Namun, yang lebih mengejutkan lagi adalah ketika Vanya menyebut nama Deka, sontak Bowo sangat terkejut mengetahui selama ini anaknya dekat dengan pemilik perusahaan terkenal itu. Sungguh dunia memang sempit.
"Vanya, mending kamu buruan dandan, sebentar lagi Deka pasti datang," perintah Laras kepada anaknya yang sejak tadi bolak-balik entah mencari apa.
"Iya, Ma. Ini aku lagi siap-siap. Aku cuma mau cari sepatu yang biasa aku gunain itu loh, Ma."
"Sepatu? Warna creame?" tanya Laras yang diangguki oleh Vanya. "Baru tadi siang dicuci sama Bibi. Kamu pakai sepatu yang lain aja.
"Astaga, Ma. Itu sepatu kesukaan aku," ujar Vanya yang terdengar lirih. "Astaga, Vanya. Kamu pakai yang lain aja. Atau kamu nggak usah pakai sepatu aja sekalian pakai sandal rumah aja," cibir Laras yang sudah hapal dengan sifat keras kepala anaknya ini. Dan dengan terpaksa Vanya mengambil sepatunya yang lain. Tentu saja dengan perasaan sedikit dongkol.
"Ma, Pa, memang Kak Deka beneran mau nikah?" tanya Risa yang sedikit tidak mempercayai jika malam ini kakaknya berniat melamar seorang perempuan. Bukan lamaran resmi, hanya sedikit pertemuan antara kedua keluarga. Dan tentu saja nanti ujungnya membicarakan pernikahan kedua orang itu.
"Iya, Sayang," jawab Dona.
"Masa, sih, Ma ada yang mau sama Kakak? Secara muka Kak Deka itu kayak kanebo," cibir Risa, dan tentu saja Deka tampak diam tidak berminat membalas sang adik. Yang dia pikirkan saat ini adalah apa yang harua dia lakukan jika bertemu keluarga dari Vanya. Oh iya, Deka tahu betul jika Vanya adalah anak tunggal. Jadi, perempuan itu pastinya hanya tinggal bertiga dengan orang tuanya.
"Sudah, jangan godain kakak kamu terus. Pokoknya kamu harus selalu dukung apa keputusan Kak Deka. Paham?" kata Dona dan diangguki oleh Risa. Malam ini gadis itu tidak sedang sibuk apa-apa jadinya dia ikut. Oh iya, Risa sedari awal belum mengetahui jika calon kakak iparnya adalah seorang Vanya Queenabel.
***
Kedua keluarga itu kini sedang duduk di ruang tamu. Deka yang memilih lebih fokus kepada acara hari ini, Risa malah masih tampak terkejut mendapati sosok yang berada di seberang sana, Dona dan Gerald yang masih saja mengobrol dengan kedua orang tua Vanya. Sedangkan Vanya sendiri tampak diam dan tak berminat untuk ikut mengobrol.
"Jadi, begini, Pak. Kedatangan saya dan keluarga di sini untuk membicarakan pernikahan anak kita. Saya tahu ini terdengar sangat buru-buru, tapi ini semua demi kebaikan berbagai pihak," ujar Gerald mengawali pembicaraan serius mereka. Oh iya, kedua orang tua Vanya belum tahu mengenai insiden yang terjadi saat malam reuni itu, dan untung saja kedua orang tua Deka tidak membahas hal itu. Bisa mati Vanya jika orang tuanya tau.
"Alhamdulillah karena akhirnya ada yang melamar anak saya," balas Bowo bermaksud mencairkan suasana. Terbukti terdengar suara gelak tawa di sana, sedangkan yang sedang dibicarakan mendengkus kesal dengan jawaban Bowo. "Untuk itu, saya dan sekeluarga sudah setuju dengan pernikahan. Kami memiliki beberapa pertimbangan tentang pernikahan ini. Kalau bisa pernikahan dilakukan paling cepat mungkin dua bulan lagi at -"
"Dua minggu lagi, Pak," potong Deka yang membuat semua orang terkejut dengan selaannya.
"Bukankah itu terlalu cepat, Nak Deka?" tanya Bowo. "Kita semua perlu mempersiapkan segala hal."
"Ini sudah ada dikesepakatan awal antara saya dan Vanya," jelas Deka.
Bowo beralih kepada anak perempuannya. "Vanya, apa benar kalian berencana untuk menikah dua minggu lagi?" Vanya yang ditanya seperti itupun tampak gugup. Ingatkan dia bahwa ini semua paksaan dari laki-laki b******k itu, dan tentu saja dia tidak bisa menolak semuanya. "Iya, Pa," jawab prempuan itu akhirnya.
"Begini, saya punya usul. Dua bulan terlalu lama dan dua minggu terlalu cepat, bagaimana kalau satu bulan lagi? Itu waktu yang pas untuk kita mempersiapkan semuanya," kata Dona yang ikut menengahi dalam percakapan ini. Deka hanya pasrah jika mamanya yang berbicara. Ini melenceng dari kesepakatan awal. Oke, dia harus menunggu sebulan lagi.
Dan disepakati jika dalam kurun waktu sebulan, kedua orang ini akan segera melangsungkan pernikahan. Sederhana tapi tampak mewah, itu poin penting yang Gerald katakan saat itu.
☆☆☆
Q&A
Q: Seberapa meribetkannya mempersiapkan acara pernikahan?
Your answer: ...