Mempersiapkan segala hal untuk menikah bagi kebanyakan pasangan adalah satu hal yang menyenangkan. Ketika kalian tengah mmepersiapkan masa depan, dan segala halnya dilakukan bersama. Seperti memilih undangan, fitting baju pengantin, menghubungi WO, dan segala hal yang berhubungan dengan pernikahan.
Seperti halnya Deka dan Vanya saat ini, keduanya sedang diminta untuk memilih undangan. Beberapa contoh undangan sudah tersedia di depan mereka, tidak luput juga Dona dan Laras yang membantu keduanya mempersiapkan keperluan pernikahan. Keempat orang itu saat ini sedang berada di rumah Deka, lebih tepatnya Deka dipaksa untuk ikut memilih di tengah sibuknya ia bekerja.
"Vanya, Deka, coba kalian pilih satu undangan yang nantinya digunakan di acara pernikahan kalian," perintah Laras kepada dua orang yang sebentar lagi akan menjadi pasangan suami istri. Deka dan Vanya benar-benar menjalankan perintah mamanya.
"Aku pilih ini, Ma," kata Vanya yang menjatuhkan pilihannya ke undangan yang didominasi warna silver. Dona mengambil alih undangan itu, memperhatikan saksama, cukup bagus untuk ukuran sebuah undangan. "Bagus," ucap Dona akhirnya dan disetujui oleh Laras.
"Pilihanku lebih bagus, Ma," protes Deka sambil memperlihatkan sebuah undangan yang didominasi warna gold.
Vanya mendelik tak suka, apalagi ketika Laras dan Dona beralih memperhatikan undangan yang direkomendasikan oleh Deka. "Punyaku lebih bagus," sanggah Vanya tak terima. Memang ini pernikahan yang tidak pernah ia inginkan, namun sebagai seorang perempuan, ia ingin segalanya tampil maksimal di hari bahagianya nanti walaupun belum tentu ia bahagia saat menjalani pernikahan ini.
"Punyaku, Vanya," tekan Deka yang segala ucapannya tidak pernah dibantah oleh siapapun.
"Sudah, sudah, jangan ribut," lerai Laras yang mulai pusing mendengar perdebatan dua orang yang berada di depannya ini. Vanya membuang muka ke arah lain, sepertinya perempuan itu sedang berada di mode 'ngambek'.
"Mama punya ide, bagaimana kalau dua undangan ini digabung?" ujar Dona tiba-tiba.
"Digabung? Maksud Mama?"
"Gini, Deka itu suka warna gold, sedangkan Vanya suka warna silver. Kita gabungin dua warna itu jadi satu," jelas Dona yang mengundang kekehan dari Deka.
"Nggak bagus, Ma. Jelek nanti," respon Deka.
"Iya, setuju. Silver lebih bagus dari pada gold," sambung Vanya cepat yang mengundang tatapan tajam dari Deka.
***
Selain berdebat perihal undangan, keduanya juga berdebat mengenai pakaian yang akan mereka pakai. Di mana kali ini tidak hanya Dona dan Laras yang pusing, tetapi pemilik butik yang biasa menangani gaun pernikahan pun juga ikut pusing.
"Kamu jangan egois dong! Yang ini lebih bagus," ucap Vanya dengan nada tinggi dan keras kepalanya. Oh iya, jika dengan keluarga, keduanya menggunakan 'aku-kamu' sebagai sapaan, beda lagi jika di luar.
"Kamu yang egois, jelas-jelas yang ini lebih bagus," kekeh Deka yang tidak setujut dengan pilihan Vanya.
"Mbak, Mas, tolong jangan ribut dulu, kita bicarakan semuanya baik-baik dulu. Saya akan bekerja semaksimal mungkin jika kalian ingin sedikit mengubah pakaian yang akan dipakai nanti," ujar pemilik butik itu mencoba menengahi pasangan ini. Beliau sangat memaklumi bagaimana ribet dan banyak argumen yang berbeda jika menyangkut soal persiapan pernikahan. Dan tentu saja Vanya dan Deka tidak kembali berdebat setelah pemilik butik itu menyapaikan idenya. Dona bersyukur, setidaknya ada seseorang yang bisa meng-handle kedua orang itu.
Tidak sampai situ saja, periahal cincin pun juga sama dengan undangan dan baju. Keduanya masih saja berdebat dan tetap ingin mempertahankan pendapat masing-masing. Bahkan pegawai toko cincin itu harus sedikit bersabar menghadapi pasangan ini.
"Yang ini lebih bagus, Ka. Simple dan berliannya cuma satu."
"Yang ini lebih bagus. Pilihanmu berliannya kecil, yang ini lebih besar," sanggah Deka sambil menunjuk cincin yang sejak awal menjadi pilihannya itu.
"Lo kampungan banget, sih. Ngapain gue pakai cincin yang berliannya besar? Lo kira gue ibu-ibu? Nggak, gue nggak suka."
Deka memutar bola matanya malas. Sial, mempersiapkan keperluan untuk pernikahan nyatanya lebih menyusahkan dari pada menangani tander kerja sama perusahaan.
Walaupun keduanya selalu saja berbeda pendapat, tetapi tidak ada masalah yang tidak memilki jalan keluar. Diambil keputusan jika undangan sesuai dengan pilihan Deka, walau awalnya Vanya protes tapi akhirnya dia pasrah dan mengikuti saja keputusan orang tuanya. Karena undangan sesuai dengan pilihan Deka, akhirnya laki-laki itu membiarkan cincin pernikahan mereka sesuai permintaan Vanya. Walau sedar awal dia tidak setuju, tapi Deka mencoba mengalah. Untuk baju, keduanya menerima usulan pemilik butik untuk merombak baju yang akan mereka pakai dan tentunya sesuai dengan permintaan Vanya dan Deka.
☆☆☆