Part 13 Pernyataan

1156 Kata
Alzio menunggu akun rambut merah online sampai pukul sepuluh malam, dia sudah log out dari akun utamanya dan masuk ke ID kloningannya. Sungguh mengherankan, kenapa dia pergi ke mall lama sekali? Apa mungkin dia memiliki agenda lain setelah itu? Sekitar setengah jam Alzio menunggu, akhirnya orang yang dia tunggu terlihat online. Kelly mengajaknya bermain game, tapi sebelum itu, Alzio cukup penasaran dengan apa yang dia lakukan sebelum ini. Jadi dia memulai chat. Dia penasaran soal ID yang menonton livestreaming di akun yang satu lagi. Tapi, Kelly nggak pernah membahas soal player lain sebelumnya. Apalagi sebenarnya, perempuan itu termasuk pemain baru di game ini. Baru beberapa bulan, dan dia sudah mencapai rank lokal berkat bantuannya. Alzio memulai percakapan. "Kenapa lama banget ke mall-nya?" "Tadi mampir ke rumah teman dulu." "Apa tadi online saat di rumah teman?" "Iya." Ternyata benar, tadi Kelly sempat online. "Main?" tanya Alzio lagi. "Nggak." Tapi tampaknya, Kelly tidak mau mengatakan, kalau dia menonton live streaming. Kalau begitu Alzio harus memancingnya. "Kenapa Al?" "Aku tadi online sebentar, soalnya aku melihat live streaming pro player." "Oh ya?" Kelly jadi tertarik. "Melihat live streaming siapa?" "Mungkin kau nggak kenal, dia salah seorang pemain yang masuk top global." "Siapa?" "Id-nya macan belang." "Apa? Al, kau menonton live streaming macan belang? Sebenarnya ... tapi tunggu sebentar, aku nggak melihatmu online. Apa kau menggunakan ID yang berbeda?" "Nggak mungkin, aku rasa kau kurang memperhatikan. "Tapi, aku nggak melihatmu di room macan belang." "Melihatku di mana?" "Sebenarnya tadi aku juga menonton pertandingan macan belang." Kelly mengakui. "Kau mengenalnya?" "Temanku baru aja dia bermain COS, dia juga baru-baru ini sering melihat live streaming beberapa pemain. Dia bilang permainan macan belang sangat hebat. "Bagaimana menurutmu. Apa dia sangat hebat?" "Aku nggak bisa membandingkannya dengan siapapun karena aku jarang menonton live streaming." "Kalau begitu, bagaimana jika dibandingkan denganku?" tanya Alzio. "Kalau secara subjektif, kau lebih jago karena aku telah bermain denganmu dan aku bisa melihat bagaimana permainanmu. Tetapi kalau secara objektif, mungkin dia yang lebih jago, karena dia adalah salah satu player top global." "Jawaban yang menarik." "Aku rasa, seandainya kau memilih karir profesional untuk menjadi seorang player, pastilah kau akan menjadi lebih baik jadinya." Kelly berkata yakin. "Begitu ya? Tapi aku juga punya pekerjaan saat ini." "Aku hanya berkata seandainya, seandainya kau memilih karir profesional. Kau pastilah amat jago. Aku yakin padamu, Al." "Makasih karena pernyataan itu, aku jadi merasa terharu." Benarkah? "Jadi tadi kau menonton live nya pemain yang bernama macan belang? Aku dengar, nggak ada seorangpun yang mengetahui siapa dia sebenarnya. " "Aku dengar juga seperti itu." "Lalu, apa yang kau sukai darinya Al? Apa dia memang sehebat yang orang-orang katakan? Apa kau sering menonton live streaming dari pemain-pemain lainnya?" cecar Kelly. Sekarang Alzio kebingungan harus menjawab apa pertanyaan dari Kelly itu, tentunya tidak bisa berbohong. "Aku hanya mempelajari beberapa hal tentang strategi permainan, tidak ada yang istimewa." "Pantas saja permainanmu begitu baik, ternyata kau sering menonton pertandingan dari pemain-pemain lain. Aku saja baru-baru ini menonton soalnya selama ini bermain hanya untuk having fun saja." "Nggak apa-apa belajar denganku saja.'" Alzio tertawa. "Temanku yang tadi mengajakku menonton live streaming, dia berada di level yang tidak terlalu tinggi tapi aku nggak ingin mengajaknya mabar bersamamu. Maaf, aku jujur." "Kenapa begitu?" "Aku nggak ingin memiliki saingan, sekalipun itu temanku sendiri." Kelly tertawa. "Terlalu jujur, tapi nggak apa, aku juga nggak ingin satu room bertiga. Lebih baik berdua biar mesra. Mendengar itu, lagi lagi Kelly tertawa renyah, sekarang Alzio mulai berani menampakkan kata-kata bernada godaan. Hubungan mereka sudah sedikit akrab. "Al, Apa kau nggak memiliki teman untuk bermain bersamamu?" "Kenapa bertanya seperti itu?" "Soalnya selama yang aku tahu kau selalu bermain sendirian. Padahal, kau sangat jago. Harusnya, ada orang yang pastinya ingin bermain denganmu. Aku jadi nggak enak, sepertinya aku membebanimu." Kali ini Alzio yang tertawa. "Hai Kelly, aku juga bermain untuk melepaskan penat sehabis aktivitas seharian. Aku sama sekali nggak merasa kalau kamu membebani aku." "Aku berharap begitu." "Bagaimana denganmu? Aku merasa terganggu. Mungkin, aku nggak terlalu jago dan pastinya ada player-player lain yang ingin bermain bersamamu." "Aku awalnya nggak terlalu Intens bermain game ini, tapi ... kenapa setiap bermain denganmu, saat online menjadi hal yang menyenangkan." "Jadi ini sebuah pujian?" "Tentu saja, kenapa malah bertanya? Tapi Al, sebenarnya aku sedikit kecewa, karena kita masih belum bertemu. Apa kau nggak ingin bertemu denganku?" Alzio tertawa, pembahasan ini mulai lagi. Tapi bukannya dia tidak ingin bertemu dengan Kelly. Dia hanya ingin membuat perempuan itu penasaran, kemudian jatuh hati dengan dalam padanya. Walaupun, Alzio juga harus siap kalau apa yang dipikirkan tidak sesuai dengan kenyataan. Mungkin saja dia tidak menyukai Kelly, atau .. ternyata dia telah menikah. "Oke, aku berjanji kita akan bertemu secepatnya. Setelah aku pulang dari Belanda." "Pulang dari Belanda?" Kelly terdengar kaget. "Oh benar juga." Alzio keceplosan. Dia hanya bicara pada Kelly kalau dia akan pergi ke luar negeri, dia tidak mengatakan kalau dia akan pergi negara bunga tulip itu. "Sepertinya aku ketahuan." "Apa yang kau lakukan di sana, Al?" "Aku nggak bisa mengatakannya sekarang Kelly, tapi nanti, setelah kita bertemu. Kupastikan aku akan lebih terbuka." Kelly mengirimkan stiker dengan gambar wajah yang sedih. "Tapi, tidak tahu kapan akan bertemu. "Kelly, apa kau khawatir kalau aku tidak ingin bertemu denganmu?" "Aku nggak bisa menebak isi hatimu, aku hanya bisa menduga-duga." "Bisa aku katakan, aku belum menikah dan belum pernah menikah. Saat ini aku juga tidak memiliki kekasih, jadi khawatir menjalin hubungan dengan pasangan orang lain." Lama sekali tidak ada balasan dari Kelly, Apakah kata-katanya membuat perempuan itu tersipu? Alzio memahami, sekalipun Kelly adalah tipe orang yang terlihat mandiri dan beberapakali mendesaknya. Dia tahu perempuan tetaplah perempuan, pasti ada hal-hal yang membuat mereka tersipu-sipu seperti saat ini. Sekarang Alzio jadi penasaran, balasan apa ini yang akan dikirimkan oleh Kelly. "Aku nggak berpikir seperti itu." Ternyata benar dia menyangkal. "Nggak apa-apa, Kelly. Sebenarnya itu hal yang wajar. Aku saja, terus bertanya-tanya apakah teman onlineku satu bulan terakhir ini, merupakan seorang perempuan yang single juga belum memiliki kekasih? Aku juga khawatir." "Bagaimana kalau aku ternyata nggak sesuai ekspektasimu." "Dalam hal apa?" "Aku nggak cantik ... juga nggak menarik." "Semua perempuan cantik," sahut Alzio. "Aku nggak percaya hal itu, ada sebutan terhadap sosok yang good looking dan nggak good looking. Dengan kata lain, pernyataanmu nggak benar, Al." "Kenapa sekarang kita malah membahas masalah itu? Apa kau mengalihkan perhatian dari pertanyaanku?" "Aku akan memberitahukan padamu, saat kita bertemu nanti, Al." "Sekarang kau membalasku. Oh ya, kalau kau mau. Aku akan mengajakmu bermain bersama teman-temanku. Bagaimana?" Alzio memang telah memikirkan hal ini sebelumnya. Tidak ada lagi jawaban dari Kelly. Alzio menulis lagi, "aku memang mengatakan kalau lebih suka satu room berdua denganmu. Tapi, kalau kau ingin main bersama teman-temanku, aku akan mengajak mereka." "Aku mau aja, Al. Tapi, aku nggak terlalu pintar, takutnya malah membebani kalian." "Kau sudah jago Kelly, ingat kalau kau sekarang ada di top lokal. Lagipula, nggak perlu khawatir soal itu. Aku akan menjagamu." "Kalau begitu, aku nggak sabar lagi." Kelly berkata dengan bersemangat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN