Kenapa para perempuan datang, kemudian mengucapkan sesuatu yang ambigu. Alzio erasa heran, kenapa Aixa tiba-tiba berkata kalau dia ingin pensiun dari game. Bukankah dia saja baru bermain game itu beberapa bulan terakhir? Bahkan Alzio yang telah bermain lama, belum pernah mencetuskan kalimat itu. Atau bahkan memikirkan untuk berhenti.
Tetapi, Alzio yang bukan merupakan seorang pria yang cukup peka, mendadak memiliki kepekaan untuk urusan seperti ini. Kelly pastilah memiliki ganjalan di dalam hatinya.
"Memangnya ada apa? Apa yang membuat kamu, berkata seperti itu?" tanya Alzio hati-hati.
"Bukan apa-apa ini saja, tadinya aku ingin bermain game ini untuk menghibur diri. Tapi kenyataannya, malah banyak yang membuatku kepikiran."
"Kasih tahu aku, apa yang membuatmu kepikiran?"
"Bukan apa-apa." Aixa mengelak lagi.
"Jangan berbohong, aku bisa tahu. Tiba-tiba menchatku secara beruntun dengan banyak pertanyaan, lalu kemudian berkata ingin pensiun?" Alzio melanjutkan. "Kalau memang lagi jenuh, lebih baik off dulu untuk beberapa hari. Kalau pensiun, jangan dulu. Nanti aku nggak punya temen mabar lagi."
"Tapi kau jago, Zio. Aku yakin, kau pasti bisa dapat teman mabar yang lebih baik dari aku."
"Kelly, ada apa? Ayo cerita padaku." Alzio mendesak lagi, dia harus mendapat jawaban.
Kelly terdiam tidak membalas lagi pesan darinya, Alzio segera berinisiatif untuk meneleponnya. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Kelly.
"Halo."
"Halo, Al," lirih Kelly di seberang.
"Apa yang terjadi?" Alzio langsung bertanya.
"Nggak ada apa-apa, aku cuma merasa sedikit sensitif akhir-akhir ini."
"Tapi saat merasa sensitif pastilah itu karena sesuatu. Nggak mungkin nggak ada pemicunya."
Kelly cukup lama terdiam. Alzio berkata kalau dia akan menunggu.
"Aku seharian di bully Al." Kelly mengeluh. Akhirnya dia bercerita.
"Kenapa begitu?" Kening Alzio berkerut.
"Soalnya, aku nggak enak membicarakan ini. Seolah bagaimana begitu."
"Kalau begitu buat enak saja, untuk apa membuat rumit sesuatu yang seharusnya bisa mudah?"
"Nggak sesimpel itu Al."
"Coba? Aku nggak bisa memutuskan Kalau aku nggak tahu apa perkaranya?" desak Alzio lagi.
"Apa kau tahu teman sekelasku yang bernama Fitri? "
Alzio tampak berpikir, sebenarnya dia tidak terlalu ingat. Tapi kalau tidak salah, Kelly pernah menyebutkan teman sekelasnya yang mengikuti turnamen se-asia tenggara.
"Player cewek yang mengikuti turnamen itu?" tebak Alzio.
"Benar. Tadi malam, aku berhasil mengunggulinya di rank lokal. Dan dia, tidak menyukai itu."
Ternyata benar, player perempuan di kelasnya.
"Bukannya itu jelas? Semua orang memiliki sifat cemburu dan iri di dalam hatinya Kelly. Untuk apa memikirkan orang lain?"
"Masalahnya dia menyebar hoax, menghasut semua orang di komunitas dan menuduhku sebagai seorang hode."
"Begitu? Kenapa nggak mengabaikan dia, padahal kau tahu itu nggak benar."
"Karena dia sangat gencar, menebar isu ini. Aku pikir, salah satu fansnya berkata kalau dia pernah main bersamaku dan berkata kalau aku adalah seorang laki-laki," sahut Kelly.
Ternyata terjadi peristiwa seperti itu. Ada-ada saja. Kaum perempuan terkadang lebih mengerikan daripada lelaki.
"Apa aku perlu turun tangan dan berkata kalau kau benar-benar perempuan?"
Sebenarnya cukup mudah, Kelly.hanya perlu mengungkapkan dirinya maka semua pemberitaan itu akan berakhir. Tapi sepertinya, dia masih ingin menutupi jati dirinya.
"Aku akan melakukan sesuatu, tunggu dan lihat saja."
Kelly tidak menjawab, tidak lama kemudian dia berkata lagi. "Kau akan melakukan apa?"
"Beberapa hal yang mungkin saja bisa membantu temanku."
"Nggak perlu, Al." Kelly mendesah. "Ada hal lainnya. Aku pikir aku hanya ingin bertemu denganmu. Itu salah satu hal, yang terus membuatku kepikiran. Tapi sekarang, nggak apa-apa. Seandainya kau nggak ingin bertemu denganku, aku nggak akan masalah."
"Kelly, aku bukannya nggak ingin bertemu denganmu. Bukannya aku sudah katakan berkali-kali?"
"Udah nggak usah dibahas lagi, udah dulu ya. Rasanya aku ingin tidur."
"Nggak mau main dulu beberapa pertandingan?" tanya Alzio.
"Pergilah bermain solo, aku benar-benar sedang nggak mood."
"Oke, aku akan menunggu sekitar lima belas menit. Kalau tiba-tiba mood-nya kembali, segera hubungi aku."
"Kau akan bermain solo?" Kelly bertanya, tampak penasaran.
"Aku lelah bermain sendiri setelah memiliki teman mabar."
"Tapi katanya, kau memiliki teman-teman. Mereka bermain COS juga."
"Mereka selalu membebaniku, aku males menggendongnya. Tapi nanti aku akan mengajakmu bermain bersama."
"Bagaimana denganku? Aku selalu saja digendong." Terdengar keluhan Kelly.
"Nggak, kau bermain dengan baik."
"Benarkah?"
"Itu jelas, kalau nggak mana mungkin bisa masuk ke dalam peringkat lokal."
"Aku cuma main bersama seseorang yang sangat hebat dan akhirnya levelku terangkat." Kaira lagi-lagi membantah kalau dia cukup jago bermain.
"Sekalipun itu karena aku, nggak akan bisa berada di rank lokal kalau memang nggak memiliki kemampuan. Kau juga tahu itu. Kelly."
"Ya, aku mengerti."
"Apa kau ingin kita berpasangan di game?"
Dalam game COS, mereka bisa berpasangan dan nantinya mereka akan mendapat beberapa hadiah. Kelly juga tidak menjawab.
"Aku nggak mau," jawab jawab Kelly kemudian. Seharusnya dia mau, kalau melihat tipikal Kelly yang serba ingin tahu.
"Kenapa begitu? Padahal aku udah mengirimi request sejak beberapa waktu yang lalu. Apa kau takut pacarmu di dunia nyata marah?" ledek Alzio. Sekarang dia ditolak.
Kelly lagi-lagi nggak menjawab, Alzio berpikir apa yang sedang di lakukan, apakah dia masih merasa sedih karena komentar-komentar yang cukup kejam?
"Apa kau masih merasa sedih?"
"Sebenarnya sedih bukanlah kata yang tepat untuk mewakili perasaanku saat ini."
"Jadi?"
"Aku sedang sedikit down."
"Hanya sedikit dan mau pensiun dari kegiatan yang menghibur, bagaimana kalau banyak?"
"Jangan mengejek Al, kau nggak mengalami apa yang aku rasakan."
"Benarkah? Apa kau yakin Kelly?"
"Aku nggak tahu, aku hanya menebak. Hidupmu, sangat misterius Al."
Kali ini Alzio dibuat tertawa lagi, "itu pendapatmu."
Alzio melirik jam, sudah berlalu lima belas menit lagi, sejak Kelly berkata kalau dia ingin tidur.
"Apa kau tidak jadi tidur?" Alzio mengingatkan.
"Aku lupa, kau selalu membuatku seperti ini. Kalau begitu, sekarang aku tidur dulu, sampai besok." Kelly memutuskan sambungan telepon mereka.
Akhirnya dia benar-benar tidak ingin bermain malam ini. Lagipula, kenapa sih dia harus memancing? Bukannya tadi, Kelly sudah melupakan kalau dia ingin tidur dan terus bicara dengannya.
Padahal aku masih ingin mendengar suaranya, batin Alzio.
Alzio kemudian memeriksa postingan postingan di grup komunitas, dia memang melihat beberapa komentar yang mengerikan. Wajar saja kalau Kelly jadi begitu sensitif. Sepertinya dia memang harus melakukan sesuatu, yang membuat Kelly semakin mengidolakannya. Alzio tersenyum simpul.
Bagi Alzio, menggerakkan massa di dunia gaming amatlah mudah. Dia kemudian keluar untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Rony dan El.
"Sepertinya aku butuh bantuan." Alzio berkata pada mereka.