Chapter 17 Sesuatu yang Baru

1083 Kata
Aixa bangun di pagi hari, tetapi dia sangat enggan bergerak. Bahkan menarik selimutnya, Dia sangat malas hari ini. Oh astaga, betapa mengerikannya kehidupan maya merembet di kehidupan nyatanya sekarang. Padahal harusnya Aixa tidak perlu bersikap seperti itu. Untuk apa dia memikirkan sesuatu yang terjadi di dunia virtual? Lagipula dia sama sekali tidak berbohong tentang dirinya, dia hanya belum mempublikasi diri. Sekalipun itu adalah pilihannya, tetapi entah kenapa dia sangat kesal dengan Fitri. Kenapa perempuan itu selalu mencari masalah dengannya baik di dunia nyata sampai di dunia virtual? Di dunia nyata dia begitu cemburu dan iri pada Aixa, dia selalu mengawasi apa yang Aixa lakukan, mencari kesempatan untuk menemukan celah yang bisa dipakai untuk menghujat Aisyah. Begitulah yang dikatakan oleh Sheza, Fitri tidak menyukai Aixa bukan karena kepribadiannya. Tapi karena dia cantik. Sekarang di dunia virtual, Aixa mendapatkan kesempatan untuk mengunggulinya secara jelas. Namun, dia melakukan cara-cara yang tidak baik juga tidak menyenangkan. Sangat tidak fair. Kompetisi, seharusnya merupakan suatu yang menarik. Kalau tidak dicampuri oleh orang lain, dalam hal ini, orang lain telah berkomentar tentang apa yang terjadi, padahal mereka sama sekali tidak mengerti apa yang mereka komentari. Aixa masih berguling-guling di atas tempat tidurnya, benar-benar enggan untuk melakukan apapun. Sangat menyebalkan, rutuknya. Setidaknya dia telah bercerita pada Al, kalau dia ingin pensiun. Pria itu juga menjadi salah satu pemicu, kenapa Aixa sangat sensitif sejak kemarin. Untuk apa bermain game online, kalau hanya menambah beban pikiran. Bukannya dia bermain untuk bersenang-senang? Dia bukan seorang profesional yang mencari makan dari bermain game, dia hanya bersenang-senang. Tetapi kalau seperti ini, kepalanya jadinya pusing. "Aixa." Dia mendengar suara ibunya memanggil dari luar, Aixa menjawab. Ternyata beliau menyuruh Aixa untuk sarapan, dia harus bersiap-siap karena sebentar lagi akan berangkat kuliah. Dan hari ini, mereka juga akan melakukan kunjungan ke pesisir setelah pulang dari kampus. Setidaknya itu akan mengobati sedikit rasa penatnya, dia bisa bermain di pantai nanti. Setelah mengumpulkan kekuatan dan menghempas rasa malasnya, Aixa akhirnya keluar. Dia melihat ibunya tengah memasak, aromanya sangat wangi. "Anak gadis bangun pagi-pagi bukannya bantuan mamanya masak." Beliau seperti biasa, mengomel. Aixa memeluk ibunya dan tertawa. Dia kemudian duduk di kursi makan. "Mama, Ai capek banget. Tadi malam begadang." "Begadang main game?" Ternyata Mamanya sudah mengetahui hal itu. Aixa hanya tertawa geli. "Nggak. Tadi malam Ai nggak main game, Aixa begadang memikirkan kehidupan." Itu memang benar, dia sangat malas bermain tadi malam. Seketika tawa mamanya pecah, "memikirkan kehidupan apaan? Bangun saja sudah siang begini, rezekinya dipatok ayam." "Itu kan pepatah untuk dulu, Ma, kalau rezekinya dipatok ayam. Bagaimana para pekerja yang dapat shift malam? Mama nggak boleh mendiskreditkan seperti itu," protes Kaira. "Ini berlaku untukmu bukan untuk mereka." "Mama selalu pintar mencari alasan." "Bukannya kebalik?" Beliau tertawa lagi. "Ma, hari ini Aixa bakal pulang telat." "Msmangnya mau ke mana? Pergi bareng Sheza?" "Aixa kan jadi panitia untuk kegiatan pendampingan masyarakat di pesisir pantai. Nanti sore kami akan ada rapat dan kunjungan ke sana." "Begitu, pulangnya jangan malam-malam." "Iya Ma." Ibu Aixa sangat mendukung anaknya melakukan kegiatan kampus seperti bergabung di kepanitiaan dan lainnya. Bisa dikatakan, dulu Aixa merupakan pribadi yang sedikit pendiam. Semua berubah setelah ibunya menikah lagi, setelah mendapatkan seorang ayah dan juga abang, tampaknya Aixa lebih percaya diri dalam menjalani hari-harinya. Dia lebih banyak tertawa dan tersenyum. Mungkin itu terjadi karena tiba-tiba, dia mendapatkan kasih sayang yang besar. Dari lawan jenis. Sehingga membuat, kepribadiannya menjadi lebih terbuka. "Abang mana? Belum bangun juga jam segini? Aixa siram air nanti baru tahu rasa." Aixa mengomel. Dia menghadap sarapan yang dibuat oleh ibunya, tetapi Aixa harus mandi terlebih dahulu sebelum menyantap hidangan yang membuat perutnya keroncongan itu. Benar ternyata, tadi malam dia tidak makan, pantas saja dia merasa sangat lapar. Ini semua karena terjebak dalam penderitaan virtual, menggelengkan kepalanya. Aiza bergegas mandi, saat melewati pintu kamar abangnya dia menggedor-gedornya berkali-kali. "Bangun, bangun, bangun udah siang, nanti rezekinya dipatok ayam." Aixa berteriak. Ibunya segera menegur, itu membuat Aixa tertawa. Bagaimanapun, perlakuan ibunya dan Aixa berbeda. Dengan abangnya Raka, ibunya tidak sering mengomeli abangnya itu. Mungkin karena dia adalah ibu sambung, sehingga membuat beliau menjaga perasaan abangnya agar jangan tersinggung. Tapi, Raka adalah tipe pria yang sangat disiplin sejak dulu, kalau dia tidak bangun pagi-pagi sekali. Pastilah karena mengerjakan pekerjaan hingga larut, berbeda dengan Aixa yang begadang karena hal-hal yang tidak menentu. Abang Raka sangat rajin, dia telah menjadi panutan Aixa dalam bekerja keras. Nantinya, setelah dia bekerja, dia juga akan menjadi pekerja keras yang membanggakan keluarganya. Begitulah pikiran Aixa. Setelah menggedor lagi pintu Raka, Aixa berlalu sambil tertawa geli. Dia mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi, melakukan ritual yang membuatnya segar. Kemudian bergegas untuk memakai pakaian kuliah. Saat keluar lagi, Aixa melihat ayahnya telah berpakaian lengkap sambil menikmati kopi. "Papa," siapa Aixa. "Pagi, Ai. Hari ini mau berangkat sama siapa? Bang Raka atau papa?" Aixa memutarkan matanya, "sama Papa aja. Akhir-akhir ini malas sama Abang Raka, setiap liat Ai selalu sok-sokan menasehati. Sok-sokan dewasa. Hu." Aixa mencibir. "Hai jangan bilang begitu." Ibunya menegur. "Kenyataannya memang begitu, Ma, Bang Raka itu sekarang bener-bener sok dewasa, apapun yang dilakukan selalu salah di matanya. Pokoknya disuruh ini itu, begini begitu, kuliah harus bener, kuliah harus seperti ini. Nggak boleh pacar-pacaran" "Memangnya Ai punya pacar?" tanya ayahnya. Aixa jadi sedikit malu. "Sekarang belum sih, tapi nggak menutup kemungkinan dalam waktu dekat." Aixa tertawa. Di keluarganya membahas hal semacam itu adalah hal yang lumrah, sekalipun ayah dan Bang Raka adalah keluarga sambungnya, mereka berbagi hal-hal kecil dan remeh bersama. "Jadi penasaran bagaimana pacarnya Ai nanti, jangan-jangan anak SMA. Sama seperti kelakuan Ai yg masih ke bocah-bocahan," goda sang ibu. "Hah mama? Mama ini, anak sendiri dibully. Mama tahu nggak kalau di kampus, Ai ini memiliki image sebagai perempuan yang dewasa, pintar dan mandiri." "Papa yakin akan hal itu, menurut papa juga begitu." Aixa tertawa gembira. Itulah yang menyenangkan, sekarang Aixa memiliki pembela dan pendukung dalam menghadapi ibunya sendiri. Aixa tertawa geli. Biasanya Aixa akan pergi ke kampus menumpang pada Raka, karena ayah sering pergi lebih pagi. "Sekarang masih pendekatan." Aixa mulai menghabiskan sarapannya. "Pendekatan apaan? Hati-hati Ai, jangan sembarangan pacaran." "Sembarangan pacaran? Maksud mama bagaimana sih?" Aixa menggelengkan kepalanya. "Ai pasti paham maksud mama tanpa perlu mama jelaskan." "Iya Ma, iya ..., "jawab Aixa lagi. Aixa menoleh ke arah ayahnya, berpura-pura merajuk dan mencari pembelaan. Saat melihat ponselnya, dia mendapat banyak pesan dari Sheza sejak tadi. "Ai sarapan jangan sambil lihat ponsel," tegur ibunya. "Iya, Ma." Tapi dia sempat membaca pesan dari Sheza yang berkata kalau komunitas telah heboh akan sesuatu yang baru. Apa itu? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN