Aixa berlari kecil menuju kampus, di dalam ruangan perkuliahan mereka. Sheza menunggu dengan sumringah. Aixa juga melihat Fitri, seperti biasa telah dikerubungi oleh orang-orang yang bermain game COS, juga berusaha untuk update berita mengenai game tersebut.
Sheza melambaikan tangan ke arahnya. Aixa buru-buru duduk dan mereka mengobrol.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Aixa bertanya dengan bingung. Dia telah melihat postingan-postingan di grup komunitas COS tadi pagi, karena amat penasaran dengan pesan Sheza.
"Ini berita yang amat luar biasa, kau mau tahu?" Sheza menaikkan alisnya.
"Aku juga nggak mengerti, kenapa pro player sekelas Sabil berkomentar mengenai persaingan para rank lokal di game." Aixa menggelengkan kepalanya belakangan ini, dia banyak mengetahui beberapa nama pemain COS yang terkenal. Nama Sabil sangat terkenal, karena dia penerima hadiah tertinggi dari fans.
Baru-baru ini, komentar mengenai rambut merah yang seorang hode mendadak dibahas di komunitas. Karena, seorang pro player bernama Sabil memberikan komentar pada saat dia melakukan livestreaming. Sambil berkata kalau dia tidak menyukai tuduhan-tuduhan terhadap ID rambut merah. Berita-berita yang memojokkan Aixa.
Kenapa dia mengatakan seperti itu? Karena baginya hal itu tidak penting, Apabila dibandingkan dengan keseruan bermain game sendiri, seandainya rambut merah merupakan seorang lelaki, tidak membuat dia serta merta menjadi seorang player yang buruk, dia tetaplah telah mencapai prestasi yang baik. Sabil menjelaskan.
Karena itu Sabil meminta hujatan terhadap sesama player dihentikan, dia juga berkata dengan sedikit menyindir kalau sesama player perempuan harus saling mendukung bukan berkompetisi secara tidak sehat. Sabil seolah mengetahui dalang dari kehebohan itu, walaupun tidak mengatakannya secara langsung.
Sheza menggelengkan kepala, "kau lihat sendiri bagaimana Fitri telah membuat keresahan di dunia gaming, perempuan itu memang racun."
"Sheza, ini posisinya aku yang menjadi korban. Aku bahkan nggak mengata-ngatai dia seperti itu." Aixa menggelengkan kepala.
"Itu salahmu, kenapa nggak mau ngata-ngatain dia? Ini adalah sebuah kesempatan Aixa. "Karena kau nggak bisa melakukan itu, maka aku yang mewakilinya."
"Nggak usah membantahku, aku merasa kalau sekarang aku tidak sedang dalam mood yang baik." Dia mengeluh.
"Ada apa lagi sih?"
"Kemarin, aku berkata pada semut merah kalau aku ingin pensiun bermain game."
"Apa?" Sheza menggelengkan kepalanya. "Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Mungkin karena aku sangat marah. Aku terus dituduh dengan kata-kata yang menyakitkan, lalu, semut merah juga nggak ingin bertemu denganku. Aku jadi merasa kalau game ini tidak lagi menghiburku tetapi membuatku sedih." Aixa menjelaskan.
"Aixa, lagipula kenapa kau membaca komentar-komentar mereka? Lebih baik kau nonaktifkan saja komunitas itu. Masa karena seekor tikus, sebuah gudang dibakar. Kau tau pernyataan itu, kan?" Sheza melanjutkan. "Kau memusingkan sesuatu yang nggak dipikirkan."
"Aku merasa amat sensitif, aku juga nggak mengerti kenapa."
"Kau sedang datang bulan?" Sheza menyelidik.
"Bukan seperti itu, aku hanya. Entahlah."
"Ai ini yang aku takutkan tentang dirimu. Kau terlalu mudah terbawa perasaan. Kenapa harus seperti itu?" Sheza menghela nafas. "Ini hanyalah sesuatu hal yang terjadi di dunia virtual, kenapa sampai mempengaruhi kehidupan nyatamu? Ingat, kau ini mahasiswa magister."
"Jangan berkata seperti itu sih, untuk urusan perasaan, sepintar apapun orang tiba-tiba dia akan merasa bodoh."
"Itu hanya alasan, orang-orang nggak bisa memutuskan sesuatu untuk dirinya sendiri. Biasanya kalau nggak seperti ini."
Aixa bergumam, "sudahlah sekarang kita nggak perlu lagi membahas soal itu, yang terpenting sepertinya tekanan dari komentar-komentar itu sudah sedikit hilang."
"Dan aku heran kenapa sambil sampai turun untuk masalah sepele ini?"
"Mungkin dia resah karena beberapa player perempuan sering memojokkan dan akhirnya membuat mereka pensiun Contohnya aku, aku saja nyaris pensiun."
"Nyaris berhentinya sekarang sudah tidak mau diucapkan lagi, kan? Bagaimana tiba-tiba pensiun padahal belum main bareng bersamaku sungguh mengenaskan." Sheza tertawa.
***.
"Apa hari ini pemilik galeri akan menemui kita?" Sheza bertanya pada Reno.
Reno menggeleng. "Asistennya telah mengkonfirmasi kalau dia tidak akan datang, pemilik galeri sedang nggak berada di tempat."
"Ternyata, menjadi seorang pengusaha itu benar-benar sibuk ya. Walaupun di bidang seperti ini." Aixa ikut mengomentari.
"Aku setuju."
"Terkadang, sekalipun sudah menjadi mahasiswa magister, aku selalu bingung, setelah ini mau bekerja di mana." Sheza berkata.
"Bekerja di mana aja sama, yang penting pengabdian." Aixa berkata. "Aku banyak melihat orang-orang yang benar-benar berdedikasi pada pekerjaannya, mereka akan mencintai dan baik dalam pekerjaan."
"Ya tapi ada juga, orang-orang yang sudah bekerja sangat keras namun nggak mendapatkan hasil yang mereka inginkan." Sheza berkata lagi.
Sekarang giliran perempuan itu yang merasa insecure dengan kehidupannya, Padahal baru saja tadi dia menguatkan Aixa. Berbeda, tapi mirip.
"Tapi Sheza, bila kita sudah mendedikasikan diri kita pada pekerjaan itu, kita akan mendapat pengalaman yang berharga, baik ataupun buruk." Aixa menegaskan lagi.
"Ya aku mengerti Aixa, tetapi terkadang, aku merasa takut ketika lulus. Aku takut pekerjaan yang aku lakukan nanti, tidak sesuai dengan gelar dan pendidikanku. Juga khawatir dengan penilaian masyarakat, mereka mengatakan kalau kita bersekolah tinggi-tinggi, tapi pada akhirnya melakukan pekerjaan yang itu-itu juga. Apalagi sebagai seorang perempuan."
"Nggak perlu khawatir sama penilaian orang lain," sahut Reno. "Yang penting dari kita sendirinya.
"Ya tapi itu manusiawi."
"Eh kalian mau tahu nggak? Entah kenapa, aku sangat menyukai galeri kita saat ini. Bahkan dari interior dan manajemennya sangat profesional." Reno berdecak, mereka hampir sampai di lokasi. Seperti biasa Aixa dan Sheza menumpang mobil sang ketua panitia kegiatan.
Reno menambahkan, "rasanya tidak buruk kalau menjadi asisten keuangannya. Kira-kira berapa ya gajinya?" Reno bertanya.
"Aku nggak tahu, coba aku nanti tanya tanyain sama asistennya, Mbak Alisa, kabarnya dia lulusan universitas ternama di luar negeri." Sheza menjawab dengan bersemangat, tampaknya dia mulai lupa akan diskusinya tadi.
"Tapi aku lihat, galerinya juga amat sepi. Nggak ada pegawai. Apa mbak Alisa itu mengurus semuanya?" Sheza bertanya sok tahu.
"Dilihat-lihat, ada perempuan seperti Mbak Alisa itu, cantik, cerdas, pintar, menarik. Siapa juga yang nggak akan tertarik padanya?" Reno tak putus-putus memuji.
"Kau menyukai tipe yang seperti itu?" Sheza menyelidik.
"Bukan soal menyukai atau nggak menyukai dan memiliki tipe-tipe tertentu. Tapi dilihat dengan sebaik-baiknya, Mbak Lisa memang sangat cantik dan cerdas. Saat membahas soal kegiatan denganku, kata-katanya sangat berbobot." Reno menjelaskan.
"Menurut kalian mereka berpacaran?" tanya Sheza.
"Siapa?" Aixa menjadi bingung.
"Bukannya owner galeri masih bujangan, Dia memiliki asisten yang sedemikian cantik dan bekerja berduaan. Pasti muncul benih cinta." Sheza berkata dengan penuh semangat.
"Untuk apa sih mengurusi masalah itu?" Aixa menggelengkan kepalanya. Kalimat Sheza terkadang tidak dimengerti berasal darimana.
"Kita sampai, aku akan menghubungi Mbak Alisa, apa dia telah berada di lokasi atau masih di galeri."
"Aku nggak yakin dia mau datang ke tempat ini, dilihat dari stylenya," lanjut Aixa.
***