Aixa memandangi pantai di hadapannya, bersama dengan Sheza. Sesekali, bersantai seperti ini sangatlah menyenangkan. Setelah berkutat dengan segala permasalahan dunia. Padahal, di usianya yang sekarang, masalah apa yang bisa dihadapi? Rasanya tidak ada yang terlampau berat.
Aixa menoleh ke arah Sheza.
Sheza kemudian bertanya. "Apa menurutmu acara kita akan sukses?"
"Kita memiliki sumber daya yang baik dan juga sponsor, aku yakin kita harus sukses. Kalau tidak, banyak yang akan dipertaruhkan," jawab Aixa.
Mereka melihat gerombolan yang lain berkumpul di dekat mereka, itu adalah Reno dan teman-teman panitia yang lain. Mereka tampaknya mulai membahas apa yang harus mereka lakukan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di pesisir pantai.
Aixa dan Sheza masih memperhatikan. Mereka menunggu Alisa yang katanya ingin datang, tetapi sampai saat ini, belum ada tanda-tanda kalau perempuan cantik itu akan tiba.
"Sheza, apa kau tahu kalau beberapa waktu yang lalu, aku menduga kalau pemilik galeri adalah sosok Al." Aixa mendesah.
Sheza membuka botol minuman, dia menyerahkan sebotol pada Aixa.
"Itu mungkin saja, di dunia ini nggak ada yang mustahil. Apa kau telah menanyakan hal itu padanya?"
Aixa mengangguk.
"Terus apa jawabannya?"
"Dia hanya mengalihkan pembicaraan, tidak menjawab iya ataupun tidak."
"Kalau begitu, ada kemungkinan, Bukankah dia tampan?"
"Aku nggak ingin memikirkan itu." Aixa melanjutkan, "aku juga nggak ingin terlalu berharap banyak."
"Tapi setelah peristiwa kemarin, kehidupanmu akan kembali tenang Ai. Hanya saja kau semakin terkenal tahu. Sheza mencubitnya. "Kau lihat di sana ..."
Mereka menoleh ke arah gerombolan itu lagi, Aixa dan Sheza belum bergabung.
"Kenapa?"
"Di sana, ada seseorang yang sangat cemburu padamu. Tapi dia tidak mengetahuinya."
Itu pastilah Fitri, setelah Sabil menjadi penengah atas apa yang terjadi, tidak ada lagi orang yang menghujat Aixa yang muncul karena dituduh melakukan pembohongan publik. Padahal, sepemikiran Aixa di dalam dunia virtual, apapun bisa terjadi. Mereka tidak boleh mempercayai terlalu banyak pada sesuatu hal. Karena mereka tidak bisa melihatnya secara langsung.
"Kau tahu kenapa para gamer begitu berhati-hati mengenai para hode ini? Karena ini pernah terjadi pada seseorang di rank global." Sheza menjelaskan.
Aixa bukanlah orang yang suka mencari informasi sekalipun dia bermain, sangat berbeda dengan Sheza. Sheza rutin mengikuti perkembangan COS di media sosial.
"Memangnya apa yang terjadi?"
"Dulu seseorang yang masuk di rank global mengaku sebagai seorang perempuan, dia merupakan yang pertama. Karena hingga saat ini, belum ada perempuan yang berhasil berada di jajaran rank global."
Begitu, ya. Entah kenapa, seorang perempuan kesulitan dalam bermain game. Apa benar dunia itu hanya dikhususkan untuk kaum pria saja?
"Dia menjadi begitu terkenal, bahkan ada yang mengirimnya hadiah hingga puluhan juta. Namun ternyata terungkap kalau dia adalah seorang pria, semua merasa dibodohi," lanjut Sheza.
"Salah mereka sendiri, mengirimi hadiah sampai berjuta-juta." Aixa tertawa.
Sheza ikut tertawa geli, "Terkadang mereka memiliki sumber daya untuk itu. Akhirnya menghabiskan uang untuk sesuatu yang semu."
"Seperti apakah kulakukan, tapi aku tidak memberikan sesuatu pada yang semu, Sheza. Berapa kali dia mengirim hadiah pada Al. Itu aku lakukan, sebagai rasa terima kasih." Karena Al telah membantunya bermain setiap malam, Anggap saja dia menggelontorkan dana tersebut untuk hang out bersama teman saat mereka berlibur.
Bukankah itu menjadi kasus yang sama?
Percakapan mereka terhenti saat melihat kedatangan Alisa. Sebenarnya, Aixa cukup kaget.
Alisa terlihat begitu rajin dan berdedikasi pada kegiatan ini, apa bosnya yang menyuruh dia seperti itu? Atau dia memang tipe orang yang menyukai kegiatan-kegiatan outdoor?
Alisa menyapa mereka semua. Reno menyambutnya dan mengucapkan terima kasih atas kehadirannya. Setelah kehadiran Alisa, Alisa dan Sheza bergegas mendekati perempuan itu juga.
Dia mau meminta maaf lagi mewakili bosnya karena beliau masih belum dapat hadir, tetapi Alisa selalu meyakinkan kalau bosnya sangat mendukung dan bersemangat dengan acara mereka. Karena itu mereka harus melakukan yang terbaik.
Reno berkata kalau mereka akan mengerahkan segenap kemampuan yang ada untuk mensukseskan kegiatan itu. Mereka kemudian berkunjung ke rumah salah satu tokoh masyarakat di wilayah pesisir, berbincang bagaimana mereka akan memulai pemberdayaan di sana dan mencari tahu hal apa yang paling penting yang diinginkan masyarakat setempat.
Aixa kemudian mendapat telepon dari sebuah nomor di luar negeri, dia menjauh dari kerumunan dan mencari tempat yang sedikit sepi.
"Halo." Aixa menjawab.
"Halo, ini aku."
"Al?"
"Siapa lagi?"
"Kau sedang berada di mana?" tanya Aixa.
"Tebak?"
Bukankah kemarin dia telah keceplosan kalau dia pergi ke Belanda.
"Apa pekerjaanmu sukses?"
"Kali ini aku berhasil."
"Luar biasa, hebat sekali." Aixa memuji. "Jadi, kapan kau kembali Al?"
"Tidak lama lagi. Kau sedang melakukan apa?"
"Kami mengunjungi pesisir, baru saja asisten dari Pak Alzio datang. Tetapi Pak Alzionya nggak datang."
"Dia memiliki kesibukan."
"Yah aku rasa kalian sama-sama sibuk, Aku bahkan sangat sulit untuk bertemu dengan seseorang yang bernama Al."
"Jangan berkata seperti itu."
"Benar juga, sebenarnya tidak ada orang yang terlalu sibuk. Hanya saja, apakah kita diprioritaskan atau tidak." Aixa tidak mengerti, sampai kapan dia akan mendesak untuk hal seperti ini. Mungkin nanti ada masanya dia akan jenuh, dan berhenti berharap. Kalau pria itu, terus menggantungnya.
"Kelly, bagaimana kalau kita bertaruh?"
"Bertaruh, apa maksudnya itu?"
"Siapa yang mengetahui identitas salah satu di antara kita terlebih dahulu, akan menjadi pemenang. Dan mereka boleh meminta apa saja."
"Tunggu sebentar, maksudnya, sebelum kita bertemu. Kau ingin kita melakukan sebuah taruhan?"
"Ya benar, misalkan aku mengetahui nama aslimu lebih dahulu. Maka aku bisa meminta apa saja. Begitu pula sebaliknya."
Aixa tampak berpikir. "Meminta apa saja?"
"Al, aku nggak bisa bertaruh dengan hadiah bisa meminta apa saja. Bagaimana kalau kau minta sesuatu yang nggak-nggak?"
Terdengar suara tawa kencang Al di seberang. "Kelly, apa kau takut aku akan meminta sesuatu yang menyenangkan? Jangan khawatir, aku bukan pria hidung belang."
Wajah Aixa seketika memerah, ternyata pria itu mengetahui apa yang dia maksud.
"Tetapi informasi mengenaimu sangat sedikit," protes Ai.
"Loh, kita memiliki informasi yang berbeda masing-masing. Informasi mengenai dirimu, juga tidak terlalu banyak Kelly. Bagaimana, apa kau menyetujuinya?"
Sebenarnya cukup menarik perkataan Al, mungkin dia jadi bisa bertemu dengan pria itu. Ini adalah salah satu kesempatan.
Al terdengar sangat sumringah dan gembira, tersirat pada kata-katanya, sangat berbeda ketika dia ada di Singapura dulu. Pekerjaannya pastilah amat sukses, sehingga dia merasa gembira. Sekarang, Aixa harus memikirkan soal tawaran dari pria itu.
Menarik, tetapi dia tidak boleh terburu-buru mengambil keputusan.
"Halo, apakah masih ada orang di sana?" Al melemparkan guyonan lagi.
Dia melihat Sheza mendekat ke arahnya. Tampaknya temannya itu ingin memanggilnya untuk kembali bergabung.
"Al, temanku memanggilku. Nanti kita bicara lagi, soal taruhan aku akan memikirkannya dulu. Nanti, aku akan memutuskan."
"Baiklah, aku nggak sabar menunggu," sahut Al. Aixa kemudian menutup panggilan telepon.