Sudah dua jam berlalu, sejak Alzio mengirimi skin special ke akun COS milik Aixa. Tapi, tidak ada tanda-tanda kalau perempuan itu online. Padahal, Alzio sudah tidak sabar lagi melihat reaksi gadis itu. Dia pastilah sangat kaget, setelah selama ini Alzio terkesan sangat cuek padanya. Dia tidak pernah mengirimi hadiah satu kali pun walaupun itu hadiah yang paling murah, sedangkan Aixa terus mengiriminya bareng-barang. Seolah, dia adalah kaum menyedihkan yang tidak mampu membeli sacred stone dengan uang.
Alzio mengetuk mejanya, dia juga telah menghubungi Aixa sejak tadi. Namun, dia tidak mengangkat teleponnya, juga pesan-pesannya. Apa dia benar-benar menduga kalau sosok yang dia temui tadi adalah teman onlinenya selama ini? Jadi dia melancarkan serangan diam seperti membatu. Aixa melakukan ini, agar dia jujur, mengatakan kalau dia sebenarnya adalah Semut Merah.
Karena, kalau memang Alzio dan teman online-nya adalah seseorang yang berbeda. Tidak mungkin Alzio akan mendesaknya. Tampaknya, dia harus segera mengatakan kalau dia mengetahui identitas Rambut Merah. Alzio tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk memenangkan pertaruhan dengan Aixa. Bagaimana kalau tiba-tiba Aixa mengatakan kalau Alzio adalah identitas aslinya? Alzio tidak akan bisa berkelit.
Alzio mulai mencoba menghubungi Aixa lagi, namun, tidak ada tanda-tanda kalau dia akan aktif. Alzio mendengar pintu kamarnya diketuk.
"Al." Teriak Rony. "Cari makan malam, yuk."
Yah, Alzio baru menyadari kalau ternyata dia belum makan. Mendadak perutnya berbunyi. Alzio mengambil dompet dan kunci mobilnya, kemudian bergegas keluar. Dia melihat Rony menyambutnya seraya tersenyum lebar.
"Senyum tanda apa itu?" tanya Alzio.
"Lusa, aku akan liburan dengan pacarku." Rony berkata.
Hal itu membuat Alzio tertawa geli, "pergi liburan berdua dengan pacar. Sepertinya sangat menyenangkan."
"Tentu saja, perasaan ini nggak akan bisa dimengerti oleh kaum jomlo."
Tawa Alzio semakin keras, "sudah lama aku nggak mendengar kata-kata itu."
"Al, aku selalu penasaran kenapa pria sepertimu terbiasa sendiri.
"Bukannya terbiasa sendirian, hanya saja memang aku belum menemukan orang berada di sampingku."
"Dengan wajah tampan dan juga kemapanan sempurna seperti ini, aku rasa kau tidak perlu, berbuat banyak untuk mencari perempuan, mereka pasti datang dengan sukarela." Rony melebarkan senyumannya. "Bagaimana dengan Alisa?"
"Kenapa dengan dia?"
"Kalau aku lihat, dia sangat cantik, cerdas juga menarik. Kenapa nggak mencoba menjalin hubungan dengannya? Kalian selalu berduaan setiap hari di galeri, sangat mudah untuk menumbuhkan bibit cinta."
Alzio membuka pintu mobil. "Orang bilang, perasaan suka memang bisa tumbuh ketika sering bersama. Tapi aku rasa itu nggak berlaku untukku."
"Jangan bilang, kau sedang melakukan pendekatan terhadap teman onlinemu. Beritahu aku, seperti apa dia, Al? Jangan sampai aku menyelidikinya sendiri. Seharusnya kau berhutang padaku, karena aku yang menemukan alamatnya." Rony mencibir, memang hebat karena dia tidak berusaha untuk mencari informasi lebih lanjut tentang teman mabar Alzio. Tampaknya dia ingin mendengar kabar itu dari Alzio.
Alzio tidak mengatakan apa-apa, dia masih belum ingin menceritakan ataupun mengungkapkan kepada teman-temannya mengenai Aixa.
"Kau tersenyum senyum seperti orang gila, aku pikir, tampaknya dia seorang gadis yang menarik. Kalau tidak mana mungkin bisa membuatmu berlaku seperti ini," ejek Rony.
"Ron, jangan terlalu berlebihan, pada dasarnya di dunia ini, nggak ada orang nggak menarik. Hanya saja tergantung penerimaan pasangannya."
"Itu omong kosong, Al, semua orang boleh bilang menerima apa adanya. Namun faktanya, nggak semua orang bisa berbuat seperti itu."
"Makanya aku bilang, semua itu tergantung pasangan. Mau menerima apa tidak. Mau menganggap menarik apa tidak. Jadi, rencana untuk berlibur berduaan. Berapa hari?" Alzio melanjutkan topik yang tadi.
"Nggak lama, hanya tiga hari dua malam, dia juga nggak bisa lama-lama di sini."
Alzio cukup terkejut, ternyata hubungan Rony dan teman online-nya yang berlanjut di dunia nyata menjadi sangat serius sekarang.
"Lumayan, aku bisa merasakan ketenangan di rumah selama tiga hari."
"Sialan." Rony tertawa.
***
Alzio baru saja kembali ke kamarnya ketika dia memeriksa ponsel, dan ternyata ada dua panggilan tak terjawab dari Aixa.
Akhirnya dia mendapat kabar dari perempuan itu. Alzio tersenyum, saat melihat pesan yang dikirim oleh Aixa.
Alzio segera mengganti pakaian kemudian berbaring di atas tempat tidur, dia membalas pesan yang dikirimkan oleh Aixa.
"Bagaimana, apa kau menyukai hadiahnya?"
Setelah mengirim pesan tersebut, Alzio lalu tertawa. Dia pasti menyukainya, namun Aixa tidak enak hati. Dia tipikal perempuan yang seperti itu.
"Kenapa tidak ada kabar sejak tadi?" tanya Alzio. Apa dia tengah berkencan? Tetapi, berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan sebelumnya, Aixa terlihat belum memiliki pasangan. Jadi, dia pasti memiliki kesibukan lain. Alzio menenangkan dirinya, sedetik kemudian dia tersadar, kenapa dia berpikir seperti itu? Kalaupun Aixa telah memiliki kekasih, apa hubungannya dengan dirinya? Mereka hanya melakukan pertemanan di dunia maya. Tidak lebih.
"Aku pergi bersama abangku, tadi aku bertemu dengan temanmu Al, si pemilik galeri. Terus, aku dan abangku mengantar temanku pulang, setelah itu kami makan malam bersama di luar." Aixa menjelaskan dengan cukup panjang kenapa dia tidak membalas pesan dari Alzio.
Alzio tersenyum, rasanya lucu, dia mengetahui identitas Aixa dan juga teman-temannya sekarang. Namun, dia tidak bisa mengatakan itu. Bagaimana caranya untuk mengatakan kalau dia telah memenangkan pertarungan yang mereka lakukan sebelumnya? Dia harus memikirkan sebuah cara yang menarik.
"Al, hadiah yang kau kirim terlalu mahal. Kau memang sangat aneh. Aku nggak mengerti dirimu Al."
"Apa yang aneh dari memberi hadiah pada seseorang?"
"Kau seharusnya bisa menjawab pertanyaan itu tanpa perlu aku beritahu. Aku sangat menyukainya, namun walaupun begitu, tetap saja terlalu berlebihan."
Alzio belum lagi menjawab, Aixa kembali mengirimkan pesan.
"Aku terus memberikan gift padamu, namun tampaknya, hadiah yang kau berikan padaku kali ini melebihi nilai dari semuanya. Apa yang terjadi?" Tampaknya Aixa masih belum puas mencecarnya dengan pertanyaan.
"Aku baru saja memenangkan proyek, dan sebelum itu kau selalu menyemangatiku. Ini seperti balas jasa." Alzio berkata.
Aixa tidak membalas pesannya lagi, mungkin sedang berpikir apa yang sebaiknya dja katakan.
"Ayo kita bermain." Mereka bertemu di sebuah game yang bernama COS. Jadi, meningkatnya level pertemanan mereka seharusnya di dalam game itu juga.
Alzio kemudian melihat Aixa online di game, setelah itu dia membalas pesan dari Aixa.
"Ayo kita main satu pertandingan," ujar Alzio.
Aixa masih mengeluhkan tentang bagaimana Alzio telah mengiriminya sebuah skin limited yang harganya cukup mahal. Tapi dia berkata, kalau dia juga ingin bermain dan meningkatkan levelnya.
"Al."
"Ada apa?"
"Selain akun yang dengan ID Semut Merah, Apa kau memiliki akun lain?"
Mendadak Aixa menanyakan pertanyaan itu, itu membuat Alzio cukup terkejut. Apa Aixa telah mencurigai? Tapi mana mungkin.
"Kenapa bertanya begitu?"
"Temenku bilang, kau membuat akun yang lebih kecil untuk merayu para cewek."
Sontak Alzio tertawa, ternyata Aixa bukannya mencurigai ID Macan Belangnya. Tapi, dia memancing Alzio karena tidak ingin menjadi bahan rayuannya di dunia maya.
"Kau mencurigai kalau aku adalah tipe penggombal di dunia maya?"
"B-bukan seperti itu." Aixa menjawab dengan gugup. Nanti ketika mereka saling mengenal, Alzio akan mengajaknya saling bertatap muka. Pasti menyenangkan melihat rona merah di pipinya, ketika dia berbicara seperti itu.
"Kalau kau masih belum yakin padaku. Ayo kita bertemu."
"Apa?"
"Sepertinya aku yang memenangkan taruhan."
"Maksudmu apa, Al?"
"Ayo kita bertemu, Aixa."