Aixa kaget saat melihat Fitri pulang bersama dengan Reno. Seingatnya, tadi dia berangkat dengan pacarnya.
Karena penasaran, Aixa lalu bertanya pada Sheza, apa dia ketinggalan sesuatu saat tadi bersama dengan Alzio di ruangannya.
Sheza tertawa geli mendengar pertanyaan Aixa itu, "kalau untuk lebih tepatnya aku nggak tahu tapi yang lain menduga kalau pacar Fitri cemburu."
"Cemburu kenapa?" Aixa menatap wajah Sheza. Dia belum jadi memakai helm sejak tadi karena penasaran dengan pemandangan yang baru saja dia saksikan.
"Kau nggak lihat sih, sejak tadi, Fitri terang-terangan flirting ke Pak Alzio."
Mana Aixa tahu soal itu.
"Sejak berada di ruang pertemuan, sampai tempat pameran. Fitri tidak mau menjauh dari Pak Alzio. Bahkan, Reno saja tidak sampai seperti itu."
"Usaha Fitri boleh juga." Aixa tertawa.
"Tapi sepertinya, Pak Alzio seorang gentlemen, dia menanggapi Fitri seperti biasa. Aku rasa, Pak Alzio telah terbiasa ditempeli oleh para gadis sebelumnya."
"Jadi maksudnya pacar Fitri marah karena dia seolah menggoda Pak Alzio terus dia nggak mau pulang bersama Fitri lagi dan membuat Fitri menumpang dengan Reno, begitu maksudnya?" Aixa menjabarkan.
"Lengkap banget ceritanya. Kalau menurut analisa aku seperti itu, tapi aku nggak tahu kalau ada permasalahan lain. Kau tahu sendiri kan kalau pacar Fitri itu sangat bucin padanya, jadi dia tidak mungkin menelantarkan Fitri kalau bukan karena cemburu."
Aixa akhirnya memakai helm, dia naik ke boncengan Sheza. Untung saja, Sheza tidak menanyakan ke mana dia tadi. Karena pembahasan mereka teralihkan oleh Fitri.
"Aixa, bagaimana kalau kita nongkrong di cafe dulu sebelum pulang?" Sheza bertanya pada saat dia mengendarai motornya, nyaris berteriak.
Ternyata Aixa salah, tampaknya Sheza ingin menginterogasinya lebih lanjut. Jangan katakan kalau dia tahu soal undangan minum teh dari Pak Alzio.
"Boleh aja, tapi sebentar lagi gelap. Apa kau nggak masalah mengantarku pulang ke rumah sampai malam?"
"Nggak masalah juga sih, hitung-hitung latihan mental. Lagian komplek perumahanmu, kan, nggak terlalu rawan, Aixa."
"Kalau begitu, aku nggak akan masalah, ayo kita nongkrong di cafe. Tapi aku nggak bawa uang cash."
"Bilang saja kalau uang jajanmu sudah habis karena kau sibuk memberi hadiah pada idola virtualmu itu." Sheza mengomelinya.
Aixa tertawa, "Shez, kenapa kau sensitif sekali pada Al?"
"Bukan sensitif, selagi belum ada kejelasan tentang dia. Aku akan terus bersikap seperti ini, aku hanya khawatir dia hanya memanfaatkanmu."
"Aku nggak mendengar kata-katamu." Aixa berpura-pura. Padahal dia mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Seza.
Mereka kemudian mampir di sebuah kafe yang sangat dekat dengan rumah Aixa.
"Kalau kemalaman menginap saja di rumah." Aixa menawarkan.
"Mana bisa, aku nggak bawa pakaian ganti."
"Besok pagi langsung pulang. Atau nanti kalau Bang Raka ada, aku minta Bang Raka untuk mengiringimu.
"Nggak usah merepotkan Bang Raka. takutnya satu kali Bang Raka mengantarku pulang, besok-besoknya aku jadi kakak iparmu."
Aixa tertawa keras, "Bukannya itu lebih bagus? Aku jadi bisa lebih akrab dengan kakak iparku ketimbang dengan orang lain."
"Aku pikir tadinya kau memiliki hubungan khusus dengan Bang Raka." Sheza mengerlingkan mata.
"Jangan berpikir gila, Bang Raka itu abangku. Aixa menggelengkan kepala. Kau tahu mamaku juga bicara seperti itu. Bukankah ini aneh? Kenapa orang-orang begitu takut aku dan Bang Raka menjalin hubungan spesial. Padahal aku sama sekali nggak memiliki perasaan apapun padanya."
"Jadi bukan hanya aku yang berpikir seperti itu? Kalau begitu kau memang harus berhati-hati Ai."
"Berhati-hati bagaimana maksudnya?" Aixa memicingkan matanya.
Bisa jadi sekalipun kau nggak memiliki perasaan pada malah neraka tapi apa kau mengetahui apa yang ada di dalam hati bang Raka.
Aixa tidak menjawab pertanyaan itu dia sama sekali tidak akan menyukai Bang Raka karena sejak awal dia hanya menganggap Bang Raka adalah abangnya.
"Kau akan tahu kalau kau menyukai Bang Raka sebagai seorang laki-laki, kalau misalkan bakal membawa seorang pacar ke rumah dan perasaanmu nggak enak."
"Masalahnya Bang Raka belum pernah membawa pacar ke rumah. Jadi bagaimana aku tahu soal perasaanku? Tapi aku yakin, kalau aku benar-benar menganggap Bang Raka sebagai abangku, nggak lebih."
Kali ini Sheza mengangguk-angguk.
"Oke, sekarang kita akan mengganti topik pembahasan."
Aixa sudah menduga apa yang akan ditanyakan oleh Sheza ketika dia mengajaknya minum di kafe sebelum pulang ke rumah.
Sebelum Sheza bertanya, Aixa segera berkata. "Kau pasti ingin tahu ke mana aku tadi bukan?"
Sheza menyunggingka senyum lebar. "Aku mencarimu, tapi kau menghilang tanpa jejak."
"Secara kebetulan, dan aku beruntung Pak Alzio yang tampan dan keren itu tiba-tiba mengajakku untuk minum teh di ruangannya." Aixa memainkan alisnya.
Sheza tersenyum lebar.
"Kenapa reaksimu begitu?" Aixa menggelengkan kepalanya.
"Apa dia melakukan sesuatu yang, uhum," Sheza menaikkan alisnya.
"Shez, apa yang kau pikirkan sejak tadi? Pertama, kau berkata kalau aku dan Bang Raka memiliki hubungan spesial dan sekarang dengan Pak Alzio." Aixa mencibir.
"Terkadang pria tampan dan mapan belum tentu merasa hidupnya sempurna, mereka biasanya punya kebiasaan memelihara gadis-gadis muda." Sheza berkata sok tahu.
Aixa melihat Sheza dengan sebal. "Apapun yang menjadi bahan referensi-mu segera hentikan itu. Jangan sampai kau menjadi tidak bermoral."
Lagi-lagi Sheza tertawa. Sebelum bicara lagi, dia mengomel karena pesanan mereka terlalu lama datang.
"Jadi, apa kalian membahas mengenai teman virtualmu itu?" tanya Sheza.
Aixa menggangguk. "Tapi nggak banyak yang bisa aku dapatkan. Kau terlalu cepat memanggilku kembali."
"Mana aku tahu kau sedang bersama pria tampan itu. Aku hanya curiga karena kau tidak terlihat di mana-mana," sahut Sheza. "Lagipula, rombongan juga sudah mau pulang. Akan jadi aneh kalau aku tetap di sana."
"Aku harap kami akan bertemu lagi, aku ingin menanyakan soal Al."
Sheza tertawa keras. "Aku pikir, kau ingin bertemu lagi dengannya karena mengincarnya."
Aixa memicingkan mata. "Aku harus memastikan statusku dengan Al dulu sebelum berpindah ke pria lain, Shez."
"Kau terlalu jujur, Ai. Jadi, apa yang dia katakan? Apa yang kalian bicarakan? Ya ampun, aku penasaran banget."
"Dia hanya bilang kalau dia mengenal Semut Merah alias Al sebagai temannya dan mereka kenal karena pekerjaan." Aixa berkata. Tapi, pertemuannya dengan pemilik galeri bernama Alzio tadi sangat mengesankan. Aixa mengingat setiap detail pertemuan mereka. Mulai dari gerak gerik Alzio hingga aroma parfumnya.
"Sebenarnya aku mencurigai Kalau Pak Alzio adalah Al. Bagaimana mungkin ada kebetulan seperti itu? Mereka terlampau mirip." Aixa berkata jujur.
"Wah wah, ini luar biasa, kalau memang dugaanmu itu benar, berarti teman virtualmu ini punya kepribadian ganda. Bukannya kau pernah bilang kalau Al bersikap cuek dan seolah tidak peduli pada apapun. Tapi berbeda sekali dengan Pak Alzio, dia terlihat care dan perhatian. Bahkan terhadap Fitri yang menyebalkan, dia lihai merespon."
"Sebenarnya, Al bukannya cuek. Kami hanya berinteraksi di dunia virtual. Jadi, nggak bisa mengetahui ekspresi ataupun gestur tubuhnya."
"Kau yang lebih paham, Ai. Aku hanya menyimpulkan karena mendengar ceritamu."
"Tapi, kau memang benar, mereka seperti ada di dunia yang berbeda. Makanya aku jadi ragu, bisa saja mereka memang berteman dengan nama dan suara yang mirip. Bukankah kemungkinan seperti itu akan selalu ada?"
"Memang, tapi kalau benar, misalkan Pak Alzio adalah Al, aku rasa ini keren banget. Bayangkan, kau tiba-tiba punya koneksi dengan seorang pengusaha muda yang sangat tampan." Sheza tersenyum licik.
"Kenapa wajahmu seperti itu?"
"Aku hanya memikirkan apa yang akan terjadi pada Fitri. Aku rasa dia akan dendam kesumat padamu." Sheza cengengesan. "Oh ya Ai, aku melihat pertandingan streamingmu kemarin. Aku pikir terlepas dari kau main bersama semut merah yang jago, kau memang luar biasa. Kau berbakat."
Aixa tertawa. "Terima kasih atas pujiannya, itu sangat berarti bagiku." Aixa berkata dengan nada formal.
Mereka tertawa bersamaan. Sheza dan Aixa buru-buru menghabiskan minuman mereka yang sampai begitu lama.
***
Aixa mengetuk pintu kamar abangnya.
"Bang Raka." Aixa memanggil. Untunglah, abangnya sudah pulang dari kantor.
Selang beberapa saat kemudian, Raka membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Ai?" Dia bertanya.
"Apa Bang Raka lagi sibuk?"
Raka menoleh ke dalam kamarnya sebelum menjawab, "Nggak juga."
Sepertinya sibuk, Aixa ikut mengintip ke dalam kamar. Dia melihat laptop Raka menyala.
"Ai mau minta tolong, Sheza tadi nganterin Ai pulang. Dan sekarang udah larut, Bang Raka bisa nggak ngiringin dia sampai ke rumahnya?"
"Boleh saja, kalau begitu abang siap-siap dulu. Tapi, kau juga ikut."
Aixa mengiakan. Padahal dia sudah tidak sabar ingin main game. Online bersama Semut Merah dan membahas pertemuannya tadi dengan Alzio.
Mau bagaimana lagi, tidak mungkin membiarkan Sheza pulang sendiri dengan motornya.
"Kalau begitu, Ai ganti pakaian dulu."
Raka menggangguk. "Abang tunggu di mobil, bilang sama Sheza kalau dia juga bisa bersiap-siap."
Aixa bergegas kembali ke kamarnya. "Aku dan Bang Raka bakal ngiringin, dia udah nungguin di mobil. Turun duluan deh, aku mau ganti pakaian, Shez."
"Aku jadi merepotkan."
"Merepotkan apanya? Justru aku yang membuat repot, diantar jemput seharian ini."
Setelah ini, kayaknya Bang Raka akan protes padanya. Bukankah, tadi dia ingin mengantar Aixa ke kampus, tapi Aixa menolak. Sulit menyamakan jadwal dengan Bang Raka. Berapa harus pergi pagi-pagi, sedangkan kalau saya ikut dengannya. Dia akan menunggu terlalu lama di kampus.
Aixa menyusul Sheza dan Raka ke parkiran. Dia melihat, Sheza telah berada di atas motornya. Aixa membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Raka.
"Kenapa lama banget?" Raka melirik Aixa.
"Masa? Ai cuma ganti pakaian sama pakai parfum."
"Memangnya mau ke mana? Sampai harus pakai parfum segala."
"Namanya juga lagi pergi, jelas harus wangi. Siapa tahu bertemu cowok keren di jalan."
Raka tertawa geli. "Padahal setiap hari ketemu abang di rumah, apa abang kurang keren?"
"Abang, jelas beda, dong."
"Eh Ai, mumpung belum terlalu malam. Habis antar Sheza temani abang makan di luar, yuk."
Lho, bukannya tadi Bang Raka lagi ada kerjaan? Tapi, Aixa mengiakan ajakan abangnya itu.
***