Part 30 Memesona

1416 Kata
Aixa menatap ke arah pria di hadapannya dengan ragu. "Apa? Minum teh?" Aixa memastikan pendengarannya. Apa itu maksudnya, pemilik galeri bernama Alzio ini secara khusus mengundang Aixa untuk minum bersamanya ? Karena Aixa tidak melihat teman-temannya yang lain. "Ya, minum teh." Alzio mengulang. "Apa ajakannya kurang jelas?"! "Di mana?" Aixa malah bertanya demikian. "Di ruanganku," sahut Alzio. "Di ruangan Pak Alzio? Berdua saja?" Aixa bertanya ragu. "Nggak usah khawatir, ruang tunggu di ruanganku terlihat dari luar dan tidak tertutup. Jadi, nggak akan terjadi apa-apa." Aixa sedikit malu karena Alzio tampak mengerti apa yang ada dalam pikirannya. Lagipula, Aixa belum begitu mengenal Alzio untuk tahu apakah dia pria baik atau justru b******k. Karena melihat Aixa ragu untuk menerima tawaran itu, akhirnya Alzio berkata. "Bukannya kau teman dari Al? Dia yang memintaku menjadi sponsor acara kampus temannya. Kau pasti teman yang dia maksud." Mendengar kata-kata Alzio, Aixa jadi penasaran dan dia memutuskan untuk menerima tawaran itu. Ternyata Alzio mengetahui itu, tapi, bagaimana dia bisa tahu? Bukankah mereka baru saja bertemu. Aixa mengikuti Alzio dari belakang, perawakan Alzio memang sangat keren. Dia terlihat atletis, memasukkan sebelah tangannya ke saku celana. Aroma parfumnya disukai oleh Kaira seperti ada campuran kayu-kayu dan kesegaran citrus. Aixa diajak masuk ke ruangan Alzio, dan begitu dia memasuki ruangan itu. Dia seketika merasa matanya dibuai oleh estetika yang amat tinggi, pilihan perabotannya juga memiliki selera yang bagus. Aixa menyapu ruangan dengan matanya, seandainya dia boleh mengambil video ruangan itu. "Silakan duduk nona ..." Alzio bertanya siapa namanya. "Aku, namaku Aixa." "Nama yang unik." "Ya, terima kasih." Aixa meletakkan kedua tangannya di belakang. "Aku akan meminta asistenku untuk membuatkan teh, apa bisa menunggu sebentar?" Aixa mengangguk. Asistennya? Apa wanita itu yang akan mengantarkan teh? Alisa? Dia bekerja sebagai asisten yang sangat keren, apa dia juga membuat teh? Kening Aixa berkerut. Namun, dia duduk di sofa, berhadapan dengan Alzio. "Jadi, bagaimana kau mengenal Al?" tanya Alzio. "Secara online." Aixa menjawab singkat. "Begitu, apa kalian ikut aplikasi kencan?" Aplikasi kencan? Apa yang dipikirkan pria ini? Aixa menjadi bingung. Oh, mungkin semacam aplikasi perjodohan. "Bukan, bahkan sangat jauh dari yang namanya aplikasi kencan." Entahlah, untuk saat ini Aixa belum bisa memastikan apakah Alzio hanya berpura-pura, dari suaranya saja sedikit mirip dengan Al, bisa saja dia sebenarnya adalah Al. Alisa membuka pintu, membawakan dua cangkir teh. Dia menyuguhkannya di depan Alzio dan Aixa. "Terima kasih." Aixa berkata. Alisa tersenyum dan dia kemudian meninggalkan ruangan Alzio. Aixa kemudian memandang Alzio. "Apa seorang asisten, juga membuat teh?" Dia bertanya. Alzio tertawa, "Kenapa bertanya seperti itu? Apa pekerjaan membuat teh itu sesuatu yang memalukan?" "Bukan begitu, aku hanya bertanya soal job description asisten galeri." Aixa berkata lagi. "Aku juga sering membuat minumanku sendiri." Alzio tertawa. "Begitu ya?" Aixa seolah ragu. Sikap Alzio memang tampak misterius. "Pak Alzio berteman dengan Al di mana?" Aixa langsung bertanya tanpa basa-basi, dia takut, kalau memang Alzio bukanlah Al, pertemuan mereka hanya sebentar saja. Dia ingin mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang Al, agar dia memenangkan taruhan. "Di mana? Maksudnya?" "Maksudku, Al itu apakah teman sekolah atau partner kerja. Yang menghubungkan Pak Alzio dengannya." "Kami kebetulan kenal karena pekerjaan." "Pekerjaan apa?" "Al nggak mengatakan soal pekerjaan." Aixa menggelengkan kepala. "Entahlah, sejujurnya aku mengira kalau Pak Alzio adalah Al." Alzio tampak terkejut. "Mengapa begitu?" "Karena beberapa hal, nama yang mirip, suara yang mirip. Dan, kalian berteman. Sebenarnya, aku saja nggak mengetahui bagaimana dan siapa dia sebenarnya." Aixa berkata jujur. Alzio tersenyum simpul melihat betapa ekspresifnya Aixa. "Bagaimana kalau minum dulu?" Alzio menawarkan. Aixa menyeruput tehnya. "Ruangan ini juga sangat keren, teman temanku berkata kalau mereka sangat ingin bekerja di sini." "Sejak tadi aku dipuji terus, takutnya itu membuatku jadi besar kepala." "Itu kenyataan." Aixa tidak berbohong, dia mendengar Reno beberapa kali mengatakan itu. Kalau dia ingin bekerja di galeri semacam galeri Alzio. Seperti dugaan Alzio. Aixa adalah orang yang terbuka dan apa adanya. Terkadang, ada orang-orang yang ceria hanya mengobrol di dunia online. Tetapi, tidak di dunia nyata. Faktanya, Alzio menemukan kalau Aixa sama saja. "Bagaimana bisa bertemu dengan Al?" Aixa terlalu tegang sampai dia melupakan jawaban dari pertanyaan itu. "Apa yang begitu membuatmu penasaran? Kau belum mengatakan, sebenarnya, di mana kalian bertemu?" tanya Alzio. "Kami bermain game yang sedang fenomenal. City of Sin, apa Pak Alzio pernah mendengarnya?" "Tentu saja." Alzio tidak berbohong soal ini "Kalau begitu, apa Pak Alzio bermain?" "Sesekali bersama teman." "Jadi Pak Alzio main? Bagaimana kalau kita berteman di game?" Aixa masih melancarkan serangan, namun tidak terlihat agresif. Alzio tertawa, "aku sudah lupa akunku. Seingatku, udah beberapa bulan yang lalu dan aku nggak pernah aktifkan yang lagi. " Mungkin saja akunnya sudah ditutup. Aixa tidak tahu dia jujur atau hanya tidak ingin berteman dengan dirinya, dia juga bermain cos sekalipun mungkin tidak terlalu aktif. Aixa memperhatikan Alzio meminum dari cangkir tehnya, terlihat sangat anggun. Oh, padahal dia seorang lelaki, kenapa dia terlihat anggun dan elegan? Alzio juga sangat, yah tampan. Aixa sampai deg-degan berada di dekatnya, bukan karena dia kegenitan, tapi karena berduaan di satu ruangan dengan seorang pria dewasa, selain abangnya. "Ternyata, aku bisa berkenalan dengan seorang gamer perempuan. Suatu kebanggaan." Aixa memicingkan mata. Dia semakin curiga, tapi, Aixa juga tidak bisa serta merta bertanya apakah Al membohonginya selama ini. Ternyata pria di hadapannya, adalah teman mabarnya selama ini. Bagaimana kalau dia salah? Pasti akan sangat memalukan. Dia akan bertemu berapa kali lagi dengan Alzio untuk urusan kegiatan, tidak akan melakukan itu sampai dia mendapatkan bukti yang otentik. "Aku pikir, seperti itu tidak nyata." Aixa bergumam. "Kenapa begitu?" "Yah, saat berada di dunia maya. Sosoknya terlalu sempurna, kurasa, nggak ada pria seperti itu di dunia nyata." Alzio tertawa terbahak, mencengangkan. Bahkan di dunia nyata, bertemu dengan rambut merah membuatnya ceria. Sebenarnya tidak ada yang lucu dari kata-kata Aixa, mungkin, dia yang bersikap berlebihan. Karena mereka, cara menjalin keakraban saat berada di dunia maya. "Jadi, sepertinya aku harus menasehati temanku, Al. Agar dia menemui Aixa nanti. Bagaimana?" "Nggak perlu, Pak, aku juga nggak suka terlalu memaksa." "Bagaimana kalau memanggilku dengan sebutan Zio. Aku kurang suka dipanggil bapak, seperti sudah terlalu tua saja." "Itu, jadi kurang sopan." "Kurang sopan kalau si pemilik nama nggak menyukainya, sangat wajar Rossi pemilik nama yang memintanya. Kalau Aixa memanggilku dengan nama saja, itu kan lebih baik." Aixa tidak menyadari, kalau teh di dalam cangkirnya telah habis. Tandanya, dia sudah berbincang cukup lama dengan Alzio. Aixa memeriksa ponselnya, begitu banyak panggilan dari Sheza. Pastilah amat marah. "Pak Alzio sepertinya, aku harus kembali ke tempat teman-temanku. Soalnya aku pulang bersama teman." "Oke, sampai bertemu lagi." Alzio tersenyum. Saat beranjak dari ruangan Alzio, Aixa berhenti dan menoleh ke belakang. Alzio masih tersenyum memandangnya. Seharusnya, Aixa meminta nomor ponsel atau emailnya. Tapi, sudahlah, semoga nanti mereka bisa berbicara lagi pada saat kegiatan berjalan. *** Alisa mengetuk pintu ruangan Alzio. "Alzio, anak-anak itu sudah pulang." Alisa berkata. "Baguslah." "Tampaknya mereka sangat senang bertemu denganmu." "Itu lebih bagus lagi, aku juga senang bertemu dengan mereka." sahut Alzio. "Aku rasa, ada beberapa mahasiswa yang merasa sumpek berkutat dengan tugas kuliah, saat melihat karya seni, mereka berpikir kalau itu adalah sebuah penyegaran." Alisa mengangguk setuju. "Siapa gadis yang kau ajak minum teh, Zio?" "Bukankah itu salah satu mahasiswa, kau melihatnya juga, kan, Alisa?" "Ya maksudku, kau secara khusus mengundangnya ke ruanganmu. Dan tampaknya, kau sangat gembira saat tadi berbincang dengannya." Alzio menaikkan alis. "Dia adalah teman dari temanku yang merekomendasikan para mahasiswa untuk menerima sponsor kegiatan dari kita." "Oh, aku mengerti. Sudah lama nggak mendengarmu tertawa seceria itu." "Alisa, kau terlalu over thinking, karena memang belakangan ini, aku tidak memiliki teman bicara. Maksudku, teman-temanku sudah jarang datang ke galeri." Alisa tersenyum. "Mungkin baik juga, bekerjasama dengan para mahasiswa ini. Membuat, kita jadi merasa muda kembali." "Kita memang masih muda." Alisa tertawa. "Itu memang impian setiap kaum perempuan, Zio." Alisa kemudian keluar dari ruangan Alzio. Alzio kembali fokus menekuni layar laptopnya. Tapi kemudian, dia kehilangan fokusnya lagi. Alzio mengingat bagaimana Aixa tadi bertemu dengannya, bahkan di ruangannya, masih tertinggal keceriaan gadis itu. Betapa ekspresinya saat melihat Alisa mengantarkan secangkir teh, sangat unik. Dia juga tidak dibuat-buat. Oke, sepertinya, kali ini Alzio yang akan menjadi penggemar gadis itu. Setelah selama ini, Aixa mengiriminya banyak gift ketika dia melakukan streaming. Alzio tahu kalau, Aixa tengah mengincar sebuah skin dari hero favoritnya yang harganya cukup mahal. Dia kemudian membuka akun game COS-nya, mengirimi sebuah hadiah untuk Aixa. Ini pertama kalinya, dia mengirimi teman mabarnya itu. Alzio belum bisa menduga apakah Aixa akan gembira atau justru panik dengan hadiah tersebut. Nanti malam, saat Aixa membuka akun gamenya. Dia pasti akan langsung menghubungi Alzio. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN