Part 29 Curiga

1009 Kata
Alzio nyaris tertawa geli, saat melihat ada Aixa di sebelahnya. Menatapnya begitu lekat, seakan bola matanya ingin keluar. "Ada apa?" Alzio bertanya dengan suara yang sedikit dibuat-buat, agar tidak terlalu kentara dengan sosok Semut Merah. Aixa menggeleng. Kemudian dia tersenyum, "semua ingin bertemu dengan pemilik galeri. Dan, aku juga seperti itu Pak." Aixa tampak percaya diri dengan kata-katanya, dia sama sekali tidak takut untuk mengemukakan apa yang ada di dalam pikirannya. Tapi sayangnya, Aixa melihat pada wajahnya seolah ada rasa curiga yang amat besar. Tentu saja, siapa yang tidak curiga. Hanya orang bodoh. Pertamanya, semut merah berkata kalau dia memiliki teman seorang pemilik galeri yang akan membantu mereka dalam kegiatan kampus. Kedua, semut merah mengaku bernama Al dan pemilik galeri adalah seseorang yang bernama Alzio. Terlalu mirip untuk menjadi sebuah kebetulan. Yang ketiga, mereka beberapa kali berbicara di telepon. Saat mendengar suara Alzio, pastilah Aixa akan semakin curiga. Karena itu dia mendekat, seperti anjing pelacak dan mulai mengawasi sosok Alzio. Alzio memperhatikan Aixa, rambutnya panjang bergelombang sepunggung, dia manis, sekaligus cantik. Senyum dan matanya menawan, suaranya juga merdu Walau terkadang terdengar nyaring saat dia sedang cerewet saat mereka berbincang di telepon. Oh ya, tampaknya, Alzio menyukai semua ada di dalam dirinya. Tadinya Alzio berpikir, kalau Aixa akan menanyakan sesuatu padanya. Tapi ternyata, dia hanya bungkam, memperhatikan saat Alzio bicara dengan mahasiswa yang lain. Dia sedang mengawasi, atau sedang mencari cara untuk mengungkapkan apa yang terjadi? Mengungkap identitas Semut Merah dan menjadi pemenang taruhan. Karena Alzio belum mengatakan padanya kalau dia telah berhasil mengetahui siapa sosok Rambut Merah. "Ternyata pemilik galeri masih muda dan tampan banget." Seseorang memujinya. "Terima kasih pujiannya." Alzio memperhatikan sosok mahasiswi yang sejak tadi berada di dekatnya bersama Reno. Dia terlihat ceria dan bersemangat. "Oh ya perkenalkan Pak, nama saya Fitri. Kebetulan saya sangat menyukai lukisan-lukisan di sini." "Terima kasih sekali lagi." "Kebetulan juga papa saya merupakan seorang kolektor lukisan, nanti saya akan merekomendasikan galeri ini ke Papa saya." Dia masih terus bicara, sehingga memotong pembicaraan antara Alzio dan Reno yang masih membahas seputar kegiatan di pesisir. Alzio masih mencari keberadaan Aixa, semoga saja dia tidak terlalu kentara, Alzio kemudian melihat Aixa sedang berbincang dengan teman wanitanya. Mungkin itu adalah Sheza, teman yang sering dia katakan ingin ikut bermain bersama mereka. Tetapi tidak diizinkan oleh Aixa. Alzio kemudian mengajak rombongan mahasiswa menuju ke ruang pameran lukisan, hari ini tidak terlalu ramai pengunjung. Dia kemudian memperkenalkan beberapa aliran lukisan yang dia sukai dan juga beberapa pelukis yang lukisannya sedang diincar. "Apa Pak Alzio tidak memiliki kesibukan hari ini? Reno bertanya,"kalau memang bapak memiliki aktivitas lain, nggak masalah, Pak. " Sedari tadi Reno terus berada di dekatnya juga, tapi itu wajar saja, karena memang dia adalah penanggung jawab untuk kegiatan yang akan mereka lakukan. "Tenang saja, aku sudah mengosongkan jadwal untuk sore ini. Karena sore ini sudah aku jadwalkan untuk bertemu kalian, Alisa bilang kemarin kalian langsung visit ke lapangan. Nanti kabari aku kapan kunjungan kedua ke lokasi, semoga aku bisa ikut." Reno terlihat amat sumringah, "untuk kegiatan kedua, maksud saya, kunjungan kedua ke lokasi sudah kami jadwalkan pak. Kalau bapak bisa ikut itu adalah hari Rabu depan." Alzio menganggukkan kepalanya. "Aku akan mengecek jadwalku di Alisa, semoga saja bisa dikosongkan." "Kami berterima kasih lagi atas bantuan bapak." Reno tersenyum lebar. "Kalau begitu, kalian silakan melihat-lihat, aku akan ke ruanganku sebentar. Nanti aku akan kembali lagi." Alzio berkata. Dia berpamitan pada mahasiswa yang sedari tadi bergerombol di sekelilingnya. "Baik Pak, terima kasih atas waktunya." Alzio tertawa melihat bagaimana Reno begitu gugup. Dia kemudian berrkata sambil menumpuk punggung pundak Reno. "Nggak usah bicara terlalu formal denganku dan sebaiknya nggak perlu memanggilku bapak." "Kalau begitu, aku akan memanggil dengan sebutan Bang Zio." "Begitu lebih baik." Alzio tersenyum. Dia kemudian meninggalkan ruang pameran. Alzio kembali mencari-cari sosok Aixa, tapi dia tidak bisa melihatnya di sana. Apa gadis itu pulang lebih awal? Alzio berencana menelpon Aixa di ruangannya, berpura-pura menanyakan kegiatan apa saja yang dia lakukan hari ini. Dia juga ingin mengetahui reaksi Aixa setelah bertemu dengan sosok Alzio yang dipercayai sebagai pemilik galeri dan merupakan teman dari Al. Ke mana dia pergi? Tapi saat Alzio berjalan di koridor, dia mendengar suara langkah berlari-lari kecil mendekatinya. Alzio seketika berhenti dan menoleh, ternyata itu adalah Aixa. Saat berlari mendekat, rambutnya melayang seiring langkahnya. Dia berpenampilan kasual namun rapi dan feminin. Kepribadiannya itu memang terasa oleh Alzio selama mereka berinteraksi. "Pak Alzio." Aixa terlihat mengatur nafasnya. Dia berdiri tegap di hadapan Alzio. "Maaf kalau saya lancang." Sesuai dugaannya, Aixa memang tidak bisa menahan diri untuk berbicara empat mata dengan Alzio. Dia mulai mengira-ngira apa yang akan ditanyakan Aixa padanya. "Ada apa?" Berpura-pura tidak mengetahui dan tidak mengenali sosok Aixa dan sebenarnya dia merasa bersalah untuk itu. Misalkan dia kemarin telah mengakui kalau dia telah mengetahui identitas Aixa, mungkin pertemuan ini akan menjadi pertemuan pertama mereka secara real. Tapi sayang sekali, Alzio masih berencana untuk menjalin hubungan virtual dengan teman mabarnya. "Apa Pak Alzio terburu-buru?" Aku tadi terburu-buru karena ingin menelponmu dan berhubung sekarang jau ada di hadapanku. Tentu saja aku nggak terburu-buru lagi. Alzio berkata dalam hatinya, tidak mungkin dia mengatakan itu pada Aixa. "Nggak. Apa ada sesuatu yang ingin disampaikan? tanya Alzio. "Begini, bagaimana mengatakannya. Maaf kalau saya lancang, tapi saya ingin bertanya apa teman Pak Alzio yang merekomendasikan proposal kami ke bapak tidak datang hari ini?" Aixa cukup pintar memancing pertanyaan, walaupun terlihat jelas kalau pertanyaan itu merupakan suatu bentuk rasa penasaran, sama sekali tidak berhubungan dengan kegiatan yang akan mereka lakukan. "Maksudnya Al?" Lagi-lagi Alzio tertawa di dalam hati, kalau nanti Aixa mengetahui. Dia pasti amat marah karena merasa dibohongi. "Iya, benar itu namanya." Aixa berkata dengan semangat. "Jelaskan perbedaan, memangnya untuk apa?" Alzio berkata. "Siapa tahu saja." Namun tampaknya Seira memiliki pertanyaan terakhir juga. "Kalau boleh tahu, bisakah saya mendapat kontak dari pak Al? Ada beberapa hal yang ingin saya katakan?" "Apa Al nggak memberi tahu bagaimana cara menghubunginya?" Alzio masih berpura-pura tidak tahu. Aixa tidak menjawab, dia diam saja. Pastilah terasa menyebalkan terhadap rasa ingin tahu dak tidak tahu harus bersikap bagaimana. "Apa kau ingin minum teh?" tanya Alzio.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN