Aixa memandangi Sheza cukup lama.
"Ada apa sih?" Sheza sudah menduga, sejak tadi sikap Aixa sedikit aneh.
"Apa sempat kalau kita pulang dulu sebelum berangkat ke galeri?" tanya Aixa.
Sheza mengerutkan keningnya, kalau di sempat-sempat ya sempat. Tapi jadi capek bolak-balik. Memangnya ada apa?"
Aixa melebarkan matanya, "aku mau mengganti pakaian. Masa kita pergi ke sana kucel dan dekil begini? Sudah lecek seharian di kampus."
Sheza melongo menatapnya, bukankah selama ini mereka selalu pergi ke galeri dari kampus tanpa mempedulikan penampilan?
"Iya, kalau begitu kita pergi ke kos siapa dulu yang di dekat kampus dan numpang pakai make-up." Aixa berkata lagi.
"Terserah saja, kalau begitu aku akan bertanya pada Icha. Apa dia mau menampung kita di kos-kosannya atau nggak?"
Mendengar perkataan Sheza, Aixa mengerling gembira. Sheza segera mengirim pesan pada temannya, berkata kalau mereka akan mampir sebentar ke sana. Sheza kemudian melihat ke arah Aixa lagi.
"Sekarang katakan padaku apa yang terjadi, kau pasti memiliki suatu tujuan. Jangan bilang kalau dugaanku ini nggak benar?"
Aixa tertawa. Sepertinya dia punya alasan yang cukup layak dikatakan pada Sheza tanpa harus terlihat besar kepala.
"Kau tahu kalau pemilik galeri adalah temennya Al, siapa tahu nanti dia sampaikan pada Al kalau penampilanku terlihat kacau."
"Bukannya Al nggak tahu coba siapa identitas Rambut Merah?" Sheza menyelidik.
"Benar, tapi kau tahu soal taruhan? Bagaimana kalau sebenarnya dia udah mengetahui siapa identitasku. Terus diam-diam menyelidiki?" Aixa sejak kemarin kerap berpikir seperti itu.
"Sepertinya kau berpikir terlalu berlebihan, tapi itu masuk akal sih."
"Soalnya, pembicaraan beberapa waktu yang lalu itu, tiba-tiba saja Al menjurus ke arah itu." Aixa menjelaskan.
"Menjurus ke arah kalau dia mengetahui identitasmu?" tanya Sheza memastikan.
Aixa menggangguk. "Dia bilang kalau dia nggak sabar menjadi bagian dari kehidupan nyataku. Bagaimana menurutmu, apa mungkin itu suatu pertanda?"
"Wah, ini gawat Ai. Jangan-jangan kau harus mulai bersiap-siap untuk menyiapkan permintaan pemenang taruhan."
"Benarkan? Kau juga berpikir seperti itu? Kalau dia telah menduga atau mengetahui identitas asliku. Menurutmu, apa dia bersikap aneh kalau dia mengetahui identitas asliku?" Aixa mendesah.
"Entahlah, aku pikir dia berani mengajakmu taruhan karena dia memiliki akses untuk mengetahui siapa kau sebenarnya. Bagaimana kalau seperti itu?"
"Mungkin saja. Aku jadi cemas."
"Kenapa kau harus cemas? Dia pasti merasa beruntung karena teman mabarnya sangat cantik. Kau juga sangat cerdas, jangan merasa nggak percaya diri begitu. Justru dia yang sebaiknya merasa insecure dengan kehadiranmu."
"Sepertinya kau terlalu berlebihan Shez, dia seperti seorang eksekutif muda yang sudah mapan, rasanya aku nggak cocok untuknya."
"Ya ampun, kita juga kalau bekerja mungkin bisa lebih keren dan terlihat seperti wanita karir, sekarang,bkita tunggu saja seperti apa orangnya nanti. Kalau kita sudah mengetahuinya, kita bisa mengatur rencana lebih lanjut."
Aixa tertawa. "Eh, bagaimana? Apa udah ada kabar dari Icha? Ayo kita ke kosnya sekarang."
"Astaga, aku sampai lupa." Sheza mengecek ponselnya. "Icha bilang dengan senang hati."
"Kalau begitu ayo buruan. Bilang sama Reno kalau kita menyusul."
***
"Alzio, anak-anak udah ada di bawah." Alisa masuk ke ruangannya, memberitahukan bahwa mahasiswa magister yang akan bekerjasama dengan galeri mereka telah tiba di ruang rapat.
"Oke, aku akan menemui mereka sebentar lagi." Alzio tersenyum.
Setelah mengetahui nama asli dari rambut merah, juga melihat sedikit foto profilnya di akun media sosial yang di private. Mendadak Alzio seperti anak remaja yang tengah mengalami cinta monyet di masa remaja. Tersenyum-senyum sendiri saat mengetahui kalau dia akan segera bertemu dengan sang pujaan hati.
Foto Kelly, tidak Aixa, sangat cantik. Sungguh sangat cantik, Alzio tidak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata.
Tapi, saat ini banyak sekali filter-filter yang bisa membuat wajah seseorang menjadi sangat berbeda dengan yang asli, karena itu Alzio ingin memastikan. Sebenarnya, dia menduga kalau nanti saat mereka bertemu, Aixa akan menaruh curiga padanya. Nama inisial mereka amat mirip dan lagi saat dia berbicara, Aixa akan menyadari kalau suaranya sangat mirip dengan sosok teman online-nya selama ini.
Alzio memandangi wajahnya di kamera ponsel, sungguh menggelikan, ternyata dia sama saja dengan kaum perempuan yang sedikit berlebihan saat akan menghadapi kencan pertama.
Pertemuan pertama harus mengesankan, itulah yang ada di dalam pikiran Alzio.
Alzio berjalan menuju ruangan rapat toko tempat diadakannya pertemuan dengan para mahasiswa. Dia memasuki pintu masuk ruang rapat para mahasiswa, berdiri untuk menyambutnya dan bersalaman.
"Maaf, Pak, karena ini mendadak, hanya sebagian panitia yang bisa ikut." Reno menjelaskan.
"Nggak apa, salahku juga karena aku baru baru bisa mengajak untuk bertemu saat ini." Alzio tersenyum.
"Kami tahu bapak pasti sibuk," sahut Reno lagi.
Dia meminta para mahasiswa untuk duduk kembali. Setelahnya dia memanggil Alisa untuk membacakan poin-poin yang telah mereka lakukan sampai dengan sekarang.
Mata Alzio menyapu ke sekeliling ruangan, dia tidak melihat sosok dengan penampilan yang mirip dengan Aixa pada foto di media sosialnya. Benarkah kalau ternyata foto itu amat menipu?
Sudahlah, nanti dia akan mencari tahu siapa yang bernama Aixa dalam kepanitiaan.
Tapi ternyata rencana Alzio tidak perlu dilakukan karena tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dan ada dua mahasiswa yang baru saja masuk karena terlambat. Sekali lihat Alzio langsung mengetahui kalau itu adalah sosok Aixa. Rupanya bahkan melebihi ekspektasi Alzio, gadis itu sangat luar biasa. Dia terlihat ceria dan bersemangat.
Aixa menoleh ke arah Alzio dan mereka bertatapan sepersekian detik, sebelum kemudian dia mengalihkan pandangannya lagi.
Itu adalah rambut merah, sangat memesona, untuk pertama kalinya dalam kehidupan Alzio setelah sekian lama, dia merasa seluruh ruangan yang ramah itu menjadi hening karena bertemu dengan seseorang yang sejak lama ingin dia temukan.
Beberapa kali Alzio merasa kalau Aixa menatapnya, mungkin ada sebuah kecurigaan di sana, kalau sosok teman online-nya adalah orang yang saat ini sedang berhadapan dengannya.
Dan sekarang Alzio adalah pemenang dari taruhan yang mereka lakukan, kira-kira hadiah apa yang dia inginkan dari sosok Aixa?
Alzio memperhatikan penjabaran dari Reno mengenai kegiatan, sejujurnya dia sangat menyukai aktivitas seperti ini. Ketika masih mahasiswa dulu, beberapa kali Alzio aktif dalam mengadakan acara dan dia sangat menyukainya.
Alzio memperhatikan Aixa berbisik-bisik dengan temannya, pasti itu adalah teman akrab di kampus seperti yang dia pernah ceritakan, mereka belum pernah bertemu selama ini, tapi seolah Alzio mengetahui semua yang terjadi pada diri Aixa.
Sekarang Alzio berusaha untuk tetap fokus pada jalannya pertemuan, bukan pada gadis menarik yang sejak tadi terlihat mencuri pandang ke arahnya.
Alzio memang terlalu kentara, kenapa juga dia harus menyebut kalau namanya adalah Al? Harusnya dia mencari sesuatu yang berbeda sehingga kecurigaan Aixa bisa sedikit ditahan. Jadi, dia bisa berpura-pura tidak mengetahui identitas Aixa sedikit lebih lama lagi.
Contohnya Aixa, dia memilih nama Kelly yang membuat Alzio tidak bisa menduga sama sekali siapa namanya ketika membaca nama-nama pada proposal?
Pertemuan itu berakhir dengan Alisa membagikan kue kotak pada para mahasiswa. Reno segera mendekati Alzio, dia tampak sangat gembira hari ini karena akhirnya berhasil bertemu dengan pemilik galeri yang selama ini sangat sulit untuk ditemui.
Alzio tentu dia terus-menerus mencari keberadaan Aixa. Sampai mendadak sosok itu ada di sebelahnya.