Part 27 Masa yang Akan Datang

1036 Kata
"Ai, coba cek grup. Reno mengirim pesan ke sana." Aixa mengambil ponselnya kemudian memeriksa percakapan di grup kepanitiaan. "Sore ini, kita akan ke galeri lagi?" Aixa menatap ke arah Sheza. Sheza mengangguk. "Sepertinya begitu, kabarnya kali ini permintaan khusus dari pemilik galeri. Dia ingin bertemu dengan kita." "Wah, kenapa dia nggak bertemu di jadwal selanjutnya saja?" "Mana aku tahu, tapi Alisa berpesan kemarin kalau misalkan nggak semua bisa hadir itu juga nggak masalah. Katanya siapa yang bisa aja." "Pemilik galeri ingin bertemu, jelas saja ini merupakan kesempatan yang langka. Aku akan pergi, kau bisa, kan? Aku harus menumpang padamu, Shez." Aixa ingin memastikan sosok Alzio, siapa tahu dia bisa mendapat informasi sedikit mengenai Semut Merah. "Apa ada yang kau rencanakan, Ai. Kenapa sepertinya tampak bersemangat?" "Nggak ada, aku bersemangat tentu saja demi kelancaran acara." Sheza meliriknya. "Aku nggak percaya ini, katakan, apa ada sesuatu yang kau pikirkan?" Aixa menggeleng. Dia tentu ingin bercerita pada Sheza, tentang kecurigaannya pada sosok pemilik galeri yang bernama Alzio. Namun, dia juga tidak ingin terlalu bersikap percaya diri. Bagaimana kalau kecurigaannya itu salah? Dia pasti sangat malu. "Katanya pemilik galeri merupakan seorang pria yang sangat tampan. Lumayan juga kita ke sana, bisa cuci mata." Sheza menggoda. Entahlah, Aixa hanya pernah melihat foto lelaki itu di artikel yang terbatas. Dia tidak suka publikasi dan foto-fotonya juga tidak terlihat jelas, bagaimana bisa mengetahui kalau dia adalah seorang pria yang tampan? "Aku rasanya nggak sabar menunggu nanti sore." Sheza mengangkat kedua tangannya. Kenapa jadi dia yang bersemangat? Padahal tadi, Sheza terlihat tidak terlalu berminat. Pastilah dia penasaran kenapa Aixa bersemangat untuk pergi. Dibandingkan dengan pria, tampaknya, sahabatnya itu lebih tertarik pada kehidupan pribadinya. Aixa menggelengkan kepala. "Kenapa belakangan ini Fitri tampak kalem?" Aixa bertanya pada Sheza. Sheza tertawa. "Pengin kasihan tapi geli juga." Sheza terkikik geli. "Memangnya ada apa, sih?" "Ya. Setelah dia kalah dari turnamen kemarin, dia udah nggak banyak omong lagi." Sheza memang cepat mendapatkan informasi. "Kenapa begitu? Bukannya kalah menang itu biasa? Lagian, seorang Fitri nggak mungkin semudah itu menyerah. Bukannya dia selalu menggembar-gemborkan bagaimana dia berusaha amat keras untuk meraih apa yang diinginkan?" "Masalahnya nggak semudah itu, dalam turnamen kemarin, dia benar-benar menjadi beban dalam tim. Kemampuannya benar-benar parah, ditambah lagi dia egois saat pemilihan hero di awal." "Kasihan juga, mungkin dia udah berusaha dengan keras. Lagipula, mencoba untuk mengikuti turnamen saja butuh kepercayaan diri yang luar biasa. Aku mungkin nggak akan berani." "Bagaimana mengatakannya, sebenarnya, kalau seandainya dia nggak terlalu sering menghujat orang lain. Mungkin aku juga nggak akan terlalu kasihan, masalahnya dia punya penyakit yang beranggapan kalau semua orang itu berada di bawahnya dan bukan kelasnya." "Begitu, ya?" Sebenarnya Aixa tahu itu, hanya saja dia tidak menjabarkannya seperti yang Sheza lakukan. "Aku harap ini jadi pelajaran buatnya." Memang akhir-akhir ini Aixa jarang mengikuti perkembangan, karena dia sibuk dengan tugas kampus dan juga memikirkan soal Semut Merah. Apalagi setelah percakapan malam minggu kemarin, jika dia pergi dengan Raka abangnya. Al berkata kalau dia tidak sabar ingin menjadi bagian dari dunianya yang nyata. Namun sejauh ini, tidak ada tanda-tanda ataupun isyarat kalau Alil ingin bertemu dengannya. Kemarin juga, dia berkata ingin mengajak Aixa main bersama teman-temannya. Faktanya, sampai saat ini, itu juga belum terlaksana. Al memilih mereka mabar berdua saja dengan tiga orang dari global. Padahal lebih menyenangkan kalau main bersama. "Shez, bagaimana kalau nanti kita pakai motor aja. Nggak usah ikut nebeng di mobil Reno?" "Aku terserah aja." "Soalnya aku pengen nonton, temani yuk." Sheza mengangguk. Aixa melihat ke ponselnya. "Aku ingin sekali membeli skin hero. Sekarang lagi keluar skin rare-nya yang lucu banget. Tapi aku nggak punya uang." Aixa mengeluh. 'Sebenarnya bisa saja minta sama Bang Raka, tapi kalau dia tahu itu hanya untuk membeli kostum di game yang nggak penting menurutnya. Bang Raka pasti malah mengomeli aku." "Ai, bukannya kau sudah menghabiskan uang jajan mu untuk memberi gift pada semut merah? Kau masih punya uang untuk nonton." "Kemarin aku minta sama Bang Raka, sebentar lagi juga awal bulan. Bakal dapat jatah uang saku bulanan lagi dari mama." Kalau Aixa meminta uang jajan dari ayahnya, ayahnya pasti langsung memberikannya. Tapi sejak dulu, dia berusaha untuk tidak meminta dari ayahnya apabila sangat terpaksa. Lagipula, jatah bulanan dari ibunya sebenarnya sudah sangat besar. Bulan ini, dia memang boros memberikan hadiah untuk Al. "Apa nggak sebaiknya, kita juga mencari seseorang yang bisa memberi kita banyak hadiah-hadiah??" Sheza berkata. "Maksudnya, di dunia nyata atau ketika bermain game?" "Tentu saja di dunia nyata, kalau kita ingin sesuatu kita tinggal bilang. Enggak perlu pusing." "Tanpamu aku ini apa, Shez." Aixa berkata. "Eh, nanti kalau aku emang ingin, aku terpaksa merayu Bang Raka. Bang Raka juga mau mengganti mobilnya." "Semakin keren saja Bang Raka. Ai, apa kau nggak berniat menjadikanku sebagai kakak iparmu?" Aixa tertawa geli, "itu bukan terserah padaku, Shez, kalau kau mau kau boleh mendekatinya. Aku nggak akan melarang." "Tapi, Bang Raka sudah memiliki kekasih atau belum, sih? Aku nggak pernah mendengar kau menceritakannya, Ai?" "Katanya sih belum, Bang Raka mau fokus bekerja dulu katanya." Aixa ingat pembicaraannya dengan sang abang kemarin malam. Dia ingin fokus bekerja dan membahagiakan keluarga. "Semua orang berkata seperti itu, sebelum mereka menemukan pasangannya." Sheza berkata. "Benar juga, padahal kedua orang tuaku sudah berharap kalau Bang Raka segera menikah. Mereka nggak sabar pengen menimang cucu." "Bang Raka juga masih muda, sama kayak kita kan umurnya?" tanya Sheza. Aixa mengangguk-angguk. "Tapi Bang Raka sudah mapan dan dia juga bekerja, berbeda sama aku. Aku saja masih mengharapkan uang jajan dari mama, kalau kurang kadang aku minta pada Bang Raka. Sedangkan Bang Raka, sudah memiliki posisi yang bagus di kantornya." "Semua juga ada waktunya, Ai." "Bang Raka bilang, aku sebaiknya memiliki usaha. Dia akan memodalinya. Tampaknya aku sudah mulai harus memikirkan bisnis apa yang akan aku geluti, kalau bisa mulai dari sekarang." "Enak banget sih, sudah memiliki pemodal." Sheza berkata. "Tapi Ai, bukannya kau ingin menjadi gamer profesional?" Aixa tertawa. "Hanya ada segelintir orang yang bisa meraih posisi itu, aku juga nggak ingin terlalu berharap." Aixa lagi-lagi mengingat Semut Merah. "Zaman sekarang, pekerjaan yang nggak ada di zaman dulu. Bisa dilakukan. Bahkan seseorang yang tukang makan saja, bisa menjadi food blogger." "Mungkin sekolah kita lambat nanti, akan ada profesi baru yang bermunculan." Aixa masih belum mengetahui bagaimana nasibnya ke depan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN