Aixa mengecek ponselnya, Raka kemudian berkata.
"Makan dulu, Ai."
Aixa mengangguk, dia mendapat pesan dari Al. Keningnya berkerut ketika membaca pesan itu. Al bertanya, apa dia tidak login karena tengah malam mingguan? Apakah pria itu mulai menjurus? Terlihat sedikit keposesifannya dalam pesan itu. Aixa mengerutkan kening, tampak berpikir.
Pesan itu membuat Aixa jadi semakin ingin mengerjainya, bukankah selama ini Aixa bersikap seolah-olah dia yang sangat ingin bertemu dan bertingkah agresif? Jadi, bagaimana kalau dia mengiakan pesan itu? Bagaimana tanggapan Al, apakah dia segera ingin pergi? Atau justru itu membangkitkan motivasinya agar mereka segera bertemu di dunia nyata.
"Bagaimana mengatakannya ya, Al, malam ini aku sedikit ingin memprioritaskan kehidupan di dunia nyata." Aixa membalas cepat-cepat, karena dia tidak ingin abangnya menegurnya lagi.
Steaknya baru dia makan setengah, Raka tadi mengatakan kalau sebaiknya dia tidak melihat terus-menerus ke ponselnya. Tapi, Aixa penasaran dan mengecek ponselnya beberapa kali.
"Nggak punya pacar, tapi membalas pesan sambil senyum-senyum," goda Raka.
"Gebetan Bang." Aixa tidak membantah kata-kata Raka.
Lagipula, bukankah status Al sangat mirip dengan istilah gebetan? Beberapa waktu belakangan ini, mereka berkomunikasi secara intens. Bahkan akhir-akhir ini, tidak jarang melemparkan kata-kata godaan.
Aixa menunggu, pesan balasan dari Al. Kira-kira, apa yang akan dia katakan? Aixa akan malas kalau dia marah dan berkomentar yang tidak penting.
"Benarkah? Kalau begitu, aku tak sabar menjadi bagian dari kehidupan nyata itu. Apa boleh?"
Balasan dari Al sungguh tidak disangka-sangka, Aixa tersenyum dan pipinya terasa panas. Sekarang, Al bersikap seperti seorang pro player dalam dunia rayu-merayu. Jangan katakan kalau dia sebenarnya adalah seorang playboy.
Aixa jadi ingin segera pulang, dan mengobrol dengan pria itu. Memainkan beberapa pertandingan, pastilah akan sangat seru. Tapi, saat ini dia tidak boleh begitu. Aixa menggelengkan kepalanya, dia sedang pergi bersama abangnya. Sejak tadi, Raka memperhatikannya.
Aixa memutuskan untuk menyimpan kembali ponselnya di dalam tas, menikmati kembali makan malam mereka. Dan mengobrol tentang beberapa hal.
"Bagaimana pekerjaan abang? Apa semuanya lancar?"
"Tentu saja, kalau nggak lancar, bagaimana mungkin abang berencana membeli mobil baru?"
Aixa tertawa. "Padahal aku saja cuma naik motor setiap hari, lihat kulitku, gosong." Aixa merengut.
Itu membuat Raka tertawa, "nggak usah bawa motor lagi ke kampus. Biar ikut sama abang aja, dianterin setiap pergi."
"Nggak bisa begitu, abang nanti malah repot." Lagipula akhir-akhir ini, Aixa sering dijemput oleh Sheza. Mengandalkan abangnya untuk mengantar jemput akan sangat sulit mengingat, Bang Raka pulang kerja ketika hari mulai gelap.
Aixa memperhatikan abangnya, dibandingkan mereka. Kehidupan Raka dan ayahnya, jauh lebih mapan dan baik. Saat Ibu Aixa belum menikah dengan ayah Raka yang menjadi ayahnya sekarang, mereka sering kesulitan ekonomi. Bagaimanapun, Ibu Aixa adalah seorang single parent. Pasti berat baginya untuk membesarkan seorang anak yang beranjak dewasa.
Tapi setelah menikah, mereka juga tidak mau hidup bermewah-mewahan. Aixa tahu, ayahnya seorang pekerja keras dan ingin mendidik anak-anaknya agar mencapai hasil dari usaha mereka sendiri. Aixa dikuliahkan hingga jenjang magister saja sudah merupakan warisan yang amat berharga.
Dia tahu, ayahnya berusaha keras untuk menjadi ayah yang baik bagi dirinya. Terkadang, ayahnya bersikap keras pada Bang Raka. Namun sangat lunak terhadap dirinya, karena itu Aixa juga tidak ingin terlalu bersikap manja.
"Ai, setelah lulus nanti, apa rencana Ai selanjutnya?" tanya Raka.
Aixa menatap wajah abangnya, perbincangan mengenai masa depan terkadang tidak terlalu dia sukai. Bukan karena dia tidak memiliki ambisi di masa depan, tapi lebih karena, mungkin keinginannya sangat berbeda dengan sang abang.
Aixa tahu kalau Bang Raka banyak memiliki mimpi-mimpi yang besar. Sedangkan Aixa, dia sudah sangat senang kalau nanti bekerja di perusahaan yang diidam-idamkan.
"Aku akan mencari pekerjaan, mengumpulkan modal dan membuat usaha. Semacam itu."
"Biar abang yang menjadi pemodal, Ai pikirkan saja usaha apa yang ingin Ia geluti nanti. Kalau bisa dari sekarang sudah mulai ditekuni."
"Jadi semacam usaha keluarga gitu?"
Raka mengangguk.
"Apa Bang Raka di perusahaan yang sekarang merasa nyaman?"
"Sepertinya begitu."
Bang Raka bekerja di perusahaan bonafit, gajinya juga sudah tinggi. Sayang sekali, saat ini Bang Raka masih belum memiliki pasangan, padahal dilihat dari usianya. Dia sudah pantas menikah. Aixa ingin memiliki keponakan dan dia yakin orang tuanya juga pasti menginginkan cucu.
"Pasti Bang Raka jadi kesayangan atasan." Aixa menyeletuk.
Raka tersenyum mendengar kata-kata adiknya.
"Bang Raka orang yang sangat rajin dan pintar, pastilah tempat beruntung memiliki bawahan seperti Bang Raka." Aixa melanjutkan.
"Terkadang, di dunia kerja, nggak semuanya bisa berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Terlalu rajin pintar dan idealis, terkadang malah membuat kita tidak disukai oleh beberapa rekan yang lain."
"Aku pernah mendengar hal itu, tapi karena aku belum mengalaminya. Aku nggak tahu, bagaimana persaingan sebenarnya di dunia kerja itu.
"Terkadang ada rekan kerja yang iri, atau atasan yang nggak kita sukai. Tapi mau nggak mau, kita harus berkompromi sebagai bawahan. Sekalipun harus bersikap seperti orang lain."
"Semoga, saat nanti menjadi seorang atasan, Bang Raka merupakan atasan yang disayangi."
Raka mengaminkan ucapan Aixa. "Seperti papa, sekalipun papa terlihat sebagai seorang pimpinan yang mengayomi. Nggak jarang bawahannya datang dan menunjukkan rasa hormatnya, tapi belum tentu juga, semua orang akan menyukai papa. Apalagi di dunia kerja, banyak orang-orang yang memakai topeng."
"Topeng? Maksud Bang Raka, mereka berpura-pura manis di depan kita sementara bicara di belakang?"
"Seperti itulah."
"Bukan hanya ada di dunia kerja, bahkan di kelas ini juga ada yang seperti itu." Aixa mendengus, dia seketika mengingat Fitri. Perempuan itu selalu bersikap manis di depan Aixa, padahal dia memusuhi dan sering menjelekkannya di depan orang lain.
Raka tertawa, "sepertinya Ai juga memiliki pengalaman yang buruk dengan orang yang bermuka dua. Apa ada yang seperti itu di kampus?"
Aixa mengangguk.
"Tapi lebih banyak lagi di dunia kerja, terkadang mereka mampu melakukan apapun untuk mencapai tujuan mereka. Karena di bangku kuliah nggak ada yang berorientasi pada uang, berbeda dengan di dunia kerja."
Aixa mengangguk. "Oh ya, sebenarnya ada satu yang pengen Ai tanyain sama Bang Raka. Bang Raka punya pacar nggak, sih?"
Aixa dan ibunya beberapakali mendiskusikan soal ini, mereka cukup penasaran dengan hubungan asmara abangnya.
Raka dibuat tertawa dengan pertanyaan itu. "Saat ini belum, abang ingin bekerja dan fokus untuk membahagiakan keluarga kita."
"Tapi keluarga kita udah bahagia." Aixa mendadak terdiam. "Bang Raka bahagia, kan?"
Aixa bertanya memastikan, takutnya hanya dia merasa seperti itu sedangkan abangnya tidak merasakan hal yang sama.
"Tentu saja, kenapa menanyakan hal yang udah pasti?"
"Takutnya selama ini Bang Raka nggak merasa bahagia, padahal Ai, setelah mama menikah dengan papa kemudian Ai memiliki Bang Raka juga sebagai abang Ai, Ai merasa sangat bahagia."
"Kenapa berpikiran begitu? Abang udah mengatakan kalau abang ingin membuat keluarga abang bahagia. Dan di sana termasuk Ai dan mama, tujuan abang ingin membuat kalian nyaman dan gembira lebih dari sebelumnya."
Aixa kembali tersenyum, dia sangat suka kalau abangnya berkata seperti itu.
"Nanti, kalau Ai sudah lulus dan bekerja, Bang Raka bisa sedikit lebih santai. Ai akan membantu perekonomian keluarga."
"Nggak perlu mengkhawatirkan soal itu dengan pendapatan papa sekarang, kita bisa hidup dengan sangat mapan. Tanpa harus abang bantu."
"Kalau begitu Bang Raka juga nggak usah pusing, lebih baik menabung untuk pernikahan, supaya Ai cepat mendapat kakak ipar."
***