Part 25 Terus Terang

1103 Kata
Aixa dan Raka memasuki sebuah restoran terkenal, malam itu, Aixa mengenakan gaun yang cantik dengan warna biru gelap. Raka juga menggunakan kemeja dan setelan rapi. Mereka terlihat seperti pasangan yang tengah berkencan. Tidak ada yang mengetahui, kalau mereka bersaudara. Sekalipun memang bukan saudara kandung. "Kenapa Bang Raka terpikirkan tempat ini?" Aixa bertanya ketika mereka telah duduk di meja yang di reservasi. "Ai, Abang malah heran kenapa kamu bertanya soal itu?" "Ya, ada banyak restoran. Tetapi kenapa mengajakku ke restoran ini?" Aixa bertanya lagi. Apa pertanyaan itu sulit untuk dimengert sampai abangnya tidak memahami? "Apa kau nggak menyukainya?" Raka malah bertanya demikian. "Bukan begitu, bukan soal suka atau nggak suka. Aku cuma memikirkan kenapa Bang Raka memilih tempat ini, padahal Bang Raka nggak mendiskusikan apapun denganku. Bagaimana kalau aku nggak suka?" "Abang ingin memberi kejutan untuk apa mendiskusikannya dengan Ai. Lagipula, abang paham sifat Ai. Ai pasti menyukai restoran ini." "Kenapa jadi ingin memberiku kejutan? Bukannya abang ingin menyuruhku untuk membantu membujuk papa?" "Imbalan yang diberikan harus maksimal, kalau nggak jangan main-main, nanti Ai nggak mau membantu abang." Aixa tertawa lagi, padahal tanpa di ajak makan di restoran seperti malam ini saja, dia tetap akan membantu abangnya, Raka. Masalahnya, Raka selalu sungkan untuk meminta bantuan. Padahal, Aixa hampir setiap hari merepotkannya dengan ulahnya sendiri. Raka terlalu berusaha menjaga perasaan dua perempuan di keluarga. Dia dan ibunya. "Aku nggak percaya perkataan abang. Abang lagi banyak duit?" Selidik Aixa. "Sudahlah, anggap saja begitu. Sesekali bepergian dengan adiknya sendiri masa nggak boleh?" "Apa pacar Bang Raka nggak marah? Malam minggu bukannya berkencan atau mengapelinya. Tapi, malah pergi berkencan dengan adiknya sendiri. Sungguh suram." Aixa selalu heran, Bang Raka tidak pernah memperkenalkan pacarnya ke rumah. Mustahil orang setampan abangnya ini, tidak memiliki pacar seorangpun. Apalagi, dia telah memiliki pekerjaan yang cukup baik. Bang Raka pastilah menyembunyikan kekasihnya dari keluarga, karena tidak ingin setiap saat orang tuanya menyuruhnya segera menikah. Aixa memandangi menu-menu yang dihidangkan, menu favorit untuk dinner tetaplah steak. Aixa mulai memotong-motong steaknya dan memasukkannya ke dalam mulut, rasa daging dan sausnya lumer, membuatnya ingin segera makan sebanyak-banyaknya. "Atau sebenarnya Ai yang menyesal karena menemani abang malam mingguan, padahal seharusnya Ai menunggu pacarnya datang mengapel ke rumah." "Ai, nggak punya pacar." Aixa menjawab tegas. "Katanya kemarin, akhir-akhir ini dekat dengan seseorang yang dikenal secara online?" Sekarang Bang Raka ikut-ikutan menggodanya soal itu, salahnya juga duluan memulai. Astaga, dia sampai lupa memberitahukan pada Al kalau malam ini dia akan pergi bersama abangnya. Biasanya, setiap malam minggu mereka akan login dan main bareng hingga larut. Pastilah Al bertanya-tanya, kenapa dia menghilang? Tapi, Aixa juga sebenarnya merasa dilema, di satu sisi dia ingin menceritakan soal apapun pada Al, di sisi lain dia sadar kalau hubungan mereka tidak memiliki status apapun. Jadi untuk apa Aixa berkata kalau dia pergi malam mingguan? Bisa-bisa Al menertawainya dan menganggapnya menyukai dirinya secara terang-terangan. Terlalu agresif juga tidak bagus. "Ai, akhir-akhir ini abang perhatikan, Ai sering sekali begadang. Bukannya Abang melarang Ai bermain game online, tapi jaga kesehatan juga. Belum lagi kalau begadang pada saat hari kuliah aktif, materi yang diberikan pada saat di kelas sulit untuk diterima. Prioritaskan studi lebih dulu." "Iya bang aku mengerti, dia menyadari kalau akhir-akhir ini waktunya banyak tersita untuk bermain game. Semua karena pertemuannya dengan semut merah waktu itu, tapi, Aixa merasa gembira saat berada di dunia online. Terasa menyenangkan, seolah-olah hari-harinya yang sumpek menghilang begitu saja. *** Sejak tadi, Alzio menatap layar komputer. Ke mana gadis itu? Dia sudah menunggunya sekian lama, tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan di dunia virtual milik Kelly muncul. Apa dia bosan? Atau dia memiliki aktivitas lain. Malam ini adalah malam minggu, apa dia sedang berkencan? Berkencan atau tidak, bukanlah urusan Alzio sebenarnya. Tetapi ini menjadi urusannya, karena mereka memiliki hubungan di dunia virtual. "Aixa." Alzio telah menemukan nama asli dari Kelly, dia tertawa ketika melihat namanya jauh berbeda dengan yang dia katakan. Kelly? Kenapa dia memilih nama itu, sementara nama aslinya begitu indah? Lagipula, nama mereka sedikit mirip, juga sama-sama memiliki huruf A di depannya. Ini adalah kecocokan yang lain. Bukannya Alzio bermaksud menghubung-hubungkan. Gadis itu pastilah nanti akan sangat kesal, ketika Alzio memanggilnya dengan nama asli. Setelah mendapatkan namanya, tidak sulit untuk menemukan akun media sosial milik Kelly. Dia perempuan yang sangat cantik dan menarik. Alzio cukup beruntung, karena teman mabarnya merupakan seseorang yang sangat good looking. Sekalipun dia telah bersiap kalau Kelly adalah perempuan kebanyakan atau biasa-biasa saja. Alzio pasti akan menyukainya juga. Karena obrolan mereka, nyambung. Padahal malam ini, Alzio telah bersiap untuk mengungkapkan jati diri Kelly, tapi dia tidak akan mengungkapkan jati dirinya dulu, sampai mereka bertemu. Alzio sangat menyukai ketika Kelly merajuk marah padanya, sekarang dia bisa membayangkan sosok itu jadi menggemaskan ketika ngambek. Kelly, tidak, namanya adalah Aixa. Gadis itu akan menggembungkan pipinya, bibirnya yang merah kemudian sedikit mencibir. Kemudian dia mengomel, dan menuduh Alzio melakukan kecurangan. Dia tidak curang, karena dalam taruhan mereka tidak ada aturan. Kira-kira, taruhan apa yang ingin diminta oleh Alzio atas kemenangannya? Dia harus memikirkan ini baik-baik, karena kesempatan terbaik ini tidak datang dua kali dalam kehidupan. Alzio selalu meyakini itu, kesempatan pertama adalah yang utama, kesempatan kedua tidak akan datang dua kali. Karena itu raihlah apa yang kau inginkan pada kesempatan pertama, atau, kau tidak akan pernah mendapatkannya lagi sama sekali. Lagi-lagi Alzio membuka proposal kegiatan, dia sampai membawa proposal itu ke rumah. Karena ingin terus mengecek nama-nama kepanitiaan. Aixa Kristal. Namanya sungguh indah, dan dia juga berkilauan seperti namanya. Sekarang dia punya kegiatan baru, stalking dan melihat-lihat akun media sosial milik Aixa. Dia memiliki banyak penggemar, Alzio menganalisa itu dari beberapa komentar di fotonya, tetapi tidak ada status berpacaran di akun media sosialnya. Beberapa orang mungkin merasa heran, Ketika seseorang bisa saling menyukai, padahal mereka tidak pernah saling bertemu. Tapi, di dunia yang serba teknologi seperti sekarang ini, hal itu sangatlah mungkin. Mereka saling berbicara, bercerita kemudian merasakan kenyamanan satu sama lain. Sampai akhirnya tumbuh benih-benih perasaan di antara mereka, sekalipun tidak pernah melihat secara fisik tetapi manusia memiliki perasaan. Perasaan yang tumbuh dan berkembang, tanpa bisa dipungkiri. Sekarang, Alzio menjadi bukti nyata dari hal itu. Setiap saat, dia tidak bisa berhenti memikirkan sosok gadis yang bertemu dengannya pertama kali dengan sebutan rambut merah. Di kehidupan nyatanya, Alzio bahkan tidak pernah menemukan seseorang yang amat cocok itu dengannya. Memang benar, pepatah yang mengatakan kalau pertemuan dengan seseorang bisa datang dari mana saja. Seperti contohnya mereka. Tidak pernah disangka sangka, kalau malam itu akan menjadi titik awal pertemuannya dengan seseorang yang telah menemani dirinya selama beberapa minggu terakhir. Alzio akhirnya memutuskan untuk mengirimi Aixa pesan, dia tidak ingin didahului oleh pemuda yang akan bertemu dengan sosok Aixa di dunia nyata. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN