Setelah pembicaraan dengan Al tadi, Aixa merasa nada suaranya sedikit berbeda. Dia terlihat senang, namun sedikit tertahan, apa mungkin sebenarnya, dia telah mengetahui nama asli Aixa? Tapi, bagaimana mungkin, secepat itu? Kalau memang demikian, bagaimana dia melakukannya? Sedangkan, Aixa saja sampai detik ini belum mendapatkan kisi-kisi mengenai siapa jati diri Al sebenarnya.
Tapi ... sama saja, walaupun Al telah mengetahui dirinya dan ternyata dia merasa kurang puas. Itu tandanya, tidak perlu melanjutkan hubungan virtual lagi. Aixa tidak pernah merasa tidak percaya diri sebelumnya, sekalipun dia tidak pernah membanggakan diri atau membanggakan kecantikannya, dia cukup percaya diri untuk menjalin hubungan.
Jadi, dia siap untuk bertemu dengan Semut Merah. Hanya satu yang sedikit dia ragukan, Al telah bekerja dan dia merupakan sosok pria yang mandiri. Bagaimana nanti Al akan memandang perempuan seperti dia, Aixa bahkan belum bekerja. Dia tengah berjuang untuk mendapatkan gelar Master saat itu.
Aixa menghela nafas. Dia mendengar pintu kamarnya diketuk.
"Ai."
"Ada apa Bang Raka?" Suara Bang Raka terdengar dari luar.
"Abang masuk ya?"
"Iya masuk aja,.pintunya nggak dikunci," sahut Aixa.
Raka memasuki kamar adiknya itu, "lagi apa?
"Bermain game?"
"Benarkah? Apa itu game yang bernama COS?"
"Ternyata abang juga mengetahuinya." Aixa tertawa, dia dan abangnya sangat jauh berbeda. Bang Raka giat bekerja dan dia juga tampak tidak tertarik dengan hal-hal duniawi seperti bermain game.
"Di kantor abang semua sibuk membahas itu, sepertinya sedang booming.'
Aixa mengganggu. "Apa abang ingin bermain? Nanti, aku bisa mengajari."
"Sombong sekali, ternyata adik abang ini sudah menjadi seorang gamer."
"Belum." Senyum Aixa terkembang.
"Masa iya? Tapi sejak tadi sepertinya sangat serius."
"Masih latihan."
"Eh, memangnya ada cerita apa?"
Aixa menoleh ke abangnya, Bang Raka memiliki penampilan yang menarik. Tak jarang saat melihat Bang Raka, teman-teman Aixa selalu mengirim salam padanya.
"Nggak ada cerita apa-apa, tapi belakangan ini, Ai bertemu dengan seorang teman yang juga bermain game. Dan kami Berencana untuk bertemu.
Raka tertawa. "Ternyata bisa seperti itu juga? Bertemu di dunia online kemudian memutuskan untuk bertemu di dunia nyata. Apa dia seorang pria?"
Aixa mengangguk.
"Apa dia ganteng?" goda Bang Raka lagi.
"Nggak tahu."
"Kenapa nggak tahu?"
"Kan memang belum pernah bertemu," sahut Aixa.
"Walaupun belum pernah bertemu, sekarang ini zamannya media sosial. Bisa melihatnya dari akun-akun media sosialnya, atau bisa juga melakukan panggilan video call."
"Dia merahasiakan jati dirinya, pokoknya sebelum bertemu, nggak mau menunjukkan wajah ataupun dirinya."
Kening Raka berkerut. "Lucu sekali, sebaiknya berhati-hati. Abang nggak ingin dia ternyata pria yang tidak baik."
"Ai ngerti bang, lagipula, Ai juga nggak akan bertemu dengan dia berduaan, kan. Ai akan mengajak teman. " Aixa menjawab. "Tapi ngomong-ngomong, Bang Raka tadi ke sini mau ngapain?" Tanya Aixa hampir terlupa.
"Besok malam, abang mau ngajak Ai buat dinner."
"Sama mama papa?"
Bang Raka menggeleng. "Berdua aja, untuk malam minggu. Udah lama nggak ada adik semata wayang jalan-jalan."
Aixa memasang senyum sumringah, "apa ada sesuatu yang bang Raka inginkan?"
"Apa coba?" Raka tertawa.
"Jangan bilang kalau Bang Raka sedang membujuk papa untuk sesuatu hal, kemudian menyuap Ai dengan makan-makan dan mungkin nanti barang-barang agar Ai ikut membujuk papa."
Sekali Ini Raka tertawa terbahak-bahak.,
"Astaga, Ai, ternyata kamu sangat mengenal abang."
Aixa mencibir. "Tentu saja, katakan Bang Raka ingin apa?"
"Sebenarnya abang ingin mencicil mobil baru, tapi butuh DP dari papa."
Aixa mengangguk-angguk. "Wajar sih, kalau begitu aku akan bantu. Aku akan bilang ke papa kalau aku juga menginginkannya."
"Makasih, adikku sayang."
"Tapi selain makan malam, Ai juga membutuhkan sesuatu yang lain nanti.x
Raka mengacak rambutnya, "Apa sih yang nggak untuk Aixa."
"Benar ya? Kalau begitu nanti ayah akan meminta sesuatu. Bang Raka Nggak boleh menolak.
"Siap-siap.
"Ya udah, abang keluar dulu. Kamu bantuin mama tuh, mama lagi masak masak di dapur."
"Oh ya?"
Raka meninggalkan kamar Aixa, dia berkata akan pergi bersama teman-temannya malam ini.
Aixa tergesa keluar dari kamar, dia melihat sang ibu. Tampak menggoreng sesuatu di dapur. Icha mendekat
"Mama masak apa?"
Ibu Aixa menoleh, "Pisang sama tahu goreng, ini papa mau request."
"Malam-malam begini?" Aixa menggelengkan kepalanya.
"Mau juga." Dia berkata lagi seraya duduk di kursi dapur.
"Tadi abang mau nyariin, udah ketemu?"
"Udah ma. Ai mau diajak kencan sama abang besok malam mingguan.,"
"Kencan?" Ibu Aixa tertawa geli.
Aixa juga ikut tertawa, "kira-kira seperti itu."
Setelah mematikan api kompor, ibunya mendekat. "Ai, mama tanya sesuatu. Tapi, jawab dengan jujur."
"Soal apa, Ma? Tiba-tiba jadi serius."
"Ai, mama tahu kamu dan Bang Raka sangat dekat. Tapi setelah bertahun-tahun, menjalani kehidupan bersama. Apa Ai dan Bang Raka ..." Beliau menghentikan ucapannya.
"Ai dan Bang Raka kenapa, Ma?" Aixa menyipitkan mata.
"Begini, sebagai orang tua mama ingin memastikan kalau Ai dan Raka hanya berhubungan sebagai dua saudara."
Aixa berusaha mencerna kata-kata ibunya, tapi dia orang yang cukup cepat tanggap.
"Maksud mama, mama khawatir kalau Ai menyukai Bang Raka bukan sebagai abang Ai?"
"Mungkin seperti itu." Ibunya tersenyum tipis.
"Mama tenang aja, Ai hanya menganggap Bang Raka sebagai abang, lagipula, selama ini Ai selalu berpikir kalau Bang Raka adalah abang Ai, mana mungkin tiba-tiba bisa menyukainya itu nggak wajar.
"Tapi kalau memang Ai merasakan sesuatu yang berbeda, boleh bilang ke mama dan jangan menyimpannya seorang diri?" Beliau masih sedikit cemas, mungkin karena kedekatan di antara Raka dan Ai. Apalagi mereka tidak bersama sejak kecil.
"Mama jangan khawatir."
"Tentu aja mama khawatir, anak gadis mama ini cantik dan pintar, sampai sekarang belum memiliki pacar." Beliau menggelengkan kepala.
Lagi-lagi perkataan ibunya membuatnya tertawa. "Mama, nanti kalau Ai punya pacar, mama tiba-tiba pusing karena Ai pacaran terus."
"Nggak masalah berpacaran, asal jangan sampai melewati batas. Ai pasti tahu maksud nama, nanti kalau dilarang malas makin jadi."
"Lagian udah gede ini, Ma. Teman-teman Ai sudah ada yang menikah."
"Mama tahu, Ai selesaikan dulu pendidikan Ai, barulah menjalin hubungan yang serius dengan seorang pria." Beliau berpesan.
"Ya, lagipula gebetan Ai sekarang sudah kerja lho, Ma." Ai tertawa geli. Kenapa dia tiba-tiba teringat pada Al? Seolah-olah pria itu telah menjadi pacarnya, padahal mereka sama sekali belum bertemu. Aixa bergumam.
"Sudah bekerja?"
"Ya wajar kan, teman-teman sebaya Ainyang tidak berkuliah juga banyak yang sudah bekerja."
"Jadi dia teman sekolah dulu?"
"Bukan, pokoknya mama tenang aja kalo udah jadian nanti Ai akan kenalin." Aixa berdiri dari mejanya dan pergi meninggalkan sang ibu sambil tertawa. Tidak ingin ditanyai lebih lanjut.