Part 23 Menelusuri Jejak

1030 Kata
Alzio mengambil secarik kertas dari tangan Rony. Wajah Rony yang tersenyum bangga tampak menyebalkan. Tapi bagaimanapun, Alzio berterima kasih karena Rony telah membuatnya mendapatkan apa yang dia inginkan. "Jadi apa imbalan yang kau inginkan?" tanya Alzio. Alisnya terangkat saat bertanya seperti itu. Dia membawa catatan di kertas. "Nanti saja Zio, aku akan memikirkan, kira-kira imbalan apa yang paling terbaik untukku." Rony menjawab cepat. "Hati-hati Zio, tampaknya Rony jadi menyeramkan." El terkekeh, saat mendengar kata-kata Rony. "Jadi, apa kau ingin ditemani saat mengunjungi rumahnya?" Rony bertanya lagi, tampaknya dia juga penasaran dengan perempuan bernama Kelly. Rony selalu penasaran mengenai kehidupan Alzio. "Aku akan mengunjunginya sendiri," jawab Alzio. "Aku berharap, kalau dia sesuai ekspektasimu." "Memangnya, seperti apa ekspektasiku?" Alzio bertanya pada Rony. Seolah-olah, ekspektasi yang dia maksudkan hanyalah soal penampilan dan wajah. Tidak bohong kalau Alzio menyukai perempuan cantik, siapa yang tidak suka? Namun, dia lebih menyukai perempuan yang menarik. Menarik bukan hanya soal penampilan, namun, bagaimana dia bisa mengimbangi saat bicara dan mengobrol dengan Alzio. Contoh saja Kelly, perempuan itu cerdas dan pintar. Beberapa kali mereka membahas topik-topik yang menarik dan Kelly selalu mengetahui nya, dia juga tidak ragu memberikan opininya. Walau demikian, Kelly juga seorang perempuan biasa, dia marah dan merajuk untuk hal-hal tertentu. Dia tampak marah dan kesal, saat lagi-lagi Alzio tidak ingin bertemu dengannya. Ternyata pertemuan yang biasa, Alzio memilih untuk menguntitnya seperti ini. "Zio, kau memakai cara ini ketimbang bertemu secara langsung berdua, karena kau ingin melihat tampang Kelly terlebih dahulu?" Selidik Rony lagi. "Maksudmu apa Ron?" Rony kembali cengengesan, "kalau tampangnya pas-pasan. Kau bisa langsung kabur." tawa Rony memenuhi ruangan. "Kalau kalian berjanji untuk saling bertemu, akan sulit melakukan itu. "Itu hanya berlaku untukmu, Ron, aku cukup heran kau tidak menguntit pacar virtualmu itu," balas Alzio. "Kau malah menunggu pertemuan tatap muka." Anehnya, mereka telah memiliki status pacaran, padahal belum pernah bertemu. Konsep yang sangat membingungkan, Alzio menggelengkan kepalanya. "Aku justru merasa kalau ini lebih menegangkan, apalagi sejak awal aku telah melihat fotonya." Rony tetap pada pendapatnya "Zaman sekarang rata-rata orang lebih cantik difoto ketimbang aslinya, foto banyak menggunakan filter." Alzio berkata lagi. Terkadang, sangat berbeda antara foto dan kenyataan. "Seperti yang sudah kau katakan, aku akan menerima apa adanya. Sekalipun princess secantik bidadari, atau biasa seperti rakyat jelata. Aku pasti bisa menyukainya." Rony berkata dengan yakin. Dia saja, masih memanggil pacarnya dengan sebuta princess. El ikut tertawa mendengar kata-kata itu. "Baiklah, aku tinggal dulu." Alzio berkata saat melihat Kelly telah offline. Mungkin dia tertidur setelah online sebenrarmñß. Padahal Alzio masih ingin berbincang. Alzio akan alamat rumah itu besok dan melihat situasinya mudah-mudahan saja dia bisa segera bertemu dengan Kelly. Minimal mengetahui nama ataupun sosoknya, setelah itu. *** Alzio mengusap wajahnya, dia mengecek lagi email dan laporan kegiatan dari Alisa di kantor. Alzio mengantuk hari ini, tadi malam padahal dia ingin tidur lebih cepat. Namun, sesuatu mengganggu pikirannya, membuat Alzio tidak bisa tidur dengan pulas, karena itu sekarang dia bekerja dengan mata sayu. "Alisa." Alzio memanggil asistennya melalui sambungan telepon. Beberapa saat kemudian, Alisa datang ke ruangan. " Ada apa Zio, kau memanggilku?" Alzio menggangguk, dia berkata agar Alisa memesan secangkir kopi untuknya karena dia sangat mengantuk. "Apa tadi malam kau begadang?" Alisa bertanya. Dia melirik Alzio yang tampak sedikit frustasi. "Begitulah, sekarang aku merasa sangat mengantuk." "Kau ingin tidur?" tanya Alisa lagi. Di ruangan Alzio ada satu set sofa, memang dia sangat mengantuk dia bisa tertidur di sana membatalkan kegiatan hari ini. Alzio kemudian menggelengkan kepalanya, "Aku harus menyelesaikan pekerjaan. Karena nanti ada akan aku urus." Alzio terpikir pada rencananya. "Kalau begitu apa kau ingin cemilan atau sesuatu untuk teman minum kopi?" "Ya, aku menginginkannya. "Kau mau apa, Zio?" "Apa sajalah," sahut Alzio. Mungkin mengunyah bisa sedikit menghilangkan rasa ngantuk. Matanya saat ini seperti menempel. Alzio keluar dari ruangannya, m dia melanjutkan memeriksa laporan kegiatan. Tapi, dia teringat pada satu hal lagi, Alzio memeriksa nama kepanitiaan dari kampus Kelly. Namun dia tidak bisa menduga siapa nama asli Kelly yang sebenarnya. Benar-benar berahasia perempuan itu. Dia tidak pernah keceplosan menyebut nama aslinya. Alzio makan sangat sedikit di kantor, kemudian dia melajukan mobilnya melalui sebuah perumahan. Dia kemudian memarkirkan mobil depan salah satu rumah, mengawasi dalam suasana yang remang. Alzio telah mendapatkan alamat Kelly sekarang tinggal mencari tahu seperti apa sosoknya. Nanti, Alzio ingin memberikan surprise. Itu lebih menarik baginya ketimbang memberitahu kalau dia telah berhasil menemukan alamat rumah Kelly. Apakah dia nanti akan menjadi takut pada Alzio karena tiba-tiba berhasil menemukan alamat rumahnya? Lamunan Alzio berhenti, ketika dia melihat seorang lelaki sebayanya masuk ke dalam rumah. Kening Alzio berkerut. Jangan katakan kalau itu adalah sosok Kelly yang sebenarnya. Seorang laki-laki? Alzio terperangah. Dia menggelengkan kepala, menolak. Rasanya itu tidak mungkin, mereka sering mengobrol. Suara Kelly adalah suara perempuan tulen, sangat khas dan merdu. Tunggu sebentar, ya, Kelly pernah berkata kalau dia memiliki seorang abang. Saat itu, Kelly bertanya di mana yang lain saat dia mengobrol dengan ibunya. Itu pastilah abangnya, ujar Alzio di dalam hati. Tapi sampai malam semakin larut, dia tidak melihat tanda-tanda kedatangan seorang gadis. Dia bahkan memeriksa akun cos-nya, dan Kelly tidak online. Kelly juga tidak mengirim pesan padanya. Sungguh aneh, sepertinya karena pertaruhan ini, Kelly jadi lebih marah padanya. Namun, memikirkan kalau Kelly marah membuat Alzio merasa gembira. Dia pasti akan menjadi semakin menggemaskan. Dengan penuh rasa penasaran, Alzio kemudian mengirim pesan. "Kelly, apa kau ada di rumah?" Tidak lama kemudian dia mendapat pesan balasan dari Kelly. "Ya Al, aku tadi pulang sekitar jam tiga." Pantas saja dia tidak melihat saat Kelly pulang, tampaknya hari ini dia belum bisa melihat sosok itu. "Apa yang kau lakukan sekarang? Kenapa nggak bermain game?" tanya Alzio. "Al, apa kau belum pulang?" Kelly malah bertanya balik. "Sebentar lagi, Memangnya ada apa?" "Aku tadi login sebentar, tapi, melihatmu nggak on aku memutuskan untuk tidur." "Kau tidur jam berapa?" Kelly tertawa renyah. "Aku hanya tidur-tiduran, nggak tidur beneran, menunggu kau pulang. Al, sekarang aku jadi malas bermain game kalau sendirian." "Makanya, lebih baik menunggu aku saja. Untuk apa bermain sendirian kalau ada bodyguard yang menemanimu." Kelly tertawa lagi. "Bicara soal itu, aku jadi teringat pada Sabil. "Sabil? Apa dia seorang pemain COS?" dia berpura-pura tidak terlalu mengenalnya. "Iya, dia sangat terkenal. Apa kau tahu, Al?" Kelly bertanya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN