Part 22 Strategi

1058 Kata
Alzio duduk di hadapan El dan Rony, seperti yang telah diduga sebelumnya. Rony melihatnya dengan tatapan sinis, dia juga mencibir. Tapi, Alzio tidak memperdulikan itu, dia membutuhkan bantuan Rony. "Kalau bantuan seperti itu yang kau inginkan, aku tidak bisa membantunya. Itu jelas bidangnya Rony." "Maka dari itu aku bilang, Jangan pernah meremehkanku. Sekalipun aku saat ini pengangguran, Aku memiliki skill." Alzio dan El tertawa mendengar pernyataan itu. Mereka tidak pernah meremehkan Rony sedikitpun, hanya saja memang Rony bersikap konyol sehingga membuat membuat mereka kerap meledeknya. "Aku ingin minta bantuanmu, Ron, tapi jangan berharap imbalan," ejek Alzio. "Kau sekarang, pelit Zio. Apa sih yang membuatmu perhitungan terhadap teman sendiri?" "Kau mengatakan aku pelit? Setelah kau menguras isi lemari pendingin di rumahku? Menumpang gratis, mendapat makanan tiga kali sehari bahkan lebih." Rony kembali cengengesan. " Okelah, Zio, aku akan membantumu. Tapi ingat ... Tarik kembali kata-katamu yang saat itu menghina Princess." "Kapan aku pernah menghinanya?" "Kau mengatainya hode, apa kau lupa?" "Bukannya itu sudah lama berlalu, Kenapa kau jadi penonton?" Aldo menyerangnya Bali. " Jangan katakan, kalau kau melacak rumahnya." "Kau tahu apa yang aku lakukan, karena itu aku bisa dengan mudah mendapatkan akun media sosialnya juga jadi tasnya yang asli." "Kau sadar nggak sih, kalau tindakanmu ini membuatnya takut?" "Aku sudah mengakui padanya, karena itu dia menerimaku. Dia pikir aku cukup cool." "Jadi kapan rencananya kalian akan bertemu?" Alzio memperhatikan Al berdiri dan menuju ke mesin coffee maker. "Tunggu aku mendapat pekerjaan, aku tidak berani berkata kalau saat ini aku seorang pengangguran. Nanti poinku berkurang di matanya." "Cobalah bersikap apa adanya, Ron." Alzio berdecak. "Bukan begitu, aku juga membutuhkan uang, kalau aku menemuinya kami akan berjalan-jalan dan menghabiskan waktu. Semuanya butuh modal." Rony berkelit. "Kalau begitu cepat bantu aku menemukan, teman mabarku yang bernama Kelly. Siapa tahu aku berbaik hati dan memberimu uang jajan." Roni mendengus. "Zio, apakah kau nggak bisa merekrutmu untuk menjadi bagian dari galeri mu?" "Tentu saja bisa, kalau ada lowongan yang tersedia dan juga skillmu sesuai." "Kalau begitu percuma aku berteman dengan seorang pemilik galeri." "Nggak ada yang percuma di dunia ini, Ron lagipula, untuk apa kau bekerja di galeri? Kau sama sekali tidak ditakdirkan untuk seni, jadi lebih baik mencari pekerjaan lain. Kenapa tidak membuka toko komputer saja?" Al datang dengan membawa tiga cangkir kopi di nampan, Hal inilah yang membuat Alzio tidak tega mengusir teman-temannya dari rumah karena di saat-saat tertentu mereka menjadi teman dan pendengar setia, sambil minum kopi dan makan cemilan yang ada. Tentunya sangat menyenangkan. "Jadi dari mana kita mulai, untuk menyelidiki soal Kelly?" Alzio berkata tidak sabar, sebenarnya sudah lama dia ingin menyelidiki soal perempuan itu. Tetapi pertaruhan ini, membuat dia harus melakukannya lebih cepat. Jangan sampai dia kalah dengan Kelly, sekalipun Aran tidak mengetahui apa yang akan perempuan itu minta seandainya dia menjadi pemenang. Bisa jadi diam-diam, Kelly memiliki kartu As. "Tentu saja menunggu dia online, setelah itu tuh aku kan menyelidiki alamat ip-nya. Begitu kita mengetahui kita bisa mencari di mana tempat tinggalnya." El mengangguk-angguk. "Sepertinya sangat seru, kenapa hanya aku yang tidak memiliki teman mabar selain kalian?" "Kan ada masanya, kau lihat sendiri bagaimana Zio tadinya, dia mengejekku terus menggendong beban. Nyatanya, sekarang dia menjadi pelaku." "Kau belum puas mengejekku?" Alzio menatap Rony, itu membuat Rony semakin tertawa keras. "Tunggu sebentar, aku baru saja pergi membuat kopi dan ketika aku kembali sudah ada update kabar terbaru yang aku ketahui?" "Zio, apa kau sudah memutuskan kalau pilihanmu ini tepat? Menyelidikinya terlebih dahulu, padahal kau tidak ingin ditemui?" tanya El. Mereka sudah cukup mengetahui kronologis pertemuan Alzio dengan Kelly, jadi mereka bisa memberikan pendapat saat ini. "Aku bukannya nggak ingin ditemui, aku hanya ingin dia sedikit penasaran padaku." "Sedikit penasaran? Aku rasa dia nyaris mati penasaran padamu, sampai dia mau saja menjalani taruhan seperti ini." "Zio punya aspek suara yang mengagumkan, pastilah bisa membuat kaum perempuan tertarik padanya hanya dengan mendengar suaranya saja." "Terus saja bicara, bagaimana bisa bekerja dengan baik?" tegur Alzio. "Zio, kau jadi cerewet sekarang, kalau begitu aku membutuhkan Kelly untuk online." Rony berkata. Alzio kemudian menelepon Kelly. "Halo," sapa suara di seberang. "Kelly, apa kau sedang sibuk?" tanya Alzio. "Nggak juga, Al. Aku mengobrol bersama mamaku di ruang tengah." "Begitu? Bagaimana dengan kakak atau adikmu?" Kelly terdiam sejenak. "Apa itu yang memang membuatmu penasaran atau kau ingin mengintrogasiku?" tanya Kelly serta-merta. "Sejak taruhan dimulai, kau selalu mencurigaiku. Padahal aku bertanya dengan baik." Kelly jadi tertawa. "Abangku sedang pergi ke rumah temannya dan papaku, dia tidur di kamar. Sudah malam dan Papa biasanya memang beristirahat lebih awal. Apa kau tidak beristirahat Al?" "Aku menunggu untuk main bareng denganmu Kelly, ayo kita main beberapa pertandingan." "Oke, bisa tunggu sekitar sepuluh menit? Aku harus menjalani ritual sebelum tidur." "Ritual apa itu?" "Yang pasti bukan mandi kembang tujuh rupa, Al." "Oke, kalau begitu aku kan menunggu." Kelly memutuskan sambungan telepon. "Bagaimana?" Rony bertanya. "Tunggu sekitar sepuluh menit lagi." Alzio berkata. Alzio kembali duduk di atas sofa, dia mengawasi El yang mulai masuk ke pertandingan. Kemampuannya sekarang sangat baik, jauh lebih meningkat dibandingkan beberapa hari lalu. Sedangkan Rony, dia membuka layar namun tampaknya sedang chat. Alzio menduga kalau dia mengobrol dengan Princess. Karena wajahnya, terlihat sumringah dan dia terus menerus tersenyum sejak tadi. Tidak lama kemudian, Kelly mengiriminya pesan. Berkata kalau dia sudah login dan menunggu dirinya. Alzio kemudian memberi kode pada Rony untuk bersiap. "Al, kau belum menceritakan perjalanan mu ke Belanda. Apa yang kau lakukan di sana?" "Bukannya aku sudah mengatakan, kalau itu tentang pekerjaan." "Pekerjaan juga memiliki cakupan yang luas, Aku ingin tahu yang lebih mendetail." "Contohnya?" "Apa kau pergi untuk bersantai, menginap di hotel apa. Lalu, apa saja mengenai situasi di sana." "Apa ini suatu bentuk interogasi?" Kelly tertawa. Sepertinya dia ingat dengan pembicaraan tadi. "Kau membalasku?" "Membalas apa, sama sekali, nggak terpikir olehku soal ini." "Aku nggak yakin, sepanjang penglihatanku, kau memiliki ingatan yang kuat Al. Hampir tidak melupakan apapun, sangat berbeda denganku." "Jangan terlalu memujiku Kelly, nanti aku jadi besar kepala." "Tapi itu benar, sejak aku mengenalmu. Aku semakin mengagumimu, kau bisa melakukan banyak hal. Memiliki banyak relasi, Hanya satu aku nggak aku tahu Bagaimana penampilanmu." "Lagi-lagi soal penampilan, apa penampilan sedemikian penting?" "Entahlah." Kelly melanjutkan bicaranya, dia terus bercerita tentang hal di kampus rencana kegiatan di pesisir pantai. Topik Kelly tiba-tiba berpindah pada macan belang. Sebelum sempat bertanya apa yang terjadi, Roni berkata kalau dia telah berhasil mendapatkan apa yang mereka butuhkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN