Part 21 Kemungkinan Terburuk

1039 Kata
Aixa menggelosorkan kepalanya ke atas meja, dia merasa pusing sekarang. Pusing bukan dalam artian yang sebenarnya. Tingkahnya sejak tadi pagi, membuat Sheza bertanya-tanya apa yang terjadi. "Ai, kau kenapa sih?" tanya Sheza. Aixa mengangkat kepalanya, memandang ke arah Sheza. "Aku benar-benar sudah kehilangan akal." Aixa menghembuskan nafasnya keras-keras, seolah memberikan statement kalau dia tengah dipusingkan oleh sebuah permasalahan yang rumit. "Aku nggak akan tahu kalau kau nggak menceritakannya. Apa yang terjadi?" "Aku dan Al bersepakat untuk taruhan." Aixa berbisik. "Taruhan? Taruhan apa?" Seketika Sheza langsung tertarik, dasar tukang gosip! Aixa menggelengkan kepalanya. "Jadi sebelum berangkat ke luar negeri, dia sempat menawarkan sesuatu padaku, katanya, bagaimana kalau kami bertaruh?" "Bertaruh soal apa?" Sheza mendesak. Sekarang dia jadi amat penasaran. "Siapa yang lebih dulu bisa mendapatkan nama lengkap atau identitas salah satu di antara kami, maka bisa meminta apapun." Aixa menjelaskan. "Tunggu, kata-kata bisa meminta apapun ini sangat rancu. Tapi ini menegangkan." Sheza menyelidik. "Menegangkan apanya?" tanya Aixa lagi. "Jadi kau menerimanya?" Aixa menghela napas. "Tadi malam, dia bertanya lagi dan aku memutuskan menjawab dengan kata-kata 'ya'." Sheza tertawa geli. "Ai, Ai, sekarang hidupmu berubah, berjalan di dunia virtual seutuhnya." Sheza mengejek. "She, sebaiknya kau membantuku. Kalau nggak aku akan sangat marah." "Bagaimana, aku bisa membantumu Ai?" Sheza mengerling. "Mungkin kau bisa mencarikan seorang hacker untuk menyelidiki di mana Ip address-nya?" Aixa tampak berpikir. "Tapi, dibandingkan itu. Aku lebih tertarik pada ..." Sheza menggerakkan jari telunjuknya dan mengedipkan matanya. "Taruhan yang berkata kalau pemenangnya bisa meminta apapun. Kau yakin?" Aixa mengangguk-angguk. "Bagaimana kalau Al meminta sesuatu yang terlarang?" Sheza membuat wajahnya berubah menjadi ekspresi genit. Seketika Aixa tahu apa yang dimaksudkan oleh Sheza. Dia mencubit sahabatnya itu dengan keras. Membuat Sheza terpingkal-pingkal, hingga beberapa pasang mata di kelas menatap ke arah mereka. "Ternyata temanku ini mulai nakal," ejek Sheza lagi. "Bukan seperti itu." Aixa membantah. "Aku sudah memastikan dan berkata pada Al, kalau taruhannya tidak boleh melanggar norma yang ada. Sesuatu yang terlarang seperti itu tidak diizinkan." "Jadi kau paham apa maksudku? Luar biasa Ai. Terus bagaimana kalau dia meminta uang dalam jumlah besar?" Aixa mengulum bibirnya. "Aku belum memikirkan soal itu." "Kau ini." Sheza menggelengkan kepalanya berkali-kali. Sangat aneh melihat tingkah Aixa. Dia benar-benar percaya sepenuhnya pada pria bernama Al yang menjadi teman mainnya di game. Bukankah ini sungguh sesuatu hal yang mengerikan? Sheza sungguh berharap, kalau sosok pria bernama Al itu merupakan pria yang baik. Juga sesuai dengan ekspektasi dan harapan mereka. Good looking, cerdas dan mapan. Tapi, tampaknya, itu seperti khayalan belaka. "Kalau kau menang, kau sudah berpikir apa yang akan kau minta pada Al? tanya Sheza. "Aku akan meminta kami bertemu." "Ya ampun, itu terlalu sederhana. Menurutmu, Al ingin memintamu apa?" Aixa menggeleng dan mengeluh lagi, "itu yang aku pikirkan. Sejak tadi malam, aku gelisah karena memikirkan hal ini. Bagaimana kalau aku kalah dan apa yang diinginkan oleh Al dariku?" "Kau sebaiknya bersiap-siap, tapi, balik lagi ke soal taruhan tadi. Apa kau sudah memikirkan cara untuk mencari tahu siapa sosok dibalik pemilik ID Semut Merah?" Aixa menggeleng. "Padahal kemarin, Al mengajakku untuk mabar bersama teman-temannya. Tetapi belum jadi." "Aku rasa dia menundanya karena memikirkan taruhan ini, kalau kau memiliki kontak terhadap temannya. Bukan tidak mungkin identitasnya akan segera terkuak." "Tapi itu juga belum tentu, Siapa tahu mereka juga teman virtual. Al berpura-pura mengatakan padaku kalau mereka adalah teman-temannya untuk membuatku senang karena telah mengajak aku main bersama mereka." "Aixa, kau terkadang berpikir positif tetapi seketika kau merubahnya lagi. Sekarang aku tanya padamu. Bagaimana kalau Al berbohong?" "Berbohong soal apa?" "Semuanya. Statusnya, umurnya, pekerjaannya." "Dia berkata kalau dia belum menikah dan nggak memiliki pasangan. Dia menjanjikan itu padaku." "Benarkah?" Aixa mengangguk. "Lagipula, bukankah dia berteman dengan pemilik galeri yang akan menjadi sponsor dalam kegiatan kita. Itulah yang membuatku jadi setuju tentang pertaruhan ini, aku pikir, Al serius menjalin hubungan denganku. Karena kalau dia berbohong, dia pasti akan merusak nama temannya. Bukan tidak mungkin aku menceritakan apa yang terjadi." "Kau sekarang jadi pintar." "Aku pintar dari dulu, Shez, karena itu aku telah berpikir. Sebenarnya aku memiliki penghubung dengan Al. Yaitu pemilik galeri. Alisa mengatakan kalau dia pasti akan hadir, entah di pertemuan keberapa. Nanti aku akan pura-pura sok akrab dengan pria itu." Sheza menutup mulutnya dengan tangan, berusaha untuk menahan tawanya. Tidak salah kalau Aixa berkata dia ingin mencoba akrab dengan seorang pria? Sepanjang pengetahuan Sheza, Aixa adalah orang yang paling rumit tentang pria. Dia sulit akrab begitu saja dengan sosok lawan jenisnya. "Aku akan mendoakan kesuksesanmu, Ai, Tapi sebaiknya kalau kau menang. Kau jangan meminta untuk bertemu dengannya. Seandainya dia seorang pria yang mapan dan keren, kau bisa menemuinya diam-diam setelah tahu identitasnya. Mungkin sebagai gantinya kau bisa meminta uang yang banyak." "Kenapa sih sejak tadi pikiranmu hanya uang, uang dan uang, Shez?" "Karena aku realistis." Sheza tertawa. Kau berkata kalau kau sering sekali mengiriminya hadiah-hadiah. Padahal, dia nggak pernah melakukan sebaliknya padamu " "Mungkin, dia nggak," Aixa menghentikan ucapannya. "Katanya dia sudah bekerja, masa untuk membeli hadiah dengan beberapa Sacred Stone saja dia nggak bisa?" "Sudah, aku malas membahasnya." "Sekarang kau mengalihkan pembicaraan." "She, aku sudah paham maksudmu mengatakan ini semua. Kau ingin menamparku dengan kenyataan-kenyataan yang buruk, kan? Agar aku nggak terlalu memikirkan seandainya semuanya nggak sesuai dengan keinginanku?" "Kau benar Ai, tapi sebenarnya, aku ingin bercerita padamu. Tadi malam, aku bertemu dengan pasangan lover. Mereka main sambil on voice." "Jadi kau mendengarkan mereka bicara?" Sheza mengangguk-angguk. "Dari perkataannya, Mereka terlihat sudah berpacaran. Tapi mereka belum pernah bertemu. Aku pikir game ini telah membuat orang-orang menjadi kacau." "Apa yang mereka bicarakan?" Aixa jadi sangat sumringah. Selama main bersama Al dia belum pernah bertemu dengan pasangan lover yang on voice, mereka juga jarang bermain sambil bicara. "Sepertinya dalam waktu dekat, mereka akan memutuskan untuk bertemu. Mereka beda daerah begitu. Tetapi, aku juga salut dengan ceweknya. Padahal, yang cowok nggak terlalu jago banget. Tapi dia selalu membela saat cowoknya dihina oleh tim dan lawan." "Mungkin dia pria yang sangat tampan di media sosialnya? Kenapa kau nggak mencoba untuk menikungnya? Mungkin kau bisa berpura-pura mengajak si cowok itu untuk bermain denganmu lagi." "Kau payah. Apa sih yang kau pikirkan? Mencoba menikung seseorang di dunia nyata aja udah mengerikan, apalagi dunia virtual." Aixa tertawa. "Sekarang aku harus memutar otak untuk mencari cara bagaimana mengetahui identitas Al." Aixa berkata dengan serius.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN