Chapter 3

1001 Kata
"Mike, saat aku melihat Jessica menembak sore tadi, aku merasa kalau ada hal lain yang Jessica bayangkan. Karena, saat dia berhasil mengenai target, aku melihat senyuman sinisnya," ungkap Maura. "Aku juga merasa kalau Jessica sedang memendam dendam," ungkap Mike juga. "Kalau opini kita adalah kenyataan, bagaimana?" tanya Maura seraya menatap wajah Mike, sang suami. "Apa kita harus membantunya?" tanya Mike. "Maksudku, kita ajarkan dia bagaimana menjadi seorang perempuan yang kuat dan tangguh," sambung Mike. "Apa kita harus mencari seseorang untuk mengajarkan Jessica bela diri?" usul Maura. "Aku ada kenalan. Dia seorang guru bela diri di yayasan yang sering aku kunjungi," ucap Mike. "Apa kita akan menyuruh Jessica untuk pergi ke yayasan?" tanya Maura. "Tidak," jawab Mike. "Aku akan menyuruhnya ke sini," sambungnya. "Ide bagus!" seru Maura. "Jessica juga pasti akan merasa takut jika ia harus bersama dengan orang asing dalam waktu dekat ini," ucap Maura. Sepasang suami-istri itu memang selalu mengkhawatirkan Jessica sejak awal mereka kenal dengan gadis itu. Kasih sayang yang mereka beri untuk Jessica sudah layaknya kasih sayang dari orangtua pada anaknya. ... Keesokan harinya, Jessica dipanggil salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Mike. Asisten rumah tangga yang sering disapa Mbak Sari. "Nona muda, permisi," ucap Mbak Sari ketika ia sudah berdiri di depan pintu kamar Jessica. Jessica segera membukakan pintu untuk wanita paruh baya itu. "Ada apa, Mbak?" tanya Jessica seraya menatap Mbak Sari yang sudah berdiri di depan pintu. "Nona dipanggil Tuan. Disuruh sarapan dulu," ucap Mbak Sari. "Iya, Mbak. Nanti aku ke bawah kok," ucap Jessica. "Jangan lama, Non. Sarapannya akan dingin nanti," ucap Mbak Sari lagi. Jessica menganggukkan kepalanya. Setelah beberapa menit, Jessica turun dan berjalan menuju meja makan. Di sana sudah ada Maura dan Mike yang sedang menunggunya. "Pagi, Nak," sapa Maura. "Pagi, Tante, Om," sapa Jessica kembali. "Duduk, Nak," perintah Mike. Jessica pun duduk di samping Maura. Kemudian seorang maid lainnya datang untuk menghidangkan 2 potong sandwich yang masih hangat untuk Jessica. "Bagaimana tidurmu semalam? Apa nyenyak?' tanya Maura. Jessica hanya menganggukkan kepalanya. Walau sebenarnya ia tidak bisa tidur semalam. "Nak, jika ada hal yang ingin kamu katakan, katakan saja. Sekalipun itu adalah kenyataan buruk atau perkataan buruk," ucap Mike pada Jessica. Jessica bersusah payah menelan segigit sandwich yang baru saja masuk ke dalam mulutnya tadi. Ia berpikir untuk mengatakan apa rencananya pada Mike dan Maura. Namun, apa kedua orang itu akan mau membantunya? "Apa kamu ingin belajar seni bela diri?" tanya Maura dengan lembut. Seketika itu juga, Jessica langsung menatap perempuan yang duduk di sampingnya saat itu. 'Kami tahu bahwa kamu masih sangat marah pada penjahat-penjahat itu. Apalagi mereka sekarang masih berkeliaran dengan bebas. Tapi, dari sudut pandang kami, kami melihat bahwa ada dendam yang sedang kamu pendam," ungkap Maura. "Kenapa felling mereka begitu tajam?" batin Jessica. "Jika aku ingin membunuh mereka dengan tanganku, seperti mereka membunuh orangtuaku dengan tangannya, apa boleh?" tanya Jessica seraya menatap Mike dan Maura secara bergantian. Mike dan Maura sedikit terkejut mendengar perkataan itu keluar dari mulut seorang gadis berusia 15 tahun. "M-maaf jika perkataanku begitu kasar," sesal Jessica. Maura menyentuh pundak Jessica, kemudian ia berucap "Jangan meminta maaf. Perkataanmu tadi tidak ada yang salah. Wajar saja jika kamu marah pada mereka. Dan wajar saja jika kamu ingin balas dendam." "Kami akan membantumu," timpal Mike. Seketika itu juga, Jessica menegakkan pandangannya, secercah harapan muncul di benaknya. Matanya menatap kedua orang yang sedang bersamanya sekarang. "Tapi... tunggu. Apa aku sedang bermimpi?" batin Jessica kemudian tangannya tergerak untuk mencubit pipinya sendiri. Jessica merasakan sakit dan ia menyadari bahwa saat ini ia sedang tidak bermimpi. "Tapi, kamu harus sabar. Semuanya butuh proses, oke?' ucap Mike. Jessica menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Nanti, saya dan Mike yang akan mengajarkanmu menembak. Dan nanti akan ada seorang guru yang akan mengajarkanmu bela diri," jelas Maura. "Terima kasih, Tante, Om," ucap Jessica kegirangan. "Tap, apa boleh jika kami mengajukan syarat?" tanya Mike. "Apa, Om?" tanya Jessica. "Jika kamu tidak keberatan, panggil saya Papa dan panggil Maura Mama," pinta Mike. "Akan aku usahakan, Om," jawab Jessica. Saat itu juga, Mike dan Maura tersenyum senang. Mereka benar-benar tahu caranya berbagi kebahagiaan dengan caranya sendiri. ... Sang harinya, saat Jessica tengah asyik menonton film bersama dengan Maura, salah seorang penjaga masuk dan mengatakan bahwa ada seorang tamu yang mencari Mike. Maura yang tahu sapa yang datang, ia pun menyuruh penjaga itu agar mempersilakan tamunya masuk. Jessica menatap Maura dengan tatapan penuh tanya. "Siapa yang datang?" batinnya. Seorang lelaki dengan santainya masuk ke dalam rumah yang dianggap istana oleh Jessica. "Silakan duduk," ucap Maura. Laki-laki itu pun duduk di samping Jessica. Hal itu membuat Jessica langsung berdiri. "Jangan takut, Nak. Dia ini yang akan mengajarkanmu bela diri," ucap Maura menenangkan Jessica. "Di mana Mike?" tanya lelaki itu. "Mike masih di kantor," jawab Maura apa adanya. Maura menatap tamunya dan mengisyaratkan agar tamunya itu memperkenalkan dirinya pada Jessica. "Saya Hansel," ucap laki-laki itu memperkenalkan dirinya pada Jessica. "Namamu Jessica, bukan?" tanyanya. Jessica hanya menganggukkan kepalanya. "Mau mulai belajar kapan? Hari ini atau besok?" tanya Hansel. "Lebih cepat, lebih baik," jawab Jessica. "Kalau begitu, kita belajarnya mulai besok saja," ucap Hansel. Jessica ingin mengomel namun ia tahu tempat. "Hansel!" bentak Maura. "Enggak apa, Ma. Mungkin Om Hansel mau gajinya dipotong sama Papa," ucap Jessica. Ini kali pertama Jessica menyebut Maura dengan sebutan 'Mama'. Dan hal itu tentu membuat Maura senang. "Woaaahhh! Sekarang Maura sudah memiliki anak rupanya. Sudah gadis juga," ucap Hansel. "Lo ke sini mau nyari ribut atau bagaimana?" tanya Maura sembar menatap tajam ke arah Hansel. "Eh, tunggu. Tadi kamu panggil saya apa?" tanya Hansel pada Jessica. "Om Hansel," jawab Jessica apa adanya. Seketika itu juga, Maura tertawa dengan puas. "SIALAN! Lo ketawa, Ra?" tanya Hansel pada Maura. "Enggak, Sel. Gue ngakak aja," jawab Maura ditengah gelak tawanya. "Hansel ini usianya masih 25 tahun. Jangan memanggilnya 'om'. Nanti dia nangis," ucap Maura pada Jessica. "Tapi, usianya jauh di atas aku. Hampir 10 tahun," ucap Jessica. "Yasudah, panggil dia senyaman kamu aja," ucap Maura lagi. "Panggil nama aja. Gua enggak suka dipanggil dengan embel-embel depannya," timpal Hansel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN