Satu hari setelah pertemuan hari itu, Hansel datang ke rumah Mike untuk mengajarkan Jessica bela diri.
"Di mana Jessica?" tanya Hansel pada Maura yang saat itu sedang duduk di bangku teras.
"Jessica sudah ada di halaman belakang," jawab Maura. "Hampiri aja," sambungnya.
Hansel pun berjalan menuju halaman belakang rumah Mike. Sesampainya ia di halaman belakang, ia melihat Jessica sedang melakukan pemanasan, dimulai dari menaikkan tangannya atas dan ke bawah secara bergantian, kemudian menaikkan satu kaki selama 8 detik pada kaki kanan dan 8 detik pada kaki kiri.
"Hoy! Kita mau latihan bela diri, bukan mau senam," ucap Hansel.
Jessica pun menatap Hansel dengan tatapan kesal. Kemudian ia berkata "Om dari mana aja sih?! Aku nungguin udah hampir sejam, tau?"
Hansel berjalan mendekat Jessica ia menatap Jessica seolah ada kesalahan ucapan yang jessica ucapkan tadi.
"Kenapa lihatin aku kayak gitu? Kayak psikopat, tau?" ucap Jessica asal.
"Kemarin gua suruh elo untuk panggil gua apa?" tanya Hansel.
"Apa?" tanya Jessica. "Aku lupa," sambungnya.
Karena kesal, Hansel pun melempar kacamata yang ia pegang.
"Mamaaa! Om Hansel melakukan kekerasan sama aku!' teriak Jessica.
Maura segera berlari menuju halaman belakang rumah, diikuti oleh Mike di belakangnya.
"Heh! Lo apain anak gua?!" tanya Mike dengan suaranya yang terdengar sangat tegas.
"Gua cuman lempar kacamata gua ke dia," jawab Hansel apa adanya.
"Benar, Je?"tanya Mike pada Jessica.
Jessica menganggukkan kepalanya kemudian ia berkata "Lagian, dia lempar aku seenaknya aja."
"Latihan yang benar. Lo juga, latihnya jangan pakai kekerasan. Awas aja kalau anak gua sampai lecet," ucap Mike panjang lebar.
Mike dan Maura pun duduk di bangku teras belakang untuk memantau Jessica yang sedang berlatih di hari pertamanya.
"Kalau aku pukul Om, gimana?" tanya Jessica di sela-sela latihannya.
"Kalau sedang latihan, jangan bicara. Kamu harus fokus," jawab Hansel.
Hansel degan telaten melatih Jessica. Sampai ia menghabiskan waktu satu jam untuk menyelesaikan latihan di hari pertama Jessica. Namun Jessica masih merasa belum puas, ia meminta pada Hansel untuk melanjutkan saja. Tapi, sebagai seseorang yang profesional, Hansel tahu kapan ia harus menyudahi latihan dan kapan ia harus tetap melatih.
"Pantas aja duit Om banyak, orang melatihnya sebentar tapi gajinya banyak," gerutu Jessica.
"Seenaknya lo ngomong," jawab Hansel yang mendengar ucapan Jessica.
Jessica tidak menjawab ucapan Hansel, ia lebih memilih untuk berjalan menghampiri Mike dan Maura.
"Langsung balik lo?" tanya Mike pada Hansel.
"Gua masih ada yang dikerjakan di yayasan," jawab Hansel.
"Enggak makan dulu?' tanya Maura.
"Enggak. Takutnya elon racunin gua," jawab Hansel kemudian ia terkekeh geli.
"Sialan!" seru Maura.
Hansel pun pamit untuk pergi dari rumah itu. Tinggallah Jessica, Maura dan Mike yang masih duduk di angku teras belakang rumah.
"Saya lihat, semakin hari kamu semakin memiliki semangat," ucap Mike membuka pembicaraan,
"Berkat Papa dan Mama yang selalu mendukung aku," jawab Jessica.
"Lalu, apa sekarang sudah memutuskan untuk pergi ke sekolah lagi?" tanya Mike. "Saya akan mencarikan sekolah terbaik untuk kamu," sambungnya.
"Kalau boleh, aku ingin memikirkannya lagi, Pa. Aku masih terlalu takut untuk mengenal orang baru," jawab Jessica.
"Atau kamu home schooling saja?' ucap Maura.
"Ide bagus," timpal Mike.
Jessica semakin bimbang kala itu. Di satu sisi ia masih ingin bersekolah normal seperti biasanya. Di sisi lain, ia juga masih takut jika bertemu dengan orang baru.
'Kalau masih bingung, pikirkan saja dulu. Nanti, kalau kamu sudah mantap membuat keputusan, kamu langsung bilang sama kami, ya?" ucap Maura.
Jessica menganggukkan kepalanya, kemudian ia berkata "Aku ke kamar dulu, ya? Mau mandi. Kasian kalian nyium bau keringat aku."
Seketika itu juga, Mike dan Maura tertawa.
Jessica pun berjalan menuju kamarnya. Dalam hatinya, ia masih bingung, celotehan ringannya itu bisa menimbulkan gelak tawa oleh kedua orangtua angkatnya.
...
Malam harinya, Mike dan Maura mengajak Jessica untuk makan malam di luar. Maura memberikan sebuah dress simple berwarna hitam pada Jessica. Mata Jessica berbinar ketika ia melihat dress itu. Ia jatuh cinta pada dress pemberian Mama angkatnya itu. Tidak hanya dress itu Maura menenteng sebuah sepatu boots berwarna senada dengan dress yang ia bawa tadi. Tali yang terbingkai rapi membuat sepatu itu semakin nampak cantik dipandang.
Maura menyuruh Jessica untuk mencoba dress dan sepatu itu. Jessica pun menuruti perintah Maura.
Tidak lama, Jessica keluar dari kamarnya, mata Maura membulat sempurna, bibirnya tidak bisa berkantup. Pemandangan indah di hadapannya saat ini mampu membuatnya seperti sehabis terkena sihir dari tangan Elsa.
"Apa ini terlihat aneh?" tanya Jessica.
"Apa kamu tadi enggak melihat ekspresi Mama?" tanya Maura kembali.
Jessica tidak butuh perkataan itu, yang ia butuhkan adalah jawaban dari pertanyaannya tadi.
"Sepertinya Papa akan semakin kagum pada style pilihan Mama," gumam Maura.
Jessica hanya diam seraya menahan senyumannya. Sebab ini bukan kali pertama ia melihat pemandangan seperti ini.
...
Malam harinya, Maura dan Jessica sudah siap hendak berangkat, mereka hanya tinggal menunggu Mike yang akan menjemput mereka.
"Apa Papa masih lama?" tanya Jessica pada Maura.
"Mungkin sebentar lagi sampai," jawab Maura.
Ucapan Maura benar, beberapa menit setelah Maura berucap, Mike datang. Maura dan Jessica pun segera memasuki mobil yang dikendarai langsung oleh Mike. Maura duduk di samping Mike, sedangkan Jessica, ia duduk di bangku bagan belakang.
"Loh, ini Jessica?' tanya Mike yang masih sedikit tidak percaya dengan penampilan Jessica.
"Bukan, Mike. Dia anak tetangga," jawab Maura.
"Astaga! Aku enggak ada suruh kamu bawa anak tetangga loh," ucap Mike.
"Jelas-jelas itu Jessica, kamu pakai tanya lagi,' ucap Maura.
'Pasti kamu yang dandanin, 'kan?" tanya Mike.
Maura hanya menganggukkan kepalanya dengan bangga.
"Jessica udah bilang terima kasih sama Mama?' tanya Mike pada Jessica.
"Sudah, Pa," jawab Jessica apa adanya.
Walaupun Jessica hanyalah anak angkatnya, Mike tetap akan menanamkan rasa sopan dan santun dalam diri Jessica. Jessica sendiri pun, ia sudah diajarkan hal-hal sederhana itu oleh kedua orangtua kandungnya dulu.
'Kita hanya makan malam bertiga, 'kan?' tanya Jessica.
"Papa ajak Hansel sekalian," jawab Mike.
"Dia lagi?! Laki-laki super nyebelin itu?!" batin Jessica.
Jessica tidak tahu sebesar apa kebaikan yang dilakukan Hansel pada kedua orangtua angkatnya itu, yang ia tahu hanyalah, Hansel adalah seorang laki-laki yang paling menyebalkan yang pernah ia kenali seumur hidupnya. Mungkin sekarang Jessica bisa berkata seperti itu. Namun, bagaimana nanti? Apa predkat laki-laki super menyebalkan masih ada pada Hansel?