Chapter 27

1031 Kata
Seperti janjinya sehari yang lalu, hari ini Mike menepatinya. Ia membawa Jessica ke sirkuit yang Jessica datangi kemarin. Bukan hanya Jessica, Mike juga memboyong Maura dan yang pasti ia juga mengajak Hansel. Sebelum berangkat ke sirkuit, Mike menyuruh Jessica untuk ke garasi. Awalnya Jessica berpikir bahwa Mike menyuruhnya untuk mengemudi hari ini. Namun, nyatanya Jessica salah. Di garasi, Jessica melihat ada 3 buah mobil dengan merk yang sama namun hanya warnanya saja yang berbeda. Mike yang ternyata sedari tadi berjalan di belakang Jessica, ia pun bertanya "Kamu pilih, mau mengemudikan yang mana?" Jessica langsung menoleh ke belakang. Ia melihat Mike yang nampak sedang menunggu jawaban dari Jessica. "Aku mau yang warna biru, Pa," jawab Jessica. Mike pun memberikan kuncinya. Mata Jessica langsung berbinar saat itu juga. "Ayok jalan sekarang," ucap Mike Mike, Maura dan Jessica pun memasuki mobil masing-masing. Mike memasuki mobil berwarna hitam, Maura memasuki mobil yang berwarna putih, sedangkan Jessica, tentu saja ia memasuki mobil berwarna biru. ... Sesampainya di sirkuit, Jessica sudah melihat adanya Hansel di sana. Lelaki itu nampak sedang duduk santai di depan bumper mobilnya sembari menyesap rokoknya. TINNN!!! Jessica menekan klakson mobilnya dan tentu saja membuat Hansel terperanjat kaget. "Jessica!" kesal Hansel. Jessica hanya terkekeh, kemudian ia keluar dari mobilnya dan langsung berjalan menghampiri Hansel. "Ciee mobil baru," ledek Hansel. "Mobil Papa," jawab Jessica. "Ayok sekarang," ajak Mike yang hanya mengeluarkan kepalanya melalui jendela mobil yang ia buka. "Sabar," sahut Hansel. "Ayok," ucapnya dengan lembut sembari menatap Jessica. "Ayookkk!" sahut Jessica dengan semangat. 4 mobil itu melaju dengan kencang mengelilingi jalanan sirkuit. Wajah-wajah pengemudinya nampak sangat bersemangat. Terutama Jessica, gadis itu nampak sangat senang. Karena, hari ini adalah hari pertamanya mengemudi dengan kecepatan tinggi tanpa didampingi oleh siapapun di dalam mobil. Namun... Saat hendak sampai di titik awal mereka memulai balapan, Jessica hampir saja menabrak mobil Hansel yang ada di depannya. Untungnya, Jessica langsung menginjak rem dan kecelakaan bisa dihindari. "Syukurlah," gumam Jessica sembari menghela napasnya dengan panjang. Setelah memutari sirkuit sebanyak 3 putaran, mereka semua pun menepikan mobilnya dan duduk di sebuah kedai yang tersedia di sana. "Papa lihat tadi kamu hampir nabrak Hansel, ya," ucap Mike. Jessica terkekeh. Ia ketahuan sekarang. "Ada apa, Jes? Kamu enggak fokus, ya," timpal Maura. "Iya, Ma," jawab Jessica apa adanya. Sebab, saat Jessica hampir menabrak mobil Hansel, ia sedang memikirkan sesuatu. "Mikirin apa?" tanya Hansel. "Enggak ada," sargah Jessica. "Bohong," ucap Mike lagi. "Terserah mau percaya atau enggak," sahut Jessica sebelum ia menyeruput es cokelat miliknya. "Jessica!" panggilan namanya yang begitu keras membuat Jessica menatap ke sebuah sudut yang mana di sana ada seorang lelaki yang menatapnya sembari tersenyum. Kemudian, lelaki itu setengah berlari menghampiri Jessica. Dia adalah Ivan, teman Jessica di sekolah dulu. "Ivan?" heran Jessica. Jelas saja Jessica heran karena Ivan berada di tempat yang sama dengannya. "Sendiri saja?" tanya Jessica ketika Ivan sudah berada di hadapannya. "Dengan beberapa teman gue. Tapi mereka masih siap-siap," jawab Ivan. "Siapa, Jes?" tanya Maura. "Owh iya. Ini Ivan, Ma. Teman SMA aku," jawab Jessica. "Duduk, Van," ucap Mike. "Enggak usah, Om. Sebentar lagi aku sama teman-temanku hendak balapan," jawab Ivan. "Gue duluan, Jes," pamit Ivan pada Jessica. Jessica pun menganggukkan kepalanya, kemudian Ivan kembali ke teman-temannya. "Papa enggak kenal dengan Ivan?" tanya Jessica. "Kenal. Baru saja kenalannya," jawab Mike. "Bukan itu maksud aku, Pa. Maksud aku, Papa enggak tahu siapa orangtuanya Ivan?" jelas Jessica. "Terlalu sulit mengingat orang-orang yang hanya kenalan sebentar," jawab Mike. Jessica megangguk-anggukan kepalanya tanda bahwa ia memahami maksud dari ucapan Mike. "Jes! Mau ikut?" tanya Ivan yang baru saja menghentikan mobilnya dan membuka jendela. "Boleh nggak, Pa? Mereka juga hanya sedikit," Jessica meminta izin dengan Mike. "Boleh," jawab Mike. "Terima kasih, Pa," ucap Jessica yang kesenangan. Kemudian ia meraih kunci mobilnya sebelum berjalan menuju tempat di mana ia memarkirkan mobilnya tadi. "Sayang, kamu yakin lepas Jessica?" tanya Maura yang malah nampak khawatir. "Ivan temannya. Enggak mungkin Ivan akan mencelakai Jessica. Aku juga yakin kalau Jessica akan baik-baik saja," sahut Mike. "Begini nih yang enggak gua suka. Selalu jadi nyamuk kalau sama kalian," ucap Hansel kemudian ia beranjak dari tempat duduknya. "Mau ke mana lo?" tanya Mike. "Minggat!" sahut Hansel. Maura dan Mike pun saling bertatapan satu sama lain, kemudian mereka terkekeh. ... Beberapa menit kemudian. Hansel sampai di sebuah rumah yang nampak begitu megah. Lelaki itu berjalan masuk. Nampak ada beberapa pria berpakaian serba hitam yang menyambutnya dengan begitu ramah. "Di mana Papa?" tanya Hansel kepada seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah asisten rumah tangga di rumah itu. "Tuan besar ada di kamarnya, Tuan," sahut wanita paruh baya itu sembari tetap menundukkan kepalanya. Hansel pun berjalan menaiki anak tangga. Kemudian sampailah ia di lantai 2, lelaki itu melangkahkan kakinya lagi menuju sebuah pintu yang ada di ujung lorong. Tok! Tok! Tok! Hansel mengetuk pintunya beberapa kali. Kemudian, pintu terbuka dan menampakkan seorang wanita muda yang nampak berpakaian sangat sopan di sana. "Selamat siang, Tuan," sapanya dengan ramah. "Tuan besar sudah menunggu. Beliau ingin bicara 4 mata dengan Tuan muda," pungkasnya. Hansel menganggukkan kepalanya kemudian ia berjalan memasuki ruangan itu. Ruangan yang didominasi warna hitam pekat. Dengan ornamen berwarna senada. "Kenapa Papa panggil Hansel ke sini?" tanya Hansel yang kemudian duduk di sofa panjang yang ada di sana. Lelaki yang menyemat gelar Papa oleh Hansel itu nampak tengah memainkan jari-jemarinya sembari tetap duduk dengan tenang di kursi putarnya. "Masih mengajar di sekolah itu?" Pertanyaan itu dijawab Hansel dengan gelengan kepala dan sebuah fakta bahwa "Sekarang aku akan menjadi seorang dosen." "Sebegitunya kamu ingin melindungi gadis itu?" "Aku mencintainya, Pa. Aku enggak akan pernah membiarkan orang lain menyakitinya." "Kalau pada akhirnya dia tahu siapa kamu, bagaimana?" "Aku pikir, dia cukup bijak dalam menanggapi. Pelakunya bukan aku, melainkan Papa." Pria itu nampak terkekeh geli, seringainya nampak mengerikan. "Kamu adalah anak Papa. Logikanya, Papanya jahat, anaknya juga pasti jahat." "Salah, Pa. Seorang anak enggak akan pernah menuruni tabiat jahat dari orangtuanya jika anaknya menjauh. Seperti aku yang menjauhi Papa karena sikap Papa yang begitu kejam." Hansel berdiri karena ia kesal, obrolan yang ia pikir penting, ternyata hanya menyulut emosinya saja. "Hendak ke mana lagi?" "Mencoba untuk tidak melampiaskan amarahku kepada Papa," sahut Hansel kemudian ia langsung pergi dari hadapan sang Papa tanpa berpamitan. To Be Continued...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN