Chapter 28

1037 Kata
Mood Hansel sedang buruk sekarang. Baru saja ia merasakan kesenangan karena bisa menghabiskan akhir pekan bersama dengan orang yang membuatnya merasa nyaman, malah dihancurkan oleh seseorang yang katanya memiliki hubungan darah dengannya. Hansel dan sang Ayah bukanlah 2 orang yang begitu dekat. Sejak Mamanya meninggal saat Hansel masih duduk di bangku sekolah menengah pertama dulu, Hansel lebih banyak diurus oleh bibinya, yang tak lain adalah orangtua Mike. Itu sebabnya, Hansel begitu dekat dengan Mike bahkan ia tidak segan untuk menginap di rumah lelaki yang sudah memiliki istri itu. ... “Uhuk!” Jessica terbatuk ketika ia sedang meminum jusnya sembari membaca pesan masuk di ponselnya. “Pelan-pelan minumnya, Jes,” ucap Maura yang saat itu juga berada di dapur. “Ma...” ucap Jessica dengan lirih. Sebab, gadis itu masih belum percaya dengan pesan yang ia baca barusan. “Kenapa?” tanya Maura yang langsung menangkap ekspresi Jessica. Jessica pun memperlihatkan layar ponselnya pada Maura. Maura yang hendak melihat apa yang membuat Jessica tersedak tadi, ia pun mengambil alih ponsel itu dari tangan Jessica. Sesaat setelahnya, Maura hanya terkekeh pelan. “Kok Mama bersikap biasa saja?” heran Jessica. “Selama ini, apa kamu enggak menyadari?” tanya Maura. “Maksud Mama?” Jessica nampak semakin heran dengan ucapan yang dilontarkan Maura padanya. “Selama ini, Hansel begitu perhatian terhadap kamu. Apa kamu enggak sadar?” kali ini Maura sedikit memperjelas pertanyaannya. Saat itu juga, Jessica merasa bahwa ucapan Maura ada benarnya. Hansel memang selalu perhatian terhadapnya. Bukan hanya perhatian, Hansel selalu mencari cara agar bisa membuatnya merasa bahagia. “Kenapa ini? Papa dengar ada ribut-ribut,” ucap Mike yang baru saja bergabung dengan Jessica dan Maura. “Pa, masa Om Hansel sekarang jadi dosen di kampus aku,” ungkap Jessica. “Bagus dong. Jadi ada yang mengawasi kamu di kampus,” sahut Hansel. “Kenapa bisa kebetulan begini? Kemarin Om Hansel jadi guru di sekolah, sekarang jadi dosen. Apa nanti saat aku sudah kerja, dia yang bakalan jadi atasan aku?” Ucapan penuh kekesalan itu dilontarkan oleh Jessica kepada Mike dan Maura. Namun, kedua orangtuanya itu malah hanya tertawa kecil. “Kita enggak tahu di mana bahaya akan muncul. Hansel baik, nak. Dia dengan sukarela mau membantu Papa untuk menjaga kamu,” ucap Mike sembari tersenyum. “Benar kata Papa kamu, Jes. Kamu ingat saat kamu dan Hansel ke mall dulu. Kalian dalam bahaya, tapi Hansel pasang badan untuk kamu,” timpal Maura. “Jadi, kalian mendukung perasaan Om Hansel padaku?” tanya Maura sembari menatap Mike dan Maura secara bergantian. “Bukannya mendukung. Tapi, apa salahnya memiliki perasaan suka pada orang lain, bukan?” sahut Mike. “Dengan perbedaan usia yang jauh ini?” tanya Jessica sekali lagi. “Enggak sampai 20 tahun bedanya, Jes. Lagipula, Hansel belum tumbuh uban,” timpal Maura. “Yaaa yaaa yaaa,” ucap Jessica kemudian ia pergi dari dapur. Mike dan Maura pun hanya bisa saling tatap kemudian mereka tertawa kecil secara bersamaan. ... Jessica baru saja sampai di kampus. Hari ini adalah hari pertamanya berangkat ke kampus sendirian. Karena, Mike sudah mempercayai bahwa Jessica sudah bisa menyetir dengan baik. Jessica juga sudah memegang surat izin mengemudi. Saat gadis itu baru sampai di kampus, ia melihat Hansel tengah bersandar pada bumper mobilnya. Jessica pun langsung keluar dari dalam mobilnya dan berjalan menghampiri Hansel. “Wajahnya kenapa nampak murung?” gumam Jessica sembari terus mendekati Hansel. “Om!” kejutnya. “Jes... Kamu mau bikin saya punya penyakit jantung?” kesal Hansel sembari menatap Jessica dengan matanya yang nampak sayu. “Tumben pakai saya,” heran Jessica. Hansel menatap ke arah lain. Yang mana di sana banyak mahasiswa dan mahasiswi yang baru berdatangan juga. Saat itu, barulah Jessica teringat bahwa sekarang mereka sedang berada di tempat umum. “Kenapa wajahnya kusut begitu?” tanya Jessica tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Hansel. “Enggak apa-apa,” jawab Hansel singkat. “Sakit, ya?” tanya Jessica. Kemudian, ia memegang kening Hansel dengan tangannya. Saat itu juga, Jessica merasa bahwa suhu tubuh Hansel sedang tinggi. “Om Hansel demam?” “Biasa saja, Jes. Jangan cemas begitu. Saya sudah minum obat demam juga tadi,” sahut Hansel. “Ke rumah sakit, ya. Aku yang antar,” ucap Jessica lagi. “Enggak usah,” jawab Hansel. “15 menit lagi kamu ada kelas, bukan? Sana ke kelas. Jangan sampai dapat nilai E karena kamu terlambat masuk,” tuturnya. “Om Hansel bagaimana?” tanya Jessica yang nampak masih khawatir dengan lelaki itu. “Saya akan baik-baik saja,” jawab Hansel sembari tersenyum dengan sangat tipis. Dengan terpaksa, Jessica pun meninggalkan Hansel. Meski rasa cemas masih menghantuinya saat ini. ... Saat kelas pertamanya selesai, Jessica langsung menghubungi nomor Hansel. Namun sayang, nomor ponsel Hansel tidak aktif. Hal itu semakin membuat Jessica merasa cemas. Kemudian, Jessica teringat akan Mike. Jessica pikir kalau Mike pasti tahu nomor lain yang Hansel miliki. “Papa beneran? Enggak punya nomor Om Hansel yang lain?” “Enggak, Jes. Untuk apa Papa bohong sama kamu?” “Pa, tadi pagi Om Hansel demam. Aku sudah ajak dia untuk periksa ke rumah sakit. Tapi, Om Hansel enggak mau dan malah suruh aku segera ke kelas. Makanya, sampai sekarang aku merasa cemas. Apalagi, mobil Om Hansel sudah enggak ada di parkiran kampus.” “Selesai kamu kuliah, kamu kabari Papa lagi.” “Kenapa, Pa?” “Papa akan kasih alamat tempat tinggal Hansel. Kamu ke sana pada saat pulang kuliah nanti.” ... Jessica merasa sedikit lega. Mike mengatakan begitu, ada kemungkinan kalau Hansel berada di rumahnya. Meski harus menunggu beberapa jam lagi sampai ia bisa menemui Hansel. ... Sementara itu. Wajah Hansel nampak semakin pucat. Lelaki itu hanya bisa berdiam di atas ranjangnya. "Tuan, dokter sudah datang," ucap seorang maid yang bekerja di rumahnya. Seorang dokter yang berpakaian serba putih pun memasuki kamar Hansel. Ia adalah dokter pribadi Hansel. "Kenapa baru memanggil saat keadaan kamu sudah begini?" "Saya tidak ingin terlalu tahu kalau saya sedang sakit. Saya pikir, setelah minum obat, demamnya akan turun." "Pasang infus, ya." Ucapan dokter itu membuat Hansel langsung menatapnya. "Harus?" tanyanya dengan suaranya yang sudah melemah. "Iya, Tuan. Karena anda sudah kekurangan cairan," jawab dokter itu. "Paling tidak, hanya 2 botol infus saja." To Be Continued...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN