"Jes, sudah selesai packing?" tanya Maura.
"Sudah, Ma. Jadi nanti pas pulang sekolah aku sudah bisa langsung berangkat," sahut Jessica. "Tapi, Ma. Boleh aku tanya sesuatu nggak?" tanyanya.
"Apa, Nak?" tanya Maura.
"Om Hansel ikut?" tanya Jessica dengan suara pelan.
"Jelas lah," jawab Mike.
Seketika itu juga, Jessica tersenyum dengan kecut.
"Kenapa, Jes? Kamu masih merasa bersalah sama dia?" tanya Maura.
Jessica menjawab pertanyaan Maura hanya dengan gelengan kepala.
Sedari semalam, Jessica terus memikirkan hal yang belum terjadi namun ia yakin pasti hal itu akan terjadi. Hal itu tidak lain adalah tentang Hansel yang pasti akan membuatnya dekat kembali seperti dulu.
Setelah selesai sarapan, Jessica langsung berangkat ke kampus dan saat itu juga, Mike dan Maura langsung saling bertatapan.
"Apa ini adalah cara yang benar?" tanya Mike.
"Karena Hansel sendiri pun ingin melindungi Jessica. Bahkan, kita berdua tahu betul dengan anak itu, Mike," sahut Maura.
...
Sesampainya di kampus, Jessica tidak langsung memasuki kelasnya. Gadis itu menaiki satu demi satu anak tangga yang akan membawanya menuju atap kampus.
Sesampainya di sana, Jessica duduk di ujung yang mana dari sana ia bisa melihat pemandangan yang nampak indah. Semilir angin semakin membuatnya merasa nyaman di sana. Selain suasana yang terasa tenang meski di halaman kampus nampak banyak mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu-lalang.
"Enggak semua hal harus sesuai dengan keinginan kamu, Jes. Sekarang, kamu hanya perlu mengikuti mereka dengan waspada," ucap Jessica pada dirinya sendiri.
"Masih pagi dan elo sudah di sini," ucapan itu membuat Jessica menoleh ke belakangnya. Di mana ternyata Hansel ada di sana.
"Ngapain?" tanya Jessica kemudian ia kembali menatap ke depannya.
"Hampiri elo lah," jawab Hansel yang sudah berdiri di samping Jessica.
"Hari ini Om Hansel bakalan ikut ke Bali, 'kan?" tanya Jessica.
Hansel lantas menatap Jessica. "Enggak," lirihnya.
Seketika itu juga, Jessica menatap Hansel dan membuat keduanya saling tatap dan diam selama beberapa detik.
"Kenapa?" tanya Jessica.
"Enggak apa-apa," jawab Hansel yang kemudian mengalihkan pandangannya.
Jessica tentu saja langsung merasa heran. Ini untuk pertama kalinya ia mendengar bahwa Hansel tidak akan ikut dalam perjalanan kali ini. Sebab, biasanya Hansel selalu ikut ke mana pun Mike dan Maura pergi.
"Aku butuh alasannya," ucap Jessica lagi.
"Apa penting buat elo?" tanya Hansel kembali. "Beberapa hari ini saja kamu nampak cuek denganku," sambungnya.
"Aku yakin kalau Papa sudah kasih tahu pada Om Hansel apa jawabannya," sahut Jessica.
"Enggak. Mike enggak ada kasih tahu apapun ke gua," ucap Hansel lagi.
Seketika itu juga, Jessica mengernyitkan dahinya. Ia berpikir bahwa ucapan Hansel barusan seperti sebuah kebohongan. Sebab, Mike juga tidak mungkin membiarkannya dan Hansel saling diam dalam jangka waktu yang panjang.
"Sudahlah. Aku duluan turun. Sebentar lagi aku harus masuk kelas," ucap Jessica kemudian ia beranjak dari hadapan Hansel.
Namun, Hansel berhasil meraih tangan mungil Jessica dan menariknya. Hansel memeluk gadis itu dengan begitu erat.
"Jangan cuekin gua seperti kemarin. Lo tahu, selama lo cuekin gua, gua enggak bisa tidur dengan nyenyak. Gua merenung dan berpikir di mana letak kesalahan gua. Gua berpikir dengan keras tapi gua enggak menemukannya," tutur Hansel panjang lebar.
"Maaf," hanya kata itu yang keluar dari mulut Jessica.
"Jangan mengulanginya, ya?" pinta Hansel.
Kali ini, Jessica tidak bisa menyahut.
"Jes, jangan diam aja," ucap Hansel lagi.
"Om. Aku beneran ada kelas sebentar lagi," ucap Jessica yang berusaha melepaskan pelukannya dari Hansel.
Dengan berat hati, Hansel pun melepaskan pelukannya. Kemudian, lelaki itu menatap gadis di hadapannya. Gadis yang sudah beberapa hari ini selalu menghindarinya.
"Pulang kuliah sama gua," ucap Hansel.
Jessica menganggukkan kepalanya dan berkata "Iya, Om. Aku duluan ke bawah, ya."
Melihat Hansel yang menganggukkan kepalanya, Jessica pun pergi dari hadapan lelaki itu.
...
Saat hari sudah menjelang sore dan kelas Jessica sudah berakhir hari ini, gadis itu langsung berjalan menuju tempat di mana ia memarkirkan mobilnya.
Baru saja memasuki area parkir, Jessica sudah melihat adanya Hansel di sana.
"Ngapain di depan mobil aku?" tanya Jessica.
"Mau numpang pulang sama elo," jawab Hansel sembari tersenyum.
"Mobil Om Hansel ke mana memangnya?" tanya Jessica.
"Ada di rumah," jawab Hansel dengan santai
Jawaban Hansel itu membuat Jessica menaikkan alis sebelah kanannya.
"Tadi pagi gua minta antar," ungkap Hansel. "Malas nyetir hari ini," sambungnya.
"Waktu aku enggak banyak kalau harus antar Om Hansel pulang. Jam 4 nanti aku harus sudah berangkat," ucap Jessica.
"Kan berangkatnya sama-sama, Jes," sahut Hansel.
"Maksud Om Hansel?!" tanya Jessica sembari mengernyitkan dahinya.
'Pura-pura polos," gumam Hansel
"Bohongi aku aja terus!" kesal Jessica kemudian ia memasuki mobilnya dan disusul oleh Hansel.
Tidak, Jessica tidak benar-benar kesal dengan lelaki itu. Sebab, sedari Hansel mengatakan bahwa ia tidak ikut ke Bali, Jessica sudah menduga bahwa Hansel membohonginya. Ini adalah sebagian dari sandiwara Jessica untuk terlihat kembali seperti dirinya yang dulu. Meski terkadang rasa dendamnya kembali datang saat ia mengingat bahwa ayahnya Hansel adalah pelaku pembunuhan kedua orangtuanya.
"Kalau nyetir, enggak boleh sambil marah. Bahaya loh," ucap Hansel sembari menatap Jessica yang sedang fokus menyetir di sampingnya.
Jessica hanya diam, gadis itu tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Jes. Gua hanya bercanda tadi pagi. Gua pikir elo akan sedih pas dengar kalau gua enggak akan ikut ke Bali," ucap Hansel.
"Lagian, kemarin Papa bilang kalau Om Hansel ikut," sahut Jessica
"Jessicaaa!!!" kesal Hansel.
Jessica hanya tertawa dengan sikap lelaki itu.
...
Sesampainya di rumah, Jessica langsung berlari menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
Saat di hadapan Mike dan Maura, ia nampak begitu bersemangat. Namun, saat ia sampai di kamarnya dan menutup pintu kamarnya, raut wajah yang penuh semangat tadi hilang seketika.
Bagi Jessica, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, amatlah menyiksa. Namun, hal ini harus Jessica lakukan sampai ia bisa bertemu langsung dengan ayahnya Hansel.
"Barang-barang lo gimana, Sel?" tanya Maura.
"Sudah sampai bandara duluan," jawab Hansel.
"Gercep banget ya," gumam Mike.
"Ada yang mencurigakan, Pak," bisik Vernon, asisten pribadi Mike.
"Apa?" tanya Mike penasaran.
"Ada seseorang yang menanyakan pada pihak bandara, ke mana pesawat kita akan meluncur sore ini," ungkap Vernon.
"Apa sudah menemukan identitasnya?" tanya Mike lagi.
"Dia salah satu anak buah Pak Geofard," jawab Vernon.
Mendengar nama itu, Hansel yang tadinya duduk dengan santai di sofa, kini lelaki itu langsung berdiri dan menatap Vernon. "Yakin?" tanyanya.
"Iya, Pak. Kami yakin karena dia adalah salah satu orang yang dipercaya oleh Pak Geofard," jawab Vernon.
Hansel pun membawa ponselnya ke luar rumah dan lelaki itu menelfon seseorang.
To Be Continued...