Chapter 30

1005 Kata
Akhir-akhir ini Jessica nampak menjadi sedikit pendiam. Bahkan saat Hansel datang untuk berkunjung ke rumah. Terkadang ia memiliki alasan untuk sedikit berjarak dengan lelaki itu. Jelas saja, Hansel, Mike dan Maura merasa bingung dengan tingkah Jessica. Jika ditanya kenapa, Jessica selalu menjawab dengan berbagai alasan yang membuat mereka percaya. Padahal, ada sesuatu yang membuatnya merasa bahwa dia sedang berada di tempat yang salah. "Jes. Ini roti kamu Mama letak di kotak bekal, ya. Mama sekalian titip buat Hansel," ucap Maura. "Iya, Ma," jawab Jessica dengan singkat. "Kamu ini kenapa, Jes? Sejak Hansel sakit seminggu yang lalu, kamu nampak menjadi pendiam," ucap Mike sembari menatap Jessica yang sibuk memasang tali sepatunya. "Kali ini, apa yang harus aku katakan?" Jessica membatin. "Papa tanya loh, Jes," ucap Maura. Jessica menundukkan kepalanya, gadis itu menghentikan kegiatannya. Kemudian ia berkata "Aku hanya merasa bersalah dengan Om Hansel. Karena terus memperhatikanku, dia jadi lupa dengan dirinya sendiri. Aku pikir, jika aku menjaga jarak dengannya, dia tidak akan sakit lagi," tutur Jessica. Meski itu bukanlah alasan utama namun membuat Mike dan Maura yakin bahwa itulah alasan utamanya. "Kenapa enggak bilang dari kemarin?" tanya Mike. "Aku enggak mau bikin kalian menjadi kepikiran," jawab Jessica kemudian ia melanjutkan untuk mengikat tali sepatunya. "Hansel pasti akan marah kalau tahu hal ini," ucap Maura. "Kenapa begitu?" tanya Jessica. "Jelas saja, Jes. Hansel sakit karena hal lain,bukan karena kamu. Seseorang enggak akan sampai jatuh sakit karena orang yang membuatnya bahagia," tutur Maura. Jessica hanya tersenyum kecut, ia yakin bahwa pasti setelah ini Hansel akan melakukan cara untuk membuatnya seperti dulu lagi. Seperti Jessica yang selalu memberi pertanyaan padanya, Jessica yang selalu membuatnya geram dan Jessica yang selalu membuatnya kagum. "Aku pergi duluan, Ma," ucap Jessica kemudian ia menyalami Mike dan Maura secara bergantian. Sepeninggal Jessica, Maura pun duduk di sebrang Hansel yang masih menyantap sarapannya. "Kamu tahu kalau selama ini aku menyadap ponsel Jessica, bukan?" tanya Mike pada Maura. "Apa ada hal lain yang membuat Jessica begini?" Mike menganggukkan kepalanya dan membuat Maura bertanya lagi "Apa?" "Ada yang mengirimi Jessica sebuah foto. Foto itu adalah foto Hansel bersama Papanya." "Masalahnya di mana?" "Papanya Hansel adalah salah satu pembunuh kedua orangtua Jessica." Seketika itu juga, Maura membelalakkan matanya. Sebab, ia juga baru mengetahui hal ini. "Aku juga yakin kalau Jessica melihatnya. Makanya dia bersikap begini. Sedari kemarin aku diam karena mencoba untuk membuat Jessica yang mengatakannya sendiri. Tapi, dia malah selalu membuat alasan untuk hal itu," ucap Mike panjang lebar. ... Jessica baru saja sampai di kampus. Gadis itu tidak langsung masuk ke kelasnya meski 15 menit lagi pelajaran akan dimulai. Namun, ia malah duduk di taman kampus untuk menunggu kedatangan Hansel. Untung saja, Jessica hanya menunggu sebentar kemudian ia melihat bahwa mobil Hansel baru saja memasuki gerbang kampus. Ia yang tadinya duduk di bangku, kini ia pun berdiri. Hansel yang sadar bahwa Jessica sedang menunggunya, ia pun segera keluar dari mobil dan berjalan menghampiri Jessica. "Nunggu saya?" tanya Hansel sembari tersenyum senang. Jessica tidak menjawab, ia hanya menyodorkan sekotak roti yang dibuatkan oleh Maura yang dititipkan padanya. "Buatan kamu?" tanya Hansel setelah ia menerima kotak bekal itu dari tangan Jessica. "Mama yang titip," jawab Jessica. "Aku duluan. Sudah mau masuk soalnya," ucapnya lagi kemudian ia langsung pergi dari hadapan Hansel. Hansel hanya bisa diam sembari menatap punggung Jessica yang semakin menjauh darinya. Nampak sekali bahwa Hansel ingin bicara banyak namun ia tahu bahwa Jessica mempunyai jadwal kuliah yang padat. ... Pukul 05.15 sore. Hansel dan Mike duduk di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan senjata api. Mereka hanya berdua, saling tatap dan berbincang tentang sifat Jessica yang akhir-akhir ini berubah. "Dia yang salah. Lalu, kenapa gua yang dijauhi? Bahkan, kalau bisa memilih, gua enggak pernah mau punya bokap kayak dia." "Umumnya orang akan berpikir bahwa ; Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya." "Tapi gua enggak sejahat dia, Mike. Bahkan, gua mau melindungi Jessica dari dia." "Kalau seandainya kita bicarakan hal ini dengan Jessica, bagaimana?" "Apa dia akan percaya dengan gua?" "Kita enggak akan tahu jawaban dari pertanyaan elo kalau kita enggak mencari tahu." "Tiba-tiba aja gua merasa ragu dan takut." "Apa yang lo takuti? Takut kalau Jessica akan bereaksi diluar ekspektasi kita?" Hansel mengangguk pelan. Sedangkan Mike, ia beranjak dari tempat duduknya. Lelaki itu meraih sebuah pistol yang sedari tadi tergeletak di atas meja. Kemudian, ia membawa pistol itu ke hadapan sebuah patung. Mike dan patung itu hanya berjarak sekitar 2 meter. Lalu, Mike menarik memompa pitol itu dan mengarahkan ujungnya ke kepala patung itu. Dooorrr!!! Pelurunya sudah berhasil keluar dari sarangnya dan tepat mengenai kepala patung itu. "Lo lihat, gua enggak akan tahu kalau pelurunya akan mengenai kepala patungnya atau enggak kalau gua enggak menembaknya. Kalaupun enggak kena target yang gua mau, gua akan terus mencoba sampai mengenai target yang gua inginkan," ucap Mike panjang lebar. Hansel pun menangkap apa maksud dari ucapan Mike tadi. Bahwa ia harus mencoba untuk menjelaskan semuanya pada Jessica. Bahkan, jika Jessica tidak percaya, ia harus terus meyakinkan Jessica sampai Jessica percaya dengan ucapannya. ... "Lusa Papa dan Mama ada acara di luar kota. Kamu mau ikut?" tanya Maura pada Jessica. "Lusa hari apa?" tanya Jessica kembali. "Jumat, sayang," jawab Maura. "Jumat aku masih ada kelas, Ma. Sabtu dan minggu baru aku libur," sahut Jessica. "Kami pergi sore kok," ucap Maura lagi. "Papa juga maunya kamu ikut. Sekalian liburan tipis-tipis," sambungnya. "Memangnya ke mana, Ma?" tanya Jessica lagi. "Bali," jawab Maura. Yang ada dalam bayangan Jessica ketika mendengar nama Bali adalah pantai. Ia begitu senang ketika mendengarnya dan segera menyetujui ajakan Maura. "Beneran mau?" tanya Maura. "Iya dong. Yakali pantai dilewatkan," sahut Jessica. Senyuman riang Jessica adalah kebahagiaan bagi Maura. Sebab, beberapa hari kemarin, Maura sadar bahwa senyuman yang menghiasi wajah Jessica adalah senyuman palsu. "Papa pasti akan senang mendengarnya," ucap Maura sembari tersenyum. Saat menjelang malam dan Jessica bersiap hendak tidur, seketika itu juga ia teringat sesuatu. "Apa Om Hansel akan ikut serta juga?" gumamnya sembari menatap langit-langit kamarnya. "Biasanya, di mana ada Mama dan Papa, disitu ada Om Hansel juga." Kemudian, gadis itu ditimpa perasaan ragu-ragu. To Be Continued...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN