Chapter 9

1004 Kata
Maura dan Mike sampai di rumah pada pukul 8 malam. Keduanya langsung memasuki kamar untuk membersihkan diri setelah seharian berada di luar rumah. "Jessi sudah tidur, ya?" tanya Maura kepada Mike. "Enggak tahu. Bibi juga enggak nampak. Ke mana mereka?" sahut Mike. "Kamu mandi duluan sana. Aku cari Jessi ke kamarnya dulu," ucap Maura. Mike menganggukkan kepalanya sebelum ia berjalan memasuki kamarnya. Sedangkan Maura, ia berjalan menuju kamar Jessica. Namun, saat ia hendak menaiki anak tangga menuju lantai 3, ia mendengar ada suara Jessica yang sedang tertawa dari halaman belakang. Maura pun langsung mengintip dari sebuah jendela kaca yang berhadapan langsung dengan halaman belakang rumahnya. Dilihat Maura, Jessica dan Hansel masih melakukan latihan di sana. Maura pun langsung menghampiri kedua orang itu. "Hey, kalian! Kenapa jam segini masih latihan?" tanya Maura ketika ia sudah sampai di halaman belakang rumahnya. "Lo lihat kelakuan anak lo, Ra," ucap Hansel seraya menatap Maura. Melihat wajah Hansel yang sudah seperti seorang badut, Maura pun tidak bisa menahan tawanya lagi. "Lucu, 'kan? Itu aku yang buat, Ma," ucap Jessica dengan bangga. "Kenapa Om Hanselnya dibuat begitu?" tanya Maura kepada Jessica. "Dia sendiri yang nantangin aku, Ma. Katanya kalau aku bisa nembak tanpa melesat sampai 10 kali, dia mau nurutin apa aja yang aku mau," jelas Jessica. "Salah lo, Sel. Lo nantangin Jessica sama aja dengan elo menyerahkan nyawa," ucap Maura kepada Hansel. "Mana gua tahu kalau ternyata dia sejago itu nembaknya," sahut Hansel. "Gua mau ke kamar mandi dulu deh," sambungnya sebelum ia berjalan memasuki rumah dan menuju kamar mandi umum di rumah Mike. "Mama baru pulang?" tanya Jessica. "Iya, sayang," jawab Maura. "Papa mana?" tanya Jessica lagi. "Papa mandi," jawab Maura. "Ayok masuk," ajaknya. "Mama duluan aja. Aku mau beresin ini sebentar," sahut Jessica. "Ada asisten rumah tangga, Je. Nggak perlu kamu yang turun tangan," ucap Maura. "Enggak apa-apa, Ma. Ini kan aku yang berantakin," sahut Jessica lagi. Maura hanya bisa mengiyakan ucapan Jessica, ia pun meninggalkan Jessica di halaman belakang. ... Setelah selesai membereskan halaman belakang, Jessica pun naik ke kamarnya untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai, Jessica kembali turun ke lantai dasar untuk makan malam bersama. Di meja makan tidak hanya ada Maura dan Mike. Di sana juga ada Hansel yang sudah duduk. "Aku kira, Om Hansel sudah pulang," ucap Jessica kemudian ia menarik kursi yang ada di samping Hansel dan duduk di sana. "Besok gua enggak mau lagi ajari elo menembak," ucap Hansel. "Kenapa?" tanya Jessica yang langsung menatap ke arah Hansel. "Elo enggak bisa dikasih tantangan. Semuanya lo bisa," jawab Hansel dengan ketus. Jessica hanya tertawa ketika ia mendengar kata itu yang keluar dari mulut Hansel. "Memangnya ada apa?" tanya Mike yang belum mengetahui apa yang terjadi. "Gua tantang Jessica buat nembakin apel yang ada di atas kepala gua," jawab Hansel. "Dan dia berhasil nembak sampai 10 apel tanpa ada yang melesat sedikitpun," sambungnya. Seketika itu juga, Mike bertepuk tangan. Ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia bangga dengan Jessica. "Tuh, Papa aku aja senang," ucap Jessica. "Kenapa Om Hansel malah begitu?" tanyanya. "Masalahnya gua yang kena imbas sialnya," jawab Hansel. "Om Hansel sendiri yang mengajukan tawaran. Berarti bukan salah aku lagi, 'kan?" Jessica membela diri. "Hey. Ada apa sih?" tanya Mike penasaran. "Itu, Mike. Hansel kasih tawaran ke Jessica. Kalau Jessica berhasil nembak 10 apel yang satu persatu diletakkannya di atas kepalanya, tanpa ada yang melesat satupun. Maka Jessica boleh kasih hukuman ke Hansel. Dan alhasil, Jessica bisa. Jadilah Jessica kasih Hansel make up kayak badut," jelas Maura yang sudah mengetahui terlebih dahulu. Bukannya melakukan pembelaan maupun memberikan peneguran kepada Hansel dan Jessica, Mike malah tertawa dengan terbahak-bahak. Hal itu tentu saja membuat Hansel semakin merasa kesal. "Malah ketawa. Orangtua macam apa lo?" protes Hansel. "Makanya, jangan main-main sama Jessi," sahut Mike. "Memang benarnya elo ngajarin bela diri aja, Sel," timpal Maura. Hansel hanya bisa mengembuskan napasnya dengan kasar. ... Setelah selesai makan malam bersama, Mike, Hansel, Maura dan Jessica pun duduk di ruang keluarga. Mereka duduk santai sembari berbincang ringan. "Pa, kata Om Hansel, kalau aku berhasil nembak 10 apel itu, maka aku sudah boleh pegang senjata yang lebih besar lagi," ungkap Jessica. "Lo, ya!" kesal Mike kepada Hansel. "Gua sudah bilang kalau belajar itu dari hal yang terkecil dan bertahap. Dan dia paham kok," sahut Hansel. Jessica yang mendengarnya, ia hanya terkekeh. "Jangan bikin Hansel emosi terus, Je. Takutnya dia darah tinggi dan .. " "Jangan dilanjutkan, Ma. Wajah Om Hansel sudah merah tuh," Jessica menimpal perkataan Maura. Lagi-lagi, Mike hanya tertawa dengan tingkah anak dan istrinya itu. "Tuhan, kenapa hamba harus ada di antara keluarga ini?!" Hansel nampak frustasi dengan Mike, Maura terlebih lagi dengan Jessica. Mike, Maura dan Jessica pun langsung tertawa secara bersamaan. ... Keesokan harinya. Saat Jessica baru saja memasuki ruang kelasnya, ia sudah mendapati Anne ada di sana terlebih dahulu. "Pagi banget kamu datang," ucap Jessica. "Aku juga baru datang kok," sahut Anne. Jessica pun duduk dan mengeluarkan beberapa buku pelajarannya kemudian ia susun di atas mejanya. Saat gadis itu menatap ke arah papan tulis di hadapannya, seorang lelaki masuk dan membuat Jessica mengernyitkan dahinya. "Siapa dia?" tanya Jessica tanpa mengalihkan pandangannya dari lelaki itu. "Kayak bukan murid baru. Langsung duduk aja dia," sambungnya. "Dia itu Evan. Semingguan ini dia izin. Dan aku enggak tahu apa alasannya," pungkas Anne. "Kenapa? Ganteng, ya?" goda Anne. Jessica segera mengalihkan pandangannya dari sosok Evan. Gadis itu nampak salah tingkah ketika ia mendengar perkataan Anne barusan. "Enggak kok," sargahnya. Raut wajah Anne nampak menjelaskan bahwa ia tidak percaya dengan perkataan Jessica barusan. "Ayok kenalan," ajak Anne kemudian ia menarik Jessica menuju tempat duduk Evan. "Van!" Evan menaikkan pandangannya untuk menatap kedua gadis yang ada di hadapannya saat ini. Salah satu di antaranya tersenyum ceria, sedangkan yang lainnya tersenyum canggung. "Apa?" tanya Evan dengan nada ketus. "Kenalin, ini Jessica. Dia murid baru," jelas Anne. Evan mengulurkan tangannya ke hadapan Jessica, kemudian Jessica meraihnya lalu ia mengubah senyumannya yang tadinya canggung menjadi biasa saja. "Evan." "Jessica." "Sudah berapa hari?" "6 hari." "Semoga betah sekolah di sini." Ucapan Evan membuat Jessica mengernyitkan dahinya. "Maksud kamu?' tanyanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN