"Jangan khawatir, Jessica sudah tahu bagaimana sekolah ini," timpal Anne kemudian ia menarik Jessica kembali ke tempat mereka.
"Maksudnya apaan sih?" tanya Jessica yang semakin penasaran dengan maksud dari ucapan Evan beberapa detik yang lalu.
"Hampir 99 persen murid di sini adalah anak dari anggota mafia," bisik Anne. "Bahkan gurunya juga."
Mata Jessica seketika terbelalak karena ia begitu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Anne. "Kamu serius?!" tanyanya yang seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Anne.
"Kamu bisa lihat sendiri. Enggak ada motor apalagi sepeda yang terparkir di area parkiran sekolah. Bis sekolah pun enggak ada. Rata-rata mereka diantar jemput maupun menaiki mobil berharga selangit," tutur Anne panjang lebar.
Jessica mengangguk paham. Memang benar, sejak awal masuk sekolah, ia merasa aneh dengan pemandangan area parkir sekolah. Hanya ada mobil mewah di sana.
"Anak-anak yang berkelompok itu artinya orangtua mereka berada dalam 1 kelompok juga," jelas Anne lagi.
"Lantas, kamu?" tanya Jessica.
"Aku terlalu malas jika harus mengikuti apa yang mereka lakukan," jawab Anne.
"Evan?" tanya Jessica lagi.
"Dia sama seperti aku. Sangat jarang mau berkumpul," jawab Anne.
Jessica pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Meski nampak santai, Jessica berpikir kalau ia harus berhati-hati lagi dengan lingkungannya.
Saat Anne dan Jessica diam, tiba-tiba saja beberapa murid yang sekelas dengan mereka berlarian keluar kelas. Anne dan Jessica pun saling bertukar pandangan, kemudian mereka mengikuti teman sekelasnya.
Lalu, sampailah mereka di tengah lapangan sekolah yang sudah dipenuhi hampir dengan seluruh murid sekolah menengah atas Cabridgte.
Jessica yang penasaran, ia pun menyelip di antara murid lain untuk melihat apa yang ada di tengah lapangan itu.
"Hey! Apa yang sedang kalian lakukan?! Bertarung 1 lawan 2? Di mana letak keadilan?!" tanya Jessica dengan suara lantang.
Hal itu tentu saja membuat puluhan pasang mata menatap ke arahnya.
"Heh! Lo cewek, jangan ikut campur deh. Ini urusan cowok," sahut lelaki yang berada dalam 1 kelompok yang sudah siap menghabisi seorang lelaki yang sudah tersungkur di tanah.
"Dasar kalian cowok cupu!" ucap Jessica.
Salah satu dari dua orang itu melenguh kesal. Pasalnya, mereka merasa kalau kesenangan mereka telah diusik.
"Kenapa?! Ingin marah denganku?!" tanya Jessica. "Silakan!"
Salah satunya dari kedua lelaki itu berjalan menghampiri Jessica. Saat ia sudah berada di hadapan Jessica, ia pun mencengkram pipi Jessica dengan satu tangannya saja. "Lo hanya murid baru yang asal usulnya belum jelas. Jadi, lebih baik lo jangan ikut campur jika masih ingin belajar dengan tenang di sini," ucapnya dengan penuh penekanan.
Jessica tersenyum seolah ia sedang meremehkan lelaki di hadapannya. "Seandainya kalian berkelahi dengan adil, maka aku tidak akan pernah ikut campur," ucap Jessica sebelum ia menendang s**********n lelaki itu.
Lelaki itu tentu saja kesakitan dan langsung menjauhkan tangannya dari wajah Jessica.
Dengan langkah yang arogan, Jessica berjalan menuju tengah lapangan. Di mana di sana masih ada dua orang berbeda kubu yang sedang menghentikan pertengkaran mereka hanya untuk menyaksikan Jessica yang tiba-tiba menjadi pahlawan kesiangan bagi mereka.
"Tadi kalian 1 lawan 2. Sekarang aku minta 2 lawan 2. Bagaimana?" tanya Jessica.
"Maaf sebelumnya. Kami ini bertengkar dengan sesama jenis saja. Kami tidak akan pernah bertengkar dengan lawan jenis," sahut lelaki itu.
"Yakin? Tapi tadi, teman kamu bikin pipi aku sakit. Tandanya apa? Dia mengibarkan bendera perang, 'kan?"
Jessica menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Kemudian ia berjalan mengelilingi kedua lelaki di tengah lapangan itu.
"Ayok. Aku sudah siap," ucap Jessica.
"Kalian berdua sudah impas. Teman gua bikin pipi elo sakit dan elo bikin selangkangannya sakit," sahutnya.
"Apa kamu mau seperti dia juga?" tanya Jessica. "Kalau enggak mau, jauhkan tangan kamu dari kerah bajunya," perintahnya seraya menatap tangan lelaki itu yang sudah hampir menang melawan musuhnya.
Dengan terpaksa, ia menjauhkan tangannya dari kerah baju musuhnya.
"HAJAR, JES!" teriakan itu terdengar dari salah seorang murid yang berada di antara banyaknya kerumunan lainnya. Nampaknya, banyak dukungan tertuju pada Jessica hari ini.
Jessica terlebih dahulu membantu lelaki yang sudah tersungkur ke tanah tadi untuk berdiri. Kemudian, kaki Jessica berhasil menendang s**********n lelaki yang sudah bersikap curang dalam perkelahian, menurutnya.
"Upsss! Maaf, aku enggak sengaja," ucap Jessica kemudian ia pergi dari tengah lapangan.
Gemuruh tepuk tangan terdengar menggema untuk Jessica. Tidak sedikit yang salut akan keberaniannya.
...
Di kelas. Saat pelajaran telah usai. Jessica mendapat sebuah pesan singkat dari Hansel yang mengatakan bahwa Jessica harus segera menemuinya di rooftop sekolah.
"Aku duluan, ya," ucap Jessica pada Anne.
"Bareng lah. Kamu mau ke kantin, 'kan?" tanya Anne.
"Aku dipanggil Pak Hansel dan disuruh menghadapnya sekarang," jawab Jessica.
"Yasudah. Aku tunggu di kantin, ya?" sahut Anne.
Jessica menganggukkan kepalanya sebelum ia berjalan meninggalkan kelas dan menuju rooftopp sekolah.
Di tingkatan gedung paling tinggi itu, Jessica melihat Hansel sudah berdiri di sana menunggunya. Kemudian, Jessica mengambil posisi berdiri tepat di samping Hansel.
"Ada apa, Pak?"
"Gosip sudah tersebar di seluruh sekolah."
"Gosip tentang apa?"
Hansel mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan layarnya kepada Jessica. Di mana di layar itu nampak sebuah video terputar dengan jelas. Video yang diambil beberapa jam sebelumnya dan entah siapa pelakunya.
Video itu menunjukkan pada saat Jessica berani melawan murid lainnya yang beraninya hanya main keroyokan saja.
"Gua bangga dengan elo. Begitu berani menghadapi mereka. Gua lihat juga, banyak murid yang memuji elo," ucap Hansel.
"Apa video ini juga sampai ke Mama dan Papa?" tanya Jessica.
"Di sekolah ini, orangtua murid juga memiliki grup chat untuk mengetahui bagaimana anaknya dengan anak lainnya bersikap," jawab Hansel. "Jadi, enggak nihil kemungkinan kalau Mike dan Maura tahu hal ini," sambungnya.
"Bagaimana reaksi mereka nanti?" gumam Jessica.
"Gua yakin kalau reaksi mereka enggak jauh berbeda dengan reaksi gua tadi," jawab Hansel yang mendengar gumaman Jessica.
"Kalau ternyata mereka marah dengan sikap aku tadi pagi, maka Om Hansel yang harus tanggung jawab," ucap Jessica.
"Kok gua?!"
"Karena tadi Om Hansel sudah membuat aku yakin kalau Papa dan Mama enggak akan marah dengan sikap aku tadi pagi," jawab Jessica kemudian ia langsung pergi meninggalkan Hansel.
...
"Jessi."
"Hai, Jessica."
"s**u kotak buat kamu."
"Pagi, Jes."
Sapaan itu terus menghujani Jessica selama ia berjalan menyusuri koridor sekolah untuk sampai ke kantin.
"Kamu habis borong belanjaan di mana, Jes?" tanya Anne ketika ia melihat Jessica meletakkan beberapa bungkus makanan ringan dan beberapa bungkus jus dan s**u kotak di atas meja kantin.
"Jes, ini cola buat kamu," ucap salah seorang siswi seraya menyodorkan sekaleng cola ke hadapan Jessica.
Jessica pun menerimanya dan mengucapkan terima kasih kepada siswi itu.
"Cieee, yang punya fans sekarang," ledek Anne.
"Nampaknya elo sangat menarik," gumam seorang lelaki yang sedari tadi menatap Jessica dari kejauhan.