Chapter 7

1019 Kata
Jessica menatap ke arah luar jendela kamarnya malam ini. Gadis itu nampak diam, tangannya menopang dagunya. Matanya menatap ke langit yang sedang dihiasi ribuan bintang malam ini. Mata indah milik Jessica nampak dimanjakan dengan pemandangan ini. "Jes, kenapa belum tidur?" Suara itu membuat Jessica tersadar dari lamunannya. Mata Jessica langsung mengarah ke pintu masuk dan mendapati Maura sedang berjalan ke arahnya. "Mama?" Maura pun duduk di sofa panjang di mana Jessica juga duduk di sana. Yang mana sebelumnya sofa itu tidak berada di dekat jendela kaca kamar Jessica. Namun, karena Jessica ingin duduk di dekat jendela, jadilah ia memindahkan sofa itu ke dekat jendela kaca kamarnya. "Sudah larut malam, Nak. Besok harus sekolah, 'kan" "Sebentar lagi Jessi tidur kok, Ma." "Jangan begadang, ya?" Jessica hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum tipis. Maura mengusap kepala Jessica sebelum ia berdiri dan keluar dari kamar anak angkatnya itu. Jessica tidak mau membantah ucapan Maura, ia segera beranjak mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur sebelum ia naik ke atas ranjang dan bersiap untuk tidur. ... Keesokan harinya. Saat Jessica baru saja menuruni anak tangga dan berjalan menuju meja makan, ia melihat adanya orang lain selain kedua orangtua angkatnya di sana. Karena orang itu memunggungi Jessica, jadi Jessica belum bisa melihat siapa orang itu. Yang jelas, Jessica tahu bahwa dia adalah seorang lelaki. "Siapa?" tanya Jessica tanpa mengeluarkan suara. Maura yang melihat jelas gerak bibir Jessica, ia pun mengisyaratkan pada lelaki itu untuk menoleh ke belakangnya yang di sana sudah ada Jessica yang berdiri. "Pagi, Jes," sapanya. "4L!" sungut Jessica sebelum ia berjalan mendekati kursi dan menariknya sebelum duduk. "Apaan 4L? 4 liter?" tanya lelaki itu. "Lo lagi lo lagi," sahut Jessica. "Kenapa sih? Hansel enggak bikin kamu nyaman?" tanya Mike. "Asal Papa tahu. Om Hansel itu orang yang paling nyebelin yang pernah Jessi kenal," pungkas Jessica. "Biasanya kalau ngeselin gini, ngangenin, Jes," timpal Hansel. "Pengin mukul orang, tapi sadar kalau orangnya sudah tua. Takut kualat Jessi tuh," gumam Jessica. "Sabar, Jes. Hadapi Hansel memang harus dengan kesabaran aja," ucap Maura. "Benar, Ma," sahut Jessica. "Emak sama anak sama aja," ucap Hansel. "Om Hansel ngapain ke sini?" tanya Jessica seraya mengunyah sarapannya. "Numpang sarapan sekalian jemput kamu," jawab Hansel. "Kenapa jemput aku?" tanya Jessica lagi. "Karena Papa lo itu sibuk hari ini. Dia enggak bisa antar-jemput elo," jawab Hansel lagi. Jessica langsung menatap ke arah Mike. "Beneran, Pa?" "Iya, Nak," jawab Mike apa adanya. "Hari ini, kamu pulang-pergi sama Hansel, ya?" sambungnya. "Jessi naik taksi aja enggak apa-apa kok, Pa," ucap Jessica. "Enggak ada naik transportasi umum dulu, ya. Kamu masih belum sepenuhnya aman," ucap Mike. Jessica menghela napasnya dengan panjang. Mau tidak mau ia harus mengikuti perkataan Mike. "Nanti gue ajarkan nyetir deh supaya elo senang," ucap Hansel. "Gue tahu kalau ajaran elo enggak benar, Hansel. Jadi lebih baik kalau enggak usah, ya?" timpal Maura. "Gue enggak mau kalau anak gue kenapa-napa," sambungnya. Jessica lantas menatap Hansel, tatapannya itu mengartikan bahwa ia menyetujui ucapan Hansel tadi namun Hansel harus diam dari Mike maupun Maura. "Awas aja kalau aneh-aneh kalian," ancam Mike. "Jangan posesif, Pa," ledek Jessica. "Setelah kamu punya SIM, baru boleh berkendara sendiri. Ingat itu," ucap Mike. "Siap, Pa," sahut Jessica. ... Setelah selesai sarapan, Jessica dan Hansel pun langsung berangkat menuju sekolah. "Pulang sekolah Om Hansel harus tepatin omongan Om Hansel tadi," ucap Jessica. "Kalau kena marah Mike, gue enggak ikut campur, ya," sahut Hansel. "Kok gitu sih?!" kesal Jessica. "Ingat kata Papa lo tadi. Tunggu elo punya SIM," ucap Hansel. "Kalau nunggu SIM, kan bikinnya harus tes dulu. Kalau pas tes aku enggak tahu nyetir, gimana?" "Susah kali ngasih tahu anak ini," gumam Hansel. "Om!" teriak Jessica ketika ia merasa kalau pertanyaannya tadi diabaikan oleh Hansel. "Belajarnya sama Papa lo aja. Gue enggak yakin kalau gue bakalan aman kalau gue yang ajarkan elo," sahut Hansel. Jessica pun mendengus kesal. Ia yang tadinya sudah senang karena Hansel menawarkan ingin mengajarkannya menyetir namun kesenangan itu sirna ketika Mike, sang Papa angkatnya melarangnya untuk belajar menyetir dengan Hansel. "Jangan ngambek dong," bujuk Hansel. "Nanti gue belikan gulali deh." Jessica hanya diam. "Jes..." Lagi-lagi, Jessica hanya diam. Hansel yang merasa kalau omongannya diabaikan oleh Jessica, ia pun melirik sekilas ke arah Jessica yang duduk di sampingnya. "Pantesan enggak nyaut kalau earpods dipakai kiri kanan," gumam Hansel. Saat Hansel menghentikan mobilnya ketika lampu lalu lintas berwarna merah, Hansel pun menarik earpods sebelah kanan Jessica. "Ihs! Ganggu!" kesal Jessica. "Lagian lo, gue ngomong enggak dengar," sahut Hansel. "Malas ngomong sama elo. Enggak berfaedah. Jadi dosa iya," sahut Jessica sebelum ia merebut earpods miliknya yang ada di tangan Hansel dan memasangnya kembali. ... Sesampainya mereka di sekolah, Jessica baru sadar bahwa Hansel memarkirkan mobilnya di dalam area sekolah. "Aku lupa," gumam Jessica. "Lupa apa?" tanya Hansel. "Harusnya Om Hansel berhenti di depan dulu. Biar aku turun," sahut Jessica. "Kenapa harus di depan?" tanya Hansel lagi. "Aku enggak mau dilihatin temen-temen, Om. Kemarin aja pas Papa antar, aku dilihatin orang-orang," jawab Jessica. "Enggak apa-apa, Jes. Kalau ditanyain, bilang aja kalau gue ini temannya bokap lo," ucap Hansel. Jessica tahu bahwa berbicara dengan Hansel memang tidak akan ada habisnya. Melihat ada sebuah topi di atas dashboard, Jessica pun mempertanyakan pemiliknya. "Punya gue, kenapa?" tanya Hansel. "Aku pinjam. Nanti pulang sekolah aku balikin," ucap Jessica. Jessica pun mengambil topi itu dan memasangnya. Kemudian, ia keluar dari mobil Hansel. Hansel yang melihatnya, ia hanya terkekeh dengan kelakuan Jessica. "Jes! Kenapa pakai topi begitu?" heran Anne yang melihat Jessica menggunakan topi padahal cuaca pagi ini tidak terlalu panas. "Enggak apa-apa kok," jawab Jessica. "Fashion aja." Anne pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Kemudian mereka berjalan menuju kelas berbarengan. "Jes, sebenarnya Pak Hansel sama kamu itu ada hubungan apa?" tanya Anne penasaran. "Pak Hansel itu temannya Papa aku," jawab Jessica. "Aku kira kalian ada hubungan keluarga," sahut Anne. "Enggak. Papa sama Pak Hansel itu sudah temenan lama banget. Mungkin karena itu dan mereka sudah menganggap keluarga satu sama lain," jelas Jessica. Lagi-lagi, Anne hanya menganggukkan kepalanya. ... "Hallo! Kenapa telfon?" "Jessica gimana?" "Anak lo aneh. Masa keluar dari mobil gue kayak habis nyuri." Mike hanya tertawa ketika ia mendengar ucapan Hansel itu dari sambungan telfon.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN