"Lo mau belajar bareng Kevin lagi?"
Kegiatan Cellyn mengemasi alat tulis ke dalam tas terhenti begitu pertanyaan itu terlontar dari Naya yang kali ini kembali terjebak di sekolah karena sang sopir belum datang menjemput. "Ya mau gimana lagi Nay. Sampai Penilaian akhir semester, gue masih harus belajar sama Kevin."
"Nggak bisa ya kalau lo belajar sendiri Cell?"
Cellyn memutar tubuhnya dan bersender di meja. "Kalau pun gue bisa belajar sendiri, Bu Wiwik masih memantau gue Nay."
"Ya tinggal bilang aja kalau lo sama Kevin belajar bareng tapi kenyataannya lo belajar sendiri. Selama lo dan Kevin diem aja, guru nggak akan tahu kok. Atau jangan-jangan lo sengaja cari alasan doang biar bisa sama Kevin?"
Buru-buru Cellyn menyumpal mulut ember Naya dengan roti di tangannya. Di kelas ini masih ada Kevin dan beberapa teman lainnya termasuk Denin yang piket. Cellyn tidak ingin dianggap mencari alasan supaya bisa terus dekat dengan Kevin meski sebenarnya begitu.
"Pulang aja deh lo Nay mendingan. Sopir lo udah dateng kan?"
"Eh emang iya sopir gue udah dateng?" Naya langsung mengecek ponsel. "Kok lo bisa tahu Cell?"
"Tadi ponsel lo nyala, ada notifikasi dari sopir lo."
"Hehe, oke deh gue balik. Gue dukung kalau lo mau pdkt sama Kevin." Naya melambaikan tangannya dan melakukan kiss bye ke Cellyn.
Pandangan Cellyn mengarah ke Kevin yang melihat dirinya juga. Kali ini mereka seperti mengirim kode satu sama lain untuk segera keluar dari kelas dan memulai belajar bersama di perpustakaan.
Diawali dari Kevin yang berdiri, saat itu Cellyn tahu dia harus keluar terlebih dahulu. Meski semua murid IPA 1 telah mengetahui perihal Kevin dan Cellyn yang belajar bersama, keduanya masih saja bertingkah seolah-olah tidak ada yang tahu.
Cellyn sudah sampai di luar dan Kevin akan menyusul kalau saja Denin tidak menggangu.
"Gue boleh ikut kalian belajar nggak? Nilai kimia gue juga pas-pasan."
Bisa saja Kevin mengiyakan Denin, tapi dia justru melirik Cellyn yang ada di luar. "Kalau Cellyn nggak keberatan."
"Gimana Cell? Boleh ya?"
Sungguh ya Denin menempatkan Cellyn dalam situasi yang serba salah. Jika Cellyn menolak akan kentara sekali kalau dia memang bukan menjadikan kimia sebagai tujuan utama dari belajar bersama ini, tapi Kevin yang menjadi tujuannya. Pun kalau Cellyn menerima Denin di dalam kelompok belajarnya, akankah Denin tidak menjadi pengganggu?
"Gimana Cell?" tanya Kevin memastikan.
"Tunggu, tunggu. Selain belajar, kalian nggak ada hal lain kan?"
"Ish emang lo pikir gue sama Kevin ngapain di perpustakaan!"
Denin tertawa keras. "Gue bercanda kali Cell. Lagian Kevin kayaknya nggak bakal nolak gue. Bener Kev?"
"Hm."
"Tuh, boleh Cell?"
"Iya, iya. Ikut aja biar lo nggak curiga terus."
"Gitu dong baru friend namanya."
Cellyn berjalan lebih dulu sedangkan Kevin dan Denin berjalan di belakangnya. Keduanya tak melepaskan pandangan dari Cellyn. Namun yang mereka berdua pikirkan sangatlah berbeda.
"Menurut lo Cellyn gimana?"
"Maksud lo?"
"Dia cantik, pinter dan poin pentingnya dia baik kecuali kalau sama gue ngegas terus. Menurut lo dia idaman nggak?"
Kevin berdeham untuk menghindari kegugupan yang tiba-tiba dirasakannya. "Dia bukan tipe gue."
"Yes!"
"Kenapa?"
"Artinya gue nggak harus bersaing sama temen gue sendiri. Gue bisa deketin Cellyn tanpa harus takut kalau lo juga punya perasaan yang sama ke dia."
Ah, sepertinya Kevin baru saja mempersulit dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa mencapai tujuannya kalau dia justru harus memberikan Cellyn ke Denin?
"Kalian lama banget sih jalannya!"
Baik Kevin atau Denin segera berlari untuk mengejar cewek yang tak sadar sedang diperebutkan itu. Cellyn adalah cinta pertama Denin dan target utama Kevin. Tinggal menunggu waktu saja, siapa yang akan mendapatkan Cellyn terlebih dulu. Apakah Denin atau Kevin, atau justru bukan keduanya?
*****
Sepanjang mempelajari materi kimia kali ini, Cellyn memperhatikan dengan serius sedangkan Denin sudah berkelana di alam mimpi. Mana mungkin Denin bersungguh-sungguh untuk belajar bersama. Dia bukan tipe murid yang bisa menangkap pelajaran dengan cara kerja kelompok seperti ini. Tetap tinggal di perpustakaan selama Cellyn bersama Kevin belajar bersama, itulah tujuan Denin di sini. Dia ingin mengawasi Kevin dan Cellyn, juga untuk menghindari kemungkinan benih-benih cinta tumbuh di antara mereka. Sudah banyak cerita seperti itu, dari terbiasa bersama bisa menimbulkan cinta.
"Ngapain ikut coba kalau ujung-ujungnya tidur," cibik Cellyn. Dia mengambil selembar tisu untuk menutupi wajah Denin.
"Kenapa?"
"Biar nggak mengganggu pemandangan."
Bisa Cellyn lihat senyum sekilas di wajah Kevin. Sedetik setelahnya Cellyn mengingat satu hal penting yang telah ia lupakan. Reflek dia berdiri dan itu membuat Kevin cukup terkejut. Untungnya Denin tidak terbangun.
"Sorry, gue ke toilet sebentar ya."
Tanpa menghiraukan jawaban Kevin, dia sudah terburu-buru pergi. Cellyn harus cepat sampai di sana agar dia bisa mengambil barang itu sebelum orang yang bersangkutan curiga.
Ia melangkah lebar-lebar agar segera sampai di deretan loker kelas sepuluh. Terhitung sudah kelima kalinya Cellyn lalai seperti ini. Semua ini akibat dirinya hampir tertangkap oleh pemilik loker. Jadi Cellyn membuat pola acak untuk mengambil barang itu supaya tidak ada yang bisa menangkap dirinya.
Cellyn mengeluarkan s*****a pamungkas yang ada di saku seragamnya. Dengan cepat ia membuka loker dengan kunci yang ia bawa. Ternyata barang yang ia cari masih di sana dan seperti biasa sudah tidak terisi lagi. Sayangnya Cellyn lupa untuk membawa tas yang bisa ia gunakan untuk menyimpan barang itu. Niatnya Cellyn ingin kembali ke perpustakaan lalu membawa tas dan memasukkan barang yang ada di tangannya ini.
Namun ketika Cellyn menutup pintu loker dan berbalik, pemikik loker yang telah ia bobol memergoki dirinya. Sekarang Cellyn benar-benar telah tertangkap, dia tidak bisa mengelak lagi.
"Dugaan gue benar. Pengirim sarapan itu lo?"
Cellyn menelan ludahnya susah payah. Meski tinggal menyetujui perkataan Kevin, dia masih ketakutan. Cellyn memang tidak melakukan kejahatan tapi rasanya dia seperti sedang melakukannya.
Kevin mendekat, setiap langkahnya terasa sangat mengintimidasi. Cellyn dibuat mundur sampai menabrak loker di belakangnya. Yang bisa dilakukan Cellyn hanyalah menunduk hingga bisa melihat sepatu Kevin yang kini hanya berjarak satu kubik keramik.
"Kenapa harus sembunyi?"
"Karena gue takut."
"Kenapa harus takut?"
"Banyak yang suka sama lo. Banyak yang lebih baik dari gue. Gue takut kalau kenyataannya respon lo nggak sebaik saat gue sembunyi-sembunyi seperti ini Kev." Keberanian Cellyn langsung datang dan ia menatap Kevin.
"Gue menduga dari awal kalau orang yang selama ini menaruh kotak bekal itu adalah lo. Tapi gue nggak punya cukup bukti sampai akhirnya hari ini gue berhasil menangkap bukti itu. Gue mulai curiga saat lo selalu pulang telat dari teman-teman yang lain. Hanya gue, lo dan Denin yang ada di kelas. Dan lo selalu pulang sebelum gue dan Denin. Gue cek ke loker, kotak itu udah nggak ada. Bukannya itu jadi tanda yang kuat?"
Cellyn meneguk ludahnya susah payah. Dia terpaku pada mata Kevin yang tak bisa ia tebak sedang memikirkan apa. Cellyn takut jika kenyataan menghempaskannya. Bagaimana jika Kevin justru membenci Cellyn setelah ini?
"Gue ...."
"Woi ngapain kalian!"
Suara Denin terdengar disusul bunyi sepatu mendekat. Sepertinya kali ini Cellyn harus berterima kasih ke Denin karena Cellyn bisa menghindari Kevin. Setidaknya untuk sementara.
Denin menarik Kevin mundur dan ia mengecek keadaan Cellyn. "Lo baik-baik aja Cell?"
"Hm, gue nggak papa."
"Terus kalian kenapa bisa di sini? Perpustakaan udah tutup, gue dibangunin sama penjaga perpus. Tega ya kalian ninggal gue di sana."
"Iya, iya maaf. Makasih tas gue dibawain."
Segera Cellyn rebut tasnya dari Denin lalu pergi dari sana. Akhirnya dia berhasil lolos dari Kevin. Untuk sementara ini yang perlu dilakukan Cellyn hanyalah menghindari Kevin.
"Cell lo belum jawab gue!"