Bertemu Musuh

1005 Kata
"Dari mana pulang sore gini?" Dengan susah payah Cellyn menelan ludahnya yang terasa bersarang ditenggorokan. "Ketiduran di perpustakaan." Darrel menghela napasnya. Dia menghampiri Cellyn yang masih memegangi pintu. "Mama sama Papa mau ajak kamu menghadiri acara perusahaan. Kamu berangkat sama Kakak." "Bang ...." "Kamu ada tugas lagi? Kakak janji ini cuma sebentar. Lagipula Cell, nanti kamu juga akan ikut mengelola perusahaan Papa, jadi harus terbiasa dengan pertemuan seperti ini." "Tapi aku nggak mau berurusan sama perusahaan. Aku mau kejar mimpi aku sendiri Bang." Sebenarnya Darrel juga tak ingin memaksa Cellyn seperti ini. Dia dan adiknya punya mimpi yang berbeda. Jika Darrel, dia memang sangat suka berurusan dengan perusahaan sedangkan Cellyn, dia ingin fokus ke dunia medis. "Mama sama Papa udah di sana lho Cell, masa kamu nggak mau datang? Kali ini aja ya, please." "Janji kali ini aja ya? Kakak bantu aku bilang ke Mama sama Papa kalau aku nggak pingin mewarisi perusahaan. Cukup Kakak aja, aku yakin semuanya bisa dikendalikan." "Terima kasih Adik manis." Lagi-lagi Darrel mengusap pelan rambut Cellyn. "Aku ke atas dulu." Cellyn berlari menuju tangga. Kekagetannya dari Kevin dan Denin di sekolah belum reda dan ia harus berhadapan dengan Darrel. Sebenarnya, Cellyn masih kepikiran dengan ucapan Kevin. Kalau memang benar Kevin curiga sedari awal bahwa pemberi kotak bekal itu adalah Cellyn, kenapa dia tidak juga bertanya langsung? Dan juga, kenapa harus menangkap Cellyn dengan cara seperti itu? Kevin tidak tahu saja Cellyn hampir saja menangis saat itu. Beruntung ada Denin. Jika biasanya Cellyn marah dengan Denin yang selalu mengganggunya, kali itu Cellyn justru berterima kasih. Dengan adanya Denin di sana, itu menghambat Kevin untuk menginterogasi Cellyn lebih jauh. Cellyn yakin Kevin tidak akan memberitahu Denin perihal siapa sebenarnya pengagum rahasianya. Walau mereka berdua telah bekerja sama untuk menangkap secret admirer Kevin, Kevin juga tidak akan membiarkan Denin tahu bahwa orang itu adalah Cellyn. "Kakak tunggu lima belas menit buat siap-siap ya." Reflek Cellyn langsung mengambil gaun yang bahkan telah disiapkan untuknya di kasur. Ia bersiap-siap secepat mungkin. Cellyn hanya menambahkan make up tipis untuk wajahnya. Gaun polos berwarna hitam dengan lengan sepanjang siku ini membuat Cellyn tampak bersinar. Kulit putihnya dan rambutnya yang lurus sepinggang membuat Cellyn tampak seperti putri malam ini. Tak lupa dia mengenakan benda yang ia benci, sepatu hak tinggi. Dari sekian hal yang membuat Cellyn malas menghadiri acara perusahaan orangtuanya yaitu dia harus berdandan dan memakai semua ini. Cellyn bisa kehabisan tenaga setelah mengobrol dengan banyak orang, sedangkan Darrel sebaliknya. Keduanya adalah saudara yang saling bertolakbelakang. Cellyn menepuk pelan pundak Darrel. "Ayo." ***** "Kenapa bisa saham kita turun? Bukankah saya sudah memberitahu kamu sebelumnya untuk mengurus semua itu!" "Maaf Pak, tapi perusahaan kita kalah dengan perusahaan Pratama." Wijaya menghela napas kasar dan jari telunjuknya menunjuk ke arah pintu. Tanpa suara, kaki tangannya itu sudah tahu bahwa Wijaya ingin dia segera pergi. "Kali ini kamu menang Pratama. Tapi kita lihat saja nanti, secepat mungkin kamu dan keluarga kamu akan benar-benar kalah dari saya." Wijaya mengangkat gagang telepon dan berbicara dengan orang suruhannya. "Kapan mereka akan kembali ke Jerman?" "...." "Dalam jangka waktu itu, kamu harus mendapatkan cara untuk melakukan rencana yang telah saya buat. Saya ingin semuanya berjalan dengan lancar dan rapi." Wijaya tersenyum miring dan kembali duduk berkutat dengan dokumen perusahaannya. Namun siapa sangka, Kevin tiba-tiba masuk ke ruangan. "Pa, rencana apalagi yang Papa maksud?" Wijaya kembali berdiri dan menghampiri Kevin. "Banyak rencana Papa, Kevin. Sebagai pebisnis, sebuah rencana itu ibarat kunci. Kunci itu hanya bisa diketahui oleh pemiliknya. Untuk saat ini, kamu belum bisa tahu kunci itu Kevin." "Apa ini ada hubungannya dengan Cellyn?" "Kamu tidak perlu khawatir, ini semua tidak ada hubungannya dengan Cellyn. Kamu hanya perlu melaksanakan perintah Papa, jangan banyak bertanya." "Papa nggak lupa syarat Kevin bukan? Kevin mau membantu rencana Papa tapi Kevin tidak ingin siapa pun terluka." Tawa Wijaya meluncur. Dia menepuk pundak anak semata wayangnya. "Dia aman selama kamu menurut." "Bagaimana dengan Rain?" "Rain?" Wijaya berbalik menghadap meja kerjanya. "Dia bukan urusan Papa." "Kevin harap Papa tidak ingkar." ***** Pertemuan perusahaan kali ini bisa dibilang mirip dengan jamuan makan yang mewah. Semua orang yang hadir termasuk mama dan papa Cellyn mengenakan setelan formal. Sejauh mata memandang, tak ada yang seusia Cellyn di sini. Cellyn kadang iri dengan teman sebayanya karena tak harus menghadiri acara seperti ini. "Cellyn sayang." Mama menghampiri Cellyn dan memeluknya. "Akhirnya kamu datang sama Darrel." Cellyn tersenyum, kali ini senyuman tulus. "Maaf kalau kita lama Ma. Tadi Abang nunggu aku." "Oh iya Darrel, kamu sudah ditunggu Papa di sana." Mama menunjuk tempat papa berada. Di sana tak hanya ada papa tapi juga ada Wijaya. Orang yang tak lain adalah pebisnis saingan keluarga Cellyn. Pertemuan kali ini diadakan oleh perusahaan besar yang mejadi mitra keluarga Cellyn dan juga Wijaya. Mau tak mau meski hubungan keduanya tak cukup baik, mereka tetap hadir sebagai bentuk saling menghormati. "Ma, itu yang namanya Pak Wijaya?" tanya Cellyn memastikan. "Kamu benar. Dia Wijaya, orang yang selama ini ingin menjatuhkan perusahaan kita. Anaknya juga bersekolah di tempat yang sama dengan kamu Cellyn. Kamu sudah tahu?" Cellyn mengangguk. "Kakak yang bilang." "Mama sama Papa bukan bermaksud ingin mengekang kamu sayang. Tapi untuk urusan satu itu, Mama harap kamu bisa menjaga jarak dengan anak Wijaya." "Pasti, Cellyn juga nggak mau terjadi sesuatu karena dekat dengan dia Ma. Cellyn sangat sayang Mama sama Papa." Mama meraih Cellyn ke dalam pelukannya. Saat ini hal yang paling penting yang bisa dilakukan Cellyn adalah menghindari anak Wijaya yang sampai sekarang belum Cellyn ketahui seperti apa wajahnya. Semua ini bukan untuk dirinya saja, tapi untuk keluarganya. Berbisnis memang seperti itu, harus sangat berhati-hati. Tapi bukan berarti tidak berani mengambil risiko. Hanya saja kalau bisa meminimalkan risiko, lebih baik dilakukan. "Ma, kapan kita ke Jerman lagi? Aku pingin ketemu sama Rain." "Rain? Ah iya, dia selalu nanyain kamu setiap Mama sama Papa ke Jerman." "Dasar ya emang Rain. Punya sepupu satu tapi ketemu cuma setahun sekali." Cellyn tergelak bersama mama. Rain, dia hanya menjadi alasan Cellyn untuk ke Jerman. Selebihnya, Rain adalah pemandu wisata untuk Cellyn. Terutama ketika Cellyn ingin ke Munich.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN