Bab 3 Tersesat

1074 Kata
"Aish nanti kita jalan-jalan naik Subway, ya," ajaknya dengan penuh semangat. "Memang Mey tahu jalurnya? Takutnya malah kita nyasar, iya ngga sih. Mana baru pertama kali mau naik Subway." Aish tampak menimbang-nimbang ajakan Mey. "Ya ampun Aish, ada peta nih udah aku siapin nanti kita berhenti di stasiun mana aja. Lagian kita punya HP nanti bisa hubungi tour guide-nya atau mahasiswa lain. Mereka juga mau jalan-jalan, kok." Mey berusaha meyakinkan Aish. "Kenapa nggak ajak mereka sekalian aja? Kan kalau nyasar bareng-bareng lebih aman." Aish terkekeh meragukan sahabatnya yang memang kuper tingkat tinggi dibanding dirinya. "Mereka punya tujuan sendiri-sendiri kok buat jalan-jalan." "Harusnya kita baca-baca dulu buku tentang study in Korea kok Mey biar nggak awam gitu di sini." "Yah. Aish nggak bilang-bilang dari kemarin. Ya udah kita googling aja." "Benar banget pesan Guruku dulu Mey, Read All Books. Baca buku karena buku adalah jendela dunia. Kalau kita baca-baca dulu sebelum ke sini ya bakal lebih mudah semuanya." Mey hanya berdehem. "Trus pesan gurumu ada yang lain lagi, nggak?" Mey bertopang dagu memandang Aish yang masih berpikir. "Nah itu dia, konyol sekali pesan lainnya. Kata beliau kalau nyari suami besok jangan teman sebaya tapi yang lebih tua misal kalau jadi kuliah ya nyari suami, dosennya." Seketika Mey tergelak disusul Aish yang turut tertawa dengan pesan gurunya saat SMA. "Lalu? Kamu benar-benar mau mewujudkan pesan gurumu?" tanya Mey penasaran. "Ya enggaklah, kita nggak tau kan Allah kasih jodoh ke kita siapa." Aish masih berharap bisa ketemu dengan Dika lagi. Teman masa SMAnya. "Untuk sekarang aku tidak memikirkannya, aku hanya ingin mewujudkan cita-cita membahagiakan orang tuaku. Terlebih kondisi keluargaku sekarang bisa dibilang masih jauh dari kata baik, Mey." Aish menghapus bulir bening yang menetes tiba-tiba. Mey jadi merasa bersalah mengungkit masa lalu Aish. "Maaf Aish, bukan maksudku membuatmu sedih. Tetap semangat ya buat kita, aku selalu siap membantu kapanpun kamu butuh bantuanku." "Kau sahabat yang terbaik, Mey." Mereka saling berpelukan. Saling menguatkan. "Eh ngomong-ngomong, gimana ceritanya laki-laki tampan di bandara kemarin?" tanya Mey penuh selidik. "Mas Andra maksudmu?" Mey mengangguk. "Astaghfirullah, Mey! Barang Mas Andra masih di tasku." Aish menepuk jidatnya sambil berlari ke arah tas dan mengeluarkan bungkusan kresek yang didalamnya ada kaos bertuliskan identitas kampus ternama di Daejeon serta satu kemeja lengan panjang. 'Ternyata laki-laki itu kuliah di sini. Pasti dia sangat cerdas," batin Aish sambil menyunggingkan senyum. "Hey, jangan senyum-senyum sendiri. Cuma lihat bajunya doang gitu ya senangnya. Apalagi kalau ketemu orangnya lagi." Mey menggoda Aish yang wajahnya langsung bersemu merah. "Ishh apain sih Mey, orang lagi mikir gimana cara ngasihkan mana nggak tau nomer HP nya." "Tapi ganteng juga ya Mas Andra? Sama aku cocok nggak, Aish?" "Nggak!" "Dih, nggak rela nih kalau Mas Andra bener-bener jodohku?" "Dalam mimpi?! Orang baru pertama ketemu juga. Gimana tahu baik buruknya seseorang," sahut Aish sambil terbahak. Mey hanya bisa mendecis. "Kamu percaya cinta pada pandangan pertama, Aish?" "Nggak percaya," pungkas Aish dengan penuh penekanan. Mey hanya memutar bola matanya jengah. "Lalu, apalagi yang terjadi saat kalian duduk bersisihan?" "Nggak ada." Aish sengaja tidak menceritakan kejadian saat ia tertidur di bahu Andra dan tangannya memeluk lengan laki-laki itu. Sungguh memalukan. Akhirnya baju milik Andra disimpan Aish kembali seraya berdoa semoga suatu hari nanti dipertemukan lagi sehingga bisa mengembalikan baju itu. Mey bersiap diri dengan memakai kaos panjang dan celana pants serta jilbab pink. Sementara Aish memakai celana denim, kaos biru muda, dan jilbab navy. Keduanya tidak lupa membawa jaket, karena cuaca di Busan mulai memasuki awal musim dingin. Tas kecil berisi dompet dan HP serta map rute Subway menemani perjalanan mereka. Setelah meminta izin ke tour guide, keduanya berangkat menuju stasiun Subway terdekat dengan berjalan kaki. Sambil berdecak kagum dengan pemandangan kota Busan dimana lalu lintasnya teratur, orangnya ramah, dan tempatnya bersih. Hanya saja satu yang disayangkan, tidak banyak warga lokal yang bisa berbahasa Inggris. Bisa jadi mereka memang mempertahankan budaya dengan berkomunikasi menggunakan bahasa Korea. Bahkan mahasiswa yang belajar di universitas di Korea untuk mendapat beasiswa ada tes TOPIK semacam tes Toefl untuk bahasa Korea. Tak ayal banyak pelajar asing yang mahir berbahasa Korea. Aish dan Mey bersiap menuruni tangga menuju bawah tanah. Lalu mereka membeli tiket Subway terlebih dahulu. Karena belum terbiasa, mereka sengaja mencari kondisi sepi untuk membeli tiket dengan bantuan google, sehingga tidak menimbulkan banyak antrean. Tiba-tiba ketiga temannya datang menghampiri. Kebetulan sekali, Aish dan Mey sekalian minta diajari cara membeli tiket di mesin yang tersedia di stasiun. Aish mengucapkan terima kasih dan mengajak mereka jalan bareng. Akan tetapi, mereka menolak karena sudah punya rencana lain. Alhasil, Aish memutuskan jalan-jalan berdua saja dengan Mey menaiki Subway. Setelah jalan-jalan menaiki Subway dan turun di salah satu stasiun, Aish dan Mey memanjakan mata dengan menyusuri pertokoan di sepanjang jalan bawah tanah menuju stasiun berikutnya dan kembali ke stasiun awal. Mereka berdua terkesima dengan alat transportasi di negara tersebut. Tak terasa sudah jalan terlalu jauh. Mereka kebingungan dengan pintu keluar untuk menuju hotel tempat mereka menginap. Aish mendesah lesu merasa capek dan duduk di tempat orang-orang beristirahat. "Mey, gimana nih kita nyasar. Perasaan tadi kamu bilang udah benar ya jalannya." Aish menatap kiri kanan mencari pertolongan. "Iya Aish, tadi aku yakin kita berangkat dari sini kok salah ya. Mana di sini nggak terlihat pusat informasi, ya?" Mey ikutan tengok kanan kiri. Biasanya di stasiun ada information center. Namun kali ini mereka belum menemukannya. "Ya Allah, gimana nih keburu malam tambah bingung kita nanti." Aish mengeluarkan botol minum untuk mengobati rasa hausnya. "Minum dulu Mey. Kita berdoa ya semoga datang pertolongan." Mey mengangguk mengiyakan. Saat menoleh ke belakang ada dua orang laki-laki berjalan menjauhi tempat mereka duduk. Aish masih mengingat wajahnya, sepertinya dia melihat Andra. Akan tetapi, dia tidak yakin karena setahu Aish, Andra pergi ke Daejeon. "Ah, nanti salah lagi." "Apanya yang salah, Aish?" "Nggak papa, Mey. Ayo!" Aish mencoba peruntungan barangkali feelingnya benar. Dengan langkah mantap, Aish mengejar orang itu sambil menarik tangan Mey. "Mas, mas Andra!" Aish dan Mey lari-lari mengejar dua orang laki-laki yang sedang berjalan terburu-buru sambil meneriakkan nama Andra. "Kayaknya bukan deh Aish. Kamu salah lihat kali," kata Mey ragu. Mereka berdua berhenti mengejar dan menarik napas panjang karena masih terengah-engah. Aish sudah lunglai, karena berharap tadi Andra bisa menolongnya. Ia dan Mey kembali duduk di kursi tunggu. Menyenderkan punggung untuk merilekskan badan, wajah keduanya tampak sayu. "Astaga, kita nggak bisa pulang nih, Mey," ucap pasrah Aish dengan tenaga yang tersisa. "Ponsel, Mey. Hubungi teman kita." Mey membuka layar ponselnya. "Ya, sinyalnya ilang." "Astaghfirullah, Mey. Kenapa ponselku juga ikut-ikutan ilang sinyalnya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN