Sebuah hal yang tidak mungkin terjadi akan mungkin saja terjadi di kehidupan ini. Apalagi dengan kata-kata Impossible banget bagi semua orang yang berada di sekeliling kita. Jangan pernah memandang seseorang dari sebelah mata. Karena kita sama sekali tidak akan tahu di masa depan mereka yang akan membantu kita atau bagaimana nantinya. Saling menghargai dan saling melengkapi itulah yang harus kita lakukan saat ini.
-Arthemis Amysthyst Matcha.
Aetos yang melihat tuannya secara perlahan mulai sadar dan kembali seperti semula hanya terdiam dan membiarkannya untu regenerasi lagi seperti semula. Rasa kecewa dan amarah semakin lama semakin menghilang dan membuat Aetos tersenyum kecil saat ini.
Langit yang tadinya hitam pekat dengan banyak petir yang menyambar dengan kekuatan yang sangat penuh yang membuat siapa saja bergidik ngeri ketika mendengarkan menjadi langit yang sangat cerah seperti sebelumnya. Suara gemuruh petir dan kilat yang menyambar seketika berhenti dan guncangan tanah yang sangat kencang menjadi tenang seketika.
Suara long-longan yang terdengar sangat memilukan semuanya hilang bersama dengan yang lainnya. Arthemis menghela nafas dengan sangat panjang dan menutup matanya dengan pelan merasakan semuanya yang ada di dalam dirinya.
Arthemis terdiam dan menoleh ke arah belakang sana. Betapa kagetnya dia ketika melihat rambutnya menjadi sangat panjang dalam waktu yang sangat singkat. Aetos yang paham dengan kelakuan tuannya yang sangat manis tersebut hanya menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan dan membiarkannya menatap rambut indahnya yang menjuntai sangat panjang ke arah belakang sana.
Arthemis membelakkan matanya dengan sangat kaget dan menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan. Ia membuka mulutnya lebar-lebar dan menatap Aetos dengan sangat tidak percaya ke arahnya. Aetos yang melihat tuannya bertingkah laku seperti itu hanya terkekeh pelan dan menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Arthemis dengan cepat kembali melihat rambutnya dengan sangat panjang langsung terkekeh dengan pelan dan tersenyum manis kegirangan ke arah Aetos. Rasanya ia sangat kagum dengan keadaan rambutnya yang sekarang. Arthemis langsung melihat ujung rambutnya namun nihil tidak ada sama sekali tanda-tanda yang menunjukkan ujung rambutnya.
"Sungguh sangat indah. Tapi, di mana ujung rambutku saat ini? Mengapa tidak ada ujungnya? Terus rambutku kenapa bisa menjadi sehalus ini? Padahal aku tidak pernah yang namanya melakukan perawatan segala macam kepada salon-salon kecantikan yang ada di tempat ini," ujar Arthemis dengan sangat santai.
"Jangan kaget dengan semua itu. Karena kau baru saja mengeluarkan kekuatan yang Ayah kandungmu berikan saat ini. Itu adalah reaksi yang sangat berlebihan Arthemis. Kau bisa saja membunuh teman-temanmu jika kamu terus melakukan semuanya. Jangan sampai kau malahan menyakiti mereka lagi dengan kekuatanmu. Kekuatan ada karena memang seharusnya di berikan kepada yang seharusnya. Kalau kau saja seperti ini terus maka kamu akan bisa membahayakan semua orang."
"Lain kali kau harus bisa lebih fokus lagi ke depannya. Kalau kau saja tidak fokus seperti tadi mau ngapain lagi nantinya. Bukan masalah sebuah hal yang memang harus kau lakukan saat ini. Karena ini berada di dalam hutan yang lebat. Kalau memang kau melakukan ini semua di sekolah dan yang lainnya itu adalah yang sangat bahaya. Lebih hati-hati lagi dalam menggunakan kekuatanmu."
"Ayah kandung?" tanya Arthemis dengan sangat bingung.
"Iya Ayah kandungmu yang telah memberikan kamu banyak kekuatan seperti itu. Maka jagalah semuanya baik-baik dan kembali fokus saja ke tujuan utamamu saat ini. Setelah itu kau harus melakukan yang terbaik lagi."
"Maksudnya bagaimana? Aku tidak melakukan apa-apa saat ini. Coba jelaskan kembali maksud dari semuanya. Aku masih belum paham dengan semuanya."
"Sudah jangan terlalu di pikirkan semuanya tidak akan beres ketika kamu memikirkan itu semua. Sekarang kembalilah fokus kepada semuanya."
Arthemis terdiam dan di dalam otaknya banyak sekali pertanyaan yang bersangkutan dengan itu semua. "Sebesar apa dan semengerikan apa kekuatan yang di berikan oleh Ayahku? Kenapa bisa membuat semua orang takut dengan kekuatan itu? Jelaskan semuanya kepadaku saat ini Aetos. Jika kau mengetahui di mana Ayahku maka katakan semuanya," gumam Arthemis di dalam hatinya.
"Kau akan tahu mereka pada saat yang tepat. Sekarang waktunya kamu fokus ke arah apa yang harus kamu lakukan dan jangan lupa kamu harus kembali ke tempat yang semula. Jika kamu melakukan hal yang sama seperti tadi maka kamu akan selalu menjadi bahan obrolan dengan yang lainnya. Sudahlah fokus kembali."
"Mereka sangat indah dan sangat lembut. Aku sangat senang dan bahagia melihat semuanya. Aku rasanya ingin sekali merawatnya dengan sangat baik."
Arthemis terdiam dan menatap rambutnya dengan sangat kagum. Aetos yang geram dengan Arthemis yang masih menatap kagum ke arah rambutnya dan tidak menghiraukan apa yang ia katakan langsung menghela nafas dengan sangat panjang saat ini.
"Jangan menatap rambutmu seperti itu bodoh. Yang ada kau hanya akan terus mengaguminya. Cepat tolong teman-teman kelompokmu saat ini. Mereka membutuhkan pertolongan kamu sekarang juga."
"Untuk apa aku menolong mereka sedangkan mereka saja tidak peduli kepadaku? Mereka selalu mengatakan kalau aku adalah anak pembawa sial dan masih banyak lagi yang lainnya. Lebih baik saat ini aku mencari dan berkeliling hutan ini sendirian saja. Biarkan mereka berada di jurang tersebut."
"Janganlah menaruh dendam di dalam dirimu saat ini. Biarkan mereka semua iri dan mengatakan hal yang tidak seharusnya saat ini. Tapi, kau tidak boleh mengikuti apa yang mereka lakukan saat ini. Fokus dulu Arthemis, sekarang bantu teman-temanmu yang berada di sana. Maafkan mereka semua,"
"Kau hidup tidak sendirian. Kau hidup selalu berdampingan kalau kau saja seperti ini benar-benar kau akan mendapatkan banyak musuh dan banyak orang yang tidak suka kepadamu. Sekarang kamu harus fokus kepada sebuah hal yang memang seharusnya yang membuat kamu fokus di dalamnya. Jangan mencampur adukkan semuanya dalam satu tempat yang sama."
"Biarkan mereka semua melakukan hal yang mereka suka. Tapi, kau tidak boleh melakukan sebuah hal yang sama saat ini. Karena sebuah kejahatan tidak boleh di balas dengan kejahatan. Kalau kau saja membalas mereka berarti kau sama dengan mereka yang jahat kepadamu."
Mendengar apa yang di katakan oleh Aetos, Arthemis tertegun dengan sangat pelan. Dengan pelan ia memegang rambutnya dengan sangat pelan dan mengelusnya. Arthemis langsung bangkit dari tempat duduknya dan melihat teman-temannya yang berada di bawah jurang sana.
Rasa khawatir yang tadinya menghilang seketika hadir kembali ke hadapan semua orang. Di tambah dengan sebuah hal yang baru saja Arthemis dapatkan pada saat ini. Ia melihat teman-temannya yang berada di bawah sana dengan sangat panik dan menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan pada saat ini.
"Teman-teman apakah kalian tidak apa-apa?" tanya Arthemis dengan sangat khawatir.
"Emys? Apakah kau itu? Kau masih hidup? Apakah kau terluka? Bagaimana dengan keadaan kamu di atas sana?" tanya Cecilia dengan sangat beruntun.
"Tenang, aku baik-baik saja saat ini. Aku bisa melawan mereka dengan kekuatanku sendiri. Kalian jangan khawatir dengan keadaan aku, kita bisa menyembuhkan semuanya pada saat kita kembali nantinya. Kalian bagaimana, apakah kalian terluka di sana? Aku akan menolong kalian dan mencari alat bantu agar kalian bisa naik ke atas sini."
"Tenang saja Emys, kita semua tidak apa-apa. Kau tenang saja di atas sana. Syukurlah kalau kau tidak kenapa-kenapa. Karena kami sangat menghawatirkan kamu saat ini. Jangan lupa cari akar pohon dan atau apapun yang bisa menarik kami dari atas sini."
"Tolong carikan semuanya ya. Karena kami akan bisa naik menggunakan itu saja Arthemis," ujar Cecilia dengan sangat bahagia melihat Arthemis yang tidak kenapa-kenapa.
"Kenapa tidak menggunakan kekuatan saja. Kenapa harus melakukan itu semua? Jika ada yang mudah kenapa harus mencari sebuah hal yang sulit saat ini?" tanya Arthemis dengan sangat polos.
"Kalau kau menggunakan kekuatan sama saja tidak berguna. Kalau menggunakan kekuatan bisa, kami sudah keluar dari sini sebelum kau menyapa kami dari tadi. Ini adalah jurang yang benar-benar banyak menyerap ilmu kita. Sekarang cepatlah bawa semuanya. Dengan adanya kita cepat keluar dari sini maka semuanya akan aman di tangan yang sangat tepat nantinya."
"Okey, baiklah aku paham dengan semuanya. Bentar aku akan mencari akar atau apapun yang bisa aku pakai untuk membantu kalian semua."
Arthemis bangkit dari tempat duduknya dan langsung mencari akar pohon yang berada di sekelilingnya. Ia terus mencari ke sana kemari. Padahal banyak yang mengatakan kalau mereka harus membawa tali dan yang lainnya. Tapi, jujur saja ia sangat lupa membawanya.
Arthemis terus berusaha mencari akar pohon yang bisa ia gunakan untuk menolong mereka semua. Dengan cepat ia mengumpulkan semua akar pohon yang berada sana. Namun nihil. Ukuran akar pohon tersebut sangatlah pendek di bandingkan oleh jurang tersebut.
Iznti yang berada di bawah jurang mendengar suara hal yang aneh dan gemericik air yang sangat deras. Tania yang mendengar itu semua langsung menatap mereka semua dengan sangat ke kaget. Dia benar-benar tidak menyangka akan terkurung di dalam jurang ini bersama yang lainnya.
"Apakah kalian mendengar sesuatu? Sebuah hal yang sangat aneh di bawah sana?" tanya Tania dengan sangat bingung.
"Ya, kami mendengar semuanya. Itu sama seperti suara air yang sangat deras di bawah sana. Tapi, bukankah ini semua sebuah jurang yang sangat dalam ya. Tidak ada air di dalamnya atau apapun itu. Bagaimana bisa semuanya terjadi padahal tidak ada air di sini?" tanya Iznti dengan sangat bingung.
"Nah, itu dia. Mengapa di sini ada sebuah air. Padahal semuanya tidak mungkin terjadi di dunia ini. Karena ini adalah sebuah jurang yang dalam dan tandus."
"Itu adalah sebuah hal yang tidak mungkin. Kenapa bisa ada air yang benar-benar ada di lingkungan yang tandus. Mungkin kita hanya halusinasi saja," ujar Tania dengan sangat santai.
Mereka semua menoleh ke arah bawah dan betapa kagetnya mereka air perlahan semakin naik ke atas dan membuat mereka terus panik di atas bebatuan tersebut.
"Demi apapun itu kenapa ada air di bawah sana? Mengapa air itu semakin lama semakin naik ke atas saat ini. Cepat apa yang harus kita lakukan saat ini. Apa yang harus kita kerjakan dan kita lakukan lagi pada saat ini."
"Aku juga sangat bingung dengan semuanya. Karena semua ini sangat terjadi dengan cepat. Hanya Arthemis yang akan membantu kita saat ini. Panggil dia agar dia lebih cepat dalam mencari akar pohon."
"Cepatlah gadis bodoh. Kami semakin lama akan semakin berjatuhan ke dasar jurang! Cepat berikan akarnya! Gadis bodoh cepat lakukan yang terbaik kami akan segera tenggelam saat ini!" seru Tania yang sangat takut dengan semuanya.
Semua orang panik dan menunggu Arthemis dengan sangat yakin. Mereka benar-benar merasa kalau Arthemis yang akan menolong mereka pada saat ini. Frans berdoa dalam hatinya dan menutup matanya dengan pelan begitu pula dengan yang lainnya.
Cecilia menangis dengan pelan dan menahan dirinya agar tidak terjatuh ke bawah ketika melihat semuanya. Frans yang berada di samping Cecilia hanya bisa terdiam dan membantu sahabatnya untuk tetap berdiri dengan sangat tegar dan menunggu Arthemis dengan sangat setia saat ini.
Tak lama kemudian terdengar suara ledakan dari dalam sana dan membuat mereka semua kaget dengan suara ledakan tersebut yang sangat besar. Arthemis terdiam dan menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan.