Kekuatan Yang Tersembunyi

1732 Kata
Ketakutan yang sebenarnya adalah sebuah hal yang menjadi alasan kenapa semua orang suka kehilangan banyak arah yang berada di dalam kehidupannya. Tidak peduli mereka siapa, mereka yang tidak pernah melawan ketakutan mereka sendiri akan selalu kalah dalam sebuah pertandingan ataupun sebuah hal yang mereka sukai. Ketakutan, itulah sebuah bumerang yang sangat mengerikan di kehidupan manusia saat ini. Mereka yang selalu takut maju dan takut melakukan banyak hal yang ada di depan mereka. Itu adalah sebuah hal yang sangat mengerikan bagi mereka semua saat ini. Sampai-sampai mereka harus bergantung pada orang lain dan membuat mereka semua jengah dengan apa yang kita lakukan saat ini. -Arthemis Amysthyst Matcha. Arthemis yang melihat teman-temannya jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam hanya histeris dan panik melihat mereka semua. “Teman-teman!” seru Arthemis dengan sangat ketakutan. Kawanan serigala itu terus mendekat ke arah dia dan membuatnya terpekik sangat ketakutan saat ini. “Aaaaa! Jangan mendekat, jangan mendekat, jangan mendekat, jangan mendekat kalian semua ke arahku. Pergi sekarang juga. Pergi!” seru Arthemis dengan sangat panik. Semua kawanan serigala itu menatapnya dengan sangat lapar dan membuatnya sangat ketakutan saat ini. Semakin lama mereka semua semakin mendekat dan semakin mendekat ke arah Arthemis yang sangat ketakutan di hadapan mereka saat ini. Arthemis dengan sangat pelan menahan ketakutannya dan mencoba membuat mereka mundur dari peperangan ini. Perlahan-demi perlahan Arthemis mundur secara perlahan dan semakin perlahan mundur dari medan pertempuran ini menjauh dari jurang. Kawanan tersebut semakin mendekat dan semakin menatapnya dengan intens. “Tuhan bantu aku saat ini. Aku tidak bisa melakukan apapun lagi. Lindungi aku Tuhan,” gumam Arthemis dengan sangat ketakutan. Dengan cepat Arthemis melakukan sebuah perlawanan ke arah mereka semua. Namun semuanya adalah hal yang sia-sia. Kawanan itu terus menatapnya dengan lapar. Tiba-tiba ada seekor serigala yang menyerangnya secara tiba-tiba dan membuatnya terjatuh dengan sangat kasar di tanah. Arthemis terus mengindari serangan dari mereka semua dan mencoba menyerang kembali mereka semua. “Mundur kalian semua, mundur sekarang juga!” seru Arthemis dengan sangat panik. Serigala itu semakin mendekat dan mulai menyerang Arthemis dengan sangat cepat membuat sang empunya kelabakan. Dengan gerakan reflek, ia menendang serigala itu dengan sangat kencang dan membuatnya jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam tersebut. Iznti dan yang lainnya yang berada di dalam jurang sangat panik mendengar teriakan Arthemis yang berada di atas sana. Mereka sekarang memikirkan cara bagaimana mereka harus keluar dari jurang ini. Cecilia yang tidak sengaja melihat seekor serigala mati di dalam jurang tersebut juga memekik kaget melihat banyak serigala yang berjatuhan dari atas sana. "Aaaa, kenapa ini bisa terjadi? Siapa yang melawan mereka? Arthemis sendiri?" ujar Cecilia dengan sangat heboh. "Tidak mungkin kalau anak bodoh itu yang melakukannya. Karena selama ini dia sama sekali tidak memiliki kekuatan apapun. Kalau dia yang menang dalam pertarungan ini rasanya sangat tidak mungkin. Karena memang seseorang yang sangat menyusahkan selama ini." "Cepatlah, kita akan menolong gadis bodoh itu. Sekarang kita gunakan kekuatan kita semua untuk bersatu dan naik ke atas sana agar bisa menolong mereka semua." "Ayo, mari kita coba sekarang juga." Dengan cepat mereka mencoba kekuatan mereka terus menerus namun nihil tidak ada hasilnya yang dapat membantu mereka saat ini. "Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan saat ini? Kekuatan kita sama sekali tidak bisa di gunakan?" tanya Cecilia dengan sangat panik. "Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kenapa kekuatan kita semua saat ini tidak bisa di gunakan. Apa yang terjadi dengan kekuatan kita? Bagaimana caranya kita bisa keluar dari sini. Jujur saja, aku tidak mau mati dengan secara sia-sia," ujar Lia dengan sangat panik. "Hei, bagaimana kekuatan kita akan terpakai di sini. Ini adalah jurang La Device. Kekuatan kita di serap oleh jurang ini, itulah sebabnya mengapa kita semua tidak bisa menggunakan kekuatan kita saat ini. Kita harus mencari cara lain agar kita semua tidak terperangkap di sini. Ayolah mari berpikir bagaimana caranya kita bisa naik ke atas sana," ujar Iznti dengan sangat tegas. "Benar apa yang di katakan oleh Prince Iznti, kekuatan kita sedang di serap oleh jurang ini. Kalau kita terus memaksa kita akan semakin ke bawah nantinya. Kekuatan jurang ini memang sangat terkenal dalam menyedot semua kekuatan yang ada di sini. Jangan memaksakan diri kita di sini. Karena semuanya akan terasa sangat sia-sia," ujar Frans. Mereka semua menghela nafas dengan pelan dan mencoba berpikir bagaimana caranya agar bisa naik ke atas sana. Cecilia terus mengelus guardiannya dan mengecupnya dengan pelan. Saat ini mereka semua merasakan ketakutan yang sangat besar dan luar biasa di saat yang bersamaan. "Apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku tidak mau terus menerus berada di tempat ini. Tempat ini sangat mengerikan sekali." "Kami semua juga tidak mau berada di sini. Bukan kau saja yang merasakan tidak nyaman. Tapi, kami juga merasakan hal yang sama. So, mari kita cari tahu bersama apa yang harus kita lakukan saat ini. Jangan hanya mengeluh saja karena kita sama-sama terjebak di jurang ini." "Arthemis juga berada di atas sendirian. Kita harus segera menolongnya. Kalau tidak dia akan mati sia-sia di atas sana. Apa yang harus kita lakukan juga saat ini? Ayolah mari kita berpikir lagi," ujar Cecilia dengan sangat panik. "Otakku benar-benar sangat buntu saat ini. Karena ini semua memang kenyataannya yang harus kita terima dengan lapang dada." "Ayolah cepat berpikir. Arthemis di atas sendirian melawan mereka semua. Bisa-bisa dia akan mati di tangan serigala-serigala lapar itu. Apa yang harus kita lakukan saat ini. Cepat katakanlah semuanya. Karena aku gak akan sanggup melihat Arthemis yang terluka sangat parah." "Tenanglah dia akan bisa menaklukkan semuanya. Tugas kita semua saat ini hanya berpikir bagaimana caranya bisa naik ke atas sana dengan sangat selamat." "Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu. Padahal Arthemis saja tidak memiliki kekuatan apapun. Cobalah bayangkan bagaimana paniknya dan sibuknya dia saat ini karena dia sendirian. Cepatlah kita harus membantunya." "Tenang, kita akan mendapatkan jalan keluarnya saat ini guys. Yang harus kita pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya keluar dulu dari sini setelah itu kita akan langsung membantu Emy di atas." Mereka semua hanya menghela nafas dengan pelan dan menggelengkan kepalanya dengan sangat kasar. Mereka semua saat ini harus berpikir keras apa yang seharusnya mereka lakukan dan mereka inginkan. Di atas Arthemis masih sibuk melawan semua serigala lapar itu yang benar-benar menyerangnya secara bertubi-tubi. Arthemis terlihat sangat kewalahan melawan mereka semua yang sangat kuat di bandingkan dirinya saat ini. Arthemis benar-benar sudah ketar-ketir melawan mereka semua dan membuat hatinya sudah kalang kabut melawan mereka. Perasaan yang bergejolak dan geram karena para serigala tersebut terus menerus menyerangnya dengan sangat kencang membuat siapa saja hanya bisa terdiam dan melihat apa yang memang seharusnya mereka lakukan. Para serigala tersebut terus menerus menyerangnya dan tanpa sengaja serangan tersebut memotong rambut miliknya sebagian. Arthemis yang tidak terima dengan apa yang telah mereka lakukan langsung melototkan matanya. Dia benar-benar sangat murka kepada serigala-serigala itu yang membuat rambut kesayangannya terpotong sebagian oleh cakar mereka. Aura yang sangat mencekam pun terasa pada saat ini. Arthemis menatap mereka semua dengan tatapan amarah yang sangat mengerikan membuat siapa saja yang berada di dekatnya sangat takut dengan tatapan yang sangat mengerikan yang di berikannya saat ini. Matanya yang semula sangat indah berubah menjadi merah pekat yang sangat mengerikan di hadapan orang banyak. Serigala tersebut memancingnya untuk mengeluarkan kekuatan aslinya yang sangat mengerikan. Rambut Arthemis memanjang sepanjang 50 meter dan berubah menjadi berwarna silver yang sangat pekat. Arthemis menatap mereka semua dengan tatapan yang sangat tajam dan membunuh. Para serigala itu yang tadinya menatapnya dengan sangat lapar terdiam dan menatapnya dengan sangat kagum. "Epithesi Mavris Balas!" seru Arthemis dengan sangat tegas. Arthemis membaca sebuah mantara dan mantra tersebut mengeluarkan sebuah bola-bola hitam yang sangat pekat dan memiliki kekuatan yang sangat mengerikan saat ini. Long-longan menakutkan dari semua serigala tersebut. Terdengar sangat memilukan bagi setiap orang yang mendengarnya. Tanpa memiliki hati Arthemis terus menyerang mereka dengan serangan yang bertubi-tubi yang membuat mereka semakin memilukan suaranya. Terdengar suara gemuruh petir yang menyambar. Arthemis hanya menatap serigala tersebut dengan sangat datar dan membiarkannya mati karena ilmunya saat ini. Serigala-serigala itu jatuh ke arah tanah dan mati karena serangan dari Arthemis. Suara yang memilukan tersebut terdengar sangat aneh di telinga Iznti dan teman-temannya. Mereka semua saling menatap satu sama lain dan menghela nafas dengan sangat panjang. "Kenapa ini sangat mengerikan? Kenapa mereka malahan sangat memilukan long-longannya? Apa yang terjadi dengan Arthemis?" tanya Cecilia dengan sangat bingung. "Ntahlah aku saja bingung dengan semua ini. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Cecilia dengan sangat cepat. "Kita akan memanjat sedikit dan berdiri di atas batu yang kokoh itu. Setelahnya kita akan berteriak minta tolong, siapa tahu ada yang bisa menolong kita semua." Mereka dengan cepat memanjat ke arah yang Frans tuju dan berdiri di atas batu besar itu. Terdengar suara kilat dan petir yang menyambar dengan sangat cepat yang membuat siapa saja yang mendengarnya sangat takut. Cecilia dengan pelan memeluk guardiannya dengan sangat pelan dan menghela nafas dengan sangat berat. "Apa yang terjadi sebenarnya ini? Mengapa awan berubah dengan sangat total? Ada apa? Tidak seperti biasanya mereka seperti ini?" gumam Iznti dengan sangat bingung. Duar! Duar! Duar! Terdengar suara petir yang menyambar dengan sangat mengerikan yang membuat mereka semua menutup matanya dengan sangat pelan. Telinga mereka semua berdengung sangat kencang saat ini. Cecilia semakin mengeratkan pelukannya terhadap guardiannya dan terdiam karena ketakutan mendengar apa yang terjadi di atas. "Ada apa ini semua? Tidak biasanya seperti ini? Mengapa semua awan berubah menjadi sangat pekat dan sangat mengerikan? Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Frans dengan sangat bingung. "Ntahlah apa yang terjadi di atas saat ini. Rasanya ada sesuatu yang terjadi yang membuat seseorang marah begitu sangat mengerikan saat ini. Oh ayolah, kita sama-sama di sini otomatis tidak ada yang tahu apa yang terjadi di atas." "Arthemis, bagaimana keadaan dia?" gumam Cecilia dengan sangat lirih. "Kita hanya bisa berdoa saja semoga dia tidak kenapa-kenapa." Mereka semua hanya terdiam dan menganggukkan kepalanya dengan sangat pelan. Awan-awan semakin pekat, petir-petir terus menyambar dengan sangat kencang, tanah pun bergetar sangat hebat saat ini. Aetos yang merasakan tuannya marah dengan sangat keterlaluan langsung menghampirinya dan menyadarkan tuannya saat ini. "Hey!!! Sadarlah bodoh. Bukan lagi waktunya kamu marah kepada mereka semua. Sekarang waktunya kamu menolong teman-temanmu yang sedang dalam bahaya. Cepatlah sadar dan bantu mereka semua. Mereka semua akan mati di dalam jurang jika kamu terlalu lama dengan amarahmu." Aetos yang berhasil membuat tuannya terdiam dan langsung menghilangkan rasa amarah tersebut. Arthemis langsung menjatuhkan diri ke tanah dan langsung tersadar dari semuanya. Ia menghela nafas dengan panjang dan menutup matanya dengan sangat pelan saat ini
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN